
Karan membutuhkan Raya. Kondisinya begitu sakit, ia butuh obat dan hanya Rayalah yang bisa memberikan kesembuhan baginya. Sayangnya sekarang tidak bisa. Karan harus membiasakan hidup tanpa Raya. Jika kehadirannya bisa merusak kebahagiaan Raya, Karan rela tidak sembuh sama sekali. Diam dalam kenangan buruk masa lalu sudah biasa baginya. Ia sudah bertahan selama lebih dari 17 tahun, lalu mengapa sekarang Karan menjadi sering mengeluh? Benar-benar tidak masuk akal.
“Kau sudah memastikan aku masih hidup, jadi tidak ada alasan bagimu untuk tetap di sini. Tapi kalau kau memang mau di sini, jangan buat keributan. Aku ingin tidur,” tukas Karan pada Ian. Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian lebih santai, Karan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia sempat meminum beberapa butir obat tidur sebelum membuka pintu untuk Ian. Khasiat obat itu sudah bekerja sekarang. Ia harus segera berbaring sebelum kehilangan kesadaran secara tiba-tiba.
“Saya akan keluar untuk mencari makanan Pak,” ujar Ian.
Dalam keadaan mata yang terpejam karena siap untuk tidur, Karan menjawab, “Terserah padamu. Tapi tolong jangan berisik. Aku butuh ketenangan.”
Obat tidur tidak terlalu bekerja jika Karan dalam keadaan stres. Setiap traumanya kambuh, ia akan meminum obat tidur dalam jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya dan dosisnya akan semakin banyak setiap saatnya. Jadi meskipun mampu membangkitkan rasa kantuknya, tapi tidak ada yang bisa memastikan bahwa Karan akan terlelap dalam waktu lama. Pria itu akan terbangun begitu mendengar sesuatu yang berisi. Itulah sebabnya ia butuh ketenangan.
Ian memang berniat pergi, namun saat melihat sebuah botol yang berisi obat tidur yang ada di atas nakas, Ian mengurungkan niatnya. Ia bergerak ke nakas itu dan mengambil obat yang biasa Karan konsumsi. Seingatnya isi botol itu masih ada setengah saat mereka berada di bandara. Ian adalah orang yang mengurus semua perizinan tentang obat-obatan dan perlengkapan Karan lainnya. Ia tahu apa saja yang dibawa sang majikan saat itu. Dan sekarang isinya sudah hampir habis. Hanya tinggal beberapa butir saja yang ada di botol itu.
“Apa Pak Karan meminumnya selama berada di sini?” tukas Ian bertanya seorang diri sambil menatap Karan yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Ia merasa iba melihat Karan. Rupanya pria itu sangat menderita berada di sini. Namun ia tetap berdiam diri dan tidak mengatakan apa-apa. “Bagaimana caranya agar Anda bisa bahagia, Pak?” Ian bertanya dengan tulus. Ia benar-benar ingin melihat Karan bahagia dengan atau tanpa Raya.
Usai meletakkan botol obat itu, Ian melangkah ke luar dari tempat itu. Ada sesuatu yang harus segera ia lakukan demi Karan. Mungkin inilah langkah terakhir yang bisa ditempuh olehnya. Setelah melakukan ini, Ian berjanji tidak akan membantah ucapan Karan lagi. Apa pun yang diinginkan oleh sang majikan akan dilakukannya.
*****
“Apa kau tahu apa yang paling aku sukai, Farraz?” tanya Raya sambil memandangi wajah kekasihnya yang sedang menyeka keringat dengan sebuah handuk kecil. Mereka sedang berada di tengah lapangan. Farraz baru saja selesai bermain basket dan kini sedang menghabiskan waktu bersama dengan Raya.
Pemuda itu mengangkat salah satu alisnya, dan menjawab, “Apa? Apa kau sekarang suka matematika?” Pandangannya turun ke pangkuan Raya di mana sebuah buku matematika terletak di sana.
Raya menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Tidak, bagaimana mungkin aku menyukai matematika? Aku bukan dirimu,” ucapnya menggerutu.
“Jadi, apa?” Kali ini Farraz benar-benar penasaran. Jarang sekali Raya membicarakan dirinya sendiri, biasanya gadis itu lebih suka membicarakan tentang masa depan ataupun cara untuk membangun kampung mereka.
Raya tidak segera menjawab. Ia justru mengangkat salah satu jari telunjuk tangannya dan mengarahkannya ke wajah Farraz.
Sang pemuda pun sontak terkejut. “Aku? Kau suka aku?”
Lagi, Raya menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan kau. Eum, yah, aku memang menyukaimu, tapi aku lebih suka saat kau tersenyum. Kau tahu, Farraz, kau tampak sangat tampan saat tersenyum. Jadi, maukah kau terus tersenyum di hadapanku?”
“Hanya di hadapanmu saja?”
Kali ini Raya mengangguk cepat. “Ya, hanya di hadapanku saja karena aku tidak suka gadis lain melihat senyummu. Nanti mereka jadi semakin menyukaimu.”
Bibir Farraz terangkat membentuk sebuah senyum tipis. “Aku tidak tahu kalau kau ternyata sangat pencemburu, Raya. Sungguh, aku tidak tahu sama sekali.” Farraz mengamit tangan Raya dan mendekatkannya ke pipinya. Dengan tatapan penuh keyakinan, Farraz berbicara, “Baiklah, aku tidak akan tersenyum untuk gadis lain, tapi bisakah kau berjanji padaku? Tolong jangan tinggalkan aku. Mungkin ada saatnya kau tidak membutuhkanku, tapi jangan tinggalkan aku.” Pemuda itu memohon pada gadis di depannya. Ia tidak pernah memohon untuk apa pun, tapi ia melakukannya untuk gadis itu.
Raya menyunggingkan seulas senyuman. “Baiklah, aku tidak akan meninggalkanmu. Jadi, maukah kau bangun sekarang?”
Kening Farraz mengernyit. “Ya?” tanyanya bingung.
“Aku bilang, bangunlah. Kau sudah tidur seharian, Karan. Apakah kau tidak bisa bangun sekarang?”
Pelan-pelan kesadaran pria itu pulih kembali setelah nama yang tersemat kepadanya selama 17 tahun ini. Karan. Ia tahu ia sedang terlelap dalam mimpi, itulah sebabnya ia bisa bertemu dengan Raya. Wanita itu hanya muncul dalam mimpi saja. Ia tidak akan menampakkan diri di hadapannya.
Akan tetapi, apa yang terjadi ini? Ia mendengar nama Karan? Belum lagi nama itu diucapkan oleh sang mantan istri. Apakah ia sedang bermimpi atau ini benar-benar nyata? Jawabannya hanya bisa ia dapatkan ketika ia membuka matanya. Dan ketika pria itu melakukannya, mendadak ia terbelalak. Raya ada di sana, di hadapannya. Sang mantan istri tengah memandangnya sembari menggenggam tangannya dengan erat. Kehangatan tangan Raya begitu nyata sehingga ia meragukan bahwa ia masih berada di alam mimpi saat ini.
Melihat Karan sudah membuka matanya, Raya langsung mencecar pria itu dengan berbagai macam kalimat. “Kau sudah bangun? Bisakah kau duduk sekarang? Kita harus segera sarapan. Aku dengar kau belum makan sejak kemarin. Jadi kau harus—”
“Apa yang kau lakukan di sini?” kata Karan memotong ucapan Raya.
“Kenapa kau ada di sini? Dan ini ...” Karan melihat tangannya yang masih digenggam oleh Raya. Pria itu pun segera melepaskannya. “Kenapa kau melakukan ini?” Ia berusaha untuk memosisikan dirinya untuk duduk. Saat ini kepalanya terasa sakit sekali, mungkin pengaruh obat tidur yang ia konsumsi terlalu banyak kemarin. Ia pikir rasa sakit itu akan menghilang saat ia terbangun setelah beristirahat yang panjang. Namun nyatanya tidak. Apalagi sekarang dengan kehadiran Raya di dekatnya yang membuat hati dan pikirannya semakin kacau.
“Aku hanya ingin menemuimu. Kau terlihat pucat sekali, Karan. Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja?”
Karan mengembuskan napasnya dengan kasar. “Aku baik-baik saja. Pergilah!”
“Jadi kau mengusirku begitu saja?” Raya menatap Karan dengan pandangan mata yang tajam. “Aku ada di sini semalaman penuh karena kau menggenggam tanganku. Lalu sekarang kau mengurisku setelah kau bangun?” Wanita itu mengungkapkan kemarahannya kepada sang mantan suami.
Karan tersentak. Ia begitu terkejut mendengar penuturan Raya. “Kau ada di sini semalaman ini?”
“Iya, lalu kau pikir tangan siapa yang kau genggam semalaman ini, hah? Kau selalu bilang, jangan tinggalkan aku, Raya, aku mohon, aku sangat membutuhkanmu. Setelah mendengar hal itu apakah aku bisa meninggalkanmu?”
“Sial!” Karan menggusap-usap wajahnya dengan kasar. “Dasar Ian sialan!” umpatnya. Siapa lagi memang yang menjadi biang keladi dari permasalahan ini kecuali Ian? Hanya pria itulah yang sanggup melakukan ini, memanggil Raya ke kamar hotel tempatnya menginap. Entah apa yang dalam pikiran Ian hingga melakukan hal ini padahal ia sudah menjelaskan bahwa Raya bukanlah miliknya. Wanita itu sudah menjadi milik orang lain. Dan Karan tidak mau lagi menjadi pria perebut. Ia sudah cukup menjadi pria jahat di masa lalu, sekarang ia tidak ingin mengulanginya lagi.
Karan mengatur napasnya sebelum berbicara dengan sang mantan istri. Setelah ia rasa pikirannya sudah mulai tenang, ia pun akhirnya bisa berbicara lagi. “Maafkan aku. Aku tidak sadar sudah melakukan hal itu padamu. Maaf karena sudah menahanmu semalaman ini di sini. Kalau kau mau, kau bisa pergi sekarang. Sekali lagi aku minta maaf padamu.”
“Aku memang akan pergi dari sini karena aku harus menjemput Luca, tapi aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja. Kau harus menebus kesalahanmu terlebih dulu.”
“Bagaimana cara agar aku bisa menebus kesalahanku?” Karan berbicara dengan bersungguh-sungguh. Ia ingin menunjukkan ketulusannya untuk menebus kesalahannya pada Raya karena pada dasarnya ia memang bersalah. Pertama, karena ia tidak bisa mengendalikan anak buahnya hingga membuat Raya berada di sini. Kedua, karena ia sudah menahan seorang ibu dan istri orang lain di sisinya. Karan ingin menebus semuanya itu.
“Kau sudah membuatku tidak tidur semalaman. Aku harus memikirkan ganjaran yang setimpal. Kau tidak keberatan dengan itu, bukan?”
“Ya, katakan saja. Aku akan menebus kesalahanku seberapa pun besarnya itu.” Tidak ada yang Karan pedulikan saat ini bahkan nyawanya sendiri. Seandainya Raya memintahnya bersimpuh di kakinya untuk meminta maaf, maka akan ia lakukan.
“Baiklah, pertama, ayo kita sarapan dulu. Ian sudah membeli sarapan untuk kita, jadi kita harus menghargai usahanya.” Raya mengajak sang mantan suami, tapi pria itu tetap diam di tempat tidur. Raya tahu Karan sedang terkejut melihat perubahan sikapnya, sayangnya ini bukan saat yang tepat untuk termenung. Ia masih harus menjemput putranya, dan itu pekerjaan yang tidak bisa ditunda dengan apa pun karena ia sudah berjanji pada bocah itu. Akhirnya Raya pun melakukan tindakan pamungkasnya. Ia mengamit tangan Karan dan menariknya. “Ayo sarapan! Ini penebusan kesalahanmu yang pertama!” katanya.
Karan tidak tahu dari mana Raya mendapatkan tenaganya yang besar itu, namun wanita itu berhasil membuatnya bergerak dan mengikutinya. Ia yang awalnya merasa malas melakukan apa pun, mendadak menjadi selayaknya seorang anak yang patuh mendengarkan perintah sang ibu. Bahkan saat Raya menyuruhnya menghabiskan semangkuk bubur yang ada di depannya, Karan melakukan itu dengan patuh. Ia menghabiskan makanannya tanpa tersisa.
“Itu bagus!” celetuk Raya dengan ringan. “Sekarang, cepatlah mandi!”
Karan mengernyit lagi mendengar perintah kedua Raya. “Mandi? Untuk apa?”
“Luca sangat sensitif terhadap bau seseorang, jadi kau harus mandi!”
Pria itu semakin kebingungan. “Apa kaitannya Luca dengan aku harus mandi?”
“Ya karena kau harus menemaniku menjemput Luca.”
“Ha? Aku?”
“Iya, kau! Memang siapa lagi? Ian?” Raya memutar bola matanya dengan jengah. Ia tidak tahu Karan akan selambat ini dalam berpikir, dan itu membuatnya semakin kesal. “Yang bersalah itu kau, bukan Ian. Jadi, kalau kau memang mau menebus kesalahanmu, lakukanlah dengan sepenuh hati. Jangan setengah-setengah!”
“Aku tidak bermaksud setengah-setengah, tapi aku masih bingung. Kenapa aku harus menemanimu menjemput Luca?”
“Edgar sedang sibuk mengurus bisnis keluarganya, dan Maude sudah pergi ke luar kota tadi malam. Aku seorang model, Karan. Aku tidak mungkin ke sana dengan taksi. Ah, sudahlah. Kalau kau tidak mau mengantarku, ya sudah. Aku akan meminta Ian mengantarku.”
Raya bersiap-siap untuk pergi, tapi Karan dengan cepat mencegahnya. “Tunggu dulu!” kata pria itu. Jantungnya berdebar kencang dan udara mengisi paru-parunya dengan cara yang tak beraturan. Mungkin saja yang ia lakukan ini salah, namun ia ingin melakukannya untuk terakhir kalinya. “Baiklah, aku akan mengantarkanmu menjemput Luca.”