
“Tidak, jangan sekarang. Kau akan mengetahuinya jika waktunya sudah tepat,” cetus Karan tidak ingin menjawab rasa penasaran Raya. Ini tidak baik. Raya tidak boleh tahu apa yang terjadi padanya di masa lalu atau minimanl tahu siapa dirinya. Kalau itu terjadi, keindahan dan kemesraan yang baru saja mereka bangun akan hilang begitu saja. Masa lalunya akan merusak pernikahan mereka, terlebih itu akan membangkitkan kebencian Karan terhadap Raya dan mengingatkan pria itu tentang dendamnya.
“Tapi kenapa? Ceritakan saja sekarang,” desak Raya. Tadi Karan membelanya di depan wartawan. Meskipun ia tahu itu hanya sekadar basa-basi utamanya saat Karan menyebut Raya tahu segala hal tentang pria itu. Namun, Raya benar-benar tidak basa-basi ingin mengetahui tentang suaminya. Apakah masa lalu sang suami terlalu buruk hingga disembunyikan seperti itu? Seburuk apa pun Raya tidak peduli. Ia harus mendengarnya barulah kemudian ia memutuskan apakah hal itu buruk atau tidak baginya. Jika Karan saja enggan buka suara, bagaimana Raya bisa menilai?
“Raya, berhenti. Kau tahu aku tidak suka dibantah. Jadi jangan memancing amarahku,” tegas Karan. Tak disangka nada mengancam itu akhirnya keluar dari mulutnya. Padahal Karan tidak bermaksud seperti ini. Tujuannya menyusul Raya demi untuk menghabiskan banyak waktu bersama sang istri. Sayangnya karena para wartawan sialan itu, Karan tiba-tiba menjadi kesal. Seandainya kehidupan pribadinya tidak diungkit, pasti sekarang ia dan sang istri sedang bermesraan di dalam lift. Bukan malah saling menatap kesal seperti yang terjadi sekarang.
Embusan napas Raya terdengar di telinga Karan. Meskipun kesal, Raya tetap tidak bisa membantah suaminya. Ia pun menjawab, “Ya, baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi padamu.”
Karan sedikit luluh. Raya yang ada di sebelahnya sangat berbeda dengan sosok Raya yang ia nikahi kurang dari dua bulan yang lalu. Sebelumnya Raya begitu keras kepala, wanita pemberontak yang bahkan melarikan diri darinya. Raya adalah wanita yang tidak pernah mau mendengarkan apa pun yang dikatakan Karan. Begitu sulit bagi Karan hingga pria itu melakukan banyak cara untuk menggendalikan Raya termasuk mengurungnya di dalam kamar.
Sekarang Raya sudah cukup penurut. Wanita itu pun tidak membantah apa yang Karan katakan dan perintahkan. Ia selalu menuruti sang suami. Karan terharu dengan hal itu. “Ya, begitu Sayang. Ada sesuatu yang perlu kita ketahui, tapi ada juga yang tidak perlu kita ketahui,” tutur Karan seolah-olah ia adalah orang terbijak yang pernah ada di muka bumi ini. Padahal Raya tahu Karan sedang melengak padanya. Entah apa yang terjadi di masa lalu, yang pasti Karan mengelak untuk menceritakannya pada Raya.
Kendati sempat menjadi masalah, nyatanya makan malam Karan dan Raya hari itu berjalan dengan lancar. Mereka pun tidak melakukan apa-apa setelahnya dan langsung pergi ke kamar. Selain ciuman mesrah yang sedikit panas selama beberapa menit, Karan dan Raya memutuskan untuk tidur. Penyebabnya karena Raya terlihat begitu mengantuk. Mata wanita itu pun terlihat sayup-sayup ketika mereka sedang bermesraan di atas sofa. Bahkan tanpa disadari, Raya tertidur dalam pelukan Karan.
Ya, wanita itu pasti lelah. Bekerja terus-menerus di bawah terik matahari cukup melelahkan. Apalagi Karan sempat melihat sebuah adegan di mana Raya harus berlari sejauh dua ratus meter sebanyak empat kali. Meskipun lelah, tapi Raya terlihat menikmatinya. Wanita itu tidak henti-hentinya tersenyum ketika menyelesaikan adegan per adegan. Tampak sekali betapa Raya mencintai dunia hiburan.
Alhasil, Karan membaringkan Raya di atas ranjang. Untung saja sebelum berciuman panas mereka sudah membersihkan diri terlebih dulu. Karanlah yang menyuruh Raya untuk mandi terlebih dulu agar wanita itu bisa menikmati waktunya untuk bersantai. Terlebih Karan sudah membelikan beberapa minyak aroma terapi agar Raya bisa mengolesinya ke kedua kakinya yang sedikit bengkak. Tidak mudah berlari di atas pasir pantai apalagi Raya menggunakan sendal bertumit cukup tinggi. Minyak aroma terapi itu bisa membantu pemulihan kaki Raya.
Sayangnya malam itu Karan tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk ke beranda kamar hotelnya, mengamati bintang atau deburan pantai yang terlihat dari sana. Tidak terlalu buruk. Pemandangan dari ketinggian lima lantai itu cukup untuk menyaksikan keindahan laut biru yang tampak gelap itu. Secara spontan Karan merogoh saku bajunya, mencari sesuatu yang selama bertahun-tahun selalu ada di sana.
“Sial! Nyaris saja aku lupa!” umpatnya kencang. Barang yang dicari Karan adalah rokok. Biasanya saat malam seperti ini, sambil menatap langit di beranda, Karan akan menghisap beberapa batang rokok. Setelah itu kepenatannya akan hilang kendati tidak menyelesaikan masalahnya sama sekali.
Alih-alih mendapatkan rokok, Karan malah mendapati sebuah ponsel di saku celananya. Ponsel milik Raya yang Karan ambil sebelum keluar dari beranda. Raya tidak akan pernah tahu apa bahwa Karan bisa membuka kunci pengaman ponsel itu. Tidak hanya kunci pengaman saja, Karan juga meretas ponsel Raya dengan memasukkan alat pengintai di dalamnya. Sehingga ketika Raya kabur darinya, ia akan menemukannya dengan mudah.
Awalnya memang begitu. Ya, awalnya sampai sebuah pesan menghampiri ponsel Raya. Wanita itu tidak menamaninya, artinya nomor itu adalah nomor baru. Karan yang penasaran langsung membacanya. Isinya, “Selamat malam Raya, ini aku Reagan. Aku hanya ingin mengirimkan rundown acara besok. Kata sutradara ada beberapa adegan yang ditunda dan diganti. Aku harap kau bisa membacanya dengan teliti agar besok tidak ada kesalahan.”
Kening Karan mengernyit membacanya. Itu bukannya pesan yang aneh kendati Karan tidak suka si pengirim pesan. Mengapa harus Reagan? Dari semua orang, termasuk manajer Raya, mengapa harus laki-laki itu? Tidak ada yang salah memang. Terlebih ini masih jam setengah sembilan malam. Masih dalam kapasitas wajar untuk menghubungi orang lain untuk sekadar membicarakan tentang pekerjaan. Karan juga sering melakukannya. Hanya saja Karan masih tidak terima Reagan yang ditunjuk tim produksi untuk menghubungi istrinya.
“Kau belum tidur ‘kan? Aku hanya ingin bilang kapan kau akan menemuiku secara pribadi? Kebetulan besok jadwalku cukup senggang. Mungkin setelah syuting kita bisa bicara,” sambung Reagan menyusul pesan kedua yang ia kirim.
Karan menggeram kesal. Tanpa sadar ia meremas ponsel Raya dengan keras. Rasanya menjengkelkan ketika membaca pesan itu. Membaca tentang kedekatan Raya dan Reagan. Karan ingin memecahkan ponsel Raya saat ini juga agar Reagan tidak bisa menghubungi istrinya. Tapi Karan tidak mau Raya kesal kepadanya.
“Baiklah, akan aku sampaikan pada istriku. Terima kasih karena sudah memberikan jadwalnya. Aku harap kau tidak menghubunginya secara pribadi tanpa kehadiranku,” tulis Karan membalas pesan Reagan. Ia terlalu marah untuk berdiam diri. Itulah sebabnya ia memutuskan untuk langsung memberi tahu Reagan bahwa pria itu tidak bisa begitu seenaknya menghubungi seorang wanita yang sudah menikah. Reagan harus menghormati Karan sebagai suami Raya.
Tak disangka, Reagan malah membalas pesan Karan. “Ternyata Pak Karan yang memegang ponsel Raya. Saya tidak menyangka Anda begitu perhatian kepada istri Anda hingga membalas pesan yang ditujukan bukan untuk Anda.”
“Berengsek!” umpat Karan marah. Reagan mengejeknya, menyindirnya karena terlalu posesif terhadap Raya. Tetapi Karan tidak gentar. Raya adalah istrinya, apa pun yang ia lakukan kepada Raya merupakan haknya sebagai suami. Tidak ada yang bisa merampas itu darinya, meskipun orang itu adalah anak dari seorang pengusaha sekaligus anggota dewan seperti Reagan.
“Benar, karena tidak ada rahasia di antara kami. Oleh karena itu istriku memintaku membalas pesanmu.” Karan berkilah. Raya saja sedang tidur, bagaimana mungkin ia meminta Karan membalas pesan Reagan? Karan melakukan itu dengan terpaksa karena ia tidak ingin kehilangan wajahnya.
“Baiklah kalau begitu Pak Karan. Tolong sampaikan pada Raya tentang pesan-pesan saya sebelumnya. Dan tolong juga bilang padanya agar membawa ‘sunblock’ sebelum datang ke lokasi syuting. Saya takut sunblock milik saya yang dipakainya tadi tidak cocok di kulit sensitifnya. Terima kasih dan selamat malam.” Pesan terakhir Reagan yang sedang dibaca Karan.
“Berengsek! Dasar laki-laki berengsek!” umpat Karan lagi. Kali ini Reagan terang-terangan sedang memanas-manasinya. Apalagi sampai menceritakan apa yang terjadi di lokasi syuting tadi. Reagan seolah-olah ingin mengatakan bahwa Karan memang suami Raya, tetapi Karan tidak tahu apa-apa tentang Raya. Hal ini tentu berbeda dengan Reagan. Sebagai sesama artis yang berkecimpung di tempat kerja yang sama, interaksi yang terjadi antara Reagan dan Raya akan semakin banyak. Bahkan kalau dibandingkan, Reagan memiliki waktu yang lebih banyak bersama Raya ketimbang Karan yang notabene suami Raya.