
Karan melihat arloji mewah yang melingkar di tangannya selagi ia menunggu pesawat akan lepas landas. Ia harus mengalihkan perhatian setiap kali melakukan penerbangan. Padahal bukan sekali dua kali Karan bepergian dengan menggunakan burung besi tersebut, tetapi tetap saja kecemasan muncul di benaknya. Dulu, sewaktu kecil, ia tidak pernah berpikir akan pernah naik pesawat. Melihatnya dari kejauhan saja sudah mengasyikkan. Tidak disangka sekarang pesawat dan dirinya tidak bisa lepas sama sekali. Namun ketika Karan harus terus menaiki pesawat, ia malah baru tahu kalau ia punya ketakutan terhadap ketinggian. Bukan semua ketinggian karena tempat Karan bekerja biasanya di gedung pencakar langit, melainkan ketinggian yang diciptakan oleh pergerakan pesawat.
Kegelisahan Karan disadari oleh Raya. Ia melihat suaminya selalu mengalihkan pandangan dari jendela sambil terus melihat ke arah jam tangannya. Mungkin jika ponsel dapat digunakan, Karan pasti lebih memilih memakai ponselnya. Namun pria yang biasanya tidak peduli dengan aturan itu, mendadak sangat mematuhi larangan dalam pesawat. Semua alat elektroniknya ia matikan termasuk ponsel dan laptop. Alhasil, Karan hanya bisa memandangi jam mewah tersebut.
“Apa kau takut?” celetuk Raya pada sang suami. Konyol memang bertanya tentang hal itu mengingat bagaimana tabiat Karan selama ini. Bagi Raya, Karan benar-benar pria yang tidak kenal takut, seharusnya. Ia terlihat kuat dan tegas. Otot-otot tubuh yang dibentuk secara alami melalui proses olahraga yang tepat membuat bentuk tubuhnya proporsional. Maskulin, namun tidak terlalu kekar. Hanya saja perut dan dadanya terbentuk dengan sempurna. Karan juga tampan, cerdas dan mahir dalam dunia bisnis. Ia adalah pria tulen dan makhluk yang menyenangkan di atas ranjang. Tipe pria liar sejati yang tak bercela. Mungkin itulah faktor-faktor yang membuat seorang Karan Reviano begitu memikat.
Alih-alih menyangkal, Karan justru mengakui ketakutannya. “Ya, aku tidak suka ketinggian. Lebih tepatnya ketinggian di udara,” ucapnya. Ketinggian yang disebabkan oleh benda yang bergerak. Itulah sebabnya Karan tidak akan pernah mau menaiki roller coaster atau di Indonesia disebut sebagai kereta luncur, meskipun permainan itu cukup populer di kalangan warga Amerika Serikat. Karan selalu memilih untuk menghindar daripada ikut teman-teman kuliahnya menaiki wahana tersebut.
Raya cukup terkejut dengan kenyataan itu. Ia pun mengangguk. “Tidak apa-apa. Sebentar lagi pesawatnya akan normal lagi,” ungkap Raya mencoba menenangkan suaminya. Ia menyentuh tangan sang suami dan mengelusnya pelan. Entah mengapa Raya selalu tidak bisa mengabaikan setiap kesulitan yang Karan rasakan. Padahal sudah menyakitinya, bahkan membohonginya. Akan tetapi, setiap melihat mimik wajah Karan yang gelisah, Raya tidak bisa bersikap seolah-olah ia tidak peduli. Nalurinya selalu melarang itu. Entah karena statusnya sebagai seorang istri yang harus mendukung suaminya, atau karena Raya menaruh perhatian lebih pada laki-laki itu.
Senyuman tipis merekah di bibir Karan. Ia senang mendengar Raya yang penuh perhatian padanya. Pria itu pun menanggapi, “Baiklah. Tapi Sayang, bisakah kau mengalihkan perhatianku?”
Sebelah kening Raya terangkat. “Mengalihkan perhatian bagaimana maksudnya?” tanyanya bingung.
“Mungkin kau bisa memberiku sebuah ciuman manis,” kata pria itu menggoda istrinya.
Raya menggeram. Padahal beberapa saat lalu baru saja Karan terlihat begitu mengenaskan yang sontak menimbulkan rasa iba dari hati Raya. Tetapi sekarang, pria itu malah secara terang-terangan menggodanya. “Karan! Kita ada di dalam pesawat. Berhentilah bermain-main denganku!” hardiknya pada sang suami.
Karan pun tertawa pelan. “Hahaha, aku hanya bercanda, Sayang. Bercanda ringan seperti ini akan membuat tubuh kita rileks kembali." Pria itu melakukannya dengan sengaja untuk membuat istrinya tidak merasa khawatir lagi. Harga dirinya sedikit terluka jika Raya melihat sosoknya yang lemah seperti ini.
“Bukan kita, tapi kau. Aku sama sekali tidak takut ketinggian.” Raya balas menyombongkan diri. Karena pada kenyataannya, Raya tidak pernah takut ketinggian, baik itu ketinggian pesawat atau ketinggian gedung. Raya malah suka permainan-permainan yang menggunakan ketinggian yang sangat memacu adrenalin. Bahkan pernah satu kali dalam kariernya, Raya harus turun menggunakan helikopter di sebuah iklan produk olahraga. Sesuatu yang banyak ditolak oleh para model yang lain, tetapi diterima oleh Raya begitu saja,
“Ya, kau memang tidak pernah takut ketinggian. Bahkan kau tidak pernah ragu memanjat pohon untuk kabur dari sekolah,” cetus Karan sembari tertawa.
Kembali, Raya tersentak. “Apa? Kapan aku memanjat pohon untuk kabur dari sekolah?” tanyanya kebingungan. Selama mengenyam pendidikan di bangku sekolah, Raya adalah anak yang rajin dan patuh. Ia juga siswi teladan yang tidak pernah dilaporkan melakukan kenakalan apa pun. Menurut sang bibi, ia merupakan anak yang paling mengerti tata krama dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Lantas, bagaimana mungkin ia memanjat pohon? Terlebih memanjat pohon untuk kabur dari sekolah? Itu terdengar tidak masuk akal bagi Raya.
Karan menggigit bibirnya dan mengumpat kesal dalam hatinya. “Sialan, dasar mulut sialan!” katanya yang tentu saja tidak bisa didengar oleh Raya. Mengapa kecerobohan ini kembali berulang? Mengapa ia bisa dengan mudahnya mengungkapkan pengalaman pribadi mereka? Padahal ia sudah susah payah berhenti mengungkit masalah ini ketika mereka berada di mobil tadi. Malah sekarang mulutnya itu berujar tanpa bisa dikendalikan.
“Ah tidak. Maksudku, kau tidak takut turun dari helikopter dalam iklanmu. Kau pernah melakukan itu, bukan?” ujar Karan berdalih. Untung saja ia teringat satu iklan ekstrem yang pernah dibintangi oleh istrinya itu.
Kening Raya kembali mengernyit. Bukan itu yang didengarnya tadi. Jelas-jelas Karan mengatakan tentang menaiki pohon dan bolos sekolah. Suara mesin pesawat memang terdengar di dalam ruangan itu, tetapi suara itu tidak cukup keras hingga mengganggu indra pendengaran Raya. “Tidak, kau tidak mengatakan itu, Karan. Tadi kau mengatakan tentang aku tidak pernah takut memanjat pohon.”
“Oh ya? Memangnya aku mengatakan itu?” Karan berpura-pura bodoh dengan tidak mengingat apa saja yang baru dilontarkan oleh mulutnya.
“Iya, jelas-jelas kau bilang aku sering bolos sekolah. Memangnya kapan aku melakukan itu? Dan juga, bagaimana kau bisa tahu tentang itu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Karan mulai panik. Pria itu berpikir keras untuk mencari ide bagaimana cara mengalihkan pembicaraan ini. Dan begitu tanda sabuk pengaman boleh dilepas dihidupkan, Karan pun buru-buru melepaskannya. Ia bergerak mendekati istrinya dan mencium bibir Raya hingga wanita itu tersentak.
“Uuffftt!” Raya tidak bisa melakukan apa-apa ketika bibir Karan menempel pada bibirnya. Tubuhnya pun tidak bisa bergerak karena Karan dengan sigap mendekapnya. Padahal seandainya salah satu tangannya bisa berfungsi dengan baik, ia pasti bisa mendorong suaminya dan melepaskan ciuman itu.
Berdekapan mesra dengan Raya rasanya seperti membawa Karan kepada kenangan mereka di masa lalu dan Karan harus menelan salivanya akibat tenggorokannya yang tersekat bersama dengan degupan kencang di jantungnya. Hatinya menghangat, sesuatu yang ia dapatkan dulu sewaktu menghabiskan hari bersama dengan Raya. Bagi Karan yang dingin, Raya ibarat matahari yang memberinya sebuah kehangatan. Kehangatan yang tidak pernah bisa Karan dapatkan pada sosok wanita mana pun. Raya begitu istimewa, wanita yang membawa rasa cinta sekaligus kebencian di dalam hati Karan.
Tiba-tiba gejolak kehangatan dalam diri Karan berubah menjadi panas. Ia rindu memiliki Raya, ingin menenggelamkan dirinya di dalam tubuh sang istri dan menyalurkan hasrat biologisnya lagi. Sudah lama rasanya mereka tidak berhubungan badan. Karan cukup sibuk dan Raya terlihat cukup kelelahan. Wanita itu sempat pingsan saat melakukan kunjungan ke panti asuhan di Jalan Asoka. Kemudian, mereka sibuk menyiapkan bulan madu ini. Karan bahkan harus menahan diri cukup lama dan menuntaskan keinginannya di dalam kamar mandi. Sesuatu yang menyedihkan bagi seorang Karan yang bergelimang harta dan kedudukan tinggi di masyarakat.
Padahal Karan bisa saja mengundang wanita penghibur masuk ke dalam kamarnya. Tidak hanya satu, Karan bisa memesan beberapa wanita penghibur yang berbeda setiap malamnya. Tentu saja dengan uang yang Karan miliki, ia bisa menentukan kriteria wanita yang melayaninya, termasuk memastikan mereka adalah wanita yang sehat dan masih polos atau malah masih perawan. Sayangnya Karan tidak tertarik sama sekali. Alih-alih bergairah, Karan justru merasa jijik. Ia punya trauma besar terhadap perempuan. Membayangkan ada tangan asing menari-nari di atas permukaan kulitnya sudah membuat Karan memuntahkan isi perutnya.
“Raya, bernapas!” seru Karan saat ia menurunkan intensitas ciumannya. Kini pria itu hanya menggigit ringan bibir bawah Raya agar memberikan waktu kepada wanita itu untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen. “Sepertinya aku sudah lama tidak menciummu hingga kau lupa pelajaran dasar yang pernah aku berikan padamu.” Pelajaran itu tentang mengambil napas di sela-sela pertautan bibir mereka. Sebelumnya Karan pernah mengajari Raya dan istrinya itu sudah menerapkannya dengan benar beberapa kali. Mungkin karena Karan sudah mulai jarang menyentuhnya selama beberapa hari belakangan sehingga wanita itu melupakannya.
“Karan ... berhenti ....” Akhirnya Raya bisa bersuara meskipun dengan napas yang terengah-engah. Karan memang mahir berciuman. Pria panas yang bisa dengan pandainya memainkan tempo mereka. Entah karena Karan menyerangnya secara mendadak hingga ia tidak bisa mengatur napasnya atau memang ciuman mereka terlalu liar. Yang pasti Raya hampir kehilangan kendali dirinya. “Kita sedang berada di pesawat,” gumamnya pelan.
Karan menekankan bibirnya ke telinga Raya, dan menyeringai senang saat istrinya itu menggeliat berusaha menghindarinya. “Memangnya apa yang akan kita lakukan, hm? Aku hanya menciummu saja ‘kan? Atau jangan-jangan kau sedang berpikiran mesum tentangku?”
Raya tersengal saat tangan Karan yang bebas terulur dan mengelus punggungnya. Rambut-rambut halus di permukaan kulit Raya berdiri, dan selama satu detik kemudian ia mengeluarkan sebuah suara aneh ketika Karan mengecup lehernya dengan keras. “Karan ... berhenti. Kita di dalam pesawat,” kata Raya yang kembali mengingatkan suaminya.
“Ya Sayang, aku tahu kita di dalam pesawat. Ini pesawat milik keluargaku. Tidak akan ada yang melarangnya.”
“Bagaimana kalau ada orang yang datang?”
“Memangnya kenapa? Kita hanya berciuman, Raya. Itu hal yang wajar. Lihat, pakaian kita juga masih lengkap.”
Raya memandang pakaiannya dan pakaian Karan secara singkat. Benar, mereka masih memakai pakaian mereka. Tidak ada satu pun ornamen pakaian yang terlepas, bahkan dasi yang biasanya selalu menjadi benda yang paling pertama dilepas Karan pun masih menggantung di kerah pria itu. Begitu pula dengan dres biru yang Raya kenakan masih tertutup sempurna. Tidak ada perpindahan satu jengkal pun dari tempatnya semula. Tapi dengan semua itu, tanpa menanggalkan pakaian mereka, Raya sudah merasa menggila. Karan berhasil membuat tubuhnya menegang hanya dengan memanfaatkan bibir dan lehernya saja.
“Benar ‘kan?” tanya Karan begitu sang istri memeriksa pakaian mereka.
“Tapi, ini tidak benar,” sambung Raya.
“Di mananya yang tidak benar? Kita sudah menikah dan hanya berciuman di pesawat yang kosong ini. Atau kau ingin aku melakukan sesuatu yang lain padamu?” Karan mengedipkan mata untuk mengirimkan gejolak kenakalannya kepada sang istri. Dan dalam sekejap, ia berhasil menarik Raya untuk berpindah tempat duduk. Kini wanita itu sudah berada di atas pangkuannya.
“Aku tidak ingin melakukan apa pun di sini.”
“Tidak, kau berbohong, Sayang. Aku mengenalmu dengan sangat baik. Aku juga paham sekali bagaimana respons tubuhmu. Bagaimana kalau kita mencoba melakukannya di sini, Sayang? Sepertinya sangat seru.”
Dengan mata yang sayu Raya mencoba memandang paras tampan suaminya. “Mencoba apa?” tanyanya.
“Mencoba bercinta di atas pesawat,” gumam pria itu sambil menyeringai. Memberikan sebuah undangan berani kepada sang istri.