
Semakin dibiarkan, Raya semakin menunjukkan aksinya untuk mencari tahu latar belakang Karan. Wanita itu bahkan sudah memulainya pagi ini, ketika mereka sudah kembali ke rumah mereka. Tanpa diminta, Raya mendadak ingin membantu Karan mengemasi barang-barangnya. Sebenarnya Karan tidak membutuhkan bantuan Raya. Toh, selama ini Karan sudah sering melakukannya sendiri. Jangankan untuk mengurusi barang-barang miliknya, Karan bahkan tidak mengizinkan Raya untuk mengatur barang miliknya sendiri. Semua pakaian Raya diatur oleh Anna dan para asisten rumah tangga yang dipekerjakan Karan. Meskipun wanita itu pun secara diam-diam sering melanggar ketentuan suaminya dengan melakukan pekerjaan rumah tangga yang lain seperti memasak.
Tapi kali ini Raya berbicara dengan lantang, “Kau mandi saja, Karan. Biar aku yang membereskan pakaianmu.” Senyuman yang merekah di bibir Raya serta netra cokelatnya yang menyalak membuat Karan tidak bisa melakukan apa-apa. Jangankan melarang, sekadar menjawab pun tidak. Raya justru langsung menyambung ucapannya saat sang suami hendak menyelanya. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membantu suamiku bersiap-siap. Kau tahu selama ini aku tidak pernah melihatmu pergi. Hubungan kita tidak pernah baik.”
Karan mengembuskan napasnya, merasa pasrah dengan keinginan istinya. Terlebih saat Raya membahas tentang hubungan mereka yang buruk. Karan tidak bisa melakukan apa-apa selain menyetujui perkataan sang istri. “Baiklah, kau boleh menyiapkan pakaianku. Jangan terlalu banyak karena aku cuma tiga hari di Berlin. Karena aku akan berpindah-pindah tempat, siapkan saja pakaian secukupnya agar mudah dibawa-bawa,” pesan Karan.
Raya menganggukkan kepalanya. “Oke, kau tenang saja. Aku tidak akan memasukkan barang-barang yang membuatmu kesulitan. Sekarang, sana mandi!” Raya mendorong suaminya menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar. Tak lupa ia menyerahkan handuk yang ada di tempat tidur kepada pria itu. “Nikmati saja mandimu. Jangan terburu-buru ya Suamiku,” pungkasnya.
Siapa yang tidak curiga dengan tingkah mendadak Raya? Wanita itu tidak hanya tiba-tiba ingin menjadi seorang istri yang perhatian, tapi juga istri yang manis. Tidak pernah sekali pun Karan mendengar Raya memanggil ‘suamiku’ padanya. Wanita itu selalu memanggil namanya, ya itu wajar karena pernikahan mereka terbilang mendadak. Lagi pula, sikap Karan di dua bulan pertama pernikahan mereka terbilang cukup mengerikan bagi istrinya. Karan juga tidak membutuhkan Raya bersikap manis padanya. Bagi laki-laki itu, sang istri yang bersikap penurut dan tidak membantahnya saja sudah lebih dari cukup. Meskipun pada kenyataannya, Karan juga tidak menampik bahwa ia suka ketika Raya bersikap manis dan memanggilnya dengan panggilan tersebut.
“Baiklah, kalau kau merasa kesulitan, suruh Anna saja yang menyiapkannya,” kata Karan lagi mengingatkan. Untuk kesekian kalinya, Karan tidak ingin istrinya kerepotan pada apa pun.
Raya mengangguk cepat. “Ya, ya aku tahu! Sudah sana mandi! Nanti kau terlambat ke bandara!” seru Raya.
Begitu sosok sang suami sudah masuk ke kamar mandi dan menutup pintu, Raya menempelkan telinganya, mencoba mendengar apa yang sedang dilakukan Karan. Bunyi air dari keran mulai terdengar, artinya Karan sudah memulai aktivitas mandinya. Dan sekaranglah Raya memulai apa yang sudah direncanakannya, yaitu menyelidiki identitas Karan.
Raya mengambil koper, memasukkan beberapa setel jas ke dalam koper kecil itu dan juga baju yang akan digunakan Karan di hotel. Selanjutnya, Raya mulai melancarkan aksinya. Ia mencari sesuatu yang ada di dalam lemari Karan, mungkin semacam dokumen yang bisa ia jadikan acuan. Raya pun melihat sebuah brankas kecil di bagian paling bawah lemari. Tentu saja brankas itu terkunci. Raya mulai memikirkan kode untuk membukanya, mulai dari tanggal lahir Karan, tanggal lahirnya bahkan sampai tanggal pernikahan mereka. Hasilnya nihil. Brankas itu tetap terkunci rapat.
Raya menyerah. Ia memindahkan buruannya ke sesuatu yang lain. Dompet Karan. Berbeda dengan masyarakat modern di zaman ini yang sangat mengandalkan ponsel dalam kehidupan sehari-hari, Karan justru sebaliknya. Ia bisa melupakan ponselnya, tapi tidak pernah Raya melihat Karan meninggalkan dompetnya. Pria itu selalu rajin membawa benda yang terbuat dari kulit hewan asli itu ke mana-mana.
Masalah kembali timbul. Raya tidak tahu di mana Karan menyimpan dompetnya. Wanita itu sudah mencari di lemari, tapi ia tidak menemukannya. Begitu pun di nakas dan di lemari-lemari kecil yang ada di dalam kamar itu. Di mana sebenarnya Karan menyimpan dompetnya? Mungkinkah pria itu membawanya ke kamar mandi? Masa sampai sejauh itu Karan menyembunyikan dompetnya? Memang apa yang tersembunyi di dalam dompet tersebut? Rasa penasaran Raya begitu membuncah hingga ia masih tidak berputus asa mencari benda tersebut hingga menghabiskan waktu 15 menit.
“Apa yang kau cari?”
Suara Karan menyentakkan Raya. Ia sedang mencari di bawah ranjang ketika suaminya keluar dari kamar mandi. Saking semangat dan seriusnya Raya mencari, ia sampai tidak sadar tidak terdengar lagi suara air dari dalam kamar mandi yang artinya Karan sudah selesai membersihkan diri.
“Apa kau menjatuhkan sesuatu di sana?” Karan berkata lagi. Kali ini ia ikut menunjuk sama seperti yang sedang dilakukan istrinya.
Cepat-cepat Raya menggeleng. “Tidak, aku pikir ada sesuatu di bawah. Ternyata tidak ada.”
Kernyitan muncul di kening Karan. “Apa? Apa kau pikir ada tikus?”
“Tidak. Mungkin bukan tikus, tapi kecoa,” ungkap Raya berbohong.
Karena itu adalah sebuah kebohongan, Raya tidak mau melibatkan orang yang tidak bersalah sama sekali. Kecoa itu hanya kambing hitamnya, nyatanya binatang yang menjijikkan itu tidak ada di dalam kamar Karan. “Aku bilang ‘kan mungkin Karan. Belum tentu benar.”
“Tetap saja Raya. Walaupun hanya kemungkinan kecil, tapi aku tidak mau ada binatang di dalam kamarku.”
“Oke, baiklah. Nanti akan aku beri tahu Anna untuk membersihkan kamarmu.”
“Itu bagus.” Karan berjalan ke arah lemari. Ia tersenyum melihat barang-barangnya sudah disusun oleh Raya ke dalam koper. “Sayang, ada yang ingin kau lakukan lagi?” tanyanya karena melihat Raya masih ada di dalam kamarnya.
Raya pun merasa kikuk. Ia tahu ini bukan kebiasaannya, tapi ia tidak bisa menyerah begitu saja. “Kenapa memangnya? Kau tidak suka aku ada di sini?”
“Mana mungkin Sayang. Aku sangat suka. Tapi aku ingin memakai bajuku.”
“Lalu? Aku tidak boleh melihatnya?”
“Bukannya tidak boleh, tapi aku tidak akan bisa menahan diriku jika kau menatap tubuhku seperti itu. Rasanya aku ingin membatalkan pekerjaanku dan menyeretmu ke sana.” Karan menunjuk ranjang besarnya.
Sial! Raya mengumpat di dalam hatinya. Ia benci dengan pikirannya yang tergoda dengan ucapan Karan. “Kau tetap harus pergi, Karan. Ini pekerjaan penting.”
“Ya, aku tahu. Jadi, kalau kau memang tidak ingin keluar dari kamarku, bisakah kau berbalik sebentar? Tubuhku akan menegang kalau aku tahu kau melihatku memakai pakaian.”
“Iya, iya aku tahu.”
Raya langsung berbalik dan Karan terkekeh pelan. Tanpa disadari, kedua pipi Raya sudah memerah karena perbincangan ini. Dan Karan menyukainya. Ini terasa sangat menyenangkan baginya.
“Oh ya Sayang, apa kau sudah memasukkan dompetku?” tanya Karan lagi. Pria itu bukan cenayang yang tahu apa saja yang dilakukan oleh istrinya di dalam kamarnya. Tapi Karan bisa menebaknya. Apa yang diinginkan Raya dan apa yang tengah dicari oleh wanita itu. “Dompetku ada di dalam jaket yang aku pakai dari rumah Mama. Sepertinya aku belum mengeluarkannya. Bisakah kau mengambilnya untukku, Sayang?”
Pantas saja! Seru Raya di dalam hatinya. Ia sudah mencari benda itu di mana-mana sampai menuduh suaminya membawanya ke kamar mandi. Padahal benda itu ada di dalam jaket yang sedang menggantung di depan Raya, tepatnya di gantungan yang berada di belakang pintu. Itu kebiasaan Karan. Pria itu selalu menggantung jaket atau jasnya di sana sebelum dimasukkan ke keranjang kain kotor. Biasanya Karan akan memeriksa satu per satu saku bajunya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal di sana barulah Karan membiarkan pakaiannya dicuci.
Mengapa Raya tidak memikirkan kemungkinan itu? Dasar bodoh! Raya mengutuk kelambatan dirinya dalam berpikir. Tapi tidak masalah. Sekarang ia sudah tahu di mana benda itu berada. Jadi, Raya hanya perlu mengambilnya dan memeriksa isi dompet Karan yang begitu mencurigakan untuknya.