
“Sialan!” Karan mengumpat kencang. Memangnya Raya pikir siapa dirinya itu? Berani sekali Raya mengabaikannya, bahkan mengusirnya. Ia adalah seorang Karan Reviano, anak konglomerat sekaligus pengusaha muda yang namanya begitu terkenal di dunia bisnis. Tidak akan ada wanita yang menolaknya. Tidak akan pernah ada wanita yang mengabaikan dirinya. Tetapi Raya, hanya karena statusnya sebagai super model, ia sanggup melakukan hal seperti itu. Padahal seharusnya Raya merasa terhormat dan tersanjung diperlakukan begitu mesra di depan media. Namun wanita itu malah menghindarinya seolah ia jijik pada Karan. Benar-benar berengsek!
Amarah Karan benar-benar tinggi dan tidak kunjung mereda kendati ia sudah mandi air dingin. Kemarahan itu membuat Karan ingin menarik Raya ke tengah-tengah awak media dan memperlakukannya. Gelombang kekesalannya itu membuatnya berniat untuk menelanjangi istrinya di depan umum. Karan harus melakukan sesuatu kepada Raya. Sesuatu yang menyakiti dan membuat wanita itu bersujud di bawah kakinya dan meminta maaf.
Karan melangkah keluar dari kamar mandi dan menyambar handuk kecil untuk menutup bagian bawahnya. Amarahnya membara selagi ia mengingat ekspresi penolakan Raya. Karan menyapukan tangan ke nakas dengan keras hingga membuat ponsel, kunci mobil dan remot pendingin ruangan melayang ke atas lantai.
“Berengsek!” umpatnya lagi. Usai mengacak-acak rambut secara kasar, Karan memperbaiki ulahnya. Ia memunguti benda-benda yang sempat ia jatuhkan tadi dan meletakkannya di tempat semula. Karan menatap foto pernikahan mereka yang ada di atas nakas. Sangat tajam dan intens seakan-akan tatapannya itu bisa membunuh Raya saat itu juga. Karan mengambil foto itu sambil berujar, “aku akan membuatmu menyesal, Sayang. Kau akan segera mendapatkan balasannya.”
Karan melepaskan foto itu dan bergegas berjalan ke lemari, memilih pakaian mana yang akan ia gunakan malam ini. Karan yakin Raya tidak akan pulang. Wanita itu akan melarikan diri darinya dengan alasan pekerjaan. Apakah Karan harus mematahkan kedua kaki cantiknya itu agar ia tidak bisa melarikan diri? Kalau itu memang dibutuhnya, Karan akan melakukannya dengan baik.
“Di mana istriku?” Sang CEO bertanya pada asistennya. Karena Raya tidak kunjung pulang—sesuai dugaannya, maka Karan akan bertindak lebih dahulu. Ia akan menemui Raya di mana pun wanita itu berada. Lalu, ia akan menyeret Raya pulang dan mengurung wanita itu di kamarnya. Ia sudah cukup melunak dengan membiarkan istrinya bekerja lagi. Tapi berani-beraninya Raya menolaknya di depan umum.
Ian tahu pertanyaan itu akan segera dilontarkan Karan padanya, itulah sebabnya Ian sudah menempatkan mata-mata untuk mengikuti Raya. “Ibu ada di hotel A, Pak. Di kamar nomor 105,” ucapnya sembari menyerahkan ponsel yang berisi gambar-gambar Raya yang berhasil dipotret oleh sang mata-mata.
Tidak pemberitahuan ada transaksi kartu kredit atas namanya yang Karan terima hari ini. Dari mana Raya mendapatkan uang untuk menginap di hotel? Memang kamar yang ditempati Raya tidak terlalu mewah untuk seorang super model sepertinya, tapi juga tidak terlalu buruk untuk dibilang murahan. Setidaknya Raya harus mengeluarkan uang sekitar 500 ribu agar bisa menginap di sana. Itu terbilang sangat murah seandainya Raya belum menikah. Namun setelah menikah, semua keuangan wanita itu dikuasai oleh Karan. Raya tidak akan bisa menggunakan uang di rekeningnya sendiri tanpa sepengetahuan Karan.
Karan mengamati foto wanita itu. Kekhawatirannya pun muncul. Raya memiliki kecantikan dan ketenaran yang membuat sebagian besar pria tidak akan berpikir dua kali untuk menerima ajakannya masuk ke kamar hotel. Buktinya Raya memiliki riwayat telah berkencan dengan beberapa pria yang memiliki berbagai macam latar belakang sosial. Cukup mudah bagi Raya untuk merayu laki-laki lain hingga laki-laki itu menyerahkan apa pun yang diinginkan Raya, termasuk uang.
Tidak! Karan menggeleng dengan tegas. Raya tidak akan mungkin mengajak laki-laki asing ke dalam kamar hotel. Istrinya itu tidak akan mungkin menjual tubuhnya hanya demi mendapatkan uang. Buktinya saja Raya masih menjaga keperawanannya sampai ia menikah dan direbut oleh Karan. Raya tetap akan mempertahankan nilai-nilai keangkuhan dan harga dirinya.
Sayangnya, Karan tidak cukup yakin dengan pemikirannya itu. Rasa curiga dan cemburu menyelimuti hatinya. Pria itu pun akhirnya bertanya, “Apakah istriku ke hotel itu sendiri?”
Dan yang ditakutkan Karan terjadi. Ian menggelengkan kepalanya. “Tidak Pak. Ibu pergi ke hotel menaiki mobil seorang pria.”
Sesuatu seperti baru saja meledak di dalam diri Karan. Kemarahan dan kebencian itu tidak lagi bisa terbendung olehnya. “Berengsek!” maki Karan sembari melemparkan ponsel Ian ke atas lantai. Beruntung hanya kaca depan layar ponsel itu saja yang retak. Kalau tidak, entah berapa kali lagi Ian harus mengganti ponselnya yang rusak karena perbuatan Karan.
“Agensi yang sama? Sialan! Berapa banyak lagi lalat yang harus aku singkirkan darimu, Sayang? Kenapa kau sangat suka memaksaku menggunakan kekerasan?” tukas Karan dengan mata menyalak menatap gambar itu. Kemudian, ia memandang ke arah Ian. “Ayo, kita harus ke sana untuk menjemput istriku.”
Tanpa persiapan apa pun Karan pergi bersama Ian ke hotel A yang berada di Jakarta Selatan. Di sepanjang perjalanan, Karan merasa begitu cemas. Ia takut kejadian 12 tahun lalu terjadi lagi, di mana Raya meninggalkannya sendirian. Karan gelisah, beberapa punting rokok memenuhi asbak mobilnya, tapi kegelisahan Karan tidak kunjung mau menghilang.
“Aku tidak bisa membiarkannya, Ian. Aku harus menghancurkan laki-laki itu!” ungkap Karan dengan penuh kemarahan.
Awalnya Ian tidak mengerti apa yang dimaksud Karan. Tetapi beberapa saat kemudian, Ia pun mengerti. Karan memerintahkan bawahannya yang lain untuk mengakuisisi agensi tempat Raya dan laki-laki itu bekerja. Tidak sampai di sana, Karan juga menyuruh wartawan agar memberitakan hal-hal buruk tentang laki-laki itu. Dan dalam waktu sekejap, nama rekan kerja Raya itu sudah menjadi tajuk utama media dan diperbincangkan oleh masyarakat di media massa.
Sialnya itu juga belum membuat Karan puas. Ia menyuruh anak buahnya untuk menghasut masyarakat agar membenci sang model. Tujuannya supaya laki-laki itu tidak bisa mendapatkan pekerjaan lagi sehingga Raya tidak punya tempat bersandar. Dengan begitu Raya akan selalu bergantung pada Karan sampai kapan pun.
Begitu sampai di lobi hotel, Karan langsung mendapatkan kartu akses kamar setelah diberikan oleh resepsionis. Karan hanya perlu menyampaikan identitasnya dan beralasan bahwa istrinya tidak menjawab teleponnya. Karena berita pernikahan Karan dan Raya begitu menghebohkan, sang resepsionis pun percaya dan menyerahkan kartu akses yang lain kepada Karan.
Terbesit seringai saat Karan masuk ke dalam kamar. Aroma segar dari sabun dan sampo ditambah suara gemercik air, meyakinkan Karan kalau Raya sedang membersihkan diri di kamar mandi. Mengetahui istrinya ada di sana dalam keadaan telanjang membuat Karan menegang dan intinya terasa sesak. Benar-benar pria berengsek. Bagaimana mungkin ia merasa marah dan bergairah dalam waktu yang bersamaan?
Alih-alih menyerang Raya yang sedang mandi secara langsung, Karan justru bergerak ke arah sofa. Bibirnya tersenyum ketika tidak menemukan seorang pria pun ada di sana, khususnya rekan satu agensi Raya itu. Ini melegakan. Karan bisa bernapas normal sekarang.
Tetapi itu tidak menutup kenyataan bahwa Raya pergi ke hotel bersama laki-laki lain. Dan sebelumnya Raya sudah menolaknya. Ini tidak bisa dibiarkan. Karan harus memberikan pelajaran pada Raya. Kali ini Karan akan memastikan tidak ada penolakan lagi. Raya tidak akan bisa kabur dan wanita itu harus melayaninya. Ya, Karan akan menikmati malam yang panas dengan sang istri. Ia tidak akan sanggup menahan gejolaknya setelah membayangkan tubuh Raya. Sekalian saja ia tuntaskan di dalam kamar hotel itu sambil memberikan hukuman kepada sang istri.
“Cepatlah keluar, Sayang. Aku akan menunggumu di sini,” ujar Karan di depan kamar mandi. Sengaja ia bersuara sangat kecil supaya tidak terdengar oleh sang istri. Karan ingin melihat bagaimana wajah terkejutnya Raya saat mengetahui keberadaannya. Sudah pasti wajah cantik yang kaget itu akan menyenangkan untuk disaksikan meskipun tidak lebih menyenangkan dibandingkan melihat wajah Raya yang menangis saat tubuh mereka bersatu.
Karan memilih menunggu di sofa. Sambil terus menanti Raya keluar dari kamar mandi, Karan mengambil sebuah dasi dari jaketnya. Dasi yang sengaja ia bawa dari rumah sebelum datang ke sana karena ia tahu Raya akan benci melihatnya. Raya sangat tidak suka tangannya diikat oleh Karan. Tetapi Karan akan selalu melakukan apa pun yang dibenci oleh Raya, termasuk mengikat Raya saat berhubungan badan.