
Umpatan Karan ternyata didengar oleh Raya. Tadinya wanita itu sudah tertidur, namun ia terbangun tepat ketika Karan mengambil ponselnya. Bunyi ponsel itu tidak hanya mengganggu Karan, tetapi juga Raya. Yang menjadi pertanyaan bagi Raya adalah siapa yang menghubungi Karan di malam hari? Pria itu sempat menyebutkan jenis kelaminnya wanita. Wanita siapa? Setahu Raya, Karan tidak dekat dengan wanita mana pun. Selain sekretaris kantor yang juga tidak terlalu dekat. Bahkan selama Raya berada di kantor, selama ia menikah dengan Karan, sekretaris Karan tidak pernah mengganggu mereka. Sang suami sama sekali tidak pernah mengizinkan sekretarisnya mengganggu saat sedang berada di rumah. Satu-satunya yang sanggup mengganggu Karan hanyalah Ian karena Karan memberikan keistimewaan pada pria itu.
Siapa wanita itu?
Raya masih memikirkan wanita yang menghubungi Karan bahkan sampai pagi menjelang. Karena memikirkan wanita yang menghubungi Karan itulah yang membuat Raya tidak bisa tidur dengan nyenyak semalaman ini. Ia terus saja membayangkan yang tidak-tidak tiap kali memejamkan mata. Barulah pada pagi harinya Raya mulai mencari tahu. Bukan mencari tahu langsung pada sang suami yang ia yakini tidak akan menjelaskannya sama sekali, tetapi Raya bertanya pada Ian yang kebetulan ada di rumahnya untuk menjemput Karan.
“Ian, tunggu sebentar, ayo sini,” tukas Raya sembari menarik Ian menuju ke bawah tangga, tempat yang ia kira akan aman jika berbicara dengan Ian. “Aku ingin berbicara sesuatu padamu.” Wanita itu berbicara sambil berbisik-bisik agar menghindari percakapan mereka yang terdengar oleh Karan, meskipun pria itu belum tampak karena masih berada di dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Tetap saja Raya harus berhati-hati. Ia tidak bisa membiarkan perkara ini menimbulkan masalah dengan Karan.
“Ada apa Bu?” Ian bertanya dengan bingung. Tidak biasanya Raya akan menariknya secara diam-diam seperti ini jika tidak ada yang terjadi. Apalagi melihat Raya yang terlihat tidak tenang dan sering sekali menengok ke arah tangga, seperti tengah mengamati Karan. Ia tidak suka keadaan begini. Ia tidak mau berada di tengah-tengah antara Karan dan Raya.
“Apakah ada wanita di dekat Karan sekarang?”
Ian mengernyit bingung. “Wanita yang dekat dengan Pak Karan? Saya rasa tidak ada, Bu. Tidak ada wanita mana pun yang ada di sekitar Bapak.” Ian berkata jujur. Tidak ada wanita mana pun yang dekat dengan majikannya. Jangankan dekat, hanya sekadar berkenalan saja susah. Sepanjang Ian bekerja bersama Karan, hanya Raya sajalah yang dipikirkan oleh Karan. Pria itu bahkan melakukan ribuan cara untuk mendapatkan sang super model.
Raya bertanya lagi untuk meyakinkan Ian. “Kau yakin? Apa tidak ada wanita yang menghubunginya selama di kantor?”
“Tentu saja ada beberapa wanita, Bu. Tapi saya jamin hanya rekan kerja Pak Karan. Tidak ada hubungan spesial di antara mereka.” Ian tahu ke mana arah pembicaraan Raya. Wanita itu pasti sedang curiga dengan Karan hingga menanyakan hal-hal tentang kedekatan Karan dengan wanita lain. Ian sama sekali tidak menutup-nutupinya karena suruhan sang majikan. Seandainya ia tahu, ia akan memberi tahu Raya masalah tersebut. Sayangnya, Ian sama sekali tidak tahu.
“Jadi, siapa yang menelepon Karan tadi malam?” gumam Raya tanpa bertanya pada Ian secara langsung.
Ian ikut berpikir. Ia tidak menyangka Karan akan berhubungan dengan wanita lain di belakang Raya. Terlebih sampai ada wanita yang mengetahu nomor pribadinya. Pasalnya tidak sembarang orang yang diperbolehkan menyimpan nomor sang CEO. Harus ada hubungan khusus di antara mereka agar Karan mau membagikan nomor ponsel pribadinya. Itu artinya Karan punya hubungan istimewa dengan wanita itu. “Ya, Bu? Apakah ada masalah?” Ian berusaha polos dengan berpura-pura tidak mendengarkan ucapan Raya barusan.
Raya menggeleng cepat. “Ah, tidak. Tidak ada masalah yang terjadi,” kilah Raya. Ini hanya sebatas kecurigaan Raya. Tidak elok rasanya jika Raya melampiaskannya tanpa bukti. Apalagi kepada orang yang tidak ada kaitannya sama sekali. “Aku boleh minta tolong padamu?”
“Silakan Bu. Jika ada yang bisa saya bantu, maka akan saya bantu.”
Meskipun tidak tahu duduk permasalahan antara Karan dan Raya, tetapi Ian akan mencoba untuk membantu Raya. “Baik Bu. Saya akan segera memberi tahu Anda jika saya melihat ada yang mencurigakan dari Pak Karan.”
“Terima kasih Ian, dan satu lagi, tolong jangan ceritakan hal ini pada suamiku,” sambung Raya lagi.
Ian mengangguk. “Anda tenang saja, Bu. Saya tidak akan memberi tahu Pak Karan tentang ini.”
Entah Ian berkata jujur atau tidak, namun Raya tidak punya pilihan selain memercayai Ian. Pasalnya hanya pria itulah satu-satunya orang yang dekat dengan suaminya. Jika tidak meminta bantuan pada Ian, Raya tidak akan tahu ke mana ia harus meminta bantuan.
Tepat sebelum Karan turun dari tangga, Raya sudah kembali ke posisinya di meja makan. Wanita itu menyambut kedatangan suaminya dengan sangat ramah. Bahkan ia tidak berhenti untuk tersenyum melihat suaminya menghampiri meja makan. Karan yang penasaran pun langsung mengajukan pertanyaan kepada sang istri. “Selamat pagi Sayang. Ada apa? Apakah ada kabar baik?” tukasnya sembari duduk di kursi yang berada di depan Raya.
“Tidak ada,” tukas Raya. Ia tetap menampilkan senyum di bibirnya untuk menyembunyikan perasaan gundah di dalam hatinya. Jika terlambat beberapa detik saja, ia akan ketahuan sedang berbicara dengan Ian perihal wanita semalam. Walaupun tidak salah seorang istri mengetahui keadaan suaminya, tetap saja Raya merasa Karan akan marah jika ia mengungkit masalah ini. Jadi, ketimbang mereka kembali bertengkar, Raya akan memilih menyembunyikannya saja. “Aku hanya senang karena kau mau sarapan di sini.”
Karan sedikit tersentak. Ia tidak berniat untuk melewatkan sarapan bersama istrinya. Beberapa kali Karan ingin melakukan itu tetapi tidak bisa. Jika ia tidak sibuk, maka Raya yang akan sibuk. Atau yang terjadi sebaliknya. Namun yang terjadi belakangan ini adalah kesibukan Karan membuatnya selalu menyantap sarapannya di jalan. “Maafkan aku, Sayang. Belakangan ini aku sibuk, tapi aku akan coba untuk selalu sarapan dan makan malam di rumah,” janji Karan.
“Benarkah? Apa kau hari ini tidak ada janji makan siang di luar?” tanya Raya.
Kening Karan mengernyit, tapi ia menjawab, “Sepertinya tidak ada.”
“Baguslah. Kalau begitu siang ini kita akan makan siang bersama.”
“Itu ide yang bagus Sayang. Sudah lama kita tidak makan siang di luar. Baiklah, nanti aku akan menjemputmu,” sambut Karan dengan antusias. Ini usulan mendadak, tetapi Karan menyukainya. Sejak kembali pasca bulan madu mereka dari Milan, mereka sangat sibuk dengan urusan masing-masing. Karan harus mengurus perusahaannya, sementara Raya sibuk menyiapkan syuting iklannya. Selain berada di atas ranjang, tidak ada percakapan panjang yang mereka katakan. Hanya sekadar salam dengan disertai kecupan mesra yang begitu singkat. Mungkin dengan makan siang ini mereka bisa memiliki waktu untuk berbicara satu sama lain, terlebih mereka sudah berkomitmen untuk mulai terbuka kendati Karan sendiri masih menyembunyikan beberapa hal dari Karan.
Raya tersenyum lagi. “Ya, nanti aku akan kirimkan lokasiku padamu.” Raya punya tujuan dengan mengajak Karan makan bersama. Ia ingin mencari tahu tentang kehidupan suaminya sehari-hari di kantor. Itulah sebabnya Raya tidak akan mengirimkan lokasinya kepada Karan. Yang terjadi nanti adalah Rayalah yang akan menjemput Karan di kantor. Ia akan menyaksikan sendiri kegiatan sang suami agar kecurigaannya bisa berkurang.