
Usai pembicaraan dengan Reagan, Karan masuk ke kamar, mengambil ponselnya lalu kembali ke beranda. Satu-satunya yang dihubungi Karan saat ini adalah Ian. Pria itu pasti tahu apa yang harus diperbuat agar Raya tidak bertemu dengan model laki-laki itu. Bisa saja Karan menghentikan kegiatan Raya, mengurung wanita itu di dalam rumah seperti biasanya. Tetapi, Karan tidak mau. Lebih tepatnya ia tidak mau mendapatkan murka Raya. Sudah terlalu banyak masalah yang mereka hadapi sebelumnya, Karan hanya ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang biasa saja.
“Suruh orang untuk mengikuti Raya di mana pun Raya berada. Dan jangan biarkan Raya bertemu dengan Reagan,” perintah Karan pada Ian. Padahal bukan seperti ini tujuan Karan menghubungi Ian, ia hanya ingin berdiskusikan mengenai sang istri. Tetapi emosi yang menyelimuti hatinya membuatnya tidak lagi bisa berpikiran jernih. Karan takut kalau ia membiarkan Raya begitu dekat dengan Reagan, wanita itu akan terpengaruh dan pergi darinya. Tidak bisa dipungkiri kenyataan tersebut bisa terjadi karena Reagan punya uang dan kekuasaan.
Ian tidak mengerti letak masalahnya, tapi pria itu tidak bisa mengatakan apa-apa selain mengiyakan ucapan Karan. “Baik Pak, saya akan menyuruh orang mengikuti Ibu.”
“Bagus,” cetus Karan. Ia mematikan ponselnya dan masuk lagi ke kamar. Kali ini Karan menghampiri ranjang dan berbaring di samping sang istri. Tangannya bergerak, memuluk Raya dengan erat lalu mengelusnya sampai ia sendiri terlelap dalam mimpi.
Tepat pukul lima pagi alarm ponselnya berbunyi. Raya mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Ia menyingkirkan lengan Karan agar bisa bangkit dari ranjang. Meskipun syuting kali ini agak siang, tapi Raya ingin melakukan sesuatu sebelum syuting, yakni memanjakan Karan. Pria itu sudah menjemputnya dan menemaninya. Lagi pula, semalam Raya bersalah karena tidak melakukannya sampai akhir. Ia malah tertidur di saat-saat penting. Raya sendiri tidak tahu, tapi aktivitas syuting kemarin cukup melelahkan baginya. Mungkin karena Raya sudah tidak pernah menjalani syuting seberat itu selama dua bulan belakangan.
Pertama yang dilakukan Raya adalah mencuci wajah dan menggosok gigi. Hal yang selalu ia lakukan selepas bangun pagi. Saat ingin kembali ke ranjang, Raya menemukan sebuah kotak berukuran sedang di atas meja nakas, sesuatu yang tidak Raya perhatikan tadi. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Raya mengambil kotak itu dan membukanya. Ternyata isinya adalah sunblock. Raya tidak pernah memesan pelindung tabir surya itu, apakah Karan yang melakukannya? Bagaimana bisa Karan tahu ia membutuhkan benda itu?
Kemudian, Raya mendekati sang suami. Tanpa canggung sama sekali ia berbaring di atas Karan, menciumi wajah pria itu mulai dari mata hingga ke bibirnya. Raya terus-menerus menggoda Karan hingga pria itu terganggu hingga ia bergumam, “Hentikan Raya.”
Raya mengangkat wajahnya dan melihat mata Karan masih tertutup, tetapi tangan pria itu kini berada di kedua pinggul Raya, bermaksud agar menjaga keseimbangan Raya agar tidak terjatuh dari atas tubuhnya.
“Dari mana kau tahu aku ini Raya?” tanya Raya.
Karan masih memejamkan mata, namun bibirnya bergerak. “Memangnya siapa wanita yang berani naik ke atas tubuhku dan menciumiku seperti ini?”
“Ya, mungkin saja ada satu atau dua ... atau mungkin lebih dari itu.”
“Tidak ada satu atau dua, bahkan lebih dari itu. Wanita yang kuizinkan sekarang ada di atas ranjangku hanya dirimu.”
Perasaan aneh merasuk dalam hati Raya. Seharusnya ia senang Karan mengatakan hal itu yang artinya pria itu tidak memiliki wanita mana pun selain dirinya. Tapi, entah mengapa saat kata ‘sekarang’ muncul, mendadak hati Raya menciut. Artinya Karan punya wanita lain di masa lalu. Wanita yang melakukan hal sama seperti yang Raya lakukan saat ini. Berbaring di atas tubuh Karan sembari memberikan beberapa kecupan basah. Siapa wanita itu? Apakah wanita yang sama dengan yang pernah Anna sebutkan waktu itu? Wanita yang wajahnya terpasang di dinding kamar Karan sebelum digantikan dengan foto pernikahan mereka?
“Aku tebak, aku pasti bukan wanita pertama yang melakukan hal ini, kan?” Raya memberanikan diri bertanya. Ia benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari ucapan Anna tempo lalu.
Mendadak Karan membuka mata. Kedua manik cokelat itu memandang wajah sang istri dengan lekat. Tanpa melontarkan apa pun untuk menjawab pertanyaan Raya, Karan memindahkan tangannya ke leber belakang Raya. Menarik tubuh wanita itu dan mencium bibirnya.
Karan menciumnya. Ciuman yang sama sekali berbeda dengan ciuman Raya. Benar-benar berbeda. Tubuh Raya melemas dan tangannya hanya bisa berada di samping tubuh Karan tanpa memiliki tenaga. Panas sekali. Padahal ruangan itu dilengkapi oleh pendingin ruangan tapi Raya merasakan kepanasan, terutama di bagian bibirnya yang bersentuhan dengan bibir Karan. Pria itu terlihat terburu-buru yang membuat Raya seolah-olah tidak diizinkan untuk bergerak sama sekali.
“Jangan pikirkan hal lain, Raya. Kau hanya perlu bernapas, ingat?” Suara serak Karan terdengar di telinga Raya. Tidak mungkin bagi Raya mendengar suara dalam yang seksi itu tanpa menginginkan sang pemilik suara.
“Yeah,” racau Raya.
“Kau begitu manis pagi ini. Kenapa? Apa kau menyesal telah membiarkanku menahan hasrat semalaman ini?” Tatapan mata Karan mengarah pada Raya begitu intim hingga bagian tubuh Raya seolah-olah meleleh karena mendambakan sentuhan Karan yang lebih liar lagi.
“Aku tahu, Sayang. Aku tahu apa yang kau inginkan dengan baik. Jadi, berhentilah menantapku dengan tatapan begitu memohon.”
Raya tersentak. Apakah ia terlihat begitu? Terlihat seperti wanita yang harus kasih sayang lelaki hingga memohon pada Karan? Jika begitu, memang apa salahnya? Karan adalah suaminya, wajah Raya begitu menginginkan pria itu. “Benar, bisakah kau melakukannya?”
“Tentu saja,” balas Karan sembari menyeringai. Tangannya bergeser sesuai keinginan Raya, dan pria itu menyingkap baju tidur Raya yang tipis, menyelinap masuk dan kini berada di permukaan kulit Raya bagian belakang. Karan mengelusnya lembut hingga tubuh Raya gemetar. Tangan pria itu terasa dingin karena terkena udara dari pendingin ruangan, tapi gerakan yang dilakukan Karan dengan tangan itu sukses membuat Raya terbakar. Setiap sentuhan Karan menambah antisipasi Raya, membuatnya semakin mendamba hingga bergerak dengan gelisah.
“Ugh!” Karan melenguh. Ia mendekap istrinya yang bergerak-gerak itu dengan erat. “Berhenti, Sayang. Kau membuatku menegang.”
Raya tahu dengan pasti bagian mana dari tubuh Karan yang menegang. Perutnya menyentuh bagian itu, bagian pangkal paha Karan yang menegang. Ini terlalu bahaya karena bagi laki-laki, tubuh bagian itu sangat sensitif bila disentuh, terutama saat pagi hari. “Ma-maaf,” gumam Raya terbata-bata.
Karan merasa tidak tahan lagi. Akhirnya ia melakukan tindakan yang lebih besar, ia membalik tubuh Raya hingga istrinya itu kini berada di bawahnya. Entah kapan dan bagaimana caranya, Karan sudah menanggalkan pakaian Raya dan juga pakaian miliknya sendiri. Kini keduanya tidak mengenakan apa-apa sehingga udara dingin berembus dengan leluasa di atas permukaan kulit mereka masing-masing.
Kemudian, Karan mencium bibir Raya lagi. Kedua tangannya berada di samping kepala Raya, berusaha menahan beban tubuhnya agar tidak menimpa sang istri. Dan yang dapat Raya rasakan hanyalah debaran kencang jantungnya, juga jantung milik Karan. Suara degup itu seolah-olah saling bersahut-sahutan satu sama lain seirama dengan bibir karan yang bergerak aktif. Rasanya begitu intens, mendesak dan tentu saja menggairahkan. Raya teringat pesan Karan di sela-sela ciuman mereka, bahwa ia harus menyempatkan diri untuk bernapas pada setiap keadaan.
“Kau benar-benar murid yang pandai, Raya,” puji Karan sembari menyugar rambutnya sendiri yang mendadak basah karena keringat. “Kau membuatku semakin merasa panas,” ungkapnya jujur sebelum menempelkan bibirnya lagi di bibir Raya, sementara tangannya bergerak liar menjelajah setiap inci tubuh wanita itu.
Sambil mengatur napasnya, Raya meremas rambut Karan ketika kepala pria itu berada di dadanya. Entah harus berapa kali Raya harus memuji, tapi Karan benar-benar ahli dalam memanjakan tubuh wanita. Pria itu tahu di mana titik-titik sensitif Raya dan mengeksplorasinya dengan baik. Bahkan hanya dengan jari-jarinya saja sukses membuat Raya mencapai pelepasannya.
“Tu-tunggu Karan. Ko—”
“Tidak apa-apa.” Karan memperingati setelah memotong apa yang hendak istrinya katakan. “Kita tidak butuh benda itu.” Maksudnya adalah benda yang terbuat dari lateks sebagai alat pengaman hubungan seksual.
“Tapi ...”
“Raya, apa yang kau takutkan? Apa kau takut hamil? Kau tidak suka mengandung anakku?” geram Karan marah.
Raya menggeleng pelan. “Tentu tidak. Aku tidak masalah kalau punya anak, tapi bukankah kau tidak menyukainya?”
Karan sempat mengatakan hal itu. Mengatakan bahwa ia tidak ingin punya anak. Mengurus anak itu sulit kendati membuatnya sangat mudah. Lagi pula, Karan hanya butuh Raya, ia tidak ingin seorang anak kecil merusak hubungannya dengan wanita itu meskipun anak itu adalah darah dagingnya sendiri. Tingkat posesif Karan memang sudah sangat mengkhawatirkan seperti itu, tapi Raya tetap menghargainya. Itulah sebabnya ia selalu meminum obat pencegah kehamilan karena takut satu pengaman saja tidak cukup.
Sayangnya seminggu ini Raya tidak meminumnya dengan rutin. Tepatnya tiga hari belakangan Raya sama sekali tidak meminum sebutir pun obat itu. Syuting kali ini begitu menguras tenaga dan obat itu kerap membuatnya merasa pusing. Raya takut jika meminumnya sebelum syuting, maka ia akan jatuh pingsan karena kehilangan kesadaran.
“Tidak, sekarang aku berubah pikiran,” sambung Karan setalah mengumpat kencang karena kesal. “Aku tidak masalah kalau kita punya anak,” tukasnya berbohong. Tentu saja Karan bermasalah dengan itu. Tidak hanya anak, benda apa pun yang menarik perhatian Raya dari dirinya akan ia lenyapkan tanpa berpikiran panjang. Anak adalah salah satunya. Karan yakin Raya tidak akan pernah memedulikannya lagi ketika bocah itu terlahir di dunia. Dan membayangkannya saja sudah membuat Karan mendidih karena marah.
Namun, Karan berpikiran lain. Bisa saja anak mengikat hubungannya dengan Raya. Misalkan Raya hamil dan melahirkan anaknya, Raya tidak akan punya pilihan selain tetap di sisinya. Sekalipun Raya berpikiran untuk kabur, Karan akan menggunakan anak itu untuk mengancam Raya. Ya, itu adalah ide yang sangat brilian.