Lies

Lies
Raya Ditemukan



Karan benar-benar telah mengerahkan ratusan orang untuk mencari Raya. Setelah melihat ciri-ciri tempat dari video di mana Raya muncul, ada anggapan bahwa Raya berada di sebuah rumah sakit khusus. Rumah sakit yang dibuat bukan untuk masyarakat umum melainkan orang-orang tertentu. Awalnya Karan salah sangka dengan mengira bahwa Raya dirawat di salah satu rumah sakit elite di pusat ibu kota. Beberapa orang pun dikerahkan ke sana. Karena rumah sakit elite, Karan sampai harus menggunakan jaringannya sebagai anak seorang Reviano. Beruntung ayahnya adalah orang terkenal yang mempunyai banyak jaringan di berbagai instansi, termasuk instansi kesehatan. Itulah sebabnya Karan sampai bisa meminta bantuan pada direktur rumah sakit untuk mencari keberadaan istrinya di dalam rumah sakit itu.


Sayangnya, Karan tidak menemukan nama Raya Drisana di sana. Bahkan ciri-ciri yang disebutkan oleh Karan pun tidak ada di rumah sakit mahal tersebut. Karan sudah meminta sang direktur untuk memeriksa dengan teliti, tetapi mau dicari berapa lama pun mereka tidak akan menemukan orang yang sejak awal memang tidak ada di sana. Karan akhirnya menemukan titik buntu lagi dalam pencarian ini. Saking putus asanya, Karan hampir saja melaporkan hal ini pada polisi seandainya sang ayah tidak mencegahnya.


“Kau mau melaporkan kehilangan istrimu ke polisi? Apakah mencari seorang wanita saja kau tidak bisa? Papa sudah bilang gunakan otakmu. Berpikirlah cerdas. Kalau kau butuh uang, gunakan uang keluarga. Kau butuh jaringan, pakai semua informasi yang Papa punya. Tapi Papa tidak setuju kau melibatkan polisi. Kau harus ingat apa konsekuensi jika kau melakukan hal itu. Tidak hanya kau saja yang hancur, tapi juga Papa dan Mama. Ingat bagaimana kami merawatmu dan membantumu selama ini. Jangan bertindak gegabah!” komentar sang ayah yang hari itu langsung mendatangi kantor Karan setelah mendengarkan kabar bahwa Karan akan melibatkan pihak keamanan negara.


Entah bagaimana informasi itu bisa bocor ke telinga sang ayah. Seingat Karan tidak ada orang asing yang terlibat dalam misi pencarian Raya ini. Satu-satunya orang terdekat yang tahu semua rencana Karan hanyalah Ian. Dan Karan ragu jika pria itu mau buka mulut dan membocorkannya kepada sang ayah. Namun, Karan tidak punya orang yang patut dicurigai selain Ian. Mungkin memang asisten pribadinya itulah yang berkhianat padanya, bahkan sampai melibatkan orang tua Karan. Kendati demikian, dalam keadaan kesal dan marah, Karan tetap tidak bisa meluapkannya pada Ian. Ia masih butuh tenaga dan pikiran laki-laki itu. Setidaknya hanya sekarang sampai istrinya ditemukan. Setelah itu, Karan akan memikirkan bagaimana harus bertindak pada Ian.


“Iya Pa, aku janji tidak akan melibatkan polisi. Aku akan melibatkan lebih banyak lagi orang untuk mencari istriku,” balas Karan. Dalam hal ini, ia tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh ayahnya. Seperti yang disebutkan sebelumnya oleh pria tua itu, masalah ini akan menjadi sangat besar jika pihak keamanan terlibat. Tidak hanya Karan saja yang akan terseret-seret, nama keluarganya pun akan ikut terseret. Karan akan membuat orang tuanya menderita padahal selama ini mereka sudah cukup menderita hanya demi merawat putra mereka satu-satunya. Sebagai bentuk balas budi, sebisa mungkin Karan tidak akan melibatkan pihak ketiga dari negeri ini.


“Bagus. Papa sudah mempercayai segalanya padamu, Karan. Nama Papa, usaha Papa dan keluarga Papa. Papa harap kau tidak mengecewakan keluargamu, terutama Mama. Kau tahu seberapa besar Mama menyayangimu, bukan? Apakah kau pernah membayangkan bagaimana kecewa dan patah hatinya Mama jika masa lalu kita terungkap ke media? Mama tidak hanya akan diusik oleh wartawan, tapi Mama juga akan kehilangan harapannya karena kehilangan putra kesayangannya. Apa kau melupakan saat-saat itu?”


Sang ayah membawa Karan pada ingatannya di masa lalu, saat usianya menginjak 18 tahun. Ia melihat perempuan itu menangis sambil memeluknya. Dengan sangat putus asa wanita paruh baya itu memangilnya dan menyebutnya sebagai sumber harapannya. Sebagai satu-satunya alasan mengapa ia bisa hidup sekarang. Kerena ia percaya bahwa putranya, Karan Reviano masih hidup. Tentu saja Karan ingat dengan sangat jelas kenangan itu. Tidak pernah sedetik pun ia lupa betapa putus asanya wanita yang ia panggil ‘Mama’ itu.


Hati Karan terenyuh. Ia memang pria berengsek, tapi ia bukanlah seorang anak durhaka. Terutama kepada orang tua yang susah payah membesarkannya dan memberikan segalanya kepadanya. “Aku tahu, Pa. Aku tidak akan membuat Mama terluka. Apa pun yang terjadi, Mama tidak akan kehilangan putranya lagi,” janji Karan pada sang ayah. Dengan tekad itulah Karan menghentikan rencananya untuk melibatkan pihak-pihak lain.


****


Usai ditemui oleh sang ayah, Karan mendapatkan kabar baik. Ian mengatakan bahwa ia telah menemukan posisi Raya. Ternyata bukan berada di rumah sakit elite yang mewah dan mahal, atau di rumah sakit umum lainnya. Jangan salah, meskipun punya gangguan pada ingatannya, Raya tetap tidak mendapatkan perawatan dari psikiater. Karena jika Raya melakukan hal itu, maka Karan akan dengan mudah menemukannya. Sebab, Karan terlebih dulu memerintahkan Ian melakukan pencarian ke rumah sakit yang khusus untuk memeriksa psikologi atau kejiwaan seseorang.


Lantas, di mana lokasi Raya sebenarnya? Raya ditemukan di rumah sakit yang tidak diduga oleh siapa pun. Tidak Ian, apalagi Karan. Ternyata selama dua minggu, Raya berada di rumah sakit khusus ibu dan anak. Rumah sakit yang ditujukan untuk para wanita hamil dan anak-anak. Untuk apa Raya berada di sana?


Itulah sebabnya Karan memerlukan bantuan langsung dari sang pemilik rumah sakit. Sebab jika pemiliknya sudah turun tangan, sekalipun itu aturan rumah sakit, dokter akan dengan mudahnya memberikan catatan medis itu kepada orang lain walaupun tidak melalui izin dari pasien. Sangat kejam memang, tapi itulah yang terjadi di dunia nyata. Semuanya bisa dikendalikan jika seseorang memiliki dua hal, uang dan kekuasaan. Bahkan hukum saja bisa dilanggar jika orang itu memiliki kedua hal tersebut.


“Jadi kau hamil Raya? Kau melarikan diri dariku karena kau mengandung anakku?” gumam Karan sembari membaca pesan itu. Kakinya masih tetap melangkah hingga ia berada di dalam mobil mewah miliknya meskipun hampir saja ia tersandung karena tidak fokus pada langkah kakinya. Untung saja Karan tidak membawa mobilnya sendiri. Sebelumnya ia telah meminta seorang sopir untuk mengantarkannya ke rumah sakit ibu dan anak tempat Raya dirawat.


Tidak hanya kabar kehamilan Raya saja yang mengejutkan Karan. Nyatanya ada hal yang membuat Karan terperangah saat Ian mengirimkan beberapa lembar foto berisi catatan medis Raya yang lain. Beberapa di antaranya hanyalah pemeriksaan rutin yang tidak terlalu penting. Namun, ada satu hal yang membuat Karan membelalakan matanya. Mulut pria itu bahkan terbuka lebar karena ia begitu terkejut membacanya. Catatan medis itu menjelaskan bahwa Raya telah menandatangi tindakan medis darurat ketika ia mengalami pendarahan. Di sana dokter melakukan operasi kuretase, atau prosedur untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim.


Berbagai macam emosi silih berganti mengisi hati Karan. Awalnya ia marah karena Raya telah menyembunyikan fakta bahwa ia tengah mengandung anak mereka. Lalu, Karan merasa bahagia karena ia tahu bahwa di dalam rahim istrinya ada janin yang akan tumbuh menjadi anaknya. Karan tidak membenci anak-anak meskipun pada kenyataannya ia juga tidak terlalu menyukai mereka. Tetapi jika anak itu lahir dari rahim sang istri dan buah dari benihnya, Karan tidak akan pernah membencinya. Bahkan perlahan-lahan ia yakin ia akan menyukai anak itu.


Tapi tak lama setelah kebahagian itu, tiba-tiba saja kabar buruk menimpanya. Kabar tentang sang istri yang keguguran. Artinya janin yang bahkan belum berusia empat bulan itu harus lenyap dari dunia ini. Anaknya yang belum terlahir ke muka bumi itu harus meninggal saat masih menjadi janin. Kenyataan yang sangat menyakitkan. Karan merasa hatinya teriris. Perih sekali rasanya. Tanpa sadar pria itu bahkan sampai meneteskan air matanya. Jika ia saja merasakan rasa sakit yang sebesar ini, tidak bisa terbayangkan bagaimana Raya.


Istrinya itu harus mengalami hal buruk itu sendirian. Tanpa dirinya sebagai seorang suami di sisinya. Yang paling parahnya, saat Raya dalam keadaan berduka telah kehilangan anak mereka, Karan justru melakukan hal lain yang sangat tidak terpuji. Ia membuat sebuah rencana untuk menghancurkan istrinya sendiri. Karan sibuk memikirkan bagaimana caranya membalas perbuatan Raya, Reagan dan Varen. Dalam pikirannya sempat terbesit bahwa ketiga orang itu sedang bersekongkol untuk menghancurkannya.


Padahal yang terjadi bukanlah seperti itu. Raya Drisana bukanlah wanita picik sepertinya. Karan sangat menyesal. Pria itu mengaku sudah mengenal Raya lebih dari 12 tahun, tapi ia tidak tahu apa pun tentang wanita itu. Tidak tahu bagaimana kepribadian Raya dan kelembutan hatinya. Tidak. Ralat. Karan bukannya tidak tahu tentang hal itu. Ia tahu tapi memilih untuk menutup diri. Semua ia lakukan hanya demi membenarkan perbuatannya yang ingin membalaskan rasa sakit hatinya pasca kejadian 12 tahun lalu yang membuatnya begitu terluka.


Yang lebih parahnya, Raya malah terang-terangan membela Karan. Melalui video dengan durasi 10 menit itu Raya melimpahkan semua kesalahan sang suami kepadanya. Lalu, memosisikan suaminya sebagai pihak yang tidak bersalah sama sekali. Seandainya video itu memang diambil di rumah sakit ibu dan anak, dan dalam waktu dekat ini, artinya Karan melakukan perekaman setelah wanita itu melalui operasi menyakitkan untuk menghilangkan anak mereka dari rahimnya. Pantas saja Raya terlihat begitu pucat. Pantas saja wanita itu tidak terlihat sehat.


Sialan! Ke mana saja Karan selama ini? Jika ditelisik lebih jauh dan menyusun periode kehamilan Raya, Karan bisa menyimpulkan bahwa istrinya sudah hamil sebelum meninggalkan rumah mereka. Artinya saat itu, wajah pucat yang dilihat Karan bukanlah wajah pucat karena kelelahan akibat terlalu lama melakukan syuting iklan, tetapi wajah pucat akibat kehamilannya. Lalu, apa yang dilakukan Karan? Ia malah mengajak sang istri bertengkar dan mengatakan kata-kata kasar kepada wanita itu. Sungguh, Karan bukan hanya suami yang buruk. Karan merasa ia seperti pria yang tidak berguna sama sekali.


“Cepat bawa aku ke rumah sakit ibu dan anak di daerah X. Aku harus segera bertemu istriku,” perintah Karan pada sopirnya. Ia benar-benar ingin menemui Raya secepatnya.