
Karan merasa tegang. Entah mengapa ia merasa seperti hendak mendatangi persidangan selayaknya yang ia lakukan 19 tahun lalu ketika pertama kali memasuki ruang sidang akibat peristiwa tersebut. Rasa tegang dan cemas itu merasuki Karan dan semakin terasa nyata saat mobil mereka sudah berada di dekat gerbang sekolah Luca. Sesuai janjinya, Karan mengantarkan Raya sendiri. Ia tidak meminta Ian untuk menyetir karena ia benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama wanita itu. Tidak ada yang tahu kapan saat-saat ini akan terulang, jadi sebelum berakhir, Karan harus menikmatinya sebanyak mungkin.
“Kau tahu, Luca banyak bercerita tentangmu,” ujar Raya membuka pembicaraan. Wanita itu memang tidak suka suasana sepi yang mencekam, itu telah terjadi sejak lama. Mungkin karena rumahnya dulu terlalu sepi untuk Raya sendiri. Terkadang memang kebisingan terjadi di sana. Tapi itu terjadi saat sang ayah pulang. Jika dibandingkan dengan suara berisik yang disebabkan oleh sang ayah, Raya lebih memilih hidup dalam kesunyian meskipun ia membencinya.
Dulu Raya terlalu miskin untuk memiliki alat pemutar musik seperti yang dimiliki oleh kebanyakan gadis remaja di ibu kota. Musik yang sering ia dengar adalah musik daerah yang diputar oleh tetangganya melalui radio. Sementara musik pop dan genre musik lainnya Raya dengar di sekolah karena biasanya sekolahnya akan memutar berbagai macam musik di sela-sela waktu istirahat agar membut para murid merasa tenang. Dari lagu-lagu yang didengarnya itulah Raya mengingatnya bahkan menuliskan liriknya ke dalam buku. Kemudian, Raya menggunakannya untuk menghibur diri dengan menyanyikannya ulang di rumah.
Begitu juga sekarang. Selama perjalanan Raya menghidupkan musik di mobil Karan. Ia juga tidak canggung menyanyikan beberapa lagu kesukaannya bila tidak sengaja terputar di sana. Karan tidak keberatan sama sekali mobil itu dijadikan tempat karaoke oleh sang mantan istri. Justru ia menyesal tidak pernah melakukan ini bersama Raya. Seharusnya dulu ia lebih sering berduaan dengan sang mantan istri dengan mengelilingi berbagai kota dan negara. Sayangnya saat itu kebencian masih melingkupi hati Karan hingga ia menyianyiakan setiap waktu berharga bersama wanita itu.
Tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan kota, Karan menanggapi ucapan Raya. “Oh ya? Apa yang dia katakan tentangku?”
“Katanya dia sangat menyukaimu. Kenapa bisa begitu? Apakah kau benar-benar baru pertama kali bertemu dengannya?”
Meskipun tidak melihat langsung tapi Karant tahu Raya sedang melemparkan tatapan tajam ke arahnya. Bahkan, wanita itu tidak melepaskan pandangan dari wajahnya selama beberapa saat yang tentu saja membuat Karan begitu berdebar. Seandainya ia tidak sedang menyetir dan mereka tidak sedang berada di dalam mobil, Karan pasti akan membalas tatapan Raya. Lebih parahnya Karan memikirkan hal yang ekstrem sekarang. Ia ingin mencium bibir wanita itu. Ini gila, tapi Rayalah yang memancingnya. Wanita itu tahu bahwa ia begitu mencintainya tetapi masih saja berani merayunya seperti ini. Tentu saja Karan akan memikirkan apa yang ia ingin lakukan selama ini bersama sang mantan istri.
“Aku tidak tahu kenapa dia menyukaiku, tapi aku benar-benar baru pertama kali bertemu dengan Luca beberapa waktu lalu. Aku saja tidak tahu kalau Luca adalah putramu,” sahut Karan usai memperbaiki isi hati dan pikirannya agar bisa fokus menyetir. Sangat berbahaya jika ia memikirkan hal-hal lain saat menyetir, bisa-bisa mereka akan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.
“Benarkah? Tapi kenapa dia bisa dekat denganmu? Luca tidak bisa dekat dengan banyak orang. Sebenarnya dia itu anak yang pemalu. Aku saja kesulitan membujuknya ke sekolah.” Raya mengeluh tentang putranya kepada Karan.
Ini cukup mengejutkan bagi Karan. Bukan hanya karena Raya yang tiba-tiba terbuka kepadanya mengenai persoalan anak itu, tetapi juga dengan keadaan Luca. Ia tidak tampak sama sekali seperti yang Raya sebutkan barusan. Anak pemalu? Bagaimana mungkin seorang anak pemalu bisa meminta makanan dari meja orang asing? Tidak sampai di sana, Luca juga mengajaknya untuk memakan es krim bersama. Karan tidak akan pernah percaya dengan ucapan Raya. Bagaimana bocah yang sangat aktif seperti Luca saat bersamanya itu adalah anak yang sulit bergaul?
“Luca pemalu? Tapi dia tidak seperti itu saat bersamaku. Dia malah terlihat sangat aktif dan periang.”
Raya membelalakkan matanya menatap Karan. “Itu dia yang aku bilang. Luca tidak seperti itu sebenarnya. Dia jarang sekali menunjukkan minatnya pada seseorang. Katanya berdekatan dengan orang-orang itu merepotkan. Jadi selain kami, tidak ada yang bisa mendekatinya.”
“Mungkin karena dia menganggapku spesial.”
“Apa? Kenapa?” Raya mengernyit. “Jangan-jangan kau sudah ....” Ucapan wanita itu terhenti tanpa sebab.
“Sudah? Sudah apa? Kenapa kau tidak melanjutkan ucapanmu?” tanya Karan penasaran. Ia benar-benar tidak suka obrolan yang menggantung seperti ini.
“Ah sudahlah. Lupakan saja. Aku tidak akan mengatakannya sekarang.” Kali ini wanita itu malah membuang wajahnya ke jalanan kota Milan.
Karan mengernyit, ia sungguh merasa sangat penasaran. Namun alih-alih memaksakan kehendaknya pada Raya, Karan memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Lebih baik obrolan ini berganti topik agar hubungan mereka tidak canggung kembali.
“Jadi, apa yang Luca sukai dariku?” Karan belum mendengar hal ini dari Luca tentang bocah kecil itu yang menyukainya. Setidaknya sekarang ia akan mendengarnya dari mulut ibu sang bocah. Itu lebih baik dari pada tidak tahu sama sekali.
Raya mengalihkan lagi wajahnya ke arah Karan agar bisa berbicara secara leluasa dengan pria itu. “Dia menyukai wajahmu, katanya kau sangat tampan.”
Penuturan Raya itu memberikan dampak yang begitu besar pada Karan. Ia hampir saja menginjak pedal rem dan menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Luca menyukainya. Yah, itu bukanlah hal yang tabu. Tidak ada larangan bagi seorang bocah menyukai orang yang lebih dewasa, tentu saja konotasinya adalah rasa suka karena merasa nyaman atau karena mirip dengan orang tuanya. Mungkin Luca suka karena Karan pernah menemaninya makan es krim atau memberkannya dua kali makanan penutupnya. Seharusnya itulah yang anak-anak pikirkan saat menyukai orang dewasa.
Akan tetapi, apa yang Raya katakan barusan? Luca menyukainya? Bukan karena kenyamanan dan kebaikan Karan yang sudah menemaninya, tetapi karena wajahnya yang tampan? Selain terkejut Karan juga terkekeh pelan. Ia teringat seseorang yang pernah hampir sama dengan Luca.
“Sekarang aku tahu kenapa Luca itu putramu. Karena dia mirip sekali denganmu.” Karan memandang wajah Raya ketika ia memberhentikan mobilnya di lampu merah. Akhirnya setelah menempuh waktu hampir setengah jam dari hotel tempatnya menginap, hanya tinggal beberapa ratus meter lagi mereka akan tiba di pekarangan sekolah Luca.
“Kalian sama-sama menyukai wajahku. Itu hal yang sangat aneh.”
Raya tidak bisa berkata apa-apa. Saat lampu lalu lintas sudah berganti warna, Raya pun mengingatkan Karan. “Ayo cepat jalan!” katanya. Karan pun hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
****
Tak sampai lima menit kemudian, mobil yang dikendarai Karan masuk ke dalam gerbang sekolah Luca. Bukan kali ini saja ia ke sana karena kemarin ia sempat datang ke depan gerbang sekolah Luca. Namun hanya sebatas di depan gerbang saja. Karan tidak ikut masuk ke dalam padahal Maude sudah pernah mengajaknya.
Seperti yang dikatakan Raya, Luca memang bocah pemalu. Di sekolah taman kanak-kanak itu Luca tidak banyak bersosialisasi. Ia malah terlihat kebosanan dengan aktivitas yang diberikan oleh gurunya saat ini. Semangat anak itu baru kembali ketika ia melihat ke arah jendela di mana Raya dan Karan berada. Ia tampak begitu senang menyaksikan ibunya membawa tamu spesial hari ini.
“Kau lihat bukan? Dia sangat menyukaimu,” ujar Raya melihat Luca yang tanpa segan melambaikan tangan ke arah Karan. Anak itu benar-benar terlihat ingin bertemu dengan Karan secepatnya. Seandainya Raya tidak mengingatkannya untuk melanjutkan pelajaran, sudah pasti Luca akan berlari ke luar tanpa izin dari sang guru.
Karan menganggukkan kepalanya. Ia mengakuinya sekarang. “Ya, dia terlihat menyukaiku. Aku juga baru tahu kalau dia memang tidak terlalu suka bergaul dengan orang lain,” ujar pria itu saat melihat kegiatan Luca di dalam kelas.
Raya menanggapi ucapan Karan. “Kau benar. Tidakkah kau pikir dia mirip dengan seseorang?”
Karan mengernyit. “Siapa? Aku rasa dia tidak mirip denganmu.” Raya adalah perempuan yang sangat aktif di masa lalu. Ia paling suka bergaul dengan banyak orang kendati orang-orang di sekolah mereka kebanyakan hanya ingin memanfaatkan Raya. Namun berkat sikap wanita itu yang supel dan ramah, hampir semua murid di sekolah mereka membantu kesaksian palsu Karan ketika kasus itu terjadi. Mereka benar-benar mengikuti apa yang Karan sarankan demi melindungi wanita itu. Meskipun mereka tidak terlalu peduli dengan Raya, tapi hanya karena sikap Raya, mereka akhirnya mau membantu menutupi alibi Raya yang sesungguhnya sehingga wanita itu lolos dari masalah.
“Siapa bilang dia mirip denganku? Aku tidak mengatakan itu. Dia memang tidak mirip denganku. Sama sekali tidak.”
“Lalu, dia mirip dengan siapa? Apa dia mirip dengan Edgar?” Meskipun ragu rekan bisnisnya itu punya kepribadian pemalu seperti Luca, tapi tidak ada orang lain yang bisa Karan sandingkan dengan Luca selain pria itu. Maude tentu saja tidak mungkin karena wanita itu terlihat sangat agresif. Maude saja secara terang-terangan menunjukkan perasaannya kepada Karan, lantas bagaimana mungkin Maude orang yang tidak pandai bersosialisasi?
“Tidak!” Raya membantahnya lagi. Kali ini wanita itu berbicara dengan penuh penekanan bermaksud agar Karan bisa menangkap ucapannya dengan baik. “Dia tidak mirip denganku apalagi Edgar. Tapi dia mirip denganmu.”
Karan terbelalak. Pria itu terkejut bukan main. “Aku?” katanya. Ia mengalihkan pandangannya dari Luca ke arah Raya. Tatapan matanya tajam mengarah pada wanita itu sambil menuntut penjelasan lebih jauh atas pernyataan Raya barusan.
Raya menganggukkan kepalanya. “Iya, dia mirip denganmu. Apa kau lupa bagaimana kau saat SMA dulu? Kau murid paling pendiam di sekolah. Tidak ada banyak siswa yang beradi mendekatimu. Kau adalah si Kecil Einstein.”
Sudah lama sekali Karan tidak mendengar julukan itu. Hampir dua dekade lamanya. Memang benar apa yang Raya katakan. Ia memang pria yang sulit bersosialisasi sehingga membuat orang lain malas mendekatinya. Jika tidak ada keperluan yang sangat penting, ia tidak akan berbicara kepada orang lain karena menurutnya itu hanya membuang-buang energi. Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan belajar atau mengasah kemampuan olahraganya di lapangan. Setidaknya dari otak dan tenaganyalah pria itu bisa mendapatkan keuntungan, yaitu uang sehingga ia tidak akan kesulitan mendapatkan makanan.
Akan tetapi, semuanya mulai berbuah ketika Raya datang menghampirinya. Gadis yang tidak tahu malu dan memaksanya untuk mengajarkannya matematika itu, sanggup membuat seorang pendiam sepertinya berubah drastis. Sejak berpacaran dengan Raya, pria itu lebih peduli dengan keadaan sekitar. Ia juga mengakrabkan diri dengan teman-teman Raya guna mendapatkan informasi dari mereka tentang Raya. Sebab, Raya tidak pernah menunjukkan masalahnya secara terang-terangan sehingga ia tahu setiap kesulitan wanita itu dari teman-teman satu kelasnya.
“Ya, aku ingat itu. Aku memang pendiam dan sulit bergaul saat masih kecil. Tapi Raya, apa hubungannya dengan Luca?” tanya Karan yang masih merasa bingung dengan ucapan sang mantan istri.
“Astaga Karan! Apa kau masih tidak mengerti juga?” Raya memandangi Karan dengan tatapan tidak percaya.
Pria itu mengernyit. “Ya? Tidak mengerti apa?”
“Luca itu putramu. Putra kita!”