
Raya ingin menjawab apa yang ditanyakan oleh Karan. Sayangnya Luca sudah berada di dekat mereka. Ucapan ini tidak boleh sampai bocor ke telinga Luca. Bocah itu akan bingung mencerna situasi Karan jika Raya menjelaskan bahwa Karan adalah ayah kandung sang anak. Pasalnya sejak bayi, hanya Edgar yang dilihat oleh Luca. Bocah itu pun sangat menyayangi Edgar selayaknya ayah kandungnya sendiri. Butuh proses yang panjang supaya membuat Luca mengerti. Ia masih kecil, masih berusia empat tahun. Terlalu muda baginya untuk memahami perpisahan orang tuanya. Biarlah Karan dan Raya gagal sebagai pasangan suami-istri, tapi mereka tidak mau gagal sebagai orang tua bagi putra mereka satu-satunya itu.
“Mommy!” teriak Luca lagi. Ia menghampiri Raya untuk memberikan sebuah pelukan hangat padanya. Begitulah Luca menyapa orang tuanya yang tentu saja jauh berbeda dengan ajaran di tempat Raya dibesarkan. Dibandingkan dengan Raya, harus diakui banyak pengajaran Edgar dan keluarganya yang melekat pada Luca. Itulah sebabnya bocah itu lebih terlihat seperti orang barat sekarang. Selayaknya seorang penduduk asli kota Milan. Seandainya Luca tidak fasih menggunakan bahasa ibunya, sudah pasti tidak ada yang akan menyangka bahwa Luca adalah orang Asia asli. Lingkungan sangat mempengaruhi cara hidup bocah itu.
“Berhenti berteriak Sayang! Nanti tenggorokanmu sakit,” tukas Raya sambil membalas pelukan Luca dengan hangat. “Bagaimana sekolahmu? Apakah menyenangkan? Ada pelajaran yang sulit?” Raya bertanya lagi sambil menepuk-nepuk dengan lembut punggung sang anak. Mencurahkan kasih sayangnya sebagai seorang ibu kepada putra satu-satunya itu.
Mendengar ibunya berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, Luca pun menarik diri dari dekapan sang ibu. Keningnya mengerut, merasa aneh dengan hal itu. Selama mereka tinggal di New York, sang ibu lebih sering menggunakan bahasa Inggris meskipun beberapa kali mengajarkannya beberapa kata bahasa Indonesia. Begitu juga saat mereka pindah ke Milan. Sang ibu malah menggunakan bahasa Italia dalam percakapan sehari-hari mereka. Ditambah mereka juga beberapa kali tinggal di rumah keluarga sang ayah angkat. Ibunya baru berbicara menggunakan bahasa Indonesia dengannya ketika mereka tinggal berdua saja atau saat neneknya datang dari Jakarta.
Jadi, mengapa sang ibu memakai bahasa Indonesia sekarang apalagi di dekat paman yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu? Ini benar-benar aneh. Luca tidak bisa berhenti memikirkannya sehingga ia memilih langsung menanyakannya pada sang ibu. “Kenapa Mommy pakai bahasa Indonesia? Tumben sekali!”
“Tumben katamu? Kita sering memakainya kok kalau kita berdua. Lagi pula Sayang, kita ini orang Indonesia. Apakah orang Indonesia tidak boleh pakai bahasa Indonesia di negara lain?”
“Boleh Mommy. Siapa yang bisa melarang Mommy-ku pakai bahasa Indonesia?” Luca berjinjit dan mencium pipi Raya sebagai tanda rasa sayangnya yang begitu besar kepada sang ibu. Tidak cukup di sana, ia juga memuji suka kecantikan ibunya secara terang-terangan. “Mommy adalah perempuan yang cantik. Tidak ada yang boleh melarang perempuan cantik melakukan apa pun,” ucap bocah itu yang sontak membuat Raya terbelalak.
“Astaga Luca! Dari mana kau belajar memuji seperti ini?” tanya Raya sambil menggeram. Semakin hari bocah itu semakin mahir berbicara manis. Ia penasaran siapa guru yang sudah menyesatkan anak sepolos Luca. Raya tidak bisa membiarkan anaknya ternodai seperti ini. Tidak masalah jika Luca hanya merayunya. Bagaimana jika Luca bertemu dengan teman-teman perempuannya di sekolah dan mulai merayu mereka dengan cara yang ia gunakan kepada ibunya? Luca akan mendapatkan julukan sebagai pria yang suka mempermainkan hati gadis. Itu benar-benar citra yang sangat buruk bagi Raya dan juga Karan.
“Daddy yang mengajariku. Katanya aku harus sering-sering memuji Mommy supaya Mommy tidak marah-marah di rumah,” celetuk Luca dengan lugunya mengutarakan hal yang harusnya menjadi rahasia antara ia dan Edgar. Untung saja Edgar tidak ada di sana karena kalau sampai pria itu mendengar penuturan bocah itu yang membeberkan apa yang ia katakan, sudah pasti akan terjadi pertengkaran hebat antara ia dan Raya. Itu akan berimbas pada Luca. Bocah itu akan dihukum Raya agar tidak bertemu dengan Edgar dalam waktu tertentu.
“Dasar pria itu! Kenapa kau mau saja mendengarkan kata Daddy tapi kau sangat sulit menuruti perkataan Mommy, hm?”
“Karena Daddy suka membelikanku es krim dan cokelat.”
“Oh astaga, jadi rasa sayangmu pada Mommy itu pudar hanya karena Daddy membelikan es krim dan cokelat?”
Luca terlihat sedikit panik. Ia kembali memeluk ibunya dengan erat. “Tidak Mommy, bagaimana mungkin aku tidak sayang pada Mommy? Mommy tahu kalau orang yang paling aku sayang itu Mommy, baru Daddy,” ucapnya sembari membujuk lagi agar sang ibu berhenti merajuk.
Karan yang melihat hal itu pun terkekeh pelan. Luca memang anak yang lucu dan menggemaskan. Sejak pertama kali bertemu Luca sudah memberikan kesan yang begitu dalam padanya. Dan ternyata bocah itu adalah putra kandungnya. Bagaimana mungkin Karan tidak menyadarinya? Bahkan saat dilihat lebih dekat, Luca memang mirip sekali dengannnya. Selain tingkah laku pendiam dan penyendiri seperti yang Raya jelaskan beberapa saat lalu, ada hal yang membuat Karan yakin Luca adalah anaknya kendati mereka tidak melakukan tes DNA untuk membuktikannya.
Wajah Luca begitu mirip dengan wajahnya saat masih kecil. Wajah saat Karan belum mengalami operasi untuk menyembuhkan rahang dan tulang hidungnya yang patah akibat menyelamatkan ayah angkatnya, yang membuat kontur wajah Karan sedikit berubah. Terlebih gaya penampilan dan tubuh yang terawat dengan bahan-bahan mahal membuat Karan jauh lebih tampan sekarang ketimbang ia masih muda. Meskipun begitu, wajah Luca sekarang sangat mirip dengan wajah Karan masih kecil, mungkin saat ia masih seusia dengan putranya itu.
Hanya saja wajah Luca tentunya lebih tampan dari wajahnya karena perpaduan dengan wajah Raya yang cantik. Apalagi bibir dan dagu Raya begitu mendominasi bentuk wajah Luca yang membuat sang anak tampak sangat tampan walaupun masih berusia empat tahun. Karan yakin Luca sudah mendapatkan banyak tawaran untuk menjadi model cilik. Satu-satunya alasan mengapa Luca masih belum tampil di majalah atau televisi pasti karena Raya tidak mengizinkannya.
Wanita itu pernah mengatakan sewaktu mereka masih remaja bahwa ia akan membiarkan anak-anaknya kelak untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan tanpa campur tangan terlalu besar dari orang tua. Raya tidak ingin anak-anaknya bernasib serupa dengan anak-anak yang ada di kampung mereka dulu, di mana mereka tidak pernah bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan. Semuanya hanya karena terlahir dari orang tua yang tidak bisa diandalkan atau keluarga miskin yang tidak bisa menampung semua keinginan mereka. Alhasil, mereka hanya menyimpannya sebagai sebuah mimpi yang tidak pernah terwujud.
Raya juga pernah bercerita bahwa ia tidak ingin memiliki pasangan dan anak yang satu profesi dengannya. Lebih banyak jenis pekerjaan dalam keluarga justru lebih baik. Agar mereka bisa saling memahami pentingnya pekerjaan satu sama lain. Agar mereka bisa menghargai kebersamaan yang tidak bisa mereka dapatkan dengan mudah karena waktu bekerja mereka yang berbeda. Itulah alasan yang paling kuat mengapa Karan memilih menjadi pengusaha meskipun ia harus menolak tawaran dari beberapa agensi model sewaktu ia masih menjadi mahasiswa di New York. Karan ingin memiliki profesi yang berbeda dengan Raya. Itulah tujuan hidup Karan. Sejak pertama kali jatuh cinta kepada Raya, Karan memutuskan untuk mengabulkan setiap keinginan wanita itu.
Luca melepaskan pelukannya lagi. Kali ini ia mendatangi Karan. Tanpa canggung sama sekali ia naik ke atas pangkuan Karan. Awalnya ia kesulitan, tapi berkat bantuan laki-laki itu, akhirnya ia bisa duduk dengan tenang. “Bagaimana Paman bisa ke sini?” tanyanya setelah memeluk Karan sebentar sebagai tanda sapaan singkatnya. Anehnya, Luca langsung mengubah bahasanya yang semula menggunakan bahasa Indonesia menjadi bahasa Italia saat berbicara dengan Karan. Sepertinya bocah itu masih menganggap Karan sebagai orang asing.
Karan ingin Luca segera memanggilnya seperti cara bocah itu memanggil Edgar. Ia berhak akan panggilan itu karena ia memang ayah kandung Luca. Akan tetapi, Karan tidak bisa menekankan kehendaknya begitu saja pada Luca. Bocah itu perlu beradaptasi. Jadi, ia akan memberikan waktu sambil mereka akan mencoba menjelaskan keadaannya secara pelan-pelan kepadanya. “Paman ke sini bersama dengan Mommy,” sahut Karan.
“Kenapa? Apa Paman menumpang mobil Mommy seperti Aunty Maude kemarin?” Luca ingat perkataan sang bibi saat ia terlambat datang menjemput. Katanya ban mobilnya kempes sehingga ia harus menumpang ke mobil orang lain. Orang itu adalah pria yang sedang memangkunya saat ini. Beruntung saja ayahnya datang dengan cepat ke sekolah sehingga mereka bisa ke galeri tempat ibunya bekerja.
Alih-alih Karan yang menjawab, Raya justru membuka mulutnya terlebih dahulu. “Luca, kenapa kau tidak memakai bahasa Indonesia lagi? Paman Karan adalah orang Indonesia, jadi pakai bahasa Indonesia saja,” tukas Raya dengan cepat. Ia sengaja menekankan bahasa yang sama supaya Luca lebih mendekatkan diri dengan Karan. Mereka memang sudah mulai akrab, tapi ada baiknya jika kedekatan itu terus berlangsung hingga lama. “Lagi pula Sayang, bukan Paman Karan yang menumpang, tapi Mommy yang menumpang mobil Paman Karan.”
Luca mengikuti perkataan ibunya untuk kembali menggunakan bahasa sang ibu. Bocah itu masih berusia empat tahun, tapi ia sudah bisa menguasai tiga bahasa dengan baik, bahkan bisa menggantinya dengan cepat dalam waktu yang singkat tanpa perlu berpikir panjang. Sepertinya Luca mendapatkan kecerdasan itu dari ayah kandungnya yang pernah mendapatkan julukan sebagai Einstein Kecil saat masih remaja. Kecerdasan dari pemuda yang selalu membanggakan sekolah dengan prestasinya itulah yang menurun kepada Luca hingga bocah itu dapat menyerap apa saja yang diajarkan dengan cepat, termasuk bahasa.
“Apa Paman ini sopir taksi? Kenapa Paman selalu mengantarkan orang-orang ke sana kemari?” tanya Luca dengan polos.
Karan tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. “Tidak, Paman bukan sopir taksi, tapi Paman hanya ingin membantu orang-orang yang bisa Paman bantu. Dan juga, Paman ingin bertemu denganmu. Jadi Paman mengantarkan Mommy ke sini.”
“Oh begitu.” Luca mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Oh ya Paman, bagaimana dengan istri Paman? Apa Paman sudah berbaikan dengan istri Paman itu?” Luca menanyakan hal yang tidak sempat ia tanyakan kemarin. Terlebih melihat wajah sedih Karan sebelum meninggalkan kafe di samping galeri yang membuat Luca sedikit cemas.
Karan tidak langsung menjawab. Ia malah memandangi Raya selama beberapa detik padahal wanita itu saja merasa bingung dengan ucapan Luca. “Sepertinya sudah,” balasnya.
“Jadi, kenapa Paman kemarin menangis?”
Karan membelalakkan matanya. Ia memandang wajah Luca dalam keadaan terkejut. Menangis? Apakah ia terlihat begitu menyedihkan kemarin hingga Luca menganggapnya akan menangis? Padahal ia sudah berusaha menyembunyikannya, tapi malah ketahuan oleh seorang anak kecil. Apalagi anak itu adalah anak kandungnya sendiri. Alangkah menyedihkannya ini.
“Tidak, Paman tidak menangis. Paman hanya merasa sedikit sedih kemarin, tapi sekarang sudah baik.” Karan berbicara jujur. Ia memang tidak menangis dan sekarang kondisinya memang sudah lebih baik dari kemarin.
“Syukurlah. Aku tidak suka melihat Paman bersedih.”
“Kenapa?” tanya Karan penasaran.
“Karena aku menyayangi Paman. Aku tidak mau melihat orang-orang yang aku sayangi sedih.”
Karan terenyuh. Sambil memandangi Raya, ia berbicara di dalam hatinya. Mengagumi cara Raya membesarkan seorang anak. Wanita itu begitu hebat. Ia menanamkan banyak sekali nilai kebaikan pada Luca. Sesuatu yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh Karan. Itu membuatnya semakin berpikir, apakah ia bisa menjadi orang tua yang pantas untuk Luca? Bagaimana ia bisa mengimbangi Raya dalam mengurus Luca? Dan pertanyaan terpenting adalah bagaimana cara Karan menggantikan posisi Edgar sebagai ayah yang begitu hebat untuk sang anak? Dilihat dari mana pun rasanya tidak mungkin.
Karan tidak bisa melakukannya. Raya dan Edgar terlalu hebat dalam membesarkan Luca, yang tidak bisa dipelajari oleh Karan dengan cepat meskipun ia menggunakan seluruh kapasitas otaknya. Pendidikan perawatan anak bukanlah hal yang mudah. Jujur, Karan sama sekali tidak percaya diri dengan kemampuannya.