
Siapa yang sangka Luca sudah tahu tentang identitas Karan sejak lama, bahwa ia adalah ayah kandung dari bocah itu? Tentu saja tidak ada yang akan menduganya. Raya saja tidak tahu apalagi Karan. Tapi fakta itu setidaknya menjelaskan bahwa tidak akan ada masalah jika seandainya Karan dan Raya melangsungkan pernikahan mereka kembali. Karena selain masalah tempat tinggal dan sebutan, Luca tidak mempermasalahkan apa pun lagi. Ia sepenuhnya bisa menerima Karan sebagai ayah kandungnya.
Setelah obrolan panjang itu, Karan pun kembali ke Indonesia untuk meminta izin kepada kedua orang tuanya. Biar bagaimana pun merekalah yang telah menjadi perwakilan Karan. Nama yang Karan gunakan sekarang berasal dari mereka sehingga Karan tidak akan mengambil keputusan tanpa persetujuan mereka. Seperti sebelumnya, ayah dan ibu Karan tidak banyak menentang. Ia hanya mengingatkan Karan agar tidak mempermainkan pernikahannya lagi. Kegagalan pernikahan pertama mereka adalah pelajaran yang sangat berharga untuk Karan. Setelah itu Karan tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama.
Tidak hanya itu, saat libur sekolah, Karan mengajak Raya dan Luca mengunjungi rumah orang tuanya. Memperkenalkan cucu mereka yang saat itu sudah genap berusia lima tahun sambil menjelaskan rencana mereka kedepannya. Karan dan Raya sudah berbincang panjang persoalan tempat tinggal mereka. Akhirnya mereka pun mendapatkan kesimpulan. Mereka akan tinggal di Milan untuk beberapa tahun ke depan. Ada beberapa alasan yang mendukung rencana mereka tersebut.
Alasan pertama, tentu saja karena Luca. Anak itu sudah meminta pada Karan, kemudian ia juga memintanya kepada Raya. Bahkan, Luca meminta tolong pada Edgar untuk membujuk orang tuanya agar tetap tinggal di Milan. Dengan usaha dan kerja keras Luca, tidak mungkin Karan membiarkan anak itu kecewa begitu saja. Ia harus mengabulkan keinginannya meskipun hanya permintaan kecil seperti itu. Lagi pula, keinginan Luca ini menyambung pada alasan-alasan lain yang membuat mereka harus tinggal di Milan.
Alasan kedua, pekerjaan Raya dan Karan. Raya baru saja membuka kelas modelling di Milan. Ia sudah mendapatkan beberapa murid yang perlu ia didik di samping ia juga masih punya beberapa kontrak kerja sama dengan beberapa produk di kota Milan sebagai model. Memang Raya bisa pulang pergi Jakarta-Milan seandainya mereka tinggal di Jakarta setelah menikah, tapi itu pasti akan sangat melelahkan. Apalagi itu akan membuat waktunya bersama dengan Luca dan Karan semakin terbatas. Pilihan tinggal di Milan adalah yang terbaik bagi Raya.
Begitu juga dengan Karan. Ia ingin mengembangkan perusahaan jam tangannya di Milan. Untuk melakukan itu Karan butuh mengadakan banyak kerja sama dengan beberapa desainer di Italia. Ketimbang tinggal di Indonesia yang membuatnya harus pulang pergi ke Italia, ada baiknya Karan tinggal di Milan saja. Meskipun tidak sekuat alasan Raya dan Luca, tapi Karan lebih memilih untuk tetap tinggal di kota tersebut. Karena kantor Karan memang berpusat di Jakarta, maka mau tidak mau ia harus mengalah untuk pulang pergi ke Jakarta-Milan demi Raya dan Luca.
Dan alasan terakhir adalah karena laporan polisi yang sudah dibuat oleh pengacara Karan untuk menuntut Dona, mantan petugas lapas yang telah melecehkannya. Dalam laporan itu Karan tidak menyebutkan identitasnya, ia bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk merahasiakan para pelapor demi menjaga kesehatan psikologis mereka. Karena bukan hanya Karan saja yang mendapatkan hal tersebut dari Dona. Setidaknya ada belasan pemuda mantan penghuni lapas yang menyatakan sebagai korban dan pernah mengalami pelecehan.
Kasus itu pun dibuka dan muncul ke publik. Untuk menghindari wartawan melacak keberadaan para korban, tinggal di luar negeri adalah jawaban instan tercepat yang bisa mereka dapatkan. Karan memang pelan-pelan dapat sembuh dari trauma buruk yang dilakukan oleh Dona di masa lalu, akan tetapi bukan berarti Karan tidak terganggu melihat wajah wanita itu. Terlebih hampir setiap hari setelah pelaporan itu, media massa dan media sosial berbondong-bondong menyebarkan foto si pelaku ke berbagai platform hingga tidak ada satu pun di Indonesia yang tidak tahu wajah Dona.
“Ya sudah, itu keputusan kalian. Papa tidak bisa menghentikan kalian. Tapi Papa hanya punya satu keinginan, tolong tambahkan nama keluarga kita pada nama Luca,” tukas ayah Karan pada hari itu. Setelah melihat Luca kecil yang aktif dan cekatan, mereka pun mulai menyukai bocah itu. Farraz telah resmi menjadi Karan Reviano. Semua identitas sang putra sudah diberikan kepadanya. Itu artinya Luca juga merupakan bagian dari keluarga mereka. Tidak ada salahnya jika Luca juga menyandang nama keluarga Reviano di belakang namanya.
Karan tidak bisa memutuskannya sendiri. Ia memandang wajah Raya. Ketika wanita itu mengangguk, barulah Karan merasa yakin. “Baiklah Pa, aku akan mengubah nama Luca saat aku sudah menikah dengan Raya. Aku akan memperjelas hubunganku dengan Luca supaya tidak ada orang yang bisa memandangnya sebelah mata,” ungkap Karan dengan tegas. Jika di luar negeri Luca memiliki Edgar yang bisa melindungi bocah itu sebagai seorang ayah, sekarang sudah waktunya Karan mengambil tanggung jawab itu.
“Itu bagus. Sekarang cepat tentukan tanggal pernikahan kalian agar tidak terlalu lama,” sahut sang ibu. Berbeda dari sebelumnya, ibu Karan sudah bisa menerima kematian putranya dengan sangat baik. Ia pun tahu bahwa Karan yang sekarang bukanlah putra yang dilahirkannya. Tapi kenyataan itu tidak mengubah apa pun karena semakin ia mengenal Karan semakin ia merasa sayang pada pria itu. Walaupun tidak sebesar rasa sayangnya terhadap sang putra yang telah terkubur di dalam tanah, sang ibu tetap mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya sebagai seorang ibu kepada Karan dan keluarga pria itu. Bahkan saat mendengar Luca akan datang ke rumah mereka, ibu Karan menjadi orang yang paling bersemangat menyambut kedatangan mereka.
“Iya Ma. Kami akan menentukan pernikahan kami secepatnya,” janji Karan.
******
Raya meremas tangan Karan. “Aku gugup.” Ini bukan pernikahan pertamanya, tapi tetap saja Raya tidak bisa menghilangkan rasa gugup yang bercokol dari pikirannya. Ia takut melakukan kesalahan di hari pentingnya itu.
“Kenapa kau gugup? Aku ada di sini, Sayang. Aku akan menemanimu melangkah ke sana. Kau tidak sendiri, kita akan melangkah bersama-sama. Kau akan menghadapi segalanya bersamaku dan juga Luca. Jadi tidak ada yang perlu kau takutkan.” Karan mengelus tangan Raya untuk menghilangkan kegugupan sang istri. Kemudian, ia pun berbisik, “Jangan takut untuk membuat kekacauan Sayang. Aku malah lebih suka acara ini lebih cepat selesai agar aku bisa langsung menculikmu ke kamar hotel.” Karan menggoda Raya dengan melemparkan kata-kata menggodanya.
Raya tahu Karan hanya bercanda, tapi pipinya mendadak bersemu merah. Sudah sangat lama Raya tidak mendengarkan rayuan maut Karan, dan jujur saja Raya merindukannya. Ralat. Ia merindukan cara Karan menggodanya, bukan tujuan dari godaan itu yang tentu saja mengarah pada sesuatu yang mesum. “Berhentilah menggodaku Karan! Kau membuat wajahku memerah!”
Karan tertawa pelan. “Kenapa? Aku suka melihatmu seperti ini. Kau terlihat sangat cantik, Raya. Aku bersyukur mendapatkanmu lagi. Dan kali ini aku tidak akan melepaskanmu apa pun yang terjadi.”
“Kau sudah mengucapkan janji pernikahanmu sekarang?”
“Ya, karena setelah ini, setiap detik aku akan mengingat janji pernikahanku padamu agar aku tidak melakukan kesalahan yang sama.”
“Kau malah membuatku semakin tegang.”
Karan menarik tangan Raya dan mengecupnya pelan. “Kau adalah wanita paling cantik yang aku kenal, Raya. Kau adalah pengantinnya. Anggap saja ini adalah karpet merahmu sebagai seorang model. Bedanya sekarang kau berjalan tidak sendiri karena ada aku dan Luca di sampingmu.”
Raya memandang ke depan, tempat di mana Luca sedang berdiri sambil memegang sebuah kotak yang berisi cincin pernikahan mereka. Karan benar, tidak ada yang perlu ditakutkan olehnya. Selama ada Karan dan Luca di sisinya, tidak ada yang perlu Raya takutkan. “Aku tahu,” ucap Raya singkat. Sebelum mereka berjalan menyusuri karpet merah itu, Raya berjinjit. Ia mengecup bibir Karan sekilas. “Aku mencintaimu. Ini adalah janji pernikahanku sebelum kita ke sana,” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Karan.
Meskipun terkejut, Karan tetap mampu berjalan di samping Raya hingga ke tempat Luca berada. Di sanalah mereka mengucapkan janji suci pernikahan mereka untuk yang kedua kalinya. Dan kali ini mereka berjanji untuk tidak lagi mengucapkannya di masa depan karena mereka tidak ingin mengulang pernikahan yang sama untuk ketiga kalinya.
TAMAT