Lies

Lies
Istri Boneka



Begitulah cara Karan merebut Raya. Dengan cara kotor dan menjijikkan. Ia memanipulasi keadaan dengan membayar Cindy. Semua sesuai keinginannya sejak awal hingga akhir. Karanlah yang membuat Cindy menjadi dekat dengan Varen, lalu memanfaatkan keadaan agar Raya memergoki mereka beberapa kali. Tentu saja bayaran yang diberikan Karan cukup besar karena Cindy memerlukan banyak uang untuk kabur ke luar negeri bersama ibunya. Karan juga menawarkan hal yang sulit ditolak Cindy, yakni pengobatan yang layak bagi sang ibu.


Tidak cukup sampai di sana, Karan juga menyewa paparazzi untuk mengikuti Raya ke hotel. Dan kehadirannya di hotel itu pun termasuk dalam rencananya. Dengan begitu Karan bisa melihat secara langsung wajah Raya yang terluka. Ia juga bisa memastikan bahwa paparazzi itu berhasil mendapatkan gambar eksklusif perselingkuhan Varen dan memberitakannya di internet secara massif.


Sakit hati yang dirasakan Raya membuat wanita itu terpuruk. Setiap ia keluar rumah, gerombolan wartawan langsung memberondongnya dengan sejumlah pertanyaan. Raya ketakutan dan mengurung diri di dalam rumah. Ia pun menderita kerugian yang sangat banyak akibat pembatalan kerja sama sepihak karena kondisi mentalnya.


Saat itulah Karan tampil di depan media. Sebagai orang yang bersahabat dengan Varen dan Raya, Karan mengutarakan kekecewaannya atas tindakan Varen. Karan juga mengatakan akan membayar setiap ganti rugi atas pembatalan kontrak Raya dan siap membantu wanita itu mendapatkan kepercayaan dirinya lagi. Pria itu menyerukan agar Raya segera bangkit dan melupakan pengkhianatan yang dilakukan Varen. Raya tidak bersalah dan ia berhak bahagia.


Tidak hanya membela Raya, Karan juga melamar Raya di depan umum. Anehnya respons yang diberikan masyarakat sangat bagus. Mereka menyerukan agar pasangan itu segera melangsungkan pernikahan. Demi masa depan dan citranya, Raya menerima lamaran Karan. Bibinya pun menyetujui pernikahan itu setelah melihat latar belakang Karan. Bahkan, sang bibi menyiapkan pernikahan mereka dengan perasaan bahagia setelah Karan menghadiahkan sebuah apartemen mahal kepadanya.


Sekarang, Raya sudah menjadi miliknya. Karan berhasil menjerat Raya dalam ikatan pernikahan. Namun, itu belumlah cukup karena tujuan Karan bukanlah hanya menikahi Raya. Pria itu ingin Raya merasakan penderitaan yang ia rasakan 12 tahun. Penderitaan yang sampai menimbulkan trauma baginya.


Salah satunya adalah dengan sering meninggalkan Raya di dalam rumah. Sejak pernikahan mereka hingga sekarang, kehadiran Karan di rumah bisa dihitung jari. Karan sengaja melakukannya agar membuat Raya frustrasi karena merasa tidak diinginkan. Terlebih Karan menghentikan semua pekerjaan Raya dan mengurung sang istri di dalam rumah. Raya tak ubah seperti istri boneka yang terpajang di lemari kaca. Tidak bisa berkutik sama sekali.


Sekarang saja Karan ada di New York, mengerjakan pekerjaannya untuk mencari investor. Sudah tiga hari ia tidak pulang, meninggalkan Raya yang aktivitas sehari-harinya dipantau oleh pria itu setiap saat.


“Selamat atas keberhasilannya Pak Karan. Saya benar-benar senang bisa bekerja sama dengan Anda,” ucap seorang pria dengan kepala yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Di ujung kata-katanya yang menggunakan bahasa Inggris itu, ia mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Karan.


“Terima kasih. Saya juga mengucapkan selamat untuk Anda,” sahut Karan dengan menggunakan bahasa Inggris yang fasih. Ia tersenyum seraya membalas uluran tangan rekan kerjanya.


Setelah melepaskan jabatan tangan mereka, pria tua itu menawarkan sesuatu pada Karan. “Hari sudah mulai gelap Pak Karan. Apakah Anda mau makan menginap di sini? Saya akan menyiapkan hotel terbaik untuk Anda.”


“Terima kasih atas kebaikan Anda, Pak. Tapi saya tidak bisa terlalu lama di sini. Saya harus segera pulang ke Indonesia karena istri saya sudah menunggu di rumah.”


“Oh, astaga! Saya lupa Anda sudah menikah, Pak Karan. Maafkan saya yang sudah tua ini.”


Dengan ramah Karan menanggapi. “Tidak masalah Pak. Pernikahan kami baru satu bulan. Wajar masih banyak orang yang menganggap saya belum menikah.”


Rekan bisnis Karan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Benar. Selama ini Anda tidak pernah mengumumkan secara resmi hubungan Anda dengan seorang wanita. Dan tiba-tiba saja bulan lalu Anda menikah dengan Raya Drisana. Saya sampai terkejut mendengarnya.”


Benar. Siapa yang tidak terkejut mendengar pernikahan Karan? Jangankan menikah, Karan saja tidak pernah mengumumkan bahwa ia punya kekasih secara resmi di depan publik. Mungkin rumor berkencan sering. Tetapi kebanyakan rumor itu dibuat oleh para wanita yang mengaku pernah berhubungan asmara dengan Karan dan selalu dibantah oleh laki-laki itu.


Karan bukan anti wanita. Ia juga pria normal yang masih menyukai kaum hawa. Hanya saja, Karan tidak tertarik pada wanita lain, kecuali satu wanita. Raya Drisana, istrinya sekarang.


“Mau bagaimana lagi Pak. Saya sudah telanjur jatuh cinta pada Raya. Dia wanita yang cantik bukan?” ungkap Karan memuji sang istri.


“Hahaha!” Laki-laki tua itu tertawa kencang. “Selama ini saya selalu melihat wajah kaku Anda yang membicarakan bisnis. Saya tidak menyangka akan datang hari di mana Anda membicarakan seorang wanita dengan wajah tersipu.”


DEG!


Karan merasakan sesuatu di celananya. Sebuah desakan oleh inti miliknya. Sial! Karan harus segera menyudahi percakapan membosankan ini dan pulang ke rumah. Ia punya satu misi yang hanya bisa diselesaikan bersama sang istri. Dan itu sangat mendesak.


“Sekali lagi terima kasih Pak. Saya pamit dulu. Saya benar-benar tidak bisa terlalu lama meninggalkan istri saya,” ucap Karan.


Usai berpamitan dengan laki-laki tersebut, Karan menaiki mobil yang sudah berada di depan gedung.


“Ke mana kita pergi, Pak? Ke hotel?” tanya Ian, asisten pribadi Karan.


“Tidak. Kita harus ke bandara sekarang dan pulang ke rumah,” perintah Karan.


Sambil bersandar di kursinya, Karan melepaskan dasi yang mengikat kerahnya. Pikirannya melayang jauh ke Jakarta, tepatnya kepada sosok yang mengisi kepalanya tiga hari ini.


“Di mana istriku?” Karan membuka suara lagi.


“Ibu Raya sedang di rumah Pak. Kata Anna, beliau sedang belajar memasak.”


“Memasak? Hahaha! Kau pasti bercanda,” Karan tertawa kencang. Raya memasak? Dapatkah Karan percaya itu? Tidak mungkin. Raya sangat memedulikan tangan lentiknya. Karan bahkan mengirimkan beberapa orang untuk merawat kuku-kuku cantik Raya setiap minggu. Jangankan berhadapan dengan minyak panas, sekadar berada di luar rumah saja ada banyak cairan pelindung matahari yang Raya oleskan di sekujur tubuhnya.


“Saya tidak bercanda, Pak. Ibu memang sedang belajar memasak,” kata Ian tidak terima disebut memberikan informasi bohong pada Karan.


“Tapi kenapa? Rayaku adalah super model yang sangat terkenal, Ian. Kenapa tiba-tiba dia belajar memasak?”


“Untuk menyambut kepulangan Anda, Pak.”


Karan memutar bola matanya kesal, merasa konyol mendengar pernyataan Ian. “Memangnya aku baru sekali ini saja pulang ke rumah?”


“Bukan begitu Pak. Tapi, besok ulang tahun Anda. Ibu hanya ingin menyiapkan sesuatu untuk Anda.”


“Ulang tahun?” Karan mengernyitkan keningnya. “Ah ya, kau benar. Besok ulang tahunku.”


Ucapan Karan terdengar sedih. Ian tidak menduga respons yang diberikan Karan akan memilukan seperti ini. Ian pikir majikannya itu akan senang diberi kejutan oleh istrinya, wanita yang selama ini diawasi olehnya. Tetapi apa ini? Alih-alih senang, Karan justru menampilkan wajah muram berselimut kepedihan yang tidak bisa dibaca Ian. Aneh sekali.