
“Iya ... eh, tidak! Maksudku, tidak! Aku tidak kangen padamu. Aku hanya ingin kau mengajariku sesuatu.” Raya mengalihkan pandangannya dan mengambil buku yang sedang ia pangku. Gadis itu pun menunjuk sebuah tulisan. “Aku tidak bisa mengerjakan ini,” katanya sambil menunjuk sebuah nomor soal latihan di buku cetak pelajaran fisikanya itu.
Karan memutar bola matanya jengah. Ia melihat soal yang ditunjukkan Raya, lalu mendengus kesal. Padahal itu soal yang sangat sederhana. Seharusnya Raya bisa mengerjakannya dengan sangat mudah. “Aku ini heran padamu, Raya. Kalau kau tidak suka pelajaran hitung menghitung seperti ini, kenapa kau ingin memilih jurusan IPA? Bukankah kau lebih bagus masuk IPS saja?”
“Memangnya jurusan IPS tidak ada matematika? Lagi pula, di IPS masih ada pelajaran ekonomi dan akuntansi. Semuanya juga pakai hitung-hitungan,” keluh Raya. Pada dasarnya semua jurusan sama bagi Raya. Selalu ada mata pelajaran yang menuntut kemampuan hitung-hitungan darinya. Matematika adalah mata pelajaran umum yang harus diterima oleh semua siswa di jurusan apa pun. Jadi, percuma saja jika Raya berpindah jurusan sekarang. Toh, ia akan tetap bertemu dengan pelajaran matematika juga.
“Iya, tapi tidak sebanyak jurusan IPA ‘kan?” ungkap laki-laki itu.
Dengan harapan Karan mau mendengarkan usulannya. Mungkin dengan percakapan ringan ini Raya mau mengubah keputusannya. Karan sebenarnya tidak mempermasalahkan seandainya Raya terus-menerus meminta bantuan padanya. Malah ia sangat senang mengajari gadis itu. Hanya saja, Karan tidak tega melihat penderitaan Raya selama ini. Raya terlihat begitu kesulitan dengan semua pelajaran hitung-menghitung. Karan tidak mau terus-terusan melihat Raya pulang terlambat karena harus melakukan remedial setiap kali ujian dilaksanakan.
“Iya, tapi kau ‘kan tidak mau masuk jurusan IPS.”
Celetukan Raya itu mengejutkan Karan. Jadi itu alasan Raya mau memilih jurusan IPA yang begitu dibencinya dan membuatnya menderita karena harus mengulang-ulang ujian dalam mata pelajaran yang sama? Hanya karena ia berada di jurusan IPA. Karan baru tahu alasan ini. Pantas saja Raya tidak mau mengurungkan niatannya meskipun Karan sudah memaksanya berkali-kali. Alasannya adalah dirinya. Pemuda itu merasa terharu. Ternyata Raya juga berkorban demi dirinya.
“Bukan, bukan! Tidak seperti itu!” Raya berusaha mengelak meskipun terlambat karena Karan sudah mendengar ucapan sebelumnya. “Aku tidak memilih jurusan karenamu.”
Karan berusaha mati-matian untuk tidak tertawa. Ia bahkan harus mengepalkan tangannya dengan sangat erat agar cekikannya tidak keluar dari mulutnya. “Oh begitu, jadi, kenapa kau memilih jurusan IPA?”
“Karena aku ingin menjadi dokter.”
Itu adalah kebohongan. Karan tahu itu dengan pasti. Raya sama sekali tidak tertarik dengan dunia biologi. Gadis itu malah lebih menyukai hal-hal yang menyangkut dunia sosial. Dibandingkan dengan dirinya, Raya lebih cepat mengetahui informasi tentang dunia. Padahal di rumah gadis itu tidak ada televisi. Raya mendapatkan segala informasi dari televisi yang ada di restoran tempatnya bekerja. Ia masih bisa berkonsentrasi mengantarkan makanan meskipun telinga dan matanya sesekali menyaksikan berita di televisi.
“Ya, itu pilihan yang bagus. Dengan begitu, kau bisa membantuku, Dokter Raya,” ucap Karan menyemangati. “Ya sudah, sini biar aku mengajarimu.” Karan mengambil buku cetak itu dari tangan Raya. Namun, saat Raya memberikannya pena dan buku tulis, mendadak ia terbelalak saat melihat luka memar yang ada di lengan sebelah kiri milik gadis itu. “Raya, tanganmu kenapa?” katanya menatap nanar luka di tangan sang kekasih.
Gadis itu tampak terkejut. Ia mengikuti arah pandangan Karan yang tertuju pada tangan kirinya. Buru-buru ia menyembunyikan bekas lebam itu dengan menarik lengan bajunya, berusaha agar baju sekolahnya itu bisa menutupi tempat itu. “Tidak, bukan apa-apa.”
“Bukan apa-apa bagaimana? Coba sini aku lihat?” Jelas Karan melihat jejak berwarna biru di sana. Ia tidak mungkin salah karena meskipun lelah karena belajar seharian untuk mempersiapkan olimpiade, matanya tidak mungkin salah melihat. Karan memang pintar dan gemar membaca buku. Namun ia bukanlah anak pintar kebanyakan yang menggunakan kacamata tebal di wajahnya. Karan begitu peduli dengan kesehatan. Pola makannya sangat teratur dan ia menjauhi hal-hal yang dapat membuat tubuhnya sakit.
Alasan selain kesehatan adalah karena Raya tidak suka laki-laki perokok. Itu bukan semacam idealisme tetapi murni karena kebutuhan praktis. Lingkungan mereka adalah lingkungan miskin, tetapi banyak anak-anak yang membakar uang mereka dengan merokok. Tidak banyak dari mereka yang sampai putus sekolah karena tidak punya biaya, namun kesehariannya masih sanggup menghisap beberapa bungkus rokok. Padahal menurut Raya, alangkah bagusnya uang yang mereka gunakan untuk membeli rokok itu dialihkan untuk membiayai sekolah mereka. Minimal untuk membeli makanan. Dengan tidak merokok setidaknya anak-anak itu bisa membantu meringankan ekonomi keluarga, bukan malah menambah beban pengeluaran keluarga.
“Apa ini? Siapa yang melukaimu?” Karan sontak terbelalak. Meskipun Raya berusaha menyembunyikan bekas luka itu dengan menghindarinya, tetap saja Karan jauh lebih cerdik dari Raya. Pemuda itu berhasil menahan kekasihnya yang bermaksud ingin kabur, dan melihat memar di tangan kirinya. “Katakan padaku, Raya, siapa orang yang berani menyakitimu seperti ini?” katanya berang. Ia memang pernah marah terhadap sesuatu, tapi ia tidak pernah semarah ini sebelumnya. Pasalnya luka di tangan Raya itu masih terbilang baru, mungkin terjadi belum lama ini.
Raya menepis tangan Karan. Ia memaksakan diri untuk tersenyum. “Tidak ada yang melukaiku. Aku hanya tidak sengaja terjatuh dari motor. Kau tahu aku sedang belajar mengendari motor ‘kan? Ya ini luka karena aku kurang hati-hati.”
Cerita itu didengar Karan dua minggu lalu di mana Raya mengatakan bahwa ia sedang mencoba mengendarai sepeda motor guna kebutuhan restoran. Pemilik restoran meminta Raya belajar mengendarainya karena mereka butuh orang agar bisa mengantarkan beberapa pesanan. Selama ini sang pemilik selalu menyewa jasa tukang ojek dan biayanya terbilang mahal. Raya yang melihat peluang untuk mendapatkan uang lebih pun mengajukan diri untuk menggantikan tukang ojek itu. Masalahnya Raya tidak bisa mengendarai sepeda motor sebelumnya. Untung saja sang pemilik restoran mau meluangkan waktu untuk mengajarinya.
Sayangnya alasan itu tidak cukup kuat untuk Karan. Cepat-cepat tangannya berpindah ke kaki Raya. Tanpa bermaksud ingin melecehkan kekasihnya itu, Karan mengangkat rok Raya sedikit. Tapi ia tidak menemukan apa yang ia cari di sana. Karan tidak melihat sedikit pun luka goresan di lutut Raya. Ini sangat aneh. Luka lebam di tangan Raya terbilang cukup parah. Jika luka separah itu bisa ada di tangan Raya, pasti gadis itu terjatuh dengan sangat parah dari sepeda motor. Yang artinya pasti ada luka lain yang tercetak di bagian tubuh Raya, utamanya kaki-kaki gadis itu yang seharusnya menjadi bagian paling terluka saat terjatuh. Tetapi kenyataannya, tidak ada segaris pun luka di lutut Raya.
Dari pengamatan sederhana itu Karan bisa menyimpulkan bahwa Raya tidak terluka karena terjatuh dari sepeda motor. Gadis itu terluka karena dipukul oleh seseorang. Pertanyaannya sekarang, siapa yang berani memukul Raya? Siapa orang yang menyakiti gadis itu tapi berusaha disembunyikan bahkan sampai berbohong kepada Karan? Ini benar-benar membuat Karan marah. Rasanya ingin sekali ia memukuli orang yang sudah membuat tangan Raya sampai memar seperti itu.
“Kau tidak bohong padaku ‘kan?” Karan bertanya lagi. Gadis itu menjawab dengan menganggukkan kepalanya. “Ya sudah, ayo kita pulang. Sekaligus kita pergi ke toko untuk beli obat. Lukamu ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.” Karan memang ingin mengetahui siapa yang sudah melukai Raya, tapi tidak dari Raya sendiri. Gadis itu sudah berbohong padanya, maka tidak ada kemungkinan ia akan buka suara dan mengungkapkan siapa yang telah memukulnya. Karan memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Ia tidak perlu melibatkan Raya lebih lagi karena ia takut Raya akan disudutkan oleh orang itu. Sekali saja Karan salah langkah mungkin bisa membuat keselamatan Raya terancam.
Saat mereka dalam perjalanan pulang, Raya tidak ingin cepat-cepat sampai di rumahnya. Raya memilih mengajak Karan pergi ke suatu tempat. “Kau tahu di ujung jalan ini ada sungai besar. Katanya sungai itu dulunya bersih sekali. Tapi sekarang sudah menjadi tempat pembuangan sampah orang-orang. Sedih sekali bukan? Padahal kalau masyarakat lebih menjaga kebersihannya, sungai itu akan jauh lebih bermanfaat ketimbang hanya jadi tempat pembuangan sampah.”
Karan mengikuti arah pandangan Raya yang sedang menatap jalanan kecil yang di sekitarnya penuh botol kaca dan plastik. Tempat itu merupakan tempat paling berbahaya di kampung ini karena penerangan yang minim. Beberapa kali Karan melewati tempat itu saat malam hari, setelah mengantarkan Raya pulang ke rumah. Beberapa kali pula Karan melihat adegan-adegan yang seharusnya tidak disaksikannya pada usianya sekarang. Bukan hanya adegan mesum saja, tetapi juga adegan kekerasan termasuk pengeroyokan yang dilakukan oleh beberapa preman setempat. Selain itu, tidak jarang Karan melihat beberapa pemuda yang mabuk dan terkapar di jalanan itu sambil memegang botol minuman keras di tangannya.
Itu alasan kuat mengapa Karan selalu menyempatkan diri untuk mengantar Raya. Ia takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Tetapi beberapa waktu belakangan, Karan tidak bisa melakukannya karena kesibukannya mempersiapkan olimpiade yang hanya tinggal hitungan minggu saja. Apakah Raya mengalami sesuatu yang buruk sewaktu ia dalam perjalanan pulang? Misalnya Raya mengalami ... Tidak! Itu tidak mungkin. Meskipun Raya terlihat lemah, tapi gadis itu menguasai sedikit ilmu bela diri. Karena itulah Karan bisa sedikit mengendurkan pengawasannya dan membiarkan pacarnya itu pulang sendirian. Lagi pula, tidak ada tanda-tanda penganiayaan yang Raya terima kecuali di tangannya. Mungkin bukan preman-preman di kampung ini yang melukai Raya.
Tetapi seandainya—meskipun hanya sebuah perumpamaan—seandainya Raya benar-benar telah disakiti oleh preman-preman itu, apa yang harus Karan lakukan? Jelas melaporkan ke pihak keamanan setempat tidak akan menghasilkan apa pun. Polisi tidak akan mungkin mau menindak laporan yang dibuat oleh bocah sepertinya. Mungkin Karan harus melakukannya dengan caranya sendiri. Membalas perbuatan mereka dengan cara yang sama, yakni dengan kekerasan.
Tapi Karan berharap itu tidak pernah terjadi. Ia berharap itu hanya kekhawatirannya saja. Lebih baik dirinya yang terluka dan kehilangan nyawa ketimbang apa yang ada di dalam pikirannya itu benar-benar menimpa sang kekasih. Karena jika itu sampai terjadi, meskipun harus menjadi monster mengerikan, Karan akan membalas dengan cara lebih kejam dari apa yang telah mereka perbuat. Persetan dengan hati nurani dan kebaikan. Karan bisa melakukan apa saja jika itu menyangkut masalah keselamatan dari Raya Drisana, cinta pertamanya.