
Suasana rumah sangat ramai pada malam itu. Karan nyaris terperangah melihat penampilan rumah mewahnya yang tampak berbeda. Di bagian depan diisi oleh berbagai macam bunga. Kolam yang tadinya kosong dan tak terawat sekarang penuh dengan beberapa jenis ikan yang berenang-renang dengan riang. Juga hiasan pintu yang entah sejak kapan ada di sana. Seingat Karan, tidak pernah ada hiasan berbentuk rumah kecil itu tergantung di depan pintu rumahnya sewaktu ia pergi dari tempat itu terakhir kalinya.
Jadi ini yang dilakukan Raya selama beberapa hari belakangan? Mencoba melakukan hal aneh yang jauh dari karakternya. Karan benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang sedang direncanakan Raya.
Begitu turun dari mobil, Anna menghampiri Karan. Wanita paruh baya itu menyapa Karan dengan wajah yang tegang. “Selamat malam Pak. Selamat datang kembali di rumah,” sapanya dengan sopan.
Alih-alih membalas sapaan Anna, Karan langsung mengalihkan topik perkataan mereka. “Di mana istriku?” tanyanya. Menurut laki-laki itu tidak ada yang penting selain mengetahui kabar Raya. Lebih tepatnya kabar tentang wanita itu yang mulai depresi. Itu adalah kabar yang sangat disukai oleh sang CEO.
“Ibu ada di dalam, Pak,” sahut Anna. Ia ingin melanjutkan perkataannya tapi tampak begitu ragu.
“Kenapa? Apa ada masalah? Dia kabur lagi?” Meskipun Karan yakin itu tidak akan terjadi karena anak buahnya tidak menginformasikan hal itu kepadanya, Karan tetap ingin memastikannya lagi. Bahwa istrinya ada di rumah dan tidak menimbulkan masalah yang akan memancing amarahnya.
Anna menggelengkan kepalanya. “Tidak Pak. Ibu ada di dalam, tapi bersama Nyonya dan Tuan.”
Karan terbelalak. “Apa?” katanya yang terkejut bukan main. Buru-buru Karan masuk ke dalam rumah sambil mengumpat. Sial! Mengapa tiba-tiba orang tuanya datang? Ini tidak sesuai dengan apa yang Karan pikirkan sebelumnya, apalagi ketika Ian menyebutkan tentang perayaan ulang tahunnya.
Karan mengira Raya akan menyiapkan kue untuknya dan menyambutnya dengan sebuah dres cantik yang memesona. Kemudian, Karan akan mendekap Raya dan merobek gaun itu. Tentu saja tidak di depan semua orang. Mungkin di kamar atau di ruang tengah saat ia sudah menyuruh seluruh anak buahnya menghilang dari hadapannya. Baru setelah itu, Karan akan mencumbu istrinya hingga wanita itu menangis di dalam pelukannya.
Sialnya apa yang Karan harapkan tidak terjadi. Orang tuanya yang selalu sibuk menghabiskan waktu di luar negeri itu, mendadak muncul di rumahnya. Apa yang membuat mereka datang?
Jawaban itu didapat setelah Karan melihat ibu dan ayahnya berada di ruang keluarga. Mereka duduk di sofa sembari bercanda gurau dengan Raya. Sesekali mereka melirik ke arah televisi saat keadaan hening. Lalu, salah seorang akan memulai pembicaraan lagi untuk mencairkan suasana. Terlihat seperti keluarga yang bahagia.
“Sayang, aku pulang!” ujar Karan dengan sedikit berteriak. Sengaja karena ia ingin tampak seolah-olah baru saja masuk ke dalam rumah. “Raya!” panggil Karan lagi. Ketika Raya dan kedua orang tuanya menoleh ke arahnya, Karan mengubah air mukanya. Pria itu menyunggingkan sebuah senyum ramah di bibirnya.
“Loh, ternyata ada Papa dan Mama di sini!” Karan berpura-pura terkejut. Ia mendatangi ibu dan ayahnya dan memberikan pelukan hangat kepada mereka. “Kenapa tidak memberi tahuku? Kalau aku tahu Papa dan Mama datang, aku pasti pulang cepat dari New York.”
Ayah Karan menjawab, “Tidak apa-apa, Nak. Pekerjaanmu yang paling utama. Papa dan Mama ke sini hanya untuk merayakan ulang tahunmu. Ini pertama kalinya kau berulang tahun dengan keluarga baru. Kami ingin merayakannya bersama istrimu.”
“Oh, begitu. Jadi ini rencana kalian,” komentar Karan sambil memandang ke arah Raya. Rupanya ini rencana Raya. Mengundang orang tuanya agar Karan terpojok. Raya tahu Karan tidak pernah menunjukkan sisi buruknya pada mereka. Karan yang dikenal oleh kedua orang itu berbanding terbalik dengan diri Karan yang sebenarnya. Apakah ini yang diinginkan Raya? Mengancamnya dengan menggunakan ayah dan ibunya?
Sayangnya Karan tidak akan mudah dikalahkan. Belasan tahun Karan berakting sebagai anak baik yang penurut dan ramah di depan orang tuanya. Ia juga pandai memainkan kontrol emosinya. Tidak mungkin Raya akan berhasil mengekspos jati diri Karan kepada mereka.
Sambil berbincang-bincang dengan ayah dan ibunya, Karan mendekati Raya. Tanpa canggung sama sekali, Karan mencium puncak kepala Raya dan memeluk wanita itu. “Aku pulang, Sayang. Aku benar-benar merindukanmu,” ungkapnya.
“Aku juga merindukanmu,” balas Raya kikuk. Ingin sekali Raya melepaskan pelukan suaminya, tetapi ia kesulitan. Tenaga Karan begitu besar, ditambah kehadiran ayah dan ibu Karan yang seperti melemahkan niat memberontaknya.
Selang beberapa detik, Karan melepaskan pelukannya. “Ma, Pa, aku ganti baju dulu. Kalian langsung saja ke ruang makan.” Baru berjalan beberapa langkah, Karan membalikkan badannya. “Oh ya Sayang, bisa bantu aku menyiapkan pakaian? Aku harus mandi dulu sebelum kita makan.”
Raya tahu itu hanya akal-akalan Karan saja. Pria itu selalu melarang Raya masuk ke dalam kamarnya. Ah tidak. Karan pernah membiarkan Raya masuk. Tentu saat ia berada di pelukan Karan dan dalam keadaan tak berbusana. Karena hanya dalam hal itu saja Raya merasa cocok dengan Karan. Tubuh mereka menginginkan hal yang sama, yakni kenikmatan.
“Astaga, Karan! Kenapa kau begitu manja sekarang? Padahal sebelum menikah kau begitu mandiri,” celetuk Ibu Karan yang merasa asing dengan sikap putranya.
Lalu, Ayah Karan menimpali, “Wajar saja Ma. Mereka baru menikah. Apalagi Karan baru pulang. Pasti mereka ingin terus bersama.”
Kedua sudut bibir Karan terangkat, menunjukkan seulas senyum yang begitu pas dengan parasnya yang tampan. “Mama dan Papa begitu pengertian,” ucapnya. Ia mendekati Raya lagi dan merangkul istrinya dengan mesra. “Aku pinjam Raya dulu ya,” pamitnya.
“Jangan lama-lama. Kami sudah lapar,” celetuk sang ibu.
“Siap Yang Mulia!” seru Karan sembari memberi gelagat hormat kepada ibunya.
Raya tahu kalau sikap Karan begitu berbeda, tapi ia tidak membayangkan akan sangat berbeda seperti ini. Karan tidak pernah berbicara dengannya, kecuali saat mereka berada di atas ranjang. Itu pun hanya umpatan dan suara napas yang tersengal-sengal. Atau paling banyak kalimat ancaman agar Raya tidak melarikan diri. Tetapi di depan orang tuanya, Karan berbicara sangat banyak. Pria itu juga sempat melontarkan kalimat candaan kepada sang ibu. Raya sampai dibuat sangat terkejut dengan perbedaan drastic tersebut.
“Ka-karan! Apa yang kau lakukan?” ucap Raya ketika Karan menarik tubuhnya dan mendorongnya hingga ke sudut tembok kamar.
“Apa kau yang mengundang Mama dan Papa kemari?” tanya Karan. Wajahnya berubah lagi. Sekarang pria itu terlihat begitu marah.
“Tidak! Aku benar-benar tidak mengundang mereka. Aku saja tidak tahu mereka akan datang ke sini.”
“Jangan berbohong padaku, Raya! Tidak mungkin mereka datang kalau kau tidak mengundang mereka.” Tangan Karan bergerak untuk mencengkram bahu Raya dengan kuat. “Apa rencanamu sebenarnya?”
“Rencana apa maksudmu? Aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu berdua saja di sini. Tapi Papa dan Mama tiba-tiba datang. Kau bisa tanya sendiri pada mereka!”
Ada nada kesal yang keluar dari ucapan Raya. Ia sama sekali tidak berbohong, tapi Karan menuduhnya melakukan itu. Dan bukankah yang berbohong sebenarnya adalah Karan? Pria itu adalah pembohong ulung. Pria bermuka dua yang menjebaknya dalam sebuah pernikahan.