Lies

Lies
Sebuah Keajaiban



Pneumonia mungkin tidak seberbahaya kanker paru-paru, tetapi tetap saja cukup mematikan bagi seorang anak yang masih berusia empat tahun. Nyatanya Karan sampai memutuskan sekolah formalnya demi mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Artinya penyakit itu cukup membuat Karan kecil menderita. Raya sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana pria itu bisa bertahan ketika kecil. Pasti sangat sulit baginya untuk melakukan banyak hal. Karan akan selalu terpasung di rumah maupun di kamar rumah sakit.


“Apakah Karan menghabiskan masa kecilnya melawan penyakit itu, Tante?” Raya bertanya lagi. Cerita tentang Karan selalu mencuri perhatian Raya. Entah mengapa ia seperti punya kedekatan dengan laki-laki itu padahal mereka baru mengenal kurang dari lima bulan. Tiap kali bersentuhan fisik bahkan saat kedua mata mereka bertemu seolah-olah itu pernah terjadi sebelumnya.


Apakah mereka benar-benar pernah bertemu, misalnya ketika mereka masih kecil? Dari sudut pandang Raya rasanya sangat mustahil. Karan berasal dari keluarga yang kaya raya. Kehidupan Karan begitu terjamin dan Raya rasa, Karan akan selalu mendapatkan kemewahan. Sementara Raya hanyalah seorang gadis kecil yang dibesarkan di kampung yang kumuh. Selain para pelaku kriminal dan polisi yang mudah sekali diajak kerja sama, tidak ada yang akan mengunjungi kampung Raya. Mayoritas penduduk hanyalah masyarakat miskin dengan pendidikan terbatas. Ya, memang ada beberapa sekolah di sana, bahkan sampai ke sekolah menengah, tetapi tidak cukup untuk mendongkrak pola hidup masyarakat yang serba kekurangan.


Jadi dari kedua ketimpangan sosial itu, apakah Karan dan Raya pernah bertemu? Ah, mungkin pertanyaannya harus diubah sedikit. Apakah ada peluang kedua orang yang di masa kini menjadi suami istri itu untuk bertemu? Dilihat dari segi apa pun kemungkinannya nihil. Sangat mustahil. Raya memang pernah ke jantung ibu kota sebelumnya ketika masih kecil, tapi untuk mengikuti lomba cerdas cermat. Sedangkan Karan tidak punya peluang untuk datang ke kampung Raya. Lagi pula, mengapa anak seorang konglomerat sampai menginjakkan kaki ke daerah kumuh? Mustahil bukan?


"Benar, selama aku tinggal di sini, Karan selalu berada di rumah sakit. Jarang sekali dia ada di rumah. Kami secara bergantian menjaganya di sana. Untung saja Kakak Ipar adalah pria yang hebat. Dia bisa membagi waktunya dengan begitu disiplin. Menjaga Karan, bekerja di perusahaannya sambil mengurus Kakak yang sering kali kesehatannya turun akibat terlalu bersedih. Ah, aku sampai ingin menangis setiap mengingat masa lalu.”


Sebuah tetesan air jatuh dari pelupuk mata sang bibi yang disusul dengan tetesan-tetesan yang lain. Rasanya begitu berat jika teringat saat-saat itu. Rumah selalu sepi karena para penghuninya lebih sering berada di rumah sakit. Ibu mereka—nenek Karan— pun ikut merasa sedih yang berkepanjangan. Ayah dan ibu Karan adalah anak tertua di keluarga mereka masing-masing. Itulah sebabnya kehadiran Karan merupakan hal yang paling penting untuk mereka. Anak itu juga sangat penting untuk keberlangsungan keluarga Reviano karena merupakan satu-satunya anak yang dilahirkan oleh keluarga mereka. Sebab, paman termuda Karan memilih untuk tidak menikah dan melanjutkan hidup dengan pengabdian diri kepada Tuhan.


Ibu Karan juga tidak ingin memiliki anak lagi. Pikirannya sudah begitu kalut mengurus Karan hingga tidak ada terbesit sedetik pun untuk memiliki keturunan lagi. Begitu pula dengan ayah Karan. Kegiatannya begitu padat dengan berbagai urusan sehingga kehadiran anak bayi akan begitu merepotkan untuknya. Mereka takut adik Karan itu akan menderita karena tidak terurus. Dan yang lebih menakutkan lagi dengan kemungkinan kalau anak itu akan mengalami hal serupa dengan kakaknya.


“Maafkan aku, Tante. Aku tidak bermaksud membuat Tante menangis.” Raya mengambil kotak tisu dan menyodorkannya pada sang bibi. Kesedihan itu bisa dimaklumi mengingat kedekatan bibinya dengan Karan.


“Iya, tidak apa-apa. Karan tidak menceritakan ini padamu ‘kan? Anak itu memang selalu begitu. Menyimpan segalanya sendiri. Kau tahu, sewaktu kecil Karan tidak akan mengatakan sakit yang dideritanya jika tidak kami paksa. Benar-benar anak yang aneh,” cetus sang bibi sambil menyeka air matanya.


“Oh ya Tante, apakah penyakit Karan sudah sembuh total? Maksudku, dia bersekolah di New York untuk waktu yang lama. Apakah Karan benar-benar sudah tidak sakit lagi?” Pertanyaan itu benar-benar mengganggu Raya. Kalau memang sampai begitu parahnya penyakit Karan di masa lalu, mengapa orang tuanya justru melepaskan Karan untuk belajar di luar negeri? Oke, sebut saja Amerika Serikat adalah negara maju yang tentu saja pengobatannya juga jauh lebih maju dari Indonesia. Tapi tetap saja mengirimkan Karan sendirian di sana bukannya keputusan yang ringan. Ingat, sendirian. Sebab yang Raya ketahui, orang tua Karan tetap tinggal di Indonesia selagi Karan menempuh pendidikannya.


Kening sang bibi juga mengerut. Sepertinya ia bingung harus menjawab bagaimana. “Aku juga tidak tahu apa alasan Kakak dan Kakak Ipar mengirim Karan ke New York. Padahal aku ingat satu tahun sebelum keberangkatan, kesehatan Karan sempat turun lagi. Sayangnya waktu itu aku harus mengikuti suamiku pergi ke Belanda. Jadi, aku tidak sempat menjenguk Karan dan menanyakan apa yang terjadi selanjutnya.” Usai mengelap kedua matanya, wanita itu menyeruput tehnya yang sudah dingin. “Mungkin untuk pengobatan. Kakak Ipar punya perusahaan di New York, jadi dia pasti yang bolak-balik Jakarta dan New York.”


Itu bisa diterima kendati Raya masih tidak mengerti pola pikir orang-orang kaya. Alih-alih menetap di Amerika Serikat untuk kesehatan putra mereka, orang tua Karan malah tetap bersikeras tinggal di Indonesia. Kalau nantinya sang ayah bolak balik Jakarta-New York, bukankah tinggal di New York jauh lebih mudah? Jika hal itu menimpa Raya—semoga saja tidak akan pernah terjadi—sudah pasti Raya akan melakukan hal yang termudah. Ia akan tinggal bersama putranya yang sedang sakit apa pun yang terjadi. Raya bisa kehilangan pekerjaan dan harta bendanya tapi ia tidak akan sanggup kehilangan darah dagingnya sendiri.


“Sepertinya itu memang untuk pengobatan, Tante, karena Karan sudah sembuh total sekarang,” tanggap Raya. Apa yang membuat Raya yakin suaminya sudah sembuh saat ini? Rokok. Ya, pria itu menghisap rokok dengan leluasa. Tidak pernah sekali pun Raya mendengar sang suami dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak napas akibat merokok. Bahkan jika tidak dilarang Raya, pria itu akan terus merokok sepanjang hari. Benar-benar menyebalkan.


“Ya, suamimu terlihat sangat segar sekarang. Aku sampai pangling ketika melihat wajahnya di acara pernikahan kalian. Karan terlihat begitu berbeda. Mungkin karena puluhan tahun tidak melihatnya. Karan kecil begitu imut di mataku, tapi Karan dewasa terlihat begitu tampan. Bukankah ketampanan Karan yang membuatmu jatuh cinta, Raya?” Sang bibi menggoda istri keponakannya untuk mencairkan suasana. Sudah cukup mereka bercerita sedih tentang masa lalu Karan yang mengenaskan. Lebih baik mereka habiskan waktu sekarang untuk berbicara tentang masa depan.


Pipi Raya bersemu merah. Pelan-pelan ia menganggukkan kepalanya. “Iya, Tante. Karan sangat tampan dan aku menyukai wajahnya,” ungkap Raya dengan jujur. Memangnya ada wanita yang tidak menyukai wajah tampan Karan? Tidak mungkin ada. Semua wanita pasti menyukainya dan tergila-gila pada wajah itu. Belum lagi tampilan Karan yang begitu karismatik dan citranya yang dibuat begitu baik di depan kamera. Mungkin jika dilakukan survei di tengah anak remaja perempuan tentang pasangan ideal mereka di masa depan, nama Karan akan mendapatkan suara paling tinggi di antara mereka.


Raya mengangguk kecil. “Iya, aku pernah bekerja di beberapa instansi pemerintah yang bergerak di dunia sosial, Tante.”


“Bagus kalau begitu. Kebetulan minggu depan aku mau mengadakan acara amal, bolehkah aku meminta bantuanmu untuk hadir di sana? Aku dengar selama ini kau sering mengirimkan banyak bantuan ke masyarakat. Citramu pasti sangat baik di depan masyarakat.”


Tanpa dijelaskan pun Raya tahu apa yang dimaksudkan oleh sang bibi. Wanita itu butuh kehadiran media massa dan sorotan publik. Oh, ayolah, jangan munafik. Tidak ada acara amal yang benar-benar berlandaskan rasa prihatin dan kemanusiaan. Terutama yang dilakukan oleh para konglomerat. Jika memang mereka begitu tulus ingin membantu masyarakat, mereka pasti akan memberikannya sendiri dan secara diam-diam. Nyatanya tidak banyak orang melakukan hal tersebut. Rata-rata orang membantu masyarakat dengan imbalan yang pasti. Bukan imbalan uang, tapi ketenaran.


Itulah sebabnya media massa selalu ada di setiap acara amal. Mereka butuh perhatian publik dengan begitu publik akan mencari tahu usaha yang dijalankan oleh orang itu. Dan hasilnya, acara amal itu menjadi menjadi bahan untuk iklan perusahaan mereka dengan cara mudah dan gampang. Tanpa memasang baliho besar di jalanan, menyewa beberapa detik di televisi atau memasang reklame di beberapa pusat perbelanjaan. Saat acara amal itu dilakukan, terlebih di dalam acara itu ada tokoh masyarakat yang terkenal, sorotan media akan tertuju ke sana.


Ya, itu sah-sah saja. Tidak ada pelanggaran dalam hal tersebut. Selama bantuan sosial itu benar-benar tersalurkan ke masyarakat, apa pun motifnya bukan menjadi masalah. Kedua belah pihak sama-sama diuntungkan dalam masalah ini. Yang paling tidak bisa diterima adalah ketika media massa sudah mempublikasikan secara besar-besaran, tapi bantuan tidak kunjung sampai. Dana yang seharusnya dikirimkan kepada rakyat, justru masuk ke kantung pribadi. Bukankah itu benar-benar perbuatan yang menjijikkan?


“Minggu depan ya? Sepertinya aku bisa, Tante. Tapi mungkin aku sedikit terlambat karena ada jadwal pemotretan di pagi hari,” jawab Raya. Tidak ada salahnya membantu sang bibi. Hitung-hitung sebagai balas budi karena mau menceritakan masa lalu Karan yang tidak bisa Raya dapatkan dari mana pun, termasuk dari mulut suaminya sendiri.


“Ya, kau sangat sibuk. Tidak apa-apa kalau kau datang terlambat. Yang penting kau datang, Raya. Kami butuh banyak dana untuk merenovasi beberapa sekolah yang ambruk akibat konstruksi bangunan yang buruk. Suamiku tidak tahan melihatnya. Dan kalau menunggu bantuan dari negara, akan sangat lambat dan sulit. Lebih baik kita bergerak sendiri,” cetusnya. Mengingat suaminya adalah guru besar sebuah kampus terkemuka di Belanda, nurani mereka terpanggil saat melihat berbagai anak yang belajar di bawah terik matahari karena bangunan sekolah mereka yang ambruk. Mereka pun sepakat untuk melakukan gerakan amal tersebut.


Raya menganggukkan kepalanya. “Iya Tante, aku akan datang apa pun yang terjadi,” janjinya.


Tepat saat itu, suasana di depan rumah begitu heboh. Orang-orang terlihat sedang mengelilingi seorang pria yang baru saja sampai di sana. “Itu pasti Karan. Anak itu rupanya menurut juga untuk datang ke sini.”


Ucapan sang bibi benar. Meskipun kesulitan keluar dari gerombolan orang yang menghampirinya, Karan pun akhirnya bisa menemui ibunya. Pria itu memeluk sang ibu dan membisikkan sesuatu di telinga sang ibu. Tak lama kemudian, ibu Karan menoleh dan menunjuk ke arah Raya. Sepertinya Karan sedang bertanya di mana istrinya berada dan sang ibu menunjukkan keberadaan Raya.


Karan menoleh ke arah Raya. Bibirnya bergerak-gerak, “Nanti aku ke sana.”


Raya mengangguk. “Iya,” balasnya.


“Bocah itu sepertinya sangat menyayangimu, Raya,” seru sang bibi.


Raya hanya bisa tersenyum. “Ya, dia terlihat begitu,” ungkapnya jujur. Meskipun sering berbuat kasar, bukan berarti Raya tidak bisa melihat ketulusan dari wajah Karan. Pria itu memang tampak begitu menyayanginya. Rasa sayang yang sangat berlebihan hingga berujung sikap posesif yang sangat mengerikan. Karan adalah tipe pria dominan yang harus mengendalikan segalanya, termasuk istrinya sendiri.