Lies

Lies
Keanehan Karan



Cemburu. Mungkinkah? Raya tidak tahu, tapi ia tidak bisa menolak kemungkinan itu. Ia memang marah, bahkan sampai kecewa karena Karan membawa Sekar hari ini, dengan menaiki mobil suaminya. Meskipun mereka tidak berdua saja—Ian pasti ikut di sana—tetap saja Raya tidak bisa menerimanya begitu saja. Kalau itu disebut cemburu, maka biarkan begitu. Biarkan Raya disebut sebagai wanita cemburu. Itu tidak salah. Wajar jika ia cemburu melihat kedekatan suaminya dengan wanita lain, kendati pernikahan mereka tidak sama dengan pernikahan pada umumnya. Pernikahan mereka tidak berlandaskan cinta.


“Ya, aku cemburu,” ungkap Raya pada akhirnya setelah menenangkan pikiran yang penuh dengan tanda tanya.


Karan membelalakkan matanya, tidak menyangka sang istri akan mengaku semudah itu. Ia pikir istrinya akan mengelak seperti yang sering ia lakukan. Tetapi, dibandingkan dirinya yang pengecut, Karan mengakui istrinya itu begitu pemberani. “Aku tahu, maaf. Tapi aku tidak bermaksud lain, Sayang. Aku membawanya karena ingin mengenalkannya pada Papa. Kami punya bisnis yang melibatkan Sekar, jadi ini murni hanya masalah pekerjaan.”


Tidak pernah terbanyang oleh Karan bahwa ia harus meminta maaf pada seseorang, terutama pada wanita. Masalahnya, wanita itu adalah Raya, wanita yang seharusnya menderita karena menerima dendamnya. Sekarang, jangankan untuk membalas dendam, Karan justru terlena akibat imajinasinya sendiri yang membayangkan membangun rumah tangga yang harmonis bersama Raya.


“Baiklah, aku mengerti,” seru Raya pada akhirnya. Ia tahu alasan Karan yang sebenarnya, persis seperti yang laki-laki itu sebutkan. Sekalipun Raya bertanya pada ayah mertuanya, pasti sang ayah akan mengatakan hal yang sama. Semua hanya urusan bisnis. Masalahnya, otak Raya menganggap itu logis, tapi hatinya tidak mau menerima logika tersebut. Bisa saja Karan menganggap itu hanya sebatas urusan pekerjaan, namun tidak ada yang tahu isi hati dan pikiran Sekar. Ayolah, Raya juga seorang wanita! Ia tahu tatapan apa yang Sekar berikan pada Karan, apakah hanya tatapan biasa atau tatapan seseorang yang menyukai lawan jenisya. Dan Raya dengan jelas melihat Sekar menatap Karan dengan tatapan memuja.


“Kau mengerti? Benar-benar mengerti dan tidak marah lagi?” Karan mencoba untuk meyakinkan istrinya lagi. “Sayang, demi apa pun di dunia ini, bahkan demi nyawaku sendiri, aku tidak menaruh hati pada siapa pun. Aku sudah punya wanita luar biasa sepertimu, seorang Raya Drisana, untuk apa lagi aku mencari wanita yang lain?”


Inilah keahlian Karan yang membuat Raya terpincut. Kemampuan merayu. Dengan wajah tampan dan latar belakang pria itu yang mapan, setiap kata yang keluar dari bibirnya akan dianggap kebenaran oleh kaum hawa. Apalagi saat pria itu mengatakannya dengan suara lembut dan tatapan mata begitu teduh.


“Tidak, aku tidak marah,” ungkap Raya. Ya, ia tidak sepenuhnya berbohong karena hati kecilnya sudah merasa lebih baik sekarang. Karan memang tidak salah. Pria itu wajar mendekati rekan kerjanya sekalipun lawan jenisnya sendiri, sama seperti Raya yang berdekatan dengan model atau artis pria lainnya. Raya sama sekali tidak bisa memilih-milih rekan kerjanya. Jika ia melakukan itu, maka ia akan dicap sebagai orang yang tidak profesional.


“Syukurlah, aku senang kau tidak marah. Kalau begitu, bisakah kita pulang sekarang?”


“Pulang?” Raya mengernyitkan keningnya. “Ini sudah larut malam dan kau mau pulang?”


“Ya, tidak apa-apa. Ini tidak terlalu malam, Sayang. Kita masih bisa pulang sekarang. Dan masalah Mama dan Papa, aku bisa mengatakannya besok pagi. Kita pulang karena ada hal yang mendadak yang harus kita urus.”


“Jadi, kau mau berbohong begitu?” Raya tidak percaya ini. Hanya karena tidak ingin tinggal di rumah orang tuanya, Karan rela berbohong seperti itu. Memangnya ada masalah apa sampai-sampai pria itu begitu enggan tinggal di sini?


Karan buru-buru menggelengkan kepalanya. “Tidak, Sayang. Bagaimana mungkin aku berbohong. Aku memang ada urusan besok. Jadi, kalau kita pergi lebih cepat, maka lebih baik.”


“Karan,” panggil Raya sembari duduk di dekat sang suami. “Apa sebenarnya yang terjadi padamu? Kenapa kau sangat tidak suka tinggal di sini? Apakah ada rahasia yang kau sembunyikan dariku?”


Pria itu terkejut bukan main. Kedua matanya membelalak, nyaris mencuat keluar saking kagetnya ia mendengar penuturan sang istri. Rahasia. Ya, ia punya banyak sekali rahasia yang ingin ia tutupi, khususnya dari Raya. Sebab seandainya Raya mengetahui masa lalunya, maka rencana Karan akan berantakan. Baik rencana untuk menjalin hubungan baik dengan Raya atau pun rencana balas dendamnya. Karan hanya perlu mengelak dan terus menyembunyikan semua kebenarannya.


Wanita itu memutar bola matanya jengah. “Astaga, Karan. Tidak ada orang tua yang akan menganggap anaknya menyusahkan hanya karena menginap sehari di rumah mereka. Kau begitu berlebihan!” ungkap Raya merasa aneh dengan ucapan Karan. Ia tidak habis pikir bagaimana suaminya itu bisa sampai berpikir menyusahkan orang tuanya yang notabene begitu sayang dan perhatian padanya. Dan juga mereka tidak tinggal di rumah ini selamanya. Hanya semalam saja. Tidak mungkin kedua orang tua Karan akan marah pada mereka.


“Ya, aku tahu. Aku hanya khawatir saja,” sahut Karan dengan suara rendahnya yang melemah.


Raya menghela napas panjang dan berat, merasa kesal atas apa yang suaminya pikirkan, tapi tidak mau melanjutkan pertengkaran tidak penting ini. “Apa pun itu, kita hanya akan menginap di sini malam ini. Besok pagi ... ah, tidak. Besok subuh kita akan pulang. Bagaimana? Itu solusi paling tepat agar kita tidak bertengkar, Karan. Aku lelah. Aku benar-benar ingin istirahat cepat.” Wanita itu menyentuh lehernya sambil menggerak-gerakkan kepalanya. Hari yang cukup melelahkan bagi Raya dan ia memang benar-benar ingin segera tidur.


“Baiklah, baiklah. Kita menginap malam ini saja.” Karan memilih mengalah. Ia juga lelah hari ini untuk menyetir mobil sendiri. Memanggil Ian untuk menjemputnya pun dirasa tidak baik. Sang asisten pribadi Karan itu akan marah besar karena waktu tidur malamnya terganggu padahal besok pagi mereka harus berangkat ke bandara.


Senyuman terbit di bibir Raya usai memenangkan adu argumentasi dengan sang suami. “Baguslah. Dan sekarang aku mau mandi dulu,” pamitnya sembari melenggang menuju ke kamar mandi.


Karan mengusap-usap wajahnya, lalu memandangi seisi kamar itu. Rasanya begitu tidak nyaman berada di sana kendati Karan pernah tidur di ruangan itu sebelum pindah ke rumahnya sendiri. Hanya saja semuanya terasa berbeda. Padahal ruangan itu selalu dibersihkan karena tidak ada satu pun debu yang menempel. Pendingin udaranya pun sudah diganti dengan produk keluaran terbaru sekalipun tidak ada yang menempati kamar itu. Begitu Karan membuka lemari untuk mengambil baju ganti, pakaian lamanya masih utuh di sana. Tidak bergeser satu senti pun. Ibu dan ayahnya benar-benar merawat kamar ini seperti merawat putranya sendiri.


“Ini, pakai ini saja Sayang. Jangan pakai gaun tipis itu,” lontar Karan sembari memberikan sepasang baju tidur kepada Raya. Baju tidur yang ia pakai sewaktu, di mana tubuhnya masih kurus, tidak sebesar dan atletis seperti sekarang. Baju itu ia rasa akan muat untuk istrinya meskipun sedikit kebesaran.


Lagi, Raya tersenyum senang. “Terima kasih, Karan. Mandilah, aku sudah menampung air di dalam bak untukmu.”


Karan mengangguk. “Jangan lupa keringkan rambutmu. Pengering rambut ada di laci nakas paling bawah,” pesan Karan lalu berjalan ke kamar mandi.


Raya memakai pakaian yang dipinjamkan oleh suaminya dan berjalan ke arah nakas untuk mengambil pengering rambut seperti yang Karan katakan. Ternyata pengering rambut itu benar-benar ada di sana. Anehnya, pengering itu merupakan produk keluaran terbaru. Baru sekitar dua bulan lalu diluncurkan oleh merek tersebut. Raya tahu karena ia juga punya satu di kamarnya dan ia yakin itu bukan miliknya karena warnanya berbeda. Ini aneh. Bukankah kamar Karan tidak pernah digunakan oleh orang tua Karan? Atau mungkin ada yang tidur di sana selepas Karan pergi? Ya, mungkin saja sepupu-sepupu Karanlah yang menempati kamar itu sehingga barang-barang elektronik di sana semuanya keluaran terbaru, termasuk televisi, pendingin ruangan dan sebuah kulkas kecil di dekat jendela.


Saat rambutnya sudah kering, Raya mengembalikan alat itu ke tempatnya semula. Kemudian, Raya melihat-lihat seisi kamar itu. Bagus dan rapi. Kamar yang didominasi warna cokelat dan putih yang begitu tenang dipandang mata. Sangat berbeda dengan nuansa di kamar Karan di rumah mereka. Kamar di sana lebih condong dengan nuansa monokrom. Kalau tidak hitam, putih atau abu-abu. Terlihat begitu kaku meskipun terkesan estetik dan minimalis.


Pandangan mata Raya kemudian jatuh pada sebuah foto cukup besar yang menempel di dinding di atas televisi. Raya mendekati foto itu dan ia melihat foto seorang anak kecil—mungkin berusia lima tahun—bersama dua orang dewasa di kanan dan kirinya. Raya tahu dua orang itu adalah ayah dan ibu Karan. Mungkinkah anak kecil itu adalah Karan?


Rasanya tidak mungkin. Raya sampai harus memicingkan matanya agar dapat melihat lebih jelas wajah anak itu. Benar, wajahnya memang mirip dengan Karan dewasa. Tapi ada yang berbeda dengan Karan yang sekarang, yaitu senyumannya. Anak itu tampak begitu ceria di dalam foto itu. Tidak ada tanda-tanda kesedihan sama sekali walaupun menurut cerita sang bibi, Karan sudah menderita penyakit pernapasan di usia itu. Sementara Karan dewasa begitu dingin dan kaku, bahkan juga kejam. Apa yang membuat Karan begitu berbeda dari kepribadiannya sewaktu ia kecil?