
Karan tidak mau bernostalgia dengan masa lalu lagi. Di hadapannya sudah ada Raya, istrinya. Setidaknya itu yang harus Karan syukuri. Raya merupakan tujuan hidupnya, tanpa wanita itu, Karan tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana caranya menjalani hidup. Jadi, mulai hari ini, Karan ingin menerapkan sebuah langkah kecil, yakni menikmati momen bersama dengan sang istri.
“Apa panas?” tanya Karan saat mengguyur rambut Raya dengan air hangat dari pancuran.
Wanita itu mengangguk. “Iya.”
“Baiklah, aku akan mengatur suhu airnya lagi.” Karan hendak meraih keran untuk mengatur kadar suhu air pancurannya, namun dicegah oleh Raya. “Kenapa?” celetuknya sambil mengernyit.
“Bukan airnya yang panas.”
“Hm? Lalu, apa yang panas?”
“Tubuhku,” gumam Raya pelan.
Meskipun pelan Karan tetap mendengarnya dengan jelas. Pria itu pun menyeringai. “Benarkah?” serunya. Karan melepaskan salah satu tangannya dari gagang pancuran untuk bisa menyentuh tubuh Raya. Pertama ia meletakkan tangannya di atas perut Raya. “Apa yang panas di sini?” tuturnya lagi sementara tangannya menelusuri bagian perut Raya hingga sesekali menyentuh dada Raya dengan sengaja.
Raya mendesah sambil menggeleng. “Mungkin ... tapi aku tidak tahu. Masih terasa panas.”
“Aku tahu apa yang membuatmu panas, Sayang. Kau bergairah dan itu karenaku. Tenang saja, aku akan membantumu melepaskan rasa panasmu itu,” ujar Karan dengan menjanjikan sesuatu pada Raya. Sebuah janji untuk menikmati pergulatan panas yang sebentar lagi akan mereka jalani.
Karan berdiri, menanggalkan seluruh pakaiannya terlebih dahulu sebelum bergabung dengan Raya di dalam bak mandi. Karan mengangkat Raya agar berada di depannya dengan posisi membelakanginya. Lalu, ia menyentuh dagu Raya dan menuntun wanita itu menghadap ke arahnya.
“Kau tahu, Sayang. Kau terlihat begitu seksi saat ini.”
Sudah dua kali Karan memanggilnya dengan panggilan ‘Sayang’. Raya pikir ia salah ketika mendengarnya pertama kali. Namun, ketika panggilan itu meluncur dari bibir Karan untuk kedua kalinya, Raya pun yakin ia tidak salah. Karan memang memanggilnya sayang, sama seperti dulu. Bedanya, Karan mengucapkannya dengan maksud, bukan hanya sekadar panggilan tanpa arti seperti yang selama ini pria itu lakukan. Dan Raya pun sangat menyukainya. Ia bahkan berdebar mendengar kata itu lagi.
“Aku tidak seksi,” balas Raya merendah.
“Kau seksi, Sayang. Dan akan selalu seksi.”
Karan mengecup bibir Raya. Mereka berciuman dengan penuh gairah. Karan mendekap tubuh Raya erat-erat, merapatkan wanita itu agar menempel paa tubunya. “Ciumanmu lebih baik sekarang. Setidaknya kau ingat kapan harus bernapas.” Karan memuji kemampuan sang istri. Dengan suara paraunya itu, ia berbicara lagi, “tapi kau belum mahir, Sayang. Ada banyak hal yang harus ditingkatkan. Dan aku akan mengajarimu.”
Pria itu mengecup leher Raya, menciumnya, membelainya ... Karan begitu memanjakan tubuh Raya hingga sang empunya merasakan getaran hebat di tubuhnya. “Sekarang aku tahu di mana kau merasa panas, Sayang. Pasti di sini,” suara serak Karan terdengar lagi. Tangannya dengan cekatan bergerak naik dan menyentuh kedua benda kenyal sensitif milik sang istri. Saat tangannya yang besar itu mengeksplorasi bagian sana, bibirnya menempel pada bibir Raya, memagut bagian atas dan bawaj scara bergantian.
Raya kali ini tidak bisa menahan lagi gejolak dalam tubuhnya. Ia merintih dengan keras, merasa seluruh tubuhnya lunglai begitu saja. Pertahanannya memudar saat tangan Karan dengan mudahnya bergerak di tubuh bagian depannya. Bergerak turun ke perutnya kemudian semakin jauh hingga menyentuh intinya.
Karan menyeringai sombong mendengar suara napas sang istri yang terputus-putus. Matanya menyipit saat bokong indah istrinya menyentuh miliknya. Ia lupa hanya dirinya saja yang telanjang sementara Raya masih mengenakan pakaian utuhnya. Tetapi sentuhan itu sudah membuat Karan begitu gila. Intinya sudah menegang sempurna, artinya bahwa ia sudah siap menyatu dengan Raya.
“Apakah aku harus melepasnya? Kau tidak suka pakaianmu kurobek ‘kan?” Karan mengangkat dres Raya untuk melepaskan benda penghalang itu dari tubuh sang istri. Namun Karan tidak begitu saja melepasnya. Ia melepas dres itu sambil pelan-pelan sambil menikmati tubuh Raya. Gerakannya sensual dan sangat berhati-hati. Sesekali ia bahkan sempat menempelkan bibirnya yang lembap itu di beberapa bagian sensitif Raya.
Setelah pakaiannya terlepas, Karan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjelajahi tubuh Raya. Ia menciumi seluruh tubuh Raya, berulang kali. Saat sudah memastikan istrinya sudah siap sepenuhnya menerimanya, Karan mengangkat tubuh Raya lagi, membaliknya hingga kini wanita itu berada tepat di depannya. Dan dalam posisi Raya berada di pangkuannya, Karan pun menyatukan tubuh mereka.
Bibir Karan tidak bisa berhenti bekerja, baik itu untuk memuji-muji istrinya, atau untuk membuat ketegangan tubuh sang istri memudar. Karan menggunakan mulutnya untuk mengecupi leher Raya, menggigitnya, menjilatnya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Saat mereka hendak mencapai puncak, Karan membungkam suara serat Raya dengan ciumannya sampai ia merasa puas.
*****
“Eugh!”
Raya melenguh. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri secara gelisah. Tubuhnya terasa berat, seperti ada sesuatu yang berada di atas tubuhnya. Saat ia membuka mata, sontak ia terbelalak. Di depannya ada sebuah dada bidang tanpa busana yang sedang mendekapnya. Raya merasa begitu panik, ia segera melihat sang empunya tubuh itu, lalu ia bernapas lega saat melihat wajahnya. Ternyata dada bidang nan kokoh itu milik suaminya. Kekhawatiran Raya pun memudar.
Tapi tunggu dulu! Raya kembali terkejut. Karan ada di sini? Berbaring di ranjang bersamanya? Mata Raya menjelajah dan menemukan fakta bahwa ia berada di kamarnya. Mengapa Karan bisa ada di sini bersamanya? Apa sebenarnya yang terjadi tadi malam?
“Ini masih pagi, Raya. Tidur saja lagi,” gumam Karan yang merasa terganggu dengan apa yang Raya lakukan. Ia baru saja beristirahat tiga jam yang lalu. Ah, ralat. Bukan hanya dirinya saja. Ia dan sang istri baru tidur selama tiga jam. Sepanjang malam mereka menghabiskan waktu yang begitu panas. Tidak hanya sekali, mereka berhubungan badan berkali-kali dan di berbagai tempat. Di kamar mandi, di atas sofa dan di atas ranjang. Karan bahkan harus mengerahkan tenaga ekstra agar bisa memakaikan baju di tubuh Raya dan juga dirinya.
“Justru karena sudah pagi, Karan. Apa kau tidak bekerja?”
Ya, benar bekerja. Karan lupa ada hal yang harus ia lakukan selain memuaskan hasrat biologisnya. Ia harus bekerja. Mencari uang agar bisa melimpahkan harta kepada sang istri. Tetapi untuk hari ini, sang penggila pekerjaan itu merasa malas. Tenaganya sudah terkuras habis semalam dan sekarang ia tidak punya keinginan untuk beranjak dari ranjang.
“Aku tidak mau bekerja. Aku akan bolos hari ini,” kata Karan dengan penuh percaya diri. Raya pikir Karan hanya membual sampai pria itu mengambil gagang telepon yang ada di atas nakas. Karan menghubungi seseorang yang bisa memuluskan rencananya untuk bolos kerja. Ia menghubungi Ian, sang asisten pribadinya.
“Selamat pagi Pak. Saya sudah menyiapkan mobil di depan rumah,” ujar Ian begitu menjawab panggilan telepon. Ian begitu percaya diri bahwa Karanlah yang menghubunginya karena Karan sering melakukan itu setiap pagi. Ia mengubungi Ian menggunakan telepon di kamar Raya. Sekadar untuk memberi tahu Ian bahwa ia akan segera turun ke bawah.
Sayangnya kali ini Karan tidak mengabarkan Ian bahwa ia telah siap. Justru sebaliknya, Karan memerintahkan hal yang tidak pernah dilakukan pria itu selama ini. “Aku tidak pergi ke kantor. Hari ini aku ingin berada di rumah saja. Batalkan semua jadwalku dan tunda semua rapat.”
“Tapi Pak, Anda sudah membatalkan pertemuan tadi malam. Apakah Anda mau membatalkannya lagi hari ini?”
“Ian, kau tahu aku tidak suka berbicara dua kali. Kau benar-benar suka menguji kesabaranku.”
Ian tidak bisa berkata apa-apa. Meskipun kesal karena lagi-lagi pekerjaannya bertambah, tapi ia hanya bisa mengatakan, “Baik Pak. Akan saya batalkan.” Pria itu berkata dengan pasrah.
Karan tidak mengucapkan kalimat apa pun dan langsung menutup sambungan teleponnya. Kemudian, ia kembali memosisikan tubuhnya di samping Raya dan memeluk sang istri di dalam selimut. “Aku sudah menyelesaikan masalahnya. Jadi, ayo tidur lagi.” Sikap Karan melembut. Ia benar-benar memeluk tubuh istrinya dengan dekapan hangat namun tetap erat, seolah-olah Raya adalah benda yang sangat berharga yang begitu rentan untuk rusak. Benda berharga yang tidak ingin Karan lepas walau sebentar saja.
“Apa kau benar-benar akan tidur?”
“Ya, tapi Sayang, jangan terlalu bergerak. Kau tahu aku sangat sensitif di pagi hari. Tolong jangan memaksaku untuk menelanjangimu lagi,” ancam Karan sambil memejamkan mata.
Raya tersentak. Ia yang tadinya menggeliat ke sana kemari, akhirnya diam karena mendengar kalimat ultimatum yang dilontarkan sang suami. Sama seperti Karan, ia juga merasa lelah. Tubuhnya bahkan terasa seperti mengalami keretakan di sana sini, terutama di beberapa bagian sensitifnya yang terasa agak perih. Sepertinya usulan Karan memang baik. Ia perlu tidur secepatnya agar tubuhnya bisa kembali pulih.