Lies

Lies
Wanita yang Terlupakan



Bukankah ini sudah keterlaluan? Karan bertanya di dalam hatinya. Para wartawan ini mulai tidak punya sopan santun dan sama sekali tidak pernah bisa menghargai privasi orang lain. Seandainya tidak ada Raya, sudah pasti Karan akan mencari tahu identitas wartawan itu untuk memastikan ia tidak akan lagi bisa kembali bekerja di mana pun. Memang ini tuntutan pekerjaan, tapi jika tidak ditindak tegas, para wartawan akan terus mendesak siapa pun hingga mereka mendapatkan informasi.


Untung saja Raya ada di sana. Sebagai orang yang sudah lama berkecimpung di dunia hiburan, Raya tahu bagaimana cara menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu. “Seperti yang sudah pernah disampaikan suami saya sebelumnya. Kami sedang dalam program untuk memiliki anak. Jadi kami memutuskan memfokuskan pikiran kami untuk program itu. Sama seperti suami saya yang sudah mengorbankan banyak hal untuk saya, maka saya juga harus melakukan yang terbaik untuk pernikahan kami. Dan tolong jangan buat berita yang tidak masuk akal karena kami ingin hidup tenang. Terima kasih.”


Itulah ucapan bijak Raya sebelum meninggalkan tempat itu bersama dengan Karan. Ian datang tepat waktu hari itu. Ia langsung menghampiri Karan dan Raya yang terjebak wartawan. Tidak hanya sendiri, Ian membawa beberapa pengawal yang biasanya digunakan Karan untuk pengamanan dadakan. Alhasil, mereka bisa melarikan diri dari kepungan para pemburu berita itu.


“Mereka sangat keterlaluan. Aku benci mereka,” tukas Karan di dalam mobil. Pria itu tidak habis menggerutu karena ulah para wartawan itu. Andai ada hal yang bisa Karan lakukan untuk menenangkan dirinya, mungkin memberikan satu pukulan di wajah sang wartawan adalah hal yang paling tepat baginya.


Raya mengerti kekesalan Karan. Dalam waktu kurang dari 10 menit, pemberitaan tentang mereka sudah muncul di media sosial. Inilah yang ditakutkan Raya. Mereka tidak melakukan apa-apa saja pemberitaan buruk tetap menghampiri mereka. Apalagi jika Karan lepas kendali dan membalas para wartawan itu. Bisa-bisa saat ini wajah Karan akan terpampang di media menjadi topik hangat pemberitaan. Tidak menutup kemungkinan Karan juga akan diseret ke meja hijau karena dituduh telah menghalang-halangi kebebasan pers. Untuk itulah Raya mengambil kendali. Dibandingkan dengan suaminya, emosi Raya jauh lebih bisa terkendali dengan baik.


“Aku tahu. Mereka memang menyebalkan. Tapi apakah kita akan merusak hari hanya karena wartawan itu?” kata Raya mengingatkan Karan untuk kembali ke rencana awal mereka. Raya tidak benar-benar ingin berhubungan intim dengan suaminya, kendati ia juga tidak menolaknya. Hanya saja ketimbang melihat kemarahan Karan, lebih baik ia menarik perhatian suaminya ke hal yang lain. Dengan begitu Karan tidak akan melakukan hal nekat yang justru akan merusak citra mereka berdua.


Kedua bola mata Karan terbelalak. Ia tiba-tiba teringat apa yang dikatakan Raya. Ya, mereka punya hal yang lebih penting ketimbang memikirkan tentang wartawan itu. Pria itu menyeringai. Ia mendekati Raya dan mengecup pipi Raya. “Tidak mungkin. Bagaimana bisa wartawan sepertinya merusak rencana kita, Sayang? Itu tidak mungkin,” tegasnya. Tangan Karan mulai bergerak, menyentuh lengan Raya dan mengelusnya.


“Eh, aku tidak bilang sekarang. Aku bilang di rumah ‘kan? Kau tidak lupa tentang itu?” Raya berhasil mencegah Karan dengan menepis tangan laki-laki itu. Seperti yang dikatakannya, perjanjian mereka adalah melakukan ini di rumah, bukan di dalam mobil dan disaksikan oleh Ian. Meskipun Karan tidak akan peduli pada apa pun kecuali dirinya sendiri, namun Raya berbeda. Ia masih memiliki rasa malu yang ia jaga.


“Baiklah, aku akan bersabar sekarang. Tapi kau tidak akan bisa kabur kalau kita sudah berada di rumah,” tukas Karan dengan tegas. Ia mencium pipi Raya lembut sebelum kembali ke posisi tempat duduknya semula.


******


Raya bukanlah wanita yang mudah ditaklukan. Tidak hanya dengan uang dan harta, bahkan hati Raya juga tidak luluh dengan cinta. Mungkin wanita itu tidak lagi mengenal cinta sama seperti Karan. Dunia sudah mengubah pola pikir mereka dari sepasang kekasih yang terbuai dengan manisnya cinta, menjadi sepasang suami istri yang hidup dalam kehidupan pragmatis rumah tangga mereka. Bisa dibilang fondasi mereka bisa membina rumah tangga pun terbilang rapuh. Ditambah selama ini ketertarikan yang ditunjukkan keduanya hanyalah ketertarikan fisik. Selain rasa benci yang sudah mandarah daging di hatinya, Karan pun yakin tidak ada perasaan lain yang ia rasakan pada sang istri.


“Kamarmu atau kamarku?” tanya Karan ketika mereka sudah selesai meyantap makan malam mereka. Pria itu sudah sangat bersabar sepanjang pagi hingga malam. Ia berusaha tidak menyentuh Raya kendati keinginan terhadap wanita itu begitu besar. Karan hanya ingin membuktikan bahwa ia sama sekali tidak menganggap Raya sebagai wanita penghibur. Sebenci apa pun Karan terhadap Raya, ia tidak akan pernah menganggap istrinya yang begitu cantik itu sebagai wanita murahan. Karan saja menganggap semua hartanya tidak akan bisa dibandingkan dengan Raya, lalu bagaimana istrinya itu ia anggap serendah itu?


Dengan berani Raya menempelkan bibirnya ke leher Karan. “Aku lebih suka sinar bulan dibandingkan sinar lampu.” Raya memberikan teka-teki sederhana kepada suaminya. Ia tidak ingin terang-terangan mengatakan bahwa ia lebih suka tidur dengan pria itu di kamarnya. Keangkuhannya melarangnya melakukan itu, meskipun Karan pasti sudah menduga di mana lokasi yang Raya maksudkan.


“Baiklah, sesuai keinginanmu.” Karan menyelipkan jari-jarinya untuk menggenggam tangan Raya, mengangkatnya dan menghirup aroma vanila yang menyeruak dari permukaan kulit pergelangan tangan wanita itu. Ketika bibirnya menempel di sana, ia merasakan denyut nadi Raya yang berdenyut keras dan cepat. Ia mengecupnya lagi sambil menggigitnya pelan bak seorang manusia vampir yang ingin menghisap darah mangsanya. “Sepertinya kau butuh gelang, Sayang. Besok akan aku belikan untukmu.”


Karan terkekeh pelan. Suara kesal Raya itu mengingatkan Karan pada kejadian di masa lalu ketika Raya merengek karena tidak bisa lulus mata pelajaran matematika. Akibatnya perempuan itu terus-menerus meminta Karan untuk mengajarinya. “Maaf, aku hanya ingin membuat istriku terlihat semakin cantik,” seru Karan sambil merasakan jari-jari lentik Raya yang bergerak-gerak di dalam genggamannya saat ia mengecupinya satu per satu.


“Memakaikanku emas dan berlian tidak akan membuatku cantik, Karan. Kau tidak perlu membelikannya untukku.”


Kali ini Karanlah yang menggeram. “Sayang!”


Itu merupakan peringatan bahwa Raya tidak boleh menentang Karan. Tugas Raya hanya sederhana, yakni menerima semua yang dilakukan Karan tanpa melemparkan protes apa pun. Karena Karanlah yang memegang kendali atas hidup Raya. Ia akan mengatur segala sisi hidup Raya termasuk caranya berpakaian. Begitulah cara mempertahankan Raya tetap di sisinya. Jika perlu, Karan akan melakukannya dengan kekerasan kendati jauh lebih baik bila Raya menurutinya.


“Iya, aku tahu. Terserah padamu,” kata Raya pasrah.


“Bagus,” ungkap Karan senang. Ia menarik tangan Raya dan mengalungkannya ke belakang lehernya. Pelan-pelan, dengan lembut ia mencium lengan Raya yang ada di samping lehernya. Ketika berada dekat wajah sang istri, napas wanita itu berembus lembut menyapu pipinya. “Sebentar,” katanya menjeda kegiatan mereka karena kedua tangannya sibuk membuka pintu kamarnya. Begitu pintu itu terbuka, dengan cepat Karan menutupnya lagi setelah mereka masuk. Agar tidak ada yang mengganggu mereka lagi. Tidak bisa terbayangkan bagaimana frustrasi dan emosinya Karan jika kebutuhan biologisnya gagal tersalurkan lagi malam ini.


Tanpa berpikir panjang, Karan membawa Raya ke ranjang dan menghempaskan istrinya itu ke atas tempat tidur berukuran sangat besar itu. Karan menerjang bibir Raya, menciumnya dengan rakus dan tergesa-gesa. Tangannya pun ikut bergerak, menyingkap baju tidur Raya dan menyentuh perut wanita itu. Gerakan lembut jari-jari Karan menyalakan api yang menyebar ke seluruh tubuh Raya.


“Sayang, kau lupa bernapas lagi,” kata Karan memperingati istrinya sewaktu wanita itu kehabisan napas karena tidak sanggup mengatur tempo ciuman mereka. Karan tersenyum puas melihat kesulitan sang istri. “Padahal kita sudah sering melakukannya. Kenapa kau selalu seperti ini, hm?”


Raya melemparkan tatapan tajam pada Karan. “Karena aku tidak semahir dirimu. Kau laki-laki berpengalaman. Kau sudah berhubungan dengan banyak wanita. Sedangkan aku hanya melakukannya denganmu. Apa kau puas?”


“Aku senang aku adalah pria pertamamu, Raya. Tapi Sayang, kau salah. Aku tidak pernah berhubungan badan dengan banyak wanita.”


“Tapi kau memang pernah melakukannya sebelum bersama denganku, bukan?”


“Ya, benar,” ungkap Karan jujur. Pernyataan yang membuat Raya terkejut. Karan tahu itu tidak akan membuat istrinya senang, tapi ia tidak mau berbohong tentang masalah itu. Nyatanya Raya memang bukan wanita pertama yang pernah berhubungan intim dengannya. “Aku pernah melakukannya dengan wanita lain. Wanita yang tidak pernah ingin aku ingat. Wanita yang sudah terlupakan.”