Lies

Lies
Keluar dar Rumah



Belum lama Raya kembali ke rumah itu. Mungkin tidak lebih dari 48 jam, tapi ia sudah akan pergi lagi. Kali ini dengan persiapan yang lebih matang. Raya membawa semua barang-barang yang bisa dibawanya, terutama pakaian-pakaiannya. Persetan dengan apa yang akan dilakukan Karan nanti, tapi Raya hanya ingin menenangkan dirinya. Ia menemui jalan buntu setiap berbicara dengan Karan. Pria itu seolah-olah tidak mau sama sekali mendengar apa pun yang ia katakan. Hanya mementingkan pendapatnya saja. Tidak ada yang salah dengan itu seandainya Karan bisa sedikit terbuka padanya. Raya sama sekali tidak mempermasalahkan harus pergi bersama suaminya. Sekalipun harus pindah ke luar negeri dan menetap di sana. Raya tidak peduli dengan kehidupannya jika saja Karan mau menceritakan semua permasalahan itu padanya.


Selama ini apa yang Karan lakukan? Hanya menyampaikan sedikit informasi saja, yang bahkan tidak lebih dari setenganya kepada Raya. Dengan informasi sedikit itu, Raya harus mencerna semuanya, mulai dari sikap Karan yang berubah-ubah hingga setiap apa yang pria itu lakukan. Raya harus memaklumi perilaku Karan kendati itu tidak baik, bahkan pelanggaran-pelanggaran yang telah diciptakan oleh pria itu. Bukan hanya kepada Raya semata, tetapi juga kepada pria-pria yang ada di sekeliling Raya. Kepada Reagan dan Varen. Tanpa alasan yang jelas, bagaimana mungkin Raya bisa mengerti?


“Raya, kau mau ke mana? Aku bilang berhenti melakukan hal bodoh!” tukas Karan sewaktu melihat istrinya sedang menyusun barang-barangnya ke dalam koper. Karan ingin menghentikannya secara langsung, ia sempat menyentuh tangan Raya agar wanita itu mau berhenti. Alih-alih menghentikan kegiatannya, Raya malah berteriak histeris, menyuruh Karan untuk melepaskan tangannya. Jika tidak, Raya mengancam akan melakukan hal nekat yang bisa membahayakan dirinya sendiri. Karan memang tidak pernah melihat Raya menyakiti dirinya sendiri secara sengaja, namun sesuatu yang tidak pernah terjadi itu mungkin bisa terjadi jika ia lengah. Itulah sebabnya Karan tidak bersikeras untuk mendekati Raya apalagi sampai memaksa wanita itu.


Kondisi Raya yang sekarang sangat berbeda saat awal-awal pernikahan mereka dulu. Jika saat itu Raya hanya menjadi seorang wanita penurut yang mendengarkan semua perkataan suaminya meskipun sempat sekali kabur dari rumah, namun sekarang, Raya tampak layaknya seorang wanita tangguh yang tidak takut apa pun, termasuk kematian. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya, tetapi Karan menduga mungkin karena ingatannya tentang masa lalu mereka yang kelam berangsur-angsur kembali. Ingatan itu pasti membuat memori pikiran Raya menjadi kacau, terutama perihal jati dirinya sendiri. Hal yang nyaris sama dengan yang Karan alami. Bedanya Raya tercipta secara alami sementara Karan hasil manipulatif. Ia tidak menciptakan identitas baru karena pikirannya, melainkan karena keadaan.


“Aku tidak melakukan hal bodoh. Aku hanya ingin pergi dari rumah ini,” ungkap Raya dengan lantang.


Beginilah Raya yang ditakuti Karan selama ini. Raya yang membantahnya, Raya yang melarikan diri darinya. Setelah perjuangan yang dilakukan Karan, pada akhirnya ia harus melihat Raya ingin meninggalkannya. Ini sama seperti yang Karan rasakan di masa lalu, di mana Raya juga meninggalkannya ketika ia sudah melakukan pengorbanan yang sangat besar. Menyakitkan sekali memang. Terlebih saat Karan benar-benar membutuhkan Raya.


“Sekali saja kau melangkah, maka aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai istriku lagi,” lontar Karan dengan emosi. Inilah yang paling dihindari Karan, yaitu berbicara dalam keadaan marah dengan istrinya. Tidak hanya sekali ini terjadi, sudah beberapa kali. Karan selalu ingin menghindar, tetapi kemarahannya terhadap Raya memacu adrenalinnya hingga ia bisa mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Baik untuk sang istri, maupun untuk dirinya sendiri. Alhasil, Karan akan merasa kecewa terhadap dirinya setelah pertengkaran mereka.


Sama seperti Karan, Raya pun terkejut ketika suaminya mengutarakan pernyataan itu. Pernyataan yang membuatnya begitu sedih. Karan tidak lagi hanya mengancamnya, tetapi juga mengancam keberlangsungan rumah tangga mereka. Pria itu dengan seenaknya ingin memutuskan hubungan suami istri yang baru mereka bangun selama beberapa bulan ini. Dan pada saat Raya sedang hamil anak mereka pula. Hancur dan sedih, meskipun pada akhirnya, Raya juga tidak ingin melakukan apa-apa. Ia memang berharap anaknya akan lahir dalam keadaan keluarga yang utuh, tetapi ia tidak ingin anaknya mengalami tekanan batin karena hidup di antara orang tua yang tidak bahagia.


“Baiklah, terserah kau ingin menganggapku sebagai apa. Aku akan pergi dari rumah ini,” tekan Raya. Wanita itu benar-benar mewujudkan aksinya. Ia bahkan sudah memesan sebuah taksi di depan rumahnya untuk mengantarnya pergi. Dengan membawa sebuah koper miliknya, Raya melangkah ke luar dari pintu rumah.


Seperti yang diprediksi Karan, Raya benar-benar berhenti melangkah. Wanita itu terpatung di teras rumah dan tidak menyadari posisi suaminya yang sudah mendekati dirinya. Kesadaran Raya baru kembali saat Karan mulai berbicara dengannya.


“Raya, hentikan kekonyolan ini! Tidak ada untungnya kau pergi dari rumah ini. Lagi pula, kau akan pergi ke mana? Ke rumah manajermu yang kecil itu? Atau kau akan kembali ke rumah bibimu?” Melihat kebungkaman Raya, Karan memberanikan diri mengamit tangan sang istri. Kemudian, pria itu mulai memengaruhi pemikiran istrinya. “Aku tahu kau sedang marah. Maafkan aku. Tapi ini semua demi kebaikanmu. Pikirkan bagaimana kariermu ke depan ketika kau berpisah denganku. Kau sudah susah payah meraih segalanya. Dan ketika statusmu berubah menjadi janda, orang-orang akan kehilangan simpatinya padamu. Bahkan penggemarmu pun akan meninggalkanmu.”


Karan memang negosiator yang ulung. Mungkin itulah salah satu faktor yang membuat pria itu berhasil menjadi pengusaha sukses. Raya sangat terpengaruh mendengar penuturan Karan. Karena dalam pikiran Raya, semua yang disampaikan sang suami memang benar. Tidak ada masyarakat yang mau mengidolakan seorang wanita yang sudah bercerai, terlebih bercerai dalam waktu hanya beberapa bulan setelah pernikahannya. Alih-alih menjadi penggemar, mereka justru akan menghujat Raya. Mengata-ngatai sang super model sebagai wanita tidak benar.


Pasalnya sejak awal, Raya sudah membuat kehidupan asmaranya menjadi konsumsi publik. Ia sendiri yang memilih bertunangan dengan Varen hingga membuat heboh masyarakat karena acara pertunangan mereka yang begitu mewah. Lalu, Raya kembali menjadi buah bibir saat mengumumkan pembatalan pertunangan mereka akibat skandal Varen dan Cindy di hotel. Ketika itu Raya mendapatkan simpati masyarakat yang begitu besar bahkan setelah Raya mengungkapkan keinginannya menikah dengan Karan. Tidak ada yang menggunjing Raya atas pengumuman itu. Mereka justru mendukung sang super model karena sudah menemukan pengganti Varen yang mereka anggap sebagai pria jahat yang telah menyelingkuhi kekasihnya.


Raya yakin ketika ia mengumumkan perceraiannya dan Karan ke publik, reaksi masyarakat akan berbalik 180 derajat dari awalnya yang mendukung Raya, menjadi menyudutkan wanita itu. Tidak pantas rasanya seorang wanita bercerai padahal kurang dari setahun menikah. Apalagi sebelumnya Raya punya riwayat berpisah secara tidak baik-baik dengan Varen. Pasti kini masyarakat akan menganggap Raya sebagai pihak yang bersalah karena tidak bisa mempertahankan hubungannya. Jika opini masyarakat sudah sangat buruk padanya, maka karier Raya akan terancam. Sebab, tidak akan ada pihak yang mau bekerja sama dengan seorang model yang mendapatkan cap negatif dari masyarakat. Itu akan mencoreng citra perusahaan dan produk milik mereka.


“Aku tahu, tapi aku tidak peduli. Aku tetap akan meninggalkan rumah ini,” kata Raya bersikeras. Semua kegundahan Raya sirna ketika ia teringat bahwa ia tidak sendirian di dunia ini. Masih ada anak yang harus ia lindungi. Dan Karan bukanlah pria yang tepat untuk melindungi anaknya meskipun pria itu merupakan ayah kandung sang anak. “Aku pergi,” pamitnya yang langsung membawa kopernya ke dalam taksi.


Karan terbelalak melihat kepergian Raya. Pria itu berteriak, memanggil nama istrinya berkali-kali. Akan tetapi, sekencang apa pun Karan memanggil istrinya, wanita itu tetap enggan berbalik badan. Raya tetap bersikeras dengan keinginannya meninggalkan rumah mereka dan meninggalkan sang suami. Dari wajah Raya tidak ada tampak kesedihan sama sekali seolah-olah ini memang sudah direncanakan sejak awal olehnya. Pemikiran itu membuat Karan gelisah bukan main. Ia mulai menduga-duga siapa kira-kira orang yang sudah sangat lancang memengaruhi istrinya. Ia harus mencari tahu hal itu secepat mungkin dan memberikan pelajaran yang setimpal kepada orang tersebut.