
Karan terbangun dari tidurnya. Dengan merenggangkan tangan, ia menarik napas yang panjang dan mengembuskannya perlahan-lahan. Nyaman sekali rasanya. Tidur pagi yang tidak pernah ia lakukan, apalagi selepas melakukan hubungan intim dengan Raya. Tidak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan dari apa yang Karan rasakan siang ini. Pria itu pun tersenyum sembari menatap ke arah Raya yang sedang tidur di sebelahnya. Cantik sekali, secantik sinar mentari yang menyinari ruang kamar mereka.
Bagi Karan, iang ini adalah siang yang cukup istimewa. Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini, yaitu berhasil tidur dengan istrinya setelah pertengkaran hebat mereka di pesawat. Suasana Milan yang klasik ditambah hubungan mereka yang mulai membaik, memberikan warna tersendiri bagi Karan. Walaupun ini tidak sebaik malam pertama mereka, di mana pada malam itu Karan berhasil merenggut kesucian istrinya dan menjadi pria pertama yang menyentuh tubuh sang super model. Tentu tidak ada yang bisa menggantikan pengalaman hebat pada malam itu. Karena tidak hanya kenikmatan yang diperoleh Karan, melainkan juga kepuasan. Karan betul-betul bahagia karena mengetahui bahwa ia adalah pria pertama untuk sang istri.
Sebelumnya, Karan selalu menaruh curiga pada Raya. Sebagai seorang model papan atas, Raya memiliki sesuatu yang sangat menarik perhatian kaum adam. Wanita itu punya daya pikat yang sangat kuat. Terlebih Raya juga mendekati pria-pria kaya yang mempunyai pamor tinggi di depan publik. Cara Raya yang menatap para lelaki itu dan juga interaksi yang mereka ciptakan di depan kamera sudah pasti membuat Karan berpikir macam-macam. Ia malah menuduh sang istri sudah meniduri banyak laki-laki. Padahal pada kenyataannya, dan sudah dibuktikan sendiri olehnya bahwa Raya tidak pernah dijamah oleh orang lain.
Tidak menyangka hal sederhana seperti itu sangat berarti bagi Karan walaupun Karan menghabiskan bertahun-tahun hidupnya di Amerika Serikat yang notabene adalah negara bebas yang sama sekali tidak memedulikan masalah keperawanan. Bahkan jika disurvei, mayoritas wanita yang pernah menjadi teman Karan di bangku kuliah pasti sudah melakukan hubungan intim minimal sekali dengan orang lain. Itu sesuatu yang lumrah dengan adat di sana.
“Tidak, tidurlah lagi. Kau pasti lelah.” Karan mencegah Raya yang hendak membuka matanya, mungkin merasa terganggu dengan pergerakan Karan yang menuruni ranjang. Alhasil, Karan pun harus mencondongkan lagi tubuhnya ke depan Raya sembari mengelus puncak kepala sang istri dengan lembut agar wanita itu kembali menutup matanya. Raya pasti sangat lelah pagi ini. Pasalnya mereka tidak hanya melakukannya sekali, bahkan berulang kali sampai Karan merasa puas. Baru dua jam Raya terlelap, berbeda dengan Karan yang justru terasa segar sehabis melakukan aktivitas panas mereka, Raya tampak begitu kelelahan. “Tidak apa-apa Sayang. Kau tidur saja. Aku yang akan mengambilkan makan siang untuk kita,” ucap Karan lagi seraya menutupi tubuh istrinya dengan selimut.
Sudah waktunya bagi mereka untuk makan siang. Karan tidak bisa membiarkan sang istri turun dari ranjang dalam keadaan seperti itu. Ia sendiri yang akan melakukannya. Setelah mengenakan pakaiannya, Karan berjalan ke luar kamar mereka. Tepat di dapur, ada dua orang pelayan yang sedang menyiapkan makan siang. Karan pun menghampiri mereka. “Bawa saja ke kamarku. Kami akan makan di dalam ruangan,” perintahnya pada mereka, lalu ia berjalan kembali ke kamarnya sendiri.
Karan berjalan ke beranda kamarnya. Tepat di atas meja kecil yang ada di beranda itu, Karan melihat sebungkus rokok yang sering ia hisap bersama pemantik dan asbak berwarna emas. Rupanya pelayan tempat itu tahu kebiasaan Karan saat mengunjungi kamar ini. Mereka pun menyiapkan hal-hal yang biasanya Karan butuhkan. Itu bagus karena memberikan pelayanan maksimal untuk pelanggan. Tetapi, tidak bagus untuk Karan karena ia tidak bisa menahan godaannya untuk tidak menghisap produk yang terbuat dari tembakau itu. Nyaris saja Karan membuka bungkus rokok itu dan mengambil sebatang dari sana. Untung saja ia ingat sedang bersama Raya. Jika wanita itu menemukan dirinya sedang merokok di beranda, sudah pasti pertengkaran mereka akan pecah lagi. Karan tidak mau itu terjadi. Mereka baru saja berhubungan intim, tidak elok rasanya jika bertengkar tiba-tiba.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Karan bergegas membukanya dan membiarkan para pelayan membawa makan siang untuk mereka ke dalam kamar. Namun, tidak hanya pelayan wanita saja yang membawa makan siang bagi Karan dan Raya, salah satu dari mereka ada pelayan laki-laki. Kebetulan pelayan itulah yang ditugaskan untuk membawa wine. Sebenarnya Karan tidak punya masalah dengan pelayan itu. Sayangnya masalah muncul ketika si pelayan dengan sangat lancang menoleh ke arah ranjang, tempat di mana Raya sedang tidur. Karan yang melihat itu pun merasa tidak terima.
Melihat Karan yang mengamuk, salah satu pelayan wanita langsung menghadap Karan. “Mohon maaf atas kesalahan ini, Tuan. Anak ini masih baru bekerja di tempat ini. Maaf karena melakukan kesalahan yang tidak disengaja.”
“Kesalahan yang tidak disengaja katamu? Dia jelas-jelas sedang melirik istriku. Itu jelas sangat disengaja.”
Di tengah omelan Karan, tiba-tiba terdengar suara dari arah ranjang. Rupanya Raya sudah terbangun. Mungkin wanita itu terganggu oleh suara berisik yang Karan ciptakan. “Karan, ada apa?” kata Raya masih berada di tempat tidur. Raya sadar tidak hanya Karan saja yang berada di kamar, itulah sebabnya ia tidak bergerak sama sekali karena tidak mau tubuhnya terekspose di depan lawan bicara Karan. Terlebih ia hanya menggunakan gaun tipis yang begitu seksi karena hanya itulah yang bisa Karan kenakan sebelum mereka terlelap dalam tidur.
Karan tersentak. Buru-buru ia mengubah nada suaranya kembali normal dan berbicara kepada Raya dengan menggunakan bahasa Indonesia. “Tidak ada apa-apa Sayang. Sebentar, kau jangan lepaskan selimutmu karena ada banyak pelayan di sini,” tukas pria itu memberikan aba-aba. Mendapati ada seorang pelayan laki-laki yang lancang mencuri pandangan ke arah Raya saja sudah membuat hati Karan terbakar, apalagi jika orang-orang di sana melihat tubuh Raya yang terbuka. Rasanya Karan ingin meleparkan alat-alat makan yang ada di atas meja itu ke bola mata mereka satu per satu.
"Dan masalah pelayan ini, aku tidak memaafkannya apa pun yang terjadi. Dia tidak pantas menjadi seorang pelayan di sini. Kalau dia tidak dipecat hari ini, maka aku akan menghubungi manajer tempat ini agar kalian semua dipecat,” ancam Karan lagi.
Sang pelayan wanita itu pun gemetar ketakukan. Begitu pun pelayan-pelayan lainnya, termasuk pelayan laki-laki itu. Ancaman Karan tidak pernah main-main. Pertama kali sang CEO datang ke tempat itu, manajer mereka sendiri yang menyambutnya dengan sopan. Bahkan, Karan diizinkan menginap di tempat itu sesuka hatinya tanpa membayar sedikit pun. Seandainya masalah ini terdengar sampai ke sang manajer, maka tamatlah karier semua pelayan yang bertugas hari itu. Tidak hanya dipecat, mereka juga terancam tidak akan mendapatkan pesangon sepeser pun dari pihak perusahaan penginapan.