Lies

Lies
Menyelesaikan Kesalahpahaman



Alasan Raya tidak menghadiri sidang perceraian mereka dan hanya mengirimkan pengacaranya sebagai perwakilan adalah untuk menutupi kehamilannya. Perutnya semakin lama semakin membesar, ia tidak mungkin bisa menutupinya setiap saat. Cepat atau lambat Karan akan menyadari bahwa Raya sudah berbohong. Raya takut Karan akan marah besar kepadanya dan membatalkan perceraian dengan mengunakan anak di dalam kandungan Raya. Raya harus merahasiakannya saat itu dari suaminya.


Karan tidak menginginkan anak darinya. Raya meyakini itu. Pria itu masih menyimpan dendam terhadapnya yang tidak bisa terhapus begitu saja. Seperti yang pernah disampaikan oleh bibinya, Raya dan Karan harus berpisah agar mereka tidak saling menyakiti satu sama lain. Raya tidak bermaksud menyembunyikan kehamilannya selamanya karena ketika ia lahir dan tumbuh besar, ia akan bertanya tentang siapa ayah kandungnya. Raya bisa menyembunyikan anak itu dari Karan, tapi ia tidak bisa memutus hubungan darah sang anak dari ayahnya.


Mungkin suatu hari nanti ada saatnya Raya terbuka pada karan dan menyampaikan bahwa anak yang ia kandung saat itu belum meninggal. Ia tumbuh dengan sehat menjadi seorang anak laki-laki bernama Luca. Anak yang paras dan tingkahnya sangat mirip dengan Karan. Sejak Luca lahir, Raya sudah melihat sosok sang mantan suami dari bocah itu. Salah satu penyebabnya karena Raya sering memikirkan Karan saat ia mengandung Luca. Foto pria itu ada di dalam kamarnya saat ia pindah ke New York bersama sang bibi. Raya juga mengumpulkan majalah-majalah bisnis yang sampulnya berisi gambar pria itu. Memandangnya dalam keadaan sedih dan rindu.


Jika tidak ada sang bibi yang menahannya, Raya pasti sudah berusaha untuk pulang ke Indonesia berkali-kali. Ia ingin bertemu dengan Karan dan menyampaikan betapa besar kerinduannya terhadap pria itu. Namun, Raya tidak bisa mendatangi Karan. Bibinya selalu mengingatkan tentang kesehatan bayi yang ada di dalam kandungannya yang harus ia jaga. Perjalanan jauh di atas pesawat akan membuat sang anak tersiksa. Berkat nasihat itulah Raya bisa bertahan di negara orang lain tanpa kehadiran pendamping.


“Lalu, siapa Edgar? Kau menikah dengannya?” Karan memotong cerita Raya. Rasa penasarannya terhadap Edgar memenuhi kepalanya. Kalau benar Luca adalah putranya, mengapa Edgar menganggap Luca sebagai anak? Mengapa pula Luca memanggilnya ‘Daddy’? Karan tidak bisa mengeluarkan kecurigaannya dari Raya dan Edgar. Seandainya Luca memang putranya tapi ternyata Raya sudah menikah dengan Edgar, Karan tidak tahu harus berbuat apa. Ia memang senang karena ternyata anaknya masih hidup. Tapi ia juga akan merasa kecewa seandainya Raya sudah memiliki pria lain. Karan tahu ini sangat egois. Sayangnya ia tidak bisa menampik rasa posesifnya terhadap Raya.


“Tidak. Aku tidak menikah dengannya,” jawab Raya cepat. Mata wanita itu menatap dengan serius, menandakan bahwa ia tidak berbohong pada sang suami. “Sungguh, Karan! Edgar bukan siapa-siapa. Dia hanya orang yang membantuku selama ini. Tapi aku tidak menikah dengannya.”


“Jadi, kenapa Luca memanggilnya ‘Daddy’?” Ada rasa cemburu saat Karan menanyakan hal tersebut. Selama lima tahun ia tidak tahu buah hatinya masih hidup. Begitu mengetahuinya malah anak itu sudah memiliki ayah yang lain. Karan saja tidak pernah dipanggil dengan sebutan ayah oleh sang anak, tetapi malah pria lain yang dipanggil ayah olehnya. Karan tidak bisa menerima hal itu sama sekali.


“Itu karena Edgarlah yang menolongku ke rumah sakit. Dia pemilik gedung apartemen tempat aku dan bibi tinggal. Saat itu dia sedang memantau bangunan apartemen dan bertemu denganku yang sebentar lagi akan melahirkan. Dia pun membantuku.”


Raya ingat sekali bagaimana peristiwa itu terjadi. Ketika perutnya sedang kontraksi parah selepas ia pergi berbelanja dari supermarket. Sang bibi sedang tidak ada di New York, wanita itu pulang ke Indonesia karena ada masalah dengan bisnis perhiasannya. Awalnya sang bibi memang tidak ingin meninggalkan Raya terlebih melihat kondisi Raya yang sudah hamil besar. Namun Raya berhasil meyakinkannya.


Wanita paruh baya itu sudah melakukan banyak hal untuk Raya. Semua harta benda yang dikumpulkannya selama mendapatkan uang sebagai wali Raya sudah dijual untuk membiayai kehidupan mereka di kota ini, yang tentunya tidak murah. Jadi, Raya tidak bisa meminta lebih dari wanita itu, setidaknya saat ada kesulitan, Raya tidak bisa menahannya terlalu lama. Ia tidak mau bersikap egois karena sang bibi juga punya kehidupannya sendiri. Selama ini ia sudah menyusahkan adik dari ibunya itu, biarkan sekarang ia berusaha melakukannya sendiri tanpa bibinya.


Keputusan Raya berakibat fatal. Ia mengalami gejala akan melahirkan ketika berada di dalam lift yang secara kebetulan mengalami sedikit kerusakan. Raya yang panik terperenyak di atas lantai lift sembari memegang perutnya yang terasa mulas. Ia bahkan tidak bisa bangkit untuk menekan tombol bantuan. Namun beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka. Tepat di depannya ada seorang pria pemilik gedung apartemen. Raya mengenalnya karena beberapa kali pernah berpapasan dengan sang pemilik ketika pria itu sedang berkunjung ke gedung apartemen. Edgar memang tidak tinggal permanen di sana. Ia tinggal di Milan. Namun selama berada di New York, ia tinggal di lantai paling atas gedung apartemen, satu-satunya unit apartemen terbesar di gedung itu.


Kebetulan hari itu Edgar juga sedang berada di gedung apartemen dan sedang menunggu lift selesai diperbaiki. Saat pintu lift terbuka, semua orang yang ada di luar lift terkejut melihat kondisi Raya yang mau melahirkan. Tanpa pikir panjang, Edgar membantu membawa Raya ke klinik terdekat dari gedung apartemen itu untuk mendapatkan pertolongan pertama. Bahkan saat Raya dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, Edgar senantiasa menemani Raya.


Awalnya Edgar merasa bersalah karena sebagai pemilik gedung, ia tidak bisa memastikan keselamatan para penghuninya. Lalu, rasa itu berubah menjadi rasa iba melihat Raya yang seorang diri berada di rumah sakit tanpa ditemani oleh siapa-siapa. Semakin bertambahnya waktu, Edgar malah merasa ini seperti tanggung jawabnya pada Raya. Terlebih saat ia menjadi orang pertama yang menggendong Luca karena Raya masih tidak sadarkan diri hingga seminggu pascamelahirkan.


Begitu Raya sadar, ia terkejut melihat Edgar ada di sisinya. Awalnya ia merasa canggung, namun Edgar berusaha menjelaskan dengan baik peristiwa yang terjadi. Pria itu meminta maaf karena melakukan banyak hal tanpa seizin Raya. Karena semuanya sudah terjadi Raya tidak bisa mengungkapkan kemarahannya. Ia memang kesal dengan statusnya yang mendadak menjadi kekasih seseorang, tetapi ia juga bersyukur karena Edgar sudah menyelamatkannya dan anaknya. Ia juga tidak keberatan dengan nama yang diberikan Edgar pada putranya. Meskipun ia punya hak untuk mengubahnya, ia tetap membiarkan putranya bernama Luca sebab bayi itu terlihat nyaman dengan panggilan tersebut.


“Lalu semuanya terjadi begitu saja. Karena sering melihat Luca di rumah sakit selama hampir sebulan, Edgar dan Luca menjadi dekat. Edgar sering kali menenangkan Luca saat Luca menangis, dan mengurus Luca saat aku sedang sibuk meniti lagi karier modelku. Keluarganya juga dengan mudah menerima Luca meskipun mereka tahu Luca bukan anak dari Edgar. Mereka merawat bayi kita dengan penuh cinta,” jelas Raya. Ia berbicara jujur pada Karan tentang semuanya. Tidak ada satu peristiwa pun yang terlewat yang tidak ia sampaikan kepada sang suami.


Entah sudah berapa kali Karan mengembuskan napas kasarnya, tapi ia melakukannya lagi barusan. Ada banyak kekacauan yang Karan rasakan berkecamuk di dalam hatinya saat ini saat mendengar cerita Raya. “Kenapa kau tidak mencariku, Raya? Kenapa kau tidak datang dan menjelaskan tentang Luca padaku?”


“Aku sempat ingin melakukan itu, Karan. Saat usia Luca sudah satu tahun, aku kembali ke Indonesia. Aku ingin mengatakan tentang Luca padamu, tapi aku tidak bisa melakukannya.”


Karan mengernyitkan keningnya. “Kenapa? Kau tahu di mana rumah kita berada. Ah, tidak. Maksudku, rumahku. Kau juga tahu alamat kantorku. Tidak ada yang berubah sejak kau meninggalkanku sampai sekarang. Bahkan nomor ponselku pun masih sama. Kau tahu kenapa aku melakukan itu? Karena aku percaya kau akan menghubungiku suatu saat nanti. Aku takut kalau aku pindah rumah atau mengganti nomor ponselku, kau akan kesulitan mencariku. Aku takut kau tidak akan punya cara untuk menemukanku.”


“Maafkan aku. Ini salahku.” Air mata Raya rebas begitu saja. Ia tidak menyangka alasan Karan masih tetap mempertahankan nomor ponselnya adalah karena dirinya. Andai saja Raya tahu, ia tidak akan melarikan diri dari Karan terlalu lama. Ia akan mendatangi Karan secepat mungkin.”


Sama seperti sebelumnya, perasaan Karan tidak pernah berubah sekecil apa pun dari Raya. Ia masih merasa perih tiap kali melihat Raya menangis. Dengan cepat Karan menarik tubuh Raya ke tubuhnya dan memeluk wanita itu. “Jangan menangis Raya. Aku mohon jangan menangis lagi atau aku juga akan menangis karenamu.”


Bukannya berhenti menangis, Raya malah menumpahkan semua kesedihannya di dalam dekapan Karan. Wanita itu terisak, namun ia tetap bisa melanjutkan ceritanya. “Waktu itu aku mau datang ke kantormu sambil membawa Luca, tapi aku mendengar kabar kalau kau sudah menikah. Kau bahkan menyampaikannya sendiri saat konferensi pers kalau kau sudah punya istri. Dengan kabar itu bagaimana mungkin aku bisa mendatangimu, Karan? Aku pikir kau sudah melupakanku dan memiliki istri baru jadi aku memutuskan untuk tidak mengganggumu lagi.”


“Apa?” Karan terbelalak bukan main. Ia melepaskan pelukannya dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Bahkan, Karan kembali mengeluarkan napas berat dari mulutnya sembari mengumpat kasar. Betapa bodohnya ini. Ia tidak menyangka kebohongannya yang ia buat untuk mengusir wanita lain yang hendak mendekatinya malah berujung dengan menjauhkan Raya dari sisinya. Ingin rasanya Karan berteriak kencang karena rasa kesal yang menggerogoti hatinya. Ini benar-benar perbuatan konyol yang tidak pernah terduga olehnya akan terjadi.


Mata sembab Raya menatap Karan. “Aku benar-benar mengira kau sudah menikah, bahkan sampai hari kemarin.”


“Apa kau bodoh? Kau tidak melihat ini?” Karan mengangkat tangan dan menunjukkan punggung tangan kanannya ke hadapan Raya, di mana di salah satu jarinya tersemat sebuah cincin kawin yang selama lima tahun ini setia menempel di sana. “Aku selalu menunjukkan ini, Raya, ke mana pun aku berada. Aku tidak pernah melepaskannya sedetik pun. Kau tahu kenapa? Karena ini adalah cincin pernikahan kita. Apa kau tidak mengenalinya sama sekali?”


“Bagaimana aku bisa tahu bagaimana bentuk cincin milikmu? Waktu kita menikah dulu, persiapan kita sangat singkat. Hanya seminggu, dan kau yang menyiapkan semuanya, termasuk cincin pernikahan kita. Lalu, kau juga jarang ada di rumah. Apa kau sudah lupa semuanya?” Raya tidak mau kalah. Kali ini ia malah menyalahkan Karan atas apa yang pria itu lakukan sewaktu mereka masih dalam ikatan pernikahan.