Lies

Lies
Pria Posesifku Yang Tampan



“Tenang saja, syutingnya akan berjalan cepat,” seru Reagan kepada Raya begitu wanita itu ada di sampingnya. Tampilan Raya begitu memukau padahal ia hanya menggunakan dres putih berwarna putih. Belum lagi wajahnya yang dibuat pucat karena peran yang diemban Raya saat ini. Peran sebagai seorang kekasih yang kehilangan prianya. Meskipun begitu, Reagan tetap memandang Raya cantik. Tidak hanya sekarang, tetapi setiap ia melihat wanita itu. Baginya tidak ada hari di mana Raya tampak jelek.


Reagan sudah bekerja sama dengan Raya sejak mereka di agensi modelnya yang lama. Sekitar lima tahun. Sebelum Raya, Reagan terjun terlebih dahulu di industri hiburan. Bukan sebagai model, pria itu justru tampil sebagai aktor cilik di salah satu sinetron fenomenal tahun 2004. Setidaknya dua tahun ia mengasah adu aktingnya di sana sebagai seorang anak dari sebuah pasangan. Karena tampilannya yang sangat lucu dan kemampuan aktingnya, Reagan pun sempat dinobatkan sebagai aktor cilik terpopuler selama dua tahun berturut-turut.


Tetapi Reagan tidak melanjutkan karier keartisannya karena tuntutan orang tua. Ia juga harus belajar dan melakukan kegiatan seperti remaja lainnya. Barulah saat usianya sudah menginjak 20 tahun, ia kembali terjun ke dunia hiburan, tapi kali ini sebagai model bukannya aktor seperti sebelumnya. Dan agensi yang menawarkannya adalah agensi yang juga menaungi Raya sekarang. Artinya, Reagen sudah cukup lama berada di agensi itu. Makanya ketika skandalnya muncul dan agensi memilih untuk melepasnya, Reagen tidak memberikan bantahan apa pun. Ia menerimanya dengan lapang dada.


“Terima kasih. Dan aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tentang kejadian yang menimpamu beberapa hari yang lalu.” Raya ingin meminta maaf, dan sebelum melakukannya, Raya harus berkata jujur terlebih dahulu tentang apa yang terjadi. Reagan pasti tahu siapa pelaku dari skandal yang menimpanya waktu itu, jadi percuma saja jika ia menutupinya.


Reagan tersenyum. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jangan bicara masalah pribadi di sini, Raya. Kita sedang bekerja. Kalau kau mau bicara, ayo kita bicarakan setelah ini. Bagaimana?”


Raya melihat sekelilingnya. Benar, mereka sedang berada di tengah pantai dengan kamera yang ada di sekeliling mereka, bersiap merekam saat sang sutradara memberikan pengarahan. Mereka sedang bekerja, jadi tidak elok rasanya jika Raya mengungkit masalah pribadi sekarang. Raya perlu waktu berbicara dengan Reagan seperti yang dikatakan laki-laki itu.


“Baiklah, hubungi aku jika kau ada waktu,” balas Raya.


Begitu selesai mengatakan kalimatnya, sang sutradara memberikan aba-aba agar semua orang bersiap dan menyalakan semua kamera. Lalu, syuting pun dimulai. Mereka mengambil banyak adegan hari itu, semua yang mereka bisa dapatkan hari itu. Berhubung cuaca sangat cerah, syuting pun berjalan lancar. Tidak ada kesalahan yang artis dan para staf perbuat. Meskipun begitu, syuting tetap selesai pukul lima sore karena mereka juga melakukan sesi pemotretan untuk promosi.


“Terima kasih semuanya. Terima kasih kerja samanya hari ini,” ucap Raya berterima kasih kepada para staf yang sudah bekerja keras hari ini. Itu biasa ia lakukan ketika ia menyelesaikan pekerjaannya.


“Ayo kita kembali ke tempat yang lain,” ajak Reagan pada Raya.


Raya hanya membalas dengan mengangguk. “Iya, kau duluan saja. Aku akan ke sana nanti.” Ia tidak bermaksud mengusir Reagan, tapi ia benar-benar hanya ingin menikmati harinya di pantai itu. Sudah lama ia tidak ke pantai dan suasana pantai juga sangat sejuk. Raya ingin melihat matahari terbenam untuk sesaat.


“Apa mau aku temani?”


Wanita itu menolak. “Tidak perlu. Aku mau sendiri saja.”


Begitu Reagan pergi, secara tiba-tiba Raya merasa tidak sendirian di sana. Ia seperti merasakan ada sosok asing berada di belakangnya. Wanita itu pun berbalik dan menemukan Karan yang berdiri tidak jauh darinya. “Karan? Kenapa kau bisa ada di sini?” katanya tidak percaya.


Karan tersenyum tipis sembari berjalan mendekati Raya. “Aku harus bagaimana lagi? Kau sama sekali tidak menghubungiku hari ini, jadi aku cemas.”


“Ah, maaf. Tapi aku begitu sibuk hari ini. Aku sama sekali tidak ada waktu menggunakan ponsel. Maafkan aku.”


“Ya, aku tahu. Aku sudah melihatmu bekerja. Aku tahu betapa sibuknya kau hari ini.”


Raya bernapas lega. Akhirnya Karan tidak menaruh curiga padanya. “Tapi, kenapa kau memakai pakaian itu?” Raya mengamati pakaian yang sedang dikenakan Karan. Pria itu memakai setelan musim panas santai dengan kemeja longgar berwarna biru yang kancingnya terbuka di bagian leher dan celana pendek berwarna putih. Dengan kulit putih yang bersih itu Karan tampak begitu tampan sampai-sampai Raya tidak percaya pria yang ada di depannya itu adalah suaminya.


“Aku membelinya saat dalam perjalanan ke sini,” ungkap Karan berbohong. Ini ide dari diskusinya bersama Ian. Jika ia tidak bisa membeli label itu, maka Karan bisa mendekati Raya dengan caranya sendiri. “Dan aku sudah menyewa kamar di hotel sebelah sana. Malam ini kita akan menginap di sana,” ujar Karan tanpa basa basi.


Raya ingin menolak tapi rasanya percuma karena Karan pasti sudah melakukannya. Pria itu pasti sudah menyewa satu kamar untuk mereka berdua. Jadi, alih-alih menolak, Raya akan menerimanya saja. Ia akan mengikuti keinginan suaminya. Lagi pula syuting besok akan berlangsung lebih siang, sekitar pukul 10 pagi.


“Baiklah,” balas Raya.


“Tidak, aku hanya merasa kau sangat cantik, Raya.” Karan mendekap Raya, ia menurunkan kepalanya hingga berada di telinga sang istri. “Aku merasa kepanasan.”


Kaki Raya lemas karena tidak menduga Karan akan mengatakan hal gila yang pernah Raya katakan ketika ia mabuk. Pipi Raya pun tersemu merah. Ia tidak bisa berkata apa-apa.


“Aku ingin menciummu, Sayang. Ah, tidak. Sepertinya aku lebih suka menyeretmu ke hotel sekarang,” ungkap Karan dengan suara serak. Uratnya tampak berdenyut di sudut mulutnya. Bagaimana ia begitu emosi melihat kedekatan Raya bersama pria lain hari ini, sudah tidak perlu dijelaskan. Nyaris saja Karan bergabung ke lokasi syuting dan mengacaukan segalanya. Untung saja ia masih bisa menahan emosinya dan hanya berdiam diri menunggu semuanya selesai.


Raya menyentuh pipi Karan. “Jangan cium aku atau membawaku ke hotel sekarang. Aku masih harus bertemu dengan sutradara dan juga aku perlu mengganti baju ini. Ini bukan bajuku. Ini punya sponsor,” jelas Raya ketika Karan berusaha menyentuh bokongnya. Raya takut Karan akan berbuat nekat hingga merusak pakaian milik perusahaan iklan yang mendukung syuting hari ini.


Karan mengecup bahu Raya pelan. “Baiklah, 30 menit. Aku hanya akan memberi waktu 30 menit untuk menyelesaikan urusanmu, Sayang. Aku akan menunggumu di lobi hotel.”


Tangan Raya mengelus-elus pipi Karan dengan lembut. “Ya, 30 menit lagi aku akan menemuimu. Terima kasih sudah mau mengerti masalah pekerjaanku.”


Senyum merekah di bibir Karan. Ia melepaskan pelukannya sebentar lalu meletakkan kedua tangannya di pipi sang istri. Awalnya Karan tidak akan melakukan apa pun dan kembali ke hotel. Tapi ketika ia melihat Reagen sedang memandang ke arah mereka, Karan pun akhirnya mencium bibir Raya dengan sangat berani. Ia bahkan menyeringai di sela-sela ciumannya sambil memandang Reagen, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa Raya adalah miliknya. Dan akan selalu begitu sampai kapan pun.


“Kau ini!” ucap Raya kesal. “Aku kan sudah bilang jangan menciumku!” protesnya.


Karan menepuk kepala Raya lembut. “Tapi aku tidak merusak gaunmu, Sayang. Semuanya masih utuh.”


“Ck!” Raya berdecak kesal, tapi ia tidak mau melanjutkannya. “Ya sudah, aku akan menemui sutradara dulu. Kau pergilah.”


Tanpa menunggu apa yang hendak dikatakan Karan, Raya bergerak dari tempat itu. Ia sedikit terkejut melihat Reagan ada di dekat mereka. Pria itu berpura-pura tidak melihat apa pun padahal Raya tahu apa yang telah pria itu saksikan barusan.


“Apa itu suamimu?” tanya Reagan ketika Raya sudah mendekatinya.


Raya mengangguk. “Ya.”


“Dia mau menjemputmu?”


“Benar.”


“Bukankah ada yang ingin kau katakan padaku? Kapan kau akan mengatakannya?”


“Ah, benar. Aku lupa itu. Aku ingin mengatakannya, tapi sepertinya tidak bisa sekarang. Karan sudah menungguku. Jadi, apa kau bisa bicara denganku di lain waktu?”


Reagen mengangguk. “Tentu saja. Dan sutradara sudah menunggu kita di dalam. Sebaiknya kita masuk sekarang agar mereka tidak menunggu lama.”


Raya pun mengikuti langkah Reagan ke dalam vila. Sejujurnya Raya ingin berbicara dengan Reagan setelah syuting selesai, mungkin sambil makan malam. Tapi berhubung Karan sudah datang menyusulnya, Raya tidak mungkin menemui pria lain. Ia harus memprioritaskan suaminya yang posesif itu. Jika tidak, rasa cemburu Karan akan membawa petaka bagi Raya dan orang-orang di sekelilingnya. Raya sudah sekali melihatnya, ia tidak mau lagi mencobai sang suami.