Lies

Lies
Puncak Masalah



Raya benar. Tidak ada jalan keluar dari masalahnya ini. Pergi dari kampung tidak akan menyelesaikan akar permasalahannya karena sang ayah tetap hidup. Raya pun belum dikatakan sebagai gadis dewasa karena usianya baru 16 tahun saat itu. Ia belum punya identitas pribadi sebagai warga negara Indonesia. Dengan artian, jika terjadi sesuatu pada Raya, ayahnya lah yang akan dipanggil sebagai wali. Jadi, di mana pun Raya pergi, sekalipun hingga ke pelosok negeri, sang ayah akan tetap dikaitkan dengan dirinya. Kenyataan itu yang membuat Raya semakin terpuruk.


Farraz pun yang menyarankan untuk melarikan diri membungkam mulutnya sendiri saat mengetahui keadaan tersebut. Ia menyesal karena telah memberikan saran tanpa adanya solusi yang menyertainya. Kemudian, Farraz teringat bahwa Raya punya seorang bibi yang berada di pusat kota. Mungkin adik dari ibu kekasihnya itu bisa membantu Raya. “Bagaimana dengan Tantemu? Kau bisa ke sana untuk meminta tolong. Aku yakin Tantemu pasti membantumu,” kata Farraz memberikan saran kepada Raya. Segala hal harus dicoba oleh mereka meskipun itu terdengar tidak masuk akal.


Usulan itu juga pernah Raya pikirkan sebelumnya. Meminta bantuan bibinya. Raya memang tahu di mana rumahnya dan bagaimana caranya ke sana. Akan tetapi, Raya tidak bisa terburu-buru pergi ke tempat sang bibi saat ayahnya dalam keadaan semarah itu. Jika Raya salah langkah, ia malah akan melibatkan bibinya yang tidak bersalah itu ke dalam masalahnya. Tentu saja Raya tidak ingin itu terjadi. “Aku tidak bisa ke sana. Aku tidak mau melibatkan Tanteku dalam masalah ini. Kalau aku ceroboh, Tante bisa terluka,” tukas Raya mengutarakan kegundahan dirinya.


Raya mengatakan hal itu bukan tanpa bukti. Sebelum ini sudah ada orang yang terluka karena terlibat dalam masalah mereka. Salah satu tetangga yang membantu Raya sudah menjadi korban saat membantu Raya yang hendak dipukuli oleh ayahnya. Wanita itu pun harus mendapatkan luka lebam di tangannya yang terkena pukulan sapu sang ayah. Untung saja Raya berhasil menahan ayahnya saat pria itu hendak memukul lagi tetangganya itu, dan membuat sang tetangga pergi dari sekitar rumahnya. Peristiwa itulah yang membuat Raya mengalami trauma. Saat ada orang lain yang ingin membantunya, ia lebih memilih untuk menolak dan meminta mereka untuk tidak ikut campur urusannya.


“Kau benar. Tapi aku janji akan mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalahmu,” ungkap Farraz pada Raya. Ia menggenggam tangan kekasihnya untuk memberikan ketenangan pada gadis itu. “Aku akan melindungimu, Raya. Apa pun yang terjadi aku tidak akan membiarkan kau terluka lagi. Jadi, bertahanlah sebentar lagi, aku janji akan membawamu keluar dari rumah neraka itu.”


Farraz menjanjikan sesuatu yang begitu sulit untuk diwujudkan. Namun, pemuda itu tahu pasti apa yang dikatakannya itu. Ia memang berniat untuk membantu Raya, membebaskan gadis itu dari penderitaan yang membelenggunya. Meskipun itu terbilang sulit dan mustahil. Pasti ada sesuatu yang bisa dilakukannya untuk sang kekasih. Hanya saja sekarang Farraz menemukan cara yang terbaik.


Selagi Farraz berpikiran untuk membantunya, Raya justru merasa pasrah. Ia tidak punya lagi keinginan untuk melakukan apa-apa. Baginya menerima kenyataan akan membuatnya lebih bisa bertahan ketimbang berusaha keluar dari masalahnya. Saat ini saja Raya hanya memikirkan bagaimana caranya agar ia tidak terluka parah saat bertemu sang ayah. Raya sangat ingin melindungi tubuhnya barang sebentar saja karena rasanya semakin hari rasa sakit dan perih di tubuhnya semakin parah. Gadis itu takut tidak bisa lama lagi menahannya.


*****


Seminggu setelah bertemu dengan Raya, Farraz berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan masalah sang kekasih. Ia menggunakan segala cara untuk mencari tahu termasuk meminta bantuan dari para kenalannya. Berbeda dari Raya yang sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mengurusi ayahnya yang menyusahkan dan sibuk untuk mencari uang, Farraz justru menghabiskan waktu dengan menggunakan otaknya dan mengikuti beberapa kompetisi yang mengandalkan kecerdasan. Itulah sebabnya ia jadi mengenal banyak orang. Dan dari beberapa kenalannya itu ternyata ada yang bisa membantu Farra menyelesaikan masalah Raya.


Orang itu adalah salah satu orang tua murid yang menjadi lawan Farraz. Karena beberapa kali bertemu di kompetisi, Farraz pun berkenalan dengan orang itu. Ia bekerja di dinas bidang perlindungan perempuan dan anak. Hal yang sesuai dengan apa yang dialami Raya. Setelah berdiskusi selama beberapa saat dengan orang itu, Farraz mendapatkan secercah harapan bahwa Raya bisa diselamatkan dari orang tuanya. Yang perlu dilakukan oleh Raya hanya membuat laporan resmi ke dinas. Kemudian, orang-orang yang ada di dinas itu pun akan mengunjungi rumah Raya untuk melakukan pemeriksaan. Jika terbukti penganiayaan itu benar, tidak hanya dikeluarkan dari rumah dan dipisahkan dari sang ayah, ayah Raya pun akan dibawa ke polisi dan bisa ditahan.


Sayangnya pada hari itu, Farraz tidak bisa bertemu dengan Raya. Pemuda itu sudah mencari ke sudut-sudut sekolah, tapi tidak juga menemukan sang kekasih. Saat ditanya kepada teman-teman satu kelasnya, tidak ada satu pun yang tahu mengapa Raya tidak masuk sekolah pada hari itu. Farraz baru tahu penyebabnya dari tetangga Raya yang berjualan di depan gerbang sekolah. Kata wanita tua itu, Raya sedang demam. Tadi pagi gadis itu mendatangi rumahnya untuk meminta obat demam. Raya tampak begitu pucat saat itu, bahkan jalannya pun gontai. Sayangnya, ia tidak bisa membawa Raya ke puskesmas setempat karena ia pun tidak punya uang. Hanya dua butir obat penurun panas anak-anak saja yang bisa ia berikan kepada gadis itu.


Farraz sangat terkejut mendengarnya. Ia tidak tahu apa-apa tentang Raya. Belakangan ini, meskipun hubungan mereka sudah membaik, tetap saja jarak rumah mereka terlalu jauh. Rumah Raya berada berseberangan dengan panti asuhan yag menjadi tempat tinggal Farraz. Malah tergolong berada di kampung yang berbeda. Terlebih belakangan ini Raya melarang Farraz untuk datang menjemputnya. Akhirnya mereka hanya bisa bertemu di sekolah.


“Sial!” umpat Farraz saat itu. Ia kesal karena tidak bisa menyadari kondisi Raya. Seharusnya ia bersikeras membawa Raya ke puskesmas saat gadis itu mengalami penganiayaan. Setidaknya luka-luka di sekitar tubuh Raya bisa ditangani dengan cara yang tepat. Bukan hanya dengan pengobatan sederhana seperti yang selama ini mereka lakukan. Farraz bukannya tidak punya uang sama sekali. Meskipun tidak banyak, hasil mengikuti olimpiade beberapa saat lalu cukup untuk membawa Raya ke puskesmas dan mendapatkan perawatan. Akan tetapi, ia malah mendengarkan kata-kata Raya yang menolak pergi ke sana.


Persetan dengan apa yang dikatakan Raya, hari ini Farraz harus berhasil membawa gadis itu ke puskesmas apa pun yang terjadi. Tapi sayangnya, Farraz tidak bisa langsung ke rumah Raya detik itu juga. Ia harus melanjutkan jam sekolahnya. Lalu sepulang sekolah, ia harus mengikuti beberapa persiapan untuk lanjutan olimpiadenya. Mungkin pemuda itu baru bisa ke rumah sang kekasih saat matahari sudah tenggelam. Tentu saja setelah mengganti pakaiannya dan membawa obat-obatan serta makanan untuk Raya. Gadis itu sedang sakit, makanan yang dibawa Farraz tidak hanya diberikan kepadanya saja melainkan untuk ayah Raya. Dengan maksud agar sang ayah dapat membiarkan Raya beristirahat karena perutnya sudah penuh.


Rencana itu dilakukan Farraz dengan baik. Ia sudah membawa obat-obatan dan makanan bersamanya ketika melangkah ke rumah Raya. Hari sudah semakin gelap saat ia melintasi kampung tempat tinggal Raya. Tetapi Farraz sama sekali tidak takut karena ia punya kemampuan bela diri yang cukup baik sehingga tidak akan banyak yang bisa mengganggunya. Itulah yang membuat Farraz bisa tiba di rumah Raya dengan selamat.


“Raya, apa kau ada di dalam? Ini aku Farraz,” ucap Farraz sambil mengetuk pintu rumah Raya. Ini masih jam setengah delapan malam. Menurut keterangan Raya, ayahnya akan pulang larut malam, mungkin sekitar pukul 10 malam. Akan tetapi pada malam itu, Farraz menemukan sepasang sepatu usang di depan pintu rumah Raya. Sepatu yang sering digunakan oleh ayah Raya saat akan bekerja. Itu artinya pria itu sudah berada di dalam.


Masalahnya adalah rumah itu terlalu sunyi untuk Farraz. Padahal menurut cerita Raya selama ini ketika sang ayah datang, maka ia akan membuat keributan di rumah. Kalau tidak marah-marah dan memukulinya, pria itu akan melempar barang-barang yang ada di dalam rumah mereka. Melampiaskan kemarahan yang tidak tahu apa penyebabnya. Jadi, mengapa sekarang pria yang super aktif menyusahkan putri semata wayangnya itu mendadak menjadi sangat pendiam? Apakah ia terlalu mabuk sehingga tidak punya lagi tenaga untuk membuat keributan seperti biasanya?


Karena curiga, Farraz mencoba menggedor pintu rumah Raya lebih keras lagi. Ia sudah melakukannya berkali-kali tetapi tidak ada jawaban dari pintu depan. Farraz semakin khawatir saat mendengar suara berisik yang datangnya dari arah dapur rumah. Dengan keberanian, Farraz berjalan menyisiri bagian samping rumah Raya hingga ke bagian belakang, tepatnya ke sisi dapur. Farraz memang tidak pernah masuk ke dalam rumah Raya, tetapi ia beberapa kali memantau gadis itu dari kejauhan sehingga sedikit banyak ia tahu seluk beluk bagian dalam rumah itu.


Ketika berada di pintu belakang, Farraz berusaha mengetuk pintu yang mengarah ke dapur itu. Ia memanggil nama sang kekasih dengan khawatir. “Raya! Ini aku Farraz. Kau ada di dalam bukan? Bisakah kau bukakan pintu ini untukku?” katanya sembari mengetuk pintu itu. Karena tidak mendapatkan jawaban, Farraz berusaha mencari tahu dengan mengintip melalui sela-sela dinding yang terbuat dari papan itu. Alangkah terkejutnya ia setelah melihat sesuatu yang mengerikan dari dalam rumah Raya. Pemandangan yang tidak pernah Farraz lihat di tempat lain sebelum ini.