Lies

Lies
Mengapa Kau Menikahku?



Karan menurunkan dres Raya lagi hingga pundak wanita itu terekspose begitu banyak. Perlahan-lahan, ia mencium pundak Raya, lalu bergerak lebih rendah hingga bibirnya sampai di tangan Raya. Ketika sampai di lengan, Raya tersentak di genggamannya. Napas wanita itu pun terdengar sedang terengah lembut.


Kegilaan itu kembali menyerang Karan. Suara Raya yang menggoda bahkan hanya dengan sentuhan kulit wanita itu sukses mengujamnya, menyalakan api gairah yang menguasai tubuhnya hingga menyebar hingga ke pangkal pahanya. Ingin sekali Karan melepaskan celananya saat ia merasakan sesak pada intinya.


Astaga, ia menginginkan Raya. Pria itu menginginkan sang super model sampai rasanya ia nyaris menjadi gila. Sangat sulit Karan menahan diri selama ini, tapi ia bisa melewati setiap harinya tanpa Raya. Akan tetapi sekarang, keinginannya semakin membuncah dan terus meluap hingga tidak bisa tertahankan. Dengan mudahnya Raya menghancurkan pertahanan Karan bahkan saat wanita itu tidak melakukan apa-apa. Bukankah ini terlalu kejam?


Dari siku Karan bergerak menelusuri lengan Raya. Ia berlama-lama di sana untuk menikmati bahu Raya yang telanjang. Merasakan getar napas tersendat Raya di telinganya dan bagaimana tubuh Raya yang melunak dalam dekapannya, yang tentu saja memberikan rasa kemenangan pada Karan.


“Apa kau menyukai ini, Sayang?” ucap Karan berpindah lagi. Kini ia kembali berada di leher Raya dan menciumi titik denyut nadi di leher sebelah kiri Raya. Sisi sensitif yang membuat Raya merasa bergairah. Karan terus menciumi leher Raya sementara tangannya masih mendekap tubuh wanita itu sambil bergerilya di pangkal paha Raya.


“Tidak. Aku membencinya,” balas Raya. Ia tidak sepenuhnya berbohong, tapi ia juga tidak seratus persen berbohong. Gerakan tangan Karan begitu lihai di tubuhnya, membuatnya gemetar tak keruan. Terlebih ketika Karan mendekatkan kepalanya di sisi bawah bibir Raya dan berbisik-bisik frontal yang memancing hawa panas tubuh Raya.


Seringai kejam muncul di bibir Karan. “Kau masih saja terus berbohong,” katanya masih tidak mau berhenti melucuti pakaian Raya. Saat ini, dres yang dikenakan Raya sudah menuruni bagian atasnya dan hanya menggantung di bagian pinggang. Dan tampaknya Karan tidak ada niatan melepaskan dres itu karena artinya ia juga harus melepaskan ikatan tangan Raya.


“Ini ... ini ... ini ... dan ini. Mulutmu bisa berbohong, tapi tubuhmu selalu bersikap jujur padaku, Sayang.”


Rasa lapar yang ditunjukan Karan ditambah tatapan liarnya membuat Raya begitu putus asa. Ia sudah menyerah dengan situasinya sekarang. Memangnya apa yang bisa ia lakukan? Toh, Karan lebih kuat darinya. Raya sudah begitu frustrasi. Ia akan pasrah menerima apa pun yang hendak Karan lakukan.


Karan menangkup dagu Raya dan membimbing wanita itu untuk menghadap ke arahnya. Ibu jari laki-laki itu membelai bibir bawah Raya yang berpoles lipstik berwarna merah muda. Karan mulai berpikir bagaimana seharusnya ia mencium bibir itu. Haruskah dengan cara cepat dan terburu-buru? Atau lembut hingga ia bisa menikmati kelembutan kedua bagiannya? Bagaimana jika Karan juga menggunakan giginya? Tampaknya bibir ranum Raya akan bertambah seksi jika berwarna lebih merah. Namun warna merah itu bukan dari lipstik melainkan dari darah Raya.


Belum sempat Karan memutuskan apa yang akan ia lakukan, Raya angkat bicara. “Kenapa kau menikahiku?” Akhirnya pertanyaan itu tercetus dari mulut Raya. Pertanyaan yang selama ini ia pendam dan sulit ditanyakan pada sang suami. Jika pada ujungnya Karan akan menyiksanya seperti ini, lantas mengapa laki-laki itu menikah dengannya?


Karan terkejut. Matanya terbuka secara tiba-tiba dan tubuhnya mematung. Pertanyaan yang disampaikan Raya membuat otaknya membeku seketika.


“Kau tidak bisa menjawabnya? Atau kau ingin menikah denganku untuk melampiaskan ketidaknormalanmu?” sambung Raya. Wanita itu sendiri tidak tahu mengapa ia sampai mengucapkan kata-kata itu. Apakah ia sudah terlalu lelah dengan keadaannya hingga ia tidak bisa bertahan? Ya, pasti itu alasannya.


Bagaimana tidak, Raya adalah seorang pekerja. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, Raya harus banting tulang sejak SMA. Masa kuliah yang ditempuhnya juga tidak berjalan lancar. Raya harus tetap mempertahankan prestasinya supaya beasiswanya tidak dicabut. Dan setelah lulus, wanita itu masih tetap berjibaku dengan jadwal padat sebagai seorang model ternama.


Tangan Karan sudah berada di leher Raya ketika pandangannya menggelap. Untung saja pantulan bayangan cermin menyadarkannya sehingga ia tidak sampai berbuat nekat kepada Raya. Karena seandainya Karan tetap kehilangan kesadarannya, sekejap saja nyawa Raya pasti sudah melayang tubuhnya.


Dengan geram Karan menanggapi, “Kenapa kau selalu menganggapku tidak normal?”


“Karena kau menikahiku, padahal kau bisa menikahi wanita lain yang lebih baik dariku. Dan aku yakin aku bukanlah wanita pertama yang tidur denganmu.”


Entah keyakinan itu didapat dari mana, yang pasti Raya benar-benar percaya dengan keyakinan itu. Buktinya saat malam pertama mereka. Karan tampak begitu ahli seakan-akan pria itu sudah biasa menyenangkan tubuh wanita. Sedangkan Raya hanyalah seorang wanita polos yang berpura-pura liar di hadapan Karan. Padahal kenyataannya, Karan adalah pria pertamanya. Raya tidak pernah tidur dengan pria mana pun kecuali dengan sang suami.


Itu jugalah yang membuat Karan syok. Malam itu di sebuah hotel di Bali, Karan benar-benar kehilangan kesadarannya. Ia marah pada dirinya sendiri karena berlaku kasar. Pasalnya cara Karan berhubungan badan dengan Raya terbilang tidak wajar. Tanpa pemanasan, Karan langsung menyatukan tubuh mereka hingga membuat Raya merintih kesakitan. Kemudian, darah yang mengalir di atas ‘miliknya’ menyadarkan Karan. Bahwa itu adalah pengalaman pertama Raya. Bahwa selama ini Raya masih mempertahankan keperawanannya.


Padahal Karan tidak pernah berpikir Raya akan sepolos itu. Sikap wanita itu yang bergonta-ganti pasangan membuat Karan memandang rendah sang istri. Itulah sebabnya ia berlaku kasar malam itu. Karan ingin meluapkan kemarahan dan kekecewaannya pada Raya yang meninggalkannya demi laki-laki lain.


Sayangnya Karan salah. Anehnya, Karan ikut terluka melihat air mata yang jatuh dari netra cokelat Raya. Meskipun begitu, Karan tetap enggan meminta maaf. Tetapi pria itu mengubah caranya. Ia mulai bersikap lembut saat berhubungan badan dengan Raya. Mulai dengan pemanasan dan memastikan agar wanita itu siap terlebih dahulu. Setidaknya hanya itu yang bisa Karan lakukan kendati Raya sama sekali tidak menganggap bahwa sikap yang ditunjukkan Karan adalah sebuah kelembutan.


“Benar, kau memang bukan wanita pertamaku,” tukas Karan jujur.


Raya terbelalak mendengar pengakuan Karan. Ia mencoba baik-baik saja, tapi tidak bisa. Hatinya tidak mau mendengarkan peringatannya dan mulai terasa sakit. Memangnya apa yang Raya harapkan dari laki-laki berengsek seperti Karan? Berharap pria itu adalah seorang malaikat seperti yang selalu ditunjukkannya di depan kamera? Itu benar-benar harapan yang bodoh!


Di belakang punggungnya Raya meremas tangannya dengan erat. Mengalihkan rasa sakit di hatinya ke telapak tangannya yang sekarang mungkin sedang terluka karena tertancap kuku-kuku panjangnya. Terasa perih memang, tetapi rasa perih di tangannya lebih bisa ditanggung Raya ketimbang rasa perih di hatinya.


“Itu bagus. Kau bisa tidur dengan wanita selain aku. Dan itu artinya tidak ada alasan bagimu untuk mempertahankanku di sisimu.”


Perkataan Raya seperti menyiram bensin di atas bara api, membuat Karan semakin meledak-ledak. “Tidak ada alasan katamu, hm?” ungkap Karan sambil mencengkram kedua tangan Raya dengan erat. Akibatnya kuku-kuku jemari Raya semakin dalam tertancap di telapak tangannya.


“Aku punya banyak alasan untuk mempertahankanmu, Raya. Kau harus ingat bahwa aku mencintaimu, baik itu dulu, sekarang dan sampai kapan pun. Dan kau juga begitu. Hanya aku laki-laki yang boleh kau cintai, Raya. Hanya aku!” tegasnya dengan mata yang memandang tajam ke bayangan Raya yang terpantul di cermin.