Lies

Lies
Cara Bernegosiasi yang Menggoda



Raya menarik napas panjang dan lambat. Kendati menakutkan, ia tahu apa yang hendak ia lakukan saat ini. Ia harus membuka diri pada Karan dan memberi tahu laki-laki itu tentang apa yang ia pikirkan saat ini. Sudah waktunya mereka saling terbuka agar kehidupan rumah tangga mereka menemukan titik terangnya. Tidak mungkin rasanya Raya hidup dengan pria yang akan menyakitinya terus menerus, dan ia juga tidak bisa meminta cerai dari Karan karena pria itu tidak akan pernah mengizinkannya. Sekalipun diizinkan, Raya tidak mau buru-buru bercerai. Status sebagai istri jauh lebih baik untuknya ketimbang janda.


Ia menghampiri Karan. Napasnya naik turun, sedikit sesak saat berada di hadapan Karan. Dan hal itu semakin parah ketika Karan menengadah agar bisa memandang ke arahnya.


“Apa yang harus aku lakukan, Karan?” tanya Raya di sebelah Karan. Suaranya yang lembut dan mendayu itu menggoda Karan. Ketimbang berbicara seperti biasa, pria itu justru menganggap suara pelan Raya sebagai bisikan mengundang.


“Lakukan saja apa pun yang kau ingin lakukan. Aku akan menerimanya dengan senang hati,” sahut Karan.


Raya menggerakkan tangannya dan menjangkau pundak Karan. Ada ekspresi terkejut di wajah laki-laki itu, tapi Raya tidak peduli. Ia tetap melanjutkan aksinya. “Baiklah, biar aku pikirkan dulu,” cetus Raya sembari memain-mainkan tangannya di bahu Karan.


Karan menyeringai, baru sekarang ia menyadari setelah begitu dekat dengan sang istri. Betapa ia merindukan sosok sang super model di hadapannya itu selama satu minggu terakhir. Aksi diamnya dan caranya untuk menjauhi Raya benar-benar menyiksa. Ingin rasanya Karan mengubah rencananya agar bisa mendekap Raya. Keinginan itu timbul hampir setiap malam, tepatnya saat matanya memandang kamar sang istri yang terbuka.


Ya, Raya jarang menutup pintu kamarnya belakangan ini. Karan tahu itu dengan pasti. Alasannya sangat jelas terlihat. Raya ingin memantau keberadaannya, kapan ia sampai di rumah dan kapan ia berangkat kerja. Untung saja Karan selalu melarang para pekerja di rumahnya naik ke lantai atas ketika tidak diperintahkan. Karan juga menempatkan beberapa CCTV di sekitar pintu kamar mereka. Supaya tidak ada bahaya yang terjadi, terutama pada kejadian seperti ini.


Tetapi tetap saja Karan merasa khawatir. Satu-satunya ketidakamanan adalah ketika kita merasa aman. Untuk itulah Karan harus memastikan lagi keadaan istrinya. Ia beranjak mendekati pintu dan melihat ke dalam. Raya sudah tertidur pulas di atas ranjang. Sialnya wanita itu memakai gaun malam berwarna hitam yang begitu seksi. Apalagi dalam keadaan tidur. Bagian bawah pakaian itu terangkat yang membuat Karan bisa melihat betapa indahnya kedua kaki mulus sang istri.


“Berengsek!” maki Karan begitu mendapati bagian tubuhnya yang menegang. Selalu saja begini. Tidak ada satu hari pun untuknya berhenti berpikiran mesum pada sang istri. Saat di kantor, di mobil, di rumah ... bahkan saat ia tidak melihat Raya sama sekali. Begitu nama Raya muncul di benaknya, tubuh sintal seksi Rayalah yang akan muncul. Tentu dengan berbagai keadaan, termasuk keadaan tanpa busana.


“Baiklah, aku akan melakukan apa pun sesukaku,” ungkap Raya. Ia berpindah posisi dan duduk di pangkuan Karan.


Sontak tubuh Karan membeku. Ia begitu terkejut hingga kedua tangannya tidak bisa digerakkan dengan baik. “Kau ... kenapa?” celetuknya terheran-heran. Apakah Raya sedang bermanja-manja dengannya? Bagaimana mungkin? Inikah sisi Raya yang tidak pernah Karan ketahui sebelumnya? Benar-benar menarik.


“Karena aku ingin melakukan yang aku ingin lakukan sesuai yang kau katakan tadi,” kata wanita itu penuh percaya diri. Ia tersenyum ketika melihat Karan menggeram keras. Pria itu bahkan mengepalkan tangannya dengan kencang. Mungkin tangannya itu terasa gatal hendak menyentuh tubuhnya. Maklum saja selama ini, Karan selalu bersikap dominan. Ia selalu memimpin Raya, termasuk saat berhubungan badan.


Sebelah tangan Raya berpindah ke wajah Karan. Pria itu sudah bercukur rupanya karena Raya tidak merasakan rambut-rambut halus di sekitar wajah suaminya. Itu bagus, artinya Karan sudah seperti sedia kala. Karan yang tampan dan sempurna yang sanggup membuat hati wanita tergoda.


Kemudian, Raya mendekatkan wajahnya dan mencium kulit pria itu. Bibirnya. Raya memagut bibir bawah Karan dengan lembut sementara tangannya bergerak ke belakang leher Karan. Menyentuh rambutnya yang lemut dan garis-garis keras bahunya yang kokoh. Selagi ia menikmati pergulatan bibir mereka, Raya merasakan Karan mulai menggerakkan tangannya, mendekapnya ke sisinya dengan lekat, sehingga dada Raya bisa menempel pada dada bidang laki-laki itu.


Karan mengingatkan dengan suara pelan yang mirip dengan sebuah *******. Dan jantung Raya pun terasa seperti sedang diajak bekerja sangat keras. Ini tutorial berciuman. Artinya ciuman yang dilakukan Raya begitu payah hingga suaminya mengingatkannya untuk bernapas. Artinya pula Karan adalah orang yang sangat mahir berciuman hingga mampu mengajarinya. Entah yang mana dari kedua hal itu yang benar, itu sama sekali tidak berarti bagi Raya. Sebab, kedua hal itu justru membuat Raya menyadari satu hal bahwa ia bukanlah wanita satu-satunya bagi laki-laki tersebut.


Ya sebenarnya tidak masalah. Toh, Raya juga bukan pertama kali berciuman dengan laki-laki. Di beberapa iklannya utamanya iklan luar negeri pernah menampilkan adegan mesra Raya dengan model pria. Tak jarang juga mereka berciuman meskipun hanya menempelkan bibir demi kebutuhan gambar. Tapi itu tetap dikategorikan ciuman.


“Nah, itu lebih baik,” pesan Karan lagi. Bertindak berdasarkan insting memang baik, tapi Karan harus tetap memperhatikan Raya. Istrinya itu terlalu amatir dalam berhubungan badan. Buktinya ia tidak mahir berciuman padahal usianya hampir tiga dekade. Juga Karan adalah pria pertama Raya, pria yang mengambil keperawanan wanita itu. Meskipun begitu, Karan tetap senang. Artinya tidak ada yang menyentuh Raya selain dirinya karena Raya adalah miliknya.


“Sial!” umpat Karan secara tidak sengaja. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena perasaan obsesi itu terus-menerus muncul di dalam hatinya. Perasaan ingin memiliki Raya, menguasai Raya dan menyiksa Raya. Perasaan yang benar-benar sulit untuk dilepaskan begitu saja.


Raya mengernyit. “Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan lagi?” tanyanya bingung setelah mendengar umpatan sang suami.


Karan menggeleng dengan cepat. “Tidak. Aku hanya tidak bisa menahannya. Jadi, sebelum terlambat, kita hentikan di sini.”


“Berhenti di sini? Jadi, kau mau berhenti begitu saja?”


Kali ini kening Karan yang mengerut. “Apa kau mau melanjutkannya?”


Raya balik bertanya, “Kau tidak mau?”


“Tentu saja aku mau. Aku sudah merasa gila karena tidak menyentuhmu selama seminggu ini, Raya. Bagaimana mungkin aku tidak ingin melanjutkannya?” Karan mendekap Raya lagi, memastikan bagian tubuh istrinya itu berada di dekat pangkal pahanya. “Kau bisa merasakannya bukan? Merasakan bagaimana aku menegang karenamu. Apa kau mau melanjutkannya?”


Raya mengangguk, memberanikan diri karena melihat kilat panas yang meluncur dari mata Karan. Sepertinya pria itu menginginkannya begitu besar sama seperti keinginan Raya pada pria itu. Mungkin bagi Karan, Raya adalah wanita terburuk dalam masalah ini, tetapi bagi Raya, Karan adalah pria terbaiknya karena Karan merupakan satu-satunya pria yang bisa menyentuh tubuhnya dengan begitu intim.


“Tapi jangan di si—” Baru saja Raya hendak berbicara, Karan langsung menyusupkan tangan ke rambut Raya dan mencium bibirnya dengan ciuman lapar yang menggebu-gebu hingga membuat Raya menggeram nikmat tanpa sadar. Oh, benar. Ini yang dinamakan ciuman. Karan pantas menjadi guru bagi Raya karena laki-laki itu begitu mahir mencium bibir seorang wanita.