Lies

Lies
Siapa yang Lebih Cantik?



Meminta maaf. Jika Karan diberikan kesempatan lagi, ia ingin melakukan hal itu. Meminta maaf kepada sang mantan istri hingga ribuan kali, sampai Raya mau memaafkannya. Akan tetapi, Karan tidak bisa. Di hari hakim memutuskan perceraian mereka pun Karan tidak bisa melihat wajah Raya untuk terakhir kalinya. Padahal masih banyak yang ingin Karan sampaikan pada Raya. Rasa bersalahnya sangat besar yang tidak bisa diungkapkan hanya sebatas satu kalimat maaf saja.


Karan menyentuh kepala Luca dan mengelusnya pelan. “Terima kasih, Luca. Paman akan mengikuti kata-kata Luca kalau Paman bertemu dengan istri Paman.”


Luca tersenyum yang sontak saja menampilkan pipinya yang menggemaskan. “Iya, Paman harus cepat-cepat pulang supaya bisa bertemu dengan istri Paman.”


“Iya, Paman akan melakukannya,” ungkap Karan dengan tangan yang masih mengelus kepala Luca. Ia tidak ingin berandai-andai karena itu sangat menyakitkan. Namun setiap kali melihat Luca, Karan selalu membayangkan anaknya masih hidup. “Sekarang, ayo habiskan es krimnya sebelum meleleh,” sambung pria itu.


Luca menuruti perkataan Karan. Ia menghabiskan es krim yang ada di atas mejanya tanpa tersisa sedikit pun. Sebenarnya Karan tidak terlalu menyukai makanan manis, berkat Luca, Karan menganggap makanan manis tidak terlalu buruk. Terlebih jika menyantapnya dengan seseorang yang menyenangkan seperti Luca. Mungkin sebelum pulang, Karan akan mengajak Ian pergi ke toko cokelat terdekat untuk membeli beberapa kotak cokelat yang nanti dibagikan ke panti asuhan. Sama seperti Luca, Karan yakin anak-anak di sana akan menyukai makanan manis yang dibelinya.


Selang beberapa menit, seseorang mampir ke meja mereka. Orang itu bukanlah Edgar, tetapi Maude. Dengan tergesa-gesa wanita itu menghampiri Karan. “Maaf Pak Karan, Kakak saya masih harus berbicara dengan beberapa klien. Jadi saya yang akan menjemput Luca.” Napas Maude terenggah-enggah, sepertinya wanita itu terburu-buru ke tempat ini. Karan yang melihatnya pun merasa iba.


“Duduk dulu Ibu Maude. Ambil napas,” kata sang CEO mencoba menenangkan Maude. Ia juga menyerahkan kursi yang ada di sampingnya kepada Maude.


“Terima kasih,” balas Maude sembari duduk di kursi yang diberikan Karan.


“Mau saya belikan air minum?”


“Kalau Anda tidak keberatan.”


“Tentu saja tidak. Tunggu sebentar.” Karan bangkit dari kursinya untuk membelikan air mineral kepada Maude.


Selagi Karan pergi, Maude mendekati Luca. Ia mencubit pipi anak itu dengan gemas. “Kau ini ya suka sekali kabur dari Aunty! Kau tidak tahu kalau kami semua pusing mencarimu, terutama Nanny yang sekarang menangis karena mengira kau hilang.”


Luca memincingkan bola matanya saat menatap Maude. “Habisnya aku tidak boleh makan es krim. Jadi aku kabur saja.”


PUK!


Maude menepuk kepala Luca. “Hey bocah nakal! Memangnya kau bisa makan es krim kalau kau kabur? Kau saja tidak punya uang.”


Tangan kecil Luca bergerak ke tasnya. Ia mengeluarkan dua kartu dari sana. Satu kartu kredit hitam dan kartu lainnya adalah kartu nama. “Tenang, aku punya kartu ini. Kalau aku menunjukkannya mereka pasti akan memberikanku es krim.”


Kedua mata Maude terbelalak. Kartu kredit yang diambil Luca adalah kartu kredit milik Edgar, juga kartu nama yang dimiliki bocah itu adalah kartu nama milik ayahnya, yang mencantumkan di mana Edgar bekerja beserta nomor kantornya. Dengan menunjukkan kedua benda itu Luca memang akan mendapatkan apa yang diinginkan karena pelayan toko es krim itu pasti akan menghubungi kantor Edgar sehingga keberadaan Luca akan segera ditemukan.


“Wah wah wah! Kau pintar sekali. Dari mana kau dapatkan kartu kredit Daddy? Kau mengambilnya? Sini, biar Aunty kembalikan ke Daddy!”


Dengan gerakan cepat Luca menyembunyikan kartu-kartu itu ke dalam tasnya. “Tidak! Aku tidak mengambilnya. Daddy yang memberikannya padaku. Katanya untuk diberikan pada Mommy, tapi Mommy belum pulang jadi aku yang simpan. Aku cuma mau pinjam sebentar, tapi tidak jadi karena bertemu Paman Karan.”


“Tapi Sayang, kau tidak boleh menggunakan kartu kredit Daddy sembarangan seperti itu. Nanti Daddy akan marah padamu.”


“Kenapa Mommy boleh?”


Maude terbelalak. “Ya?”


“Kenapa Mommy boleh pakai kartu kredit Daddy sesuka hati. Daddy malah bilang Mommy boleh pakai kapan pun. Kenapa Mommy boleh tapi aku tidak?”


Bibir Maude terbuka, namun ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia juga bingung harus menjawab bagaimana. Inilah sulitnya memiliki keponakan yang pintar karena membuatnya tidak bisa berkutik. “Itu karena, emm ...”


“Karena Mommy memakainya untuk membeli kebutuhanmu dan Daddy, bukan begitu Aunty?” Karan menimpali setelah tidak sengaja mendengar perkacapan kedua orang itu. Karena Maude terlihat kesulitan menjawab pertanyaan Luca sehingga Karan berinisiatif untuk membantunya. Ia menyerahkan air mineral yang baru dibelinya kepada Maude. “Ini untuk Anda.”


Maude terkejut, namun ia bisa segera memperbaiki raut wajahnya. “Terima kasih Pak,” katanya mengambil botol air mineral itu. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke arah Luca. “Ya, yang dikatakan Paman tadi benar. Karena Mommy mau membeli kebutuhanmu dan Daddy.”


Luca masih tidak mau kalah. “Tapi Mommy sudah punya kartu hitam juga. Aku lihat ada dua di dompet Mommy. Kenapa Mommy harus pakai punya Daddy kalau Mommy sudah punya?”


“Ya sudahlah, aku tanya Daddy saja,” ujar Luca yang tidak merasa puas dengan jawaban yang disampaikan oleh bibinya.


“Oke, jadi bisakah kita pulang sekarang? Kita harus menjemput Mommy ‘kan? Kau tidak merindukan Mommy?”


Mendengar ibunya disebut, Luca pun menganggukkan kepalanya. “Iya, aku mau ketemu Mommy.” Luca turun dari kursinya dan berjalan ke arah Karan. Baik Karan dan Maude berpikir Luca ingin berpamitan, tetapi yang bocah itu lakukan justru naik ke pangkuan Karan. “Paman, bisakah Paman mengantarkan aku sampai ke mobil?”


Maude menjadi sangat panik. Ia tidak menyangka Luca akan berbuat seperti itu pada kolega bisnis sang kakak. Dengan cepat Maude mencoba mencegah Luca. “Luca, tidak boleh begitu! Paman Karan punya kegiatan yang lain. Ayo turun, Aunty akan mengantarkanmu ke tempat Mommy.”


“Tapi, Aunty ...”


Maude menggeram lagi. “Luca!”


Tangan Luca mencengkram jas Karan dengan erat. Sepertinya bocah itu akan menangis jika terus dipaksa. Karan pun memutuskan untuk mengikuti keinginan Luca. “Tidak apa-apa. Saya akan mengantarkan Luca sampai ke mobil Anda.”


Tanpa diduga Luca bersorak kencang. “Yey!”


Karan tersenyum. “Apakah kau senang?” tanyanya pada bocah itu.


Luca mengangguk cepat. “Iya!”


“Baguslah, Paman juga senang kalau kau senang.”


Embusan napas kasar terdengar dari Maude. Wanita itu merasa sangat bersalah atas perbuatan lancang Luca. “Maafkan kelakuan Luca, Pak. Saya tidak mengira Luca akan senakal ini. Padahal dia memang selalu bersikap manja kepada orang tuanya, tapi dia tidak pernah seperti ini sebelumnya kepada orang lain. Saya benar-benar meminta maaf, Pak Karan.” Ia menyampaikan permintaan maafnya dengan tulus bahkan sampai menundukkan kepalanya.


Karan pun merasa tidak enak dengan pemandangan itu. “Tidak apa-apa Ibu Maude. Saya tidak keberatan sama sekali melakukannya. Lagi pula, Luca adalah anak yang lucu. Berdekatan dengannya justru membuat saya senang.”


“Terima kasih Pak, sekali lagi saya minta maaf karena sudah merepotkan Anda.”


“Tidak, tidak. Jangan meminta maaf.”


Sambil menggendong Luca, Karan berjalan menyusuri jalanan restoran menuju tempat parkir yang berada di lantai paling bawah gedung itu. Selama dalam perjalanan Luca menceritakan banyak hal kepada Karan, mulai dari kegiatannya di sekolah sampai kehebatan sang ayah. Luca tampak sangat membanggakan ayahnya. Bocah itu selalu mengatakan kalau sang ayah adalah sosok yang selalu ia kagumi, tentu setelah sang ibu. Karena di dalam hatinya, posisi ibunya akan selalu nomor satu. Tidak akan ada satu pun yang bisa menggantikannya.


“Terima kasih Paman,” ujar Luca ketika ia sudah berada di dalam mobil. Ia memandangi Karan sambil melanjutkan ucapannya, “Apa Paman tidak mau bertemu dengan Mommy-ku? Dia sangat cantik.” Bocah itu kembali memuji kecantikan ibunya setelah beberapa detik yang lalu melakukan itu berkali-kali.


Karan menggelengkan kepalanya tanpa memudarkan senyuman yang tercetak di bibirnya. “Tidak, Paman masih ada urusan yang lain. Dan juga Mommy-mu memang cantik, tapi Paman yakin istri Paman jauh lebih cantik,” kata Karan yang juga menyombongkan kecantikan sang mantan istri. Entah mengapa tiba-tiba saja ia tidak mau kalah bersaing dengan Luca untuk menunjukkan siapa wanita yang lebih cantik yang berada di sisi mereka.


Luca membalas dengan lantang. “Tidak! Mommy-ku yang lebih cantik! Mommy itu yang tercantik di dunia ini!” Bocah itu terlihat begitu kesal.


Sontak Karan tertawa terbahak-bahak. Ia menyentuh kepala Luca dan mengacak-acak rambut bocah itu. “Iya, baiklah, Mommy-mu yang tercantik. Jadi Luca, cepat temui Mommy-mu dan katakan padanya kalau kau sudah memenangkan pertarungan dengan Paman.”


“Iya, nanti akan aku sampaikan. Bye Paman, jangan lupa berbaikan dengan istri Paman ya?”


Bibir Karan mengulas senyum lagi. “Iya!” janjinya.


Pria itu melambaikan tangan kepada bocah yang mengajaknya berdebat tersebut. Setelah mobil yang ditumpanginya menghilang dari pandangan, Karan menghela napas panjang. Ia kembali merasa kesepian padahal yang pergi hanyalah seorang anak berusia empat tahun yang sangat berisik dan tidak mau kalah. Karan merasa hampa hingga dadanya terasa sakit. Tanpa disadari, ia meneteskan air matanya.


Karan mengambil ponselnya dan melihat wajah cantik Raya yang terpasang di layar depan ponsel itu. Sekarang Karan tahu apa yang membuatnya merasa sangat kesepian seperti ini. Ia merindukan orang yang ada di layar ponselnya. Ia merindukan Raya.


“Aku merindukanmu, Raya. Sangat merindukanmu sampai membuat hatiku sakit. Bisakah kita bertemu lagi?” kata Karan sembari mengelus layar ponselnya, tepat di mana pipi Raya berada. Karan benar-benar berharap dapat bertemu dengan sang mantan istri dengan alasan apa pun. Ia yang awalnya tidak percaya dengan kekuatan lain pun mulai berharap ada keajaiban yang terjadi di hidupnya. Misalnya saja Karan bertemu Raya. Seandainya itu terjadi, Karan tidak akan meminta apa-apa lagi. Ia akan puas dengan permohonan sederhana itu.