Lies

Lies
Pencarian Besar-besaran



Ternyata konferensi pers yang dibuat oleh Karan menjadi bumerang untuk kedua lagi bagi pria itu. Semua dipelopori oleh Reagan yang menyerang balik Karan. Ia bahkan membeberkan beberapa foto yang menunjukkan di mana Raya berada di dalam kamarnya sewaktu menjalani hukuman dari Karan. Juga foto bahwa Karan telah menempatkan seseorang untuk memata-matai Raya sepanjang waktu. Dan yang terbaru, Reagan menggandeng Varen untuk bekerja sama dengannya menyerang Karan. Kedua orang itu memberikan kepada media bukti bahwa Karan pernah menjebak mereka dalam sebuah skandal yang menghancurkan karier dan reputasi mereka.


Sementara reaksi yang diberikan oleh pihak Karan tidak terlalu kuat meskipun mereka juga merilis sebuah bukti bahwa Reagan sempat mengendalikan penggemar Raya untuk menyerang Karan di bandara saat Karan dan Raya hendak berbulan madu ke Milan. Karan juga memberikan salah satu hal yang sulit disanggah oleh Varen, yakni bukti tangkapan layar percakapan antara Varen dan Cindy. Di dalamnya jelas menggambarkan bahwa kedua orang itu tidak hanya menjalani hubungan selayaknya teman biasa karena mereka bahkan mempunyai panggilan sayang satu sama lain, sementara Varen masih berstatus sebagai kekasih Raya.


Meskipun tidak sampai menjatuhkan harga saham perusahaan seperti sebelumnya, dan ayahnya pun tidak mengajukan keberatan atas skandal ini kepada Karan, tetap saja Karan tidak terima dengan keadaan yang tidak bisa ia kendalikan ini. Terlebih saat Reagan mengompor-ngompori masyarakat untuk menyelidiki Karan dan mengekspos keburukan pria itu. Masa lalu bagi Karan adalah aib sehingga ia harus menutupinya. Selain itu, ada hati kedua orang tuanya yang tidak bisa ia lukai karena mereka sudah berkorban demi Karan.


Memang sejak awal semua berita buruk di masa lalu sudah dibersihkan oleh Karan dan keluarganya. Sehingga tidak ada satu pun artikel yang keluar saat nama Karan Reviano diketik di mesin pencarian di internet. Tetapi, orang-orang yang melihat dan mengurus tragedi 12 tahun lalu masih hidup. Warga kampung tempat tinggal Karan pun masih terlihat beraktivitas dengan baik, dan bahkan polisi yang menanganinya pun masih menjadi anggota polisi yang aktif hingga sekarang. Jadi, Karan tidak berpikir semua akan baik-baik saja jika masa lalunya terkuak ke permukaan.


“Apa yang harus kita lakukan, Pak? Keberadaan Ibu Raya juga sulit dilacak. Ibu tidak pernah menggunakan uang dalam tabungannya sementara kartu kreditnya bahkan sudah dinon-aktifkan. Saya sudah menyuruh orang untuk menyelidiki di kantor manajemen Ibu, tetapi tidak ada satu pun orang yang bisa menghubungi beliau selama sebulan ini. Bahkan manajer Ibu pun mengatakan hal yang sama. Ibu Raya sepertinya benar-benar tidak ingin ditemukan keberadaannya.”


Ian menjelaskan apa yang terjadi di lapangan kepada Karan. Mencari sosok Raya yang mahir bersembunyi dari para paparazzi bukanlah hal yang mudah. Seolah-olah Raya memang sengaja menghilang dari dunia ini. Sebab dicari ke mana pun, bahkan sampai menyelidiki perjalanan ke luar negeri atau ke luar kota pun sudah dilakukan Ian. Hasilnya, tidak ada satu pun catatan perjalanan yang mengatasnamakan Raya Drisana dalam penggunaan mode transportasi apa pun. Raya juga tidak tercatat pernah kartu identitasnya dalam proses administrasi apa pun.


“Jadi, apa kau ingin bilang kalau Raya benar-benar sudah menghilang? Apakah mencari satu orang wanita saja kau tidak bisa? Kau benar-benar tidak becus!” cecar Karan yang geram mendengar penjelasan Ian. Ia bukan hanya marah kepada asisten pribadinya itu karena tidak bisa menemukan istrinya, ia juga marah kepada dirinya sendiri. Seandainya saat itu ia tidak membiarkan Raya pergi. Seandainya ia tidak hanya mengancam Raya dengan perpisahan tetapi yang lebih ekstrem lagi seperti mematahkan kakinya, mungkin saja Raya tidak akan benar-benar pergi darinya.


Rasa penyesalan itu membuat Karan semakin geram. Setiap detik yang ia habiskan tanpa Raya di sisinya memberikan dampak yang begitu signifikan dalam hidup Karan. Pria itu menjadi tidak terurus, baik secara mental maupun fisik. Selain tampilannya yang berantakan, pola hidupnya pun semakin hari semakin berantakan. Entah kapan terakhir kali ia bisa makan dengan nikmat. Karan juga tidak ingat kapan ia bisa tidur dengan nyenyak. Karan baru menyentuh makanannya saat asam lambungnya sudah naik yang membuatnya mau tidak mau harus mengisi perutnya yang kosong. Karena kalau tidak, ia mungkin bisa mati karena kelaparan tanpa bisa menemukan istrinya.


Atau Karan akan tertidur saat Ian melarutkan obat tidur ke dalam kopi yang sedang Karan minum. Bukan Karan tidak tahu ada campuran sesuatu dalam kopi miliknya karena rasanya jelas berbeda dengan biasanya, tetapi Karan tetap meminumnya. Pertama karena ia percaya Ian tidak akan mengkhianatinya—tidak seperti istrinya sendiri. Kedua, Karan memang benar-benar ingin beristirahat barang sejenak, tetapi ia lupa bagaimana caranya. Denagn mengonsumsi obat tidur itu, Karan akhirnya bisa tidur setelah belasan jam melakukan pencarian terhadap Raya.


“Apa masih tidak ada kabar dari masyarakat? Kau benar-benar memantau media sosial kita dengan benar, kan?” Karan berbicara lagi setelah menghisap rokoknya yang entah sudah batang keberapa hari ini. Sebab selain secangkir kopi yang siap tersaji di atas meja kerjanya, hanya beberapa bungkus rokok yang menemani Karan melewati hari-harinya.


“Media sosial perusahaan dan punya Ibu Raya, serta website perusahaan sudah kami periksa setiap jam, Pak. Saya juga sudah menaruh beberapa orang untuk mengawasinya setiap saat. Tapi sampai sekarang, tidak ada satu pun masyarakat yang melaporkan tentang keberadaan Ibu Raya.”


Karan juga memikirkan keanehan ini. Tidak mungkin Raya bisa memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari jika wanita itu melakukannya sendiri. Pasti ada orang yang membantu Raya. Dan Karan harus melacak siapa orang yang berada di sisi istrinya. “Ian, segera beri penjagaan ketat untuk Bibi Raya dan manajernya. Aku yakin salah satu di antara mereka pasti ada yang mengetahui keberadaan Raya sekarang. Awasi setiap gerak-gerik mereka dan segera laporkan padaku jika ada yang ganjil,” tukas Karan memberikan perintah.


Hanya dua orang itu saja yang dekat dengan Raya, artinya jika bibi sang istri tidak tahu, kemungkinan besarnya manajer istrinya mengetahui keberadaan wanita itu. Tetapi kedua orang itu terlihat santai-santai saja dengan pemberitaan ini. Seolah-olah tidak merasa cemas padahal Karan sudah mengumumkan bahwa Raya telah pergi dari rumah dan sampai sekarang masih belum kembali. Sang manajer tetap mengerjakan pekerjaannya sebagai manajer artis lain tanpa terganggu sama sekali. Begitu pula dengan bibi Raya yang tetap menjalankan bisnis kecil-kecilannya dan beraktivitas dengan lancar. Padahal mereka orang terdekat Raya. Orang yang memberikan perhatian lebih kepada wanita itu.


Masa ketika Karan memberikan kabar kepada media bahwa keberadaaan Raya tidak ditemukan, mereka masih bisa menjalani hidup dengan tenang-tenang saja? Tidak ada satu pun melayangkan protes kepada Karan. Atau minimal melakukan pencarian secara mandiri. Mereka bertingkah seolah-olah mereka tahu dengan pasti di mana dan bagaimana keberadaan Raya sebenarnya.


Tepat saat Ian hendak keluar dari ruangannya, Karan teringat sesuatu. Raya punya sebuah penyakit yang membuatnya akan kehilangan kesadaran ketika ingatannya terbuka. Pria itu merutuki kebodohannya karena meluputkan sebuah tempat dalam pencarian ini. Rumah sakit. Karan sama sekali tidak meminta Ian mencari Raya di rumah sakit yang ada di ibu kota karena fokusnya hanya ingin mencegah kepergian Raya. Padahal jika Raya sampai tidak menunjukkan wajah ke publik dan Karan menduga ada seseorang yang mengurus semua kebutuhannya, jawabannya bisa saja rumah sakit.


Di sana privasi pasien bisa terjamin apalagi Raya adalah seorang artis terkenal. Dan para perawat akan mengurus semua kebutuhan pribadi sang istri tanpa harus membuat wanita itu melangkahkan kakinya. Benar-benar bodoh! Karan merasa otaknya tidak berfungsi dengan baik karena dilingkupi oleh emosinya. Andai ia bisa tenang sedikit saja, mungkin ia bisa berpikir lebih jernih.


“Tunggu Ian! Ada satu tempat yang belum kita kunjungi. Sekarang kau suruh orang-orang itu mencari juga keberadaan istriku di rumah sakit. Mungkin dia ada di sana,” perintah sang CEO kepada asistennya sebelum lelaki itu sempat melangkahkan kaki ke luar ruangannya. Suaranya yang besar mampu menahan laju kaki Ian.


Ian yang hendak pergi pun terhenti langkahnya. Ia berbalik, menghadap Karan dan mengangguk dengan pasti. “Baik Pak. Saya akan mencari di rumah sakit,” katanya dengan penuh percaya diri. Sama seperti Karan, Ian juga mengumpati dirinya sendiri karena luput mencari Raya di rumah sakit. Mungkin karena wanita itu terlihat begitu sehat sebelum keluar dari rumah Karan. Atau mungkin karena Ian terlalu fokus memenuhi perintah Karan yang lain. Padahal rumah sakit adalah tujuan utama saat melakukan pencarian orang. Karena di sanalah biasanya orang dapat bersembunyi dengan baik.


Kali ini entah mengapa, Ian merasakan firasat yang sangat baik. Mungkin sebentar lagi ia bisa menemukan titik terang tentang keberadaan istri dari pemimpin perusahaan Reviano Group tersebut. Untuk itu, Ian akan mengerahkan lebih banyak orang dalam proses pencarian ini.


Karan tidak pernah peduli dengan anggaran yang digelontorkan dalam pencarian ini. Yang terpenting bagi laki-laki itu adalah keberadaan istrinya. Saat Ian menemukan di mana lokasi Raya berada, Karan tidak akan peduli sekalipun Ian telah menghabiskan uangnya dalam jumlah yang fantastis. Jadi, Ian bisa dengan maksimal mengerahkan orang untuk mencari Raya. Ia berjanji akan menemukan sang super model apa pun yang terjadi.