Lies

Lies
Mengawasi Dari Jauh



Awalnya bibi Karan memang ingin pergi dari sana cepat-cepat. Namun, saat matanya melihat pemandangan janggal tersebut, ia pun memfokuskan penglihatannya dan mengurungkan niatannya. Pelan-pelan ia melangkah masuk dan bertanya pada sang keponakan. “Karan, di mana tanda lahirmu?” Bibi Karan ingat sekali letak dan bentuk tanda lahir Karan. Sejak lahir ia sudah melihat Karan, bahkan beberapa kali ia sempat memandikan Karan saat masih tinggal di keluarga kakak dan kakak iparnya bersama ibu mereka. Tanda lahir berwarna merah yang ada di punggung sebelah kanan Karan. Ia bisa ingat karena bentuknya sangat unik, yaitu berbentuk huruf L. Bentuk itulah yang sering menjadi bahan bercandaan ia dan kakak iparnya, ia menanyakan apakah sang kakak ipar berselingkuh dengan wanita lain dengan inisial huruf L. Yang kemudian dibantah dengan tegas oleh sang kakak ipar.


“Apa?” Karan tersentak. Buru-buru ia mengambil kemeja putihnya untuk menutup punggungnya sebab kemejanya masih berada di dalam tas yang dipeggang oleh sang istri. Seolah-olah pria itu tidak mau tubuh bagian belakangnya dilihat oleh sang bibi. Bukan karena rasa malu, melainkan sesuatu yang lain. Karan seperti sedang menutup-nutupi sebuah rahasia dari sang bibi dan terutama dari istrinya yang berada tak jauh darinya itu.


Tanpa canggung sama sekali sang bibi menghampiri Karan. Ia membuka paksa kemeja Karan dan menunjuk tempat yang ia pikir sebagai tempat tanda lahir Karan berada. “Ini, di sini. Harusnya ada di sini tanda lahirmu. Kenapa sekarang tidak ada?”


Wajah Karan berubah kaku, tubuhnya juga menegang. Pria itu tidak langsung menjawab, tapi seperti sedang berpikir sesuatu. Saat ia mendapatkan sesuatu di kepalanya, barulah ia menanggapi ucapan sang bibi. “Ah, tanda lahir itu. Tanda lahir berwarna merah itu bukan? Aku mengoperasinya sewaktu kuliah di New York. Mama dan Papa sudah mengizinkannya karena tanda itu dianggap sebagai pembawa sial.”


“Pembawa sial? Pembawa sial bagaimana?”


“Maksudku, tanda itu dihilangkan agar aku terhindar dari penyakit. Tante ‘kan tahu sejak kecil aku sakit-sakitan. Tapi saat kondisiku pulih dan tanda itu dihilangkan, kondisiku semakin baik. Buktinya aku sehat-sehat saja sekarang.”


“Oh, begitu. Syukurlah kalau kau jadi semakin sehat. Ya sudah, kalau begitu Tante kembali ke ballroom. Kalau kalian sudah selesai, kembalilah ke ballroom. Masih ada satu acara lagi. Jangan langsung pulang karena Tante masih membutuhkan Raya,” tukas sang bibi. Ia menyentuh tangan Raya sebentar, lalu keluar dari tempat itu. Sementara Raya merasa bingung. Ia mulai bertanya-tanya tentang apa yang baru saja disebutkan sang bibi. Tanda lahir Karan. Sejak pertama kali menikah, Raya sudah melihat seluruh tubuh Karan. Ia tahu lokasi-lokasi bekas luka lama Karan meskipun pria itu tidak ingin menjelaskan di mana ia mendapatkan luka-luka itu. Dan selama tiga bulan ini, Raya sama sekali tidak pernah melihat adanya tanda lahir yang menempel di tubuh sang suami.


“Tanda lahir apa?” tanya Raya usai menutup pintu. Kali ini ia benar-benar mengunci pintu agar tidak ada yang masuk ke dalam seperti yang dilakukan oleh bibi sang suami. Kemudian, ia mendekati Karan yang telah melepaskan kemejanya lagi.


“Tanda lahir warna merah, Sayang. Kalau tidak salah bentuknya L. Ada di punggung sebelah kananku.” Karan mencoba menjelaskan kepada istrinya tanpa menimbulkan kecurigaan sama sekali. Agar percakapan tentang tanda lahir itu tidak berlangsung lama, Karan langsung mengambil salah satu tas yang ada di tangan Raya. Ia membukanya dan melihat kemeja birunya ada di sana, warna yang sama dengan dres yang akan dikenakan sang istri. “Kau tidak mau ganti baju? Nanti Tante mencari kita karena terlalu lama.”


Raya mengangguk. Ia pun mulai berganti pakaian. Berbeda dengan Karan, Raya memilih berganti pakaian di dalam kamar mandi yang ada di sana. Memang benar sang bibi mengatakan tidak ada kamera CCTV di ruangan itu. Namun, tetap saja Raya merasa khawatir. Karan laki-laki yang bisa dengan mudah membuka pakaiannya. Terlebih Karan hanya perlu menukar kemeja dan jasnya saja. Sementara Raya harus melepaskan dres putihnya yang artinya ia hanya akan menunjukkan tubuhnya yang berbalut pakaian dalam.


“Kau sudah selesai, Sayang? Apa perlu bantuan?” seru Karan dari luar kamar mandi. Ia mendengar suara napas Raya yang kasar dan sedikit gerutuan dari dalam sana. Sepertinya sang istri sedang mengalami kesulitan besar. “Raya!” panggil Karan lagi.


“Ya ampun!” Karan balik menggerutu. Ia menjangkau ritsleting dres Raya, namun bukan untuk menutupnya. Pria itu malah mempermainkan benda tersebut. “Bagaimana ini Sayang? Kau sangat menggodaku. Aku jadi tidak ingin melepasmu,” bisik Karan di telingga Raya. Ia bahkan masih sempat melayangkan sebuah kecupan ringan di leher jenjang sang istri, tempat di mana ia meletakkan sebuah kalung berbandul berlian indah. Kalung yang dibelikan Karan secara khusus untuk sang istri. Harganya pun terbilang cukup fantastis, setidaknya seharga gaji semua pekerja di rumah mereka selama sebulan. Awalnya Raya memang tidak ingin memakainya, wanita itu takut kalung mahalnya hilang. Sayangnya Karan tidak suka penolakan. Ia lebih suka kalung itu hilang setelah dipakai Raya ketimbang hanya menjadi penghias lemari perhiasan wanita itu saja.


“Karan, tidak boleh. Kita harus kembali ke dalam. Kita sudah berjanji pada Tante. Juga sebentar inti dari acara amal dimulai. Kita sudah sejauh ini, tidak boleh ada satu pun yang terlewat.” Maksudnya adalah inti untuk menyampaikan siapa donatur terbesar dalam acara amal tersebut yang tentu saja adalah Karan dan Raya. Ah, tidak. Sebenarnya hanya Karan saja karena Raya menggunakan uang suaminya dalam acara lelang, sedangkan Karan secara pribadi sudah memberikan sumbangan baik secara pribadi maupun dari yayasan perusahaan. Dengan ketiga sumber itu, pasangan Karan dan Raya akan menjadi pasangan yang paling disorot karena dicap sebagai orang-orang dermawan.


Karan menyeringai senang. Ia menarik ritsleting Raya kendati ia lebih suka melucuti pakaian sang istri. Yang membuat Karan senang adalah kenyataan bahwa Raya mempunyai pemikiran yang sama dengannya. Pemikiran untuk memanfaatkan setiap celah demi keuntungan mereka. Karena pada dasarnya tidak ada yang dirugikan dalam rencana mereka. Karan benar-benar menyalurkan uang untuk masyarakat tak mampu di negara ini. Ia juga mengelola yayasannya dengan baik tanpa mengambil keuntungan finansial dari yayasannya. Satu-satunya yang Karan dapatkan hanyalah pencitraan dan label yang masyarakat sematkan padanya dan perusahaannya. Semacam teknik pemasaran dengan cara yang lebih murah dan bermanfaat untuk banyak orang.


Alhasil, penilaian terhadap setiap produk yang dikeluarkan Reviano Group akan baik. Masyarakat selalu menunjukkan tingkat kepuasan yang besar. Malah jika ada hal-hal negatif tentang perusahaan induk maupun anak-anak perusahaan Reviano Group, Karan tidak perlu menyuruh tim hukum atau humasnya sebagai juru bicara perusahaan. Masyarakat sendiri yang akan membela perusahaan Karan. Bukankah itu keuntungan yang sangat besar? Naif jika Karan tidak mempertimbangkan aspek itu sebab ia adalah seorang pengusaha yang selalu memikirkan keuntungan dan kerugian dalam setiap kegiatan.


“Kau benar-benar membuatku tergoda, Raya. Aku tidak bisa mengalihkan mataku dari pesonamu,” puji Karan. Ia memeluk istrinya dan mencium bibir wanita itu dalam dan sedikit intens. Seandainya Raya tidak mendorongnya, Karan pasti tidak akan melepaskan bibir merah muda milik sang istri.


“Kau membuat lipstikku berantakan!” tukas Raya kesal. Ia benar-benar marah pada suaminya karena sudah menghancurkan riasannya.


Bukannya merasa bersalah, Karan malah tertawa. “Hahaha, baiklah baiklah. Maafkan aku. Ayo cepat benarkan lipstikmu supaya kita bisa kembali ke ballroom.”


Meskipun dalam keadaan kesal, Raya tetap mengikuti kata-kata suaminya. Ia membuka tasnya dan mengambil sebuah lipstik yang selalu ada di sana. Inilah yang dinamakan persiapan seorang wanita. Selain dompet dan ponsel, para wanita wajib membawa make up sederhana, setidaknya lipstik dan bedak.


Setelah Raya selesai berdandan, Karan membawa istrinya keluar dari ruangan itu dan mereka pun berjalan ke arah ballroom. Mereka pergi tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang tengah mengamati mereka dari kejauhan. Orang itu adalah Reagan, sang model yang kini berubah profesi menjadi seorang aktor. Kedua mata Reagan melekat pada pasangan itu, terutama pada rekan kerjanya, Raya Drisana.