
Bukan tanpa alasan Karan membawa Sekar ke acara arisan keluarga hari ini. Karan punya alasan kuatnya. Salah satunya tentang bisnis. Ya, Sekar sekarang bukan hanya seorang artis yang wara-wiri mengisi sinetron televisi atau pun jadi bintang layar lebar. Selain sebagai bintang iklan yang cukup terkenal hingga menjadi brand ambassador produk-produk kelas dunia, Sekar kini dipekerjakan Karan sebagai direktur rumah produksi perusahaan mereka. Kecakapan Sekar ditambah pengalamannya di industri hiburan sudah lebih dari cukup untuk itu. Sehingga hari ini, atas izin dari ayahnya, Karan membawa Sekar masuk ke dalam acara keluarga.
Karan juga punya alasan lain, yaitu pusat perhatian. Karan sudah menduga keluarga besar kedua belah pihak, baik dari pihak ibu mau pun pihak ayahnya akan mengerubungi seperti kumpulan semut mengitari madu. Pasalnya Karan sangat jarang terlibat dalam acara keluarga. Meskipun sebagai anak tunggal yang akan mewarisi hampir semua kekayaan keluarganya, Karan selalu mencari cara untuk menghindar. Selain karena merepotkan mereka juga akan mengajukan banyak pertanyaan yang membuat Karan pusing. Dan kehadiran Sekar akan menyedot perhatian keluarga. Status keartisannya lebih menarik perhatian ketimbang status Karan.
Semua itu telah Karan pikirkan matang-matang. Ia pun menjemput Sekar sebelum pergi ke rumah utama. “Jangan duduk di sini. Kau duduk saja di depan bersama Ian,” ucap Karan melarang saat Sekar hendak membuka pintu mobil bagian belakang. Tentu saja Sekar tidak diizinkan duduk di kursi yang selalu diduduki oleh Raya. Setelah menikah, tidak ada satu orang pun yang bisa duduk di sana, kecuali sang istri. Dan Karan begitu tegas menjunjung prinsipnya.
Meskipun menggerutu, Sekar tetap berpindah ke depan, tepatnya kursi yang ada di samping Ian. Tidak ada yang membukakan pintu untuknya padahal ia adalah seorang bintang besar. Padahal sebelumnya, ia selalu diperlakukan orang lain bak seorang ratu. Tidak ada yang pernah memperlakukannya buruk bahkan tidak menghargai tindakannya. Seandainya Karan bukan seorang pengusaha yang harus bekerja sama dengannya, sudah pasti Sekar akan mengungkap kepribadian Karan yang sesungguhnya ke publik.
Sekar tidak suka suasana sunyi. Ia bertanya kepada Ian yang sedang menyetir. “Bagaimana penampilanku, Ian? Apakah aku cantik?” Sekar menggunakan dres ranjangan desainer Italia. Tentu saja pakaian itu akan bagus. Hanya saja Sekar ingin mengonfirmasinya secara langsung melalui Ian. Sebenarnya Sekar ingin bertanya pada Karan. Tapi pria yang sudah beristri itu tidak akan menjawab pertanyaannya. Ia akan mengatakan dengan lantang bahwa Raya Drisana adalah wanita tercantik di matanya.
Ian melihat sekilas tampilan Sekar, pria itu pun mengangguk. “Iya, Anda terlihat sangat cantik, Bu,” katanya dengan sopan, lalu kembali menyetir. Bagi Ian, Sekar memang terlihat cantik. Jika tidak cantik, bagaimana mungkin wanita itu bisa menjadi seorang artis? Di Indonesia bakat memang berpengaruh, tapi yang paling memiliki efek signifikan adalah penampilan wajah. Tidak masalah jika seorang artis tidak terlalu berbakat asal punya wajah rupawan. Namun hal berbeda jika artis itu berbakat tapi rupanya tak sedap dipandang mata. Sang artis akan menjadi bulan-bulanan ejekan warga internet.
Sekar tidak cukup puas dengan jawaban Ian, tapi itu jauh lebih baik ketimbang Karan yang tidak bereaksi sama sekali. Jangankan untuk memujinya, bahkan meliriknya pun tidak. Karan sangat berfokus pada ponselnya sambil beberapa kali berbicara dengan Ian. Ia tidak peduli apakah Sekar ada atau tidak ada di dalam mobilnya. Kendati merasa kesal karena diabaikan, tapi Sekar tetap menyukai Karan. Suami yang hanya memperhatikan istrinya saja dan menolak kehadiran wanita lain. Siapa istri yang tidak mau suaminya bersikap seperti itu?
“Ingat, kau harus menyakinkan Papa agar bisa bergabung. Meskipun kau punya persetujuanku, aku hanyalah wakil direktur utama perusahaan Papa. Selama Papa masih hidup, semua keputusan akhir ada di tangan Papa.” Karan mengingatkan lagi pada Sekar tujuan kedatangan wanita itu ke rumah utama. Proyek ini sangat penting bagi Karan. Bagi pernikahannya.
Jika Karan bisa menggantikan direktur rumah produksi mereka dengan Sekar, maka Karan punya wewenang lebih banyak untuk mengendalikan bagian internal yang tidak bisa ia lakukan karena orang kepercayaan sang ayah masih menduduki posisi tersebut. Jika Karan sudah mengambil alih, ia akan membuat istrinya bekerja di sana. Tentu sebagai seorang artis. Jadi, ini adalah solusi jangka panjang yang sangat menguntungkan bagi mereka semua. Raya akan bisa tetap bekerja, sedangkan Karan akan bisa memantau kegiatan Raya dengan mudah.
Sekar menghela napas panjang. “Ya, ya. Kau tenang saja. Aku akan membuat ayahmu terpesona olehku hingga dia menyesal tidak memilihku sebagai seorang menantu.”
Ucapan itu ditanggapi oleh Karan dengan dingin. “Sekalipun Papa setuju, tidak ada satu pun anaknya yang mau menikah denganmu.”
“Sial!” umpat Sekar kesal. Ucapan Karan itu memiliki makna tersirat yang begitu menohok, artinya Karan tidak akan menikahinya walaupun ayah pria itu telah merestui pernikahan mereka. Sekar tidak tahu penolakan Karan akan begitu kejam kepadanya.
*****
Membawa Sekar ke dalam acara keluarga nyatanya merupakan pilihan yang tepat bagi Karan. Ayahnya setuju dengan usulan penggantian direktur rumah produksi yang lama dengan Sekar, bahkan menyetujui beberapa program yang telah Sekar tawarkan. Artinya Karan sudah mendapatkan lampu hijau untuk memuluskan rencananya. Kini yang ia lakukan hanyalah membujuk Raya untuk bergabung dengan perusahaannya. Tidak ada salahnya suami dan istri bekerja di satu perusahaan yang sama. Lagi pula, Karan tidak bertindak langsung. Ia hanyalah pimpinan pusat yang akan memantau salah satu cabang perusahaannya.
“Jadi, apakah kalian akan pulang?” tanya ibu Karan ketika acara sudah selesai. Selain keluarga inti, tidak ada lagi yang tinggal di rumah utama. Dan seketika rumah besar yang awalnya begitu ramai, hanya dalam waktu setengah jam langsung berubah sangat sepi. “Tidak menginap saja di sini?”
Karan tidak bisa menginap, dan ia pun tidak mau melakukannya. Sehingga ia ingin menolak ajakan sang ibu. “Tidak Ma, kami harus pu—”
“Baiklah Ma. Aku akan menginap di sini,” timpal Raya secara tiba-tiba memotong ucapan Karan.
Sama seperti Karan, sang ibu pun terkejut. Ia memang tidak sekadar basa-basi menawarkan putra dan menantunya menginap di rumah itu. Seandainya pun mereka menginap, ia sama sekali tidak keberatan. Tapi perempuan tua tersebut tidak menyangka menantunya akan mengiyakan ucapannya sedangkan Karan dengan jelas ingin menolaknya. Sepertinya ada yang tidak beres dengan hubungan keduanya. Mereka tampak seperti pasangan yang sedang bertengkar.
“Sayang, kenapa kita menginap di sini? Kita punya rumah sendiri, Sayang. Dan bukankah besok kau harus bekerja?” tukas Karan berusaha mengajak Raya untuk pulang. Bukan tanpa alasan Karan menolak menginap di rumah orang tuanya. Pertama, seperti yang ia sebutkan sebelumnya, mereka sudah punya rumah pribadi yang tidak kalah besar dan mewah dari rumah itu. Kedua, menginap di sana tidak akan membuat Karan leluasa, terutama jika ia ingin bermesraan dengan sang istri. Tentu saja Karan merasa canggung dan malu melakukan hal-hal intim di rumah orang tuanya.
“Kita memang punya rumah, tapi memangnya kita tidak boleh menginap di sini? Apakah aku tidak boleh ada di sini, Ma?” Raya sengaja mengajak sang ibu mertua berbicara.
Embusan napas kasar terdengar keluar dari mulut Karan. Ia menyentuh tangan istrinya dan menggenggamnya. “Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau tiba-tiba ingin menginap di rumah ini?” Pria itu masih tidak habis pikir dengan sikap Raya hari ini. Padahal saat pertama masuk Raya tampak biasa saja. Istrinya masih menjawab ucapannya seperti biasa. Tetapi semua berubah ketika Raya mengganti pakaian. Wanita itu tampak marah dan kesal atas sesuatu yang bahkan Karan saja tidak tahu apa penyebabnya.
Agar tidak menambah perselisihan, ibu Karan pun angkat suara. “Kenapa kau tidak mau menginap di sini Karan? Istrimu ingin di sini, menginaplah satu hari. Besok kalian bisa pulang ke rumah kalian lagi,” katanya mengutarakan sebuah solusi.
Raya mengangguk setuju. “Mama benar, Karan. Aku tidak ada pekerjaan besok, jadi tidak perlu terburu-buru pulang. Lagi pula, ini pertama kalinya aku menginap di sini sebagai seorang menantu. Aku ingin menunjukkan sikap yang baik pada Mama dan Papa. Kita menginap di sini ya? Satu malam saja. Mama dan Papa saja sudah pernah menginap di rumah kita, masa kita tidak pernah menginap di sini?” Wanita itu memohon pada suaminya tentu dengan maksud tertentu. Raya ingin mencari tahu lebih banyak lagi tentang masa lalu Karan. Dan Raya pikir satu-satunya tempat yang bisa menjawab semua rasa ingin tahunya hanyalah rumah itu.
Di samping itu, Karan telah membuat Raya terluka. Tidak masalah jika Karan hendak bersama wanita lain, apalagi jika ini menyangkut tentang pekerjaan. Tetapi yang tidak bisa Raya terima adalah adanya sebuah ketidakadilan di sini. Karan boleh mengatur hidup Raya, memarahinya jika berdekatan dengan pria lain, membatasi pergaulannya bahkan sampai menentang pekerjaannya. Karan juga sampai merusak sistem keamanan yang ada di ponselnya hanya demi mengetahui siapa saja yang dekat dengan dirinya. Tetapi tidak terjadi dengan sebaliknya. Karan menghindari Raya setiap kali wanita itu ingin mengulik tentang masa lalu. Menolak menceritakan apa saja yang sedang dilakukan oleh pria itu sehari-hari. Bahkan sekarang, membawa wanita asing di acara keluarga.
Terlebih ketika Karan tidak langsung menghampirinya dan memilih mengenalkan Sekar pada orang tuanya. Jika dilihat dari posisi Raya, Sekar tampak tak seperti rekan kerja biasa. Wanita itu seperti ingin menggantikan posisinya sebagai istri Karan. Itu membuat Raya marah dan sakit hati. Ia juga merasa sangat marah ... mungkin juga sedikit cemburu.
“Baiklah, kita menginap di sini.” Karan akhirnya mengalah pada keinginan sang istri. “Tapi hanya satu malam karena ada yang harus aku urus besok pagi di luar kota,” sambungnya lagi.
“Kalau kau memang buru-buru, kau bisa pulang ke rumah sekarang, Karan. Pakaianmu belum disusun. Kalau kau pergi besok pagi, mungkin kau akan ketinggalan pesawat.”
Karan menggeram. Ia menguatkan remasannya setelah mendengar kalimat bak pengusiran yang Raya lontarkan padanya. “Tidak Sayang. Bagaimana aku bisa tidur tanpa kau di sampingku?”
Raya nyaris tertawa geli. Selama ini Karan baik-baik saja. Pria itu lebih sering pergi ke luar kota ketimbang berada di dalam rumah. Bukankah itu menandakan bahwa Karan bisa tidur dengan nyenyak tanpanya? Tapi ya sudahlah. Raya akan membiarkan Karan ikut menginap di sini karena ia yakin Karan akan pergi pagi-pagi buta untuk mengejar penerbangan pertama. Pria itu selalu melakukannya ketika hendak keluar negeri dan Raya tidak bisa melarangnya.
“Ya sudah, kita menginap saja di sini,” ungkap Raya setuju.
Setelah makan malam bersama, obrolan orang tua Karan ke Raya terbilang cukup singkat. Karena faktor usia mereka jadi lebih sering merasa letih sehingga mereka memilih untuk beristirahat terlebih dulu. Sedangkan Raya dan Karan mau tidak mau pindah ke tempat tidur yang berada di lantai atas. Bukan di kamar tamu, tetapi di kamar yang pernah Karan tempati sebelum memiliki rumah pribadinya sendiri.
“Raya duduk!” perintah Karan pada sang istri yang tampak ingin melarikan diri darinya.
“Kita akan bicara, tapi aku mau mandi dulu,” elak Raya.
Karan menggeleng dengan tegas. “Kau bisa mandi nanti. Sekarang duduk dan katakan padaku apa yang kau lakukan ini? Kenapa kau tiba-tiba memutuskan menginap di sini?”
“Kenapa? Apa tidak boleh? Kenapa kau tidak ingin aku di sini? Apakah ada yang kau sembunyikan dariku? Apakah ada yang orang lain ketahui tapi aku tidak boleh tahu?”
“Apa?” Karan tersentak. “Aku tidak mengerti, sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan ini?”
“Jadi kau tidak mengerti? Kenapa? Apakah bahasaku lebih sulit dicerna dari bahasa wanita lain?”
Karan benar-benar kebingungan sekarang. Ia tidak mengerti ke mana arah Raya berbicara. “Wanita lain? Kau sedang membicarakan tentang apa Raya? Aku hanya membahas tentang acara menginap dadakan kita di sini. Kenapa kau tiba-tiba membahas wanita lain?” Setelah Karan berpikir lebih jauh, akhirnya ia menemukan satu penyebab pasti yang membuat istrinya bersikap aneh seharian ini. “Tunggu dulu! Apakah kau sedang membicarakan Sekar? Kau cemburu padanya?”