
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Membuat tidur gadis cantik dan rupawan menjadi terganggu, ketika sinar mentari menelisik seisi kamar. Membuat wajah cantik Dewi terkena sinar mentari. Hal itu membuat Dewi langsung bangkit dari pembaringannya.
Huyemmmm......
Dewi menguap. lalu ia bergeliat menatap seisi ruang kamarnya. "Waduh ini sudah siang aku harus bekerja." ucap Dewi dalam hati sambil langsung bangkit dari pembaringannya. Ia berlari keluar dan masuk ke kamar mandi. "Ada apa sih Kak? kok lari-lari seperti itu? tanya Mia, menatap sang kakak yang berlari masuk ke kamar mandi.
"Kakak telat bangun. Padahal kakak harus masuk kerja hari ini." ucap Dewi membuat Mia langsung tertawa ngakak. Memangnya Sejak kapan Kak Dewi bekerja di weekend seperti ini? tanya Mia membuat Dewi langsung membalikkan badannya menatap Mia.
"Apa?
"Weekend?
"Ya iyalah. ini kan hari Minggu," Sejak kapan pula Kakak bekerja di hari Minggu." ucap Mia membuat Dewi menepuk jidatnya.
"Kamu serius ini hari Minggu?
"Ya serius kak tidak mungkin aku bohong. ngapain juga harus bohong sama kakak."Celetuk Mia sambil berlalu meninggalkan sang kakak di sana.
Sementara Ibu Sarah sudah mulai membuat adonan untuk memasak gorengan berharap jualan gorengannya kali ini laris Manis. Ketika Dewi telah usai menyelesaikan ritual mandinya, Dewi menghampiri Ibu Sarah yang sedang menggoreng, gorengan pisang dan juga bakwan. Ibu mau jual gorengan hari ini? tanya Dewi sembari langsung membantu ibu Sarah menggoreng gorengan pisang itu.
"Ya, kebetulan ibu-ibu pengajian memesan kepada ibu. Katanya Mereka ada acara hari ini." ucap Ibu Sarah sembari terus membuat gorengan pisangnya. "Memangnya Berapa banyak pesanan mereka Bu? lumayan lah sepertinya Hari ini Ibu mendapat rezeki lebih.
Dewi merasa bersyukur ibunya mendapatkan pesanan gorengan dari ibu-ibu pengajian yang ada di lokasi tempat tinggal mereka. Ketika ibu Sarah sudah menyelesaikan gorengan miliknya. Kini giliran Mia yang berceloteh. "Bu nanti kalau bayaran pisang gorengnya sudah dibayar, bisa tidak Mia meminta uang sepuluh ribu saja? tanya Mia berhati-hati. Takut ibunya tidak mengizinkan.
"Memangnya uangnya untuk apa nak?
"Ada sesuatu yang ingin aku beli, gunanya untuk mengerjakan kerajinan tangan di sekolah. sahut Mia sembari menunduk karena ia takut kalau ibu Sarah tidak akan memberikan uang itu kepadanya.
"Boleh, tetapi jika bayaran gorengannya sudah dibayar ya nak." sahut Ibu Sarah membuat Mia langsung mengembangkan senyumnya. sementara Sean yang sudah dari tadi hanya sebagai pendengar di sana, membuat Sean pun menggelengkan kepala. Memangnya untuk apa uang sebanyak sepuluh ribu Kak? bukankah sudah Sean kerjakan kerajinan tangan Kakak? tanya Sean membuat Dewi dan ibu Sarah mengerutkan keningnya.
"Memangnya kamu mengerjakan kerajinan tangan milik ka Mia? tanya Dewi penasaran. "Ya iyalah. Kak Mia kan tidak mengetahui cara membuatnya. tadi Kak Mia meminta bantuan ku dan aku mengerjakannya dengan syarat dia harus membayar kepadaku sebesar sepuluh ribu. Tapi itu aku hanya bercanda ucap Sean sembari terkekeh.
Ibu Sarah menatap Sean dan Mia secara bergantian. Membuat Ibu Sarah menggelengkan kepala menatap yang tidak tahan kerajinan tangan yang diberikan guru kepadanya. Padahal dengan mudah Sean melakukannya.
"Sudah Bu tidak perlu dikasih uang sepuluh ribu-nya kepada Kak Mia. Karena uang itu sebenarnya aturan untuk Sean." sahut Sean sembari langsung meninggalkan ketiga wanita yang sangat ia sayangi di sana.
"Kamu ini buat malu kakak saja." gerutu Mia kesal melihat Sean yang berterus terang kepada kakak dan ibunya. Kak biasa kan terus terang dan Jangan berbohong kepada orang tua. Kakak bisa saja berbohong kali ini. Tetapi untuk menutupi kebohongan kakak hari ini, maka tidak menutup kemungkinan kakak harus berbohong berikutnya." ujar Sean membuat ketiga wanita yang ada di sana menatap Sean dengan tatapan penuh arti.
15 menit kemudian, sosok Carlos datang menghampiri Dewi ke rumah kontrakan yang ditempati keluarga Dewi. Membuat Ibu Sarah bingung dengan kedatangan Carlos ke rumah kontrakan sederhana yang mereka tempati.
"Permisi Bu, saya Carlos ingin bertemu dengan Dewi apa dewinya ada di rumah?" tanya Carlos kepada Ibu Sarah yang sudah membereskan gorengan miliknya untuk di hantar oleh Mia ke acara ibu-ibu pengajian yang ada di lokasi tempat mereka tinggal.
"Oh ada!" sebentar saya panggilkan." ucap Ibu Sarah sembari langsung berlalu meninggalkan Carlos di teras rumah. "Dewi sepertinya ada Pak Carlos mencari kamu lebih baik kamu langsung temui saja dia." ucap Ibu Sarah kepada Dewi sambil langsung meninggalkan Dewi begitu saja berlalu ke dapur berniat untuk membuat minuman untuk Carlos.
Dewi menghampiri Carlos. Ia bingung apa tujuan Carlos datang ke rumah kontrakannya.
"Eh ada Pak Carlos, Ada apa Pak menghampiriku ke rumah kontrakan kami yang tak seberapa ini? tanya Dewi sambil mengembangkan senyumnya.
" Malas saja di rumah. Lebih baik main di sini kebetulan ini weekend." sahut Carlos sambil menelisik seisi kontrakan yang ditempati oleh Dewi dan keluarganya. Rumah ini kecil sederhana, tetapi sangat rapi dan bersih." batin Carlos Sembari menatap sebuah potret yang ada di dinding ruang tamu.
"Apa aku mengganggu waktu kamu?
"Tidak sama sekali. Kebetulan kami tadi sudah selesai menggoreng pesanan ibu-ibu pengajian. Jadi santai saja." sahut Dewi sambil mengembangkan senyumnya. Ibu Sarah datang menghampiri Dewi dan juga Carlos yang berada di ruang tamu. Duduk di atas tikar yang sudah dibentangkan oleh ibu Sarah sebelumnya.
"Beginilah keadaan kami pak Carlos, Maaf hanya bisa kami hidangkan seperti ini." ucap Ibu Sarah sembari menyuguhkan gorengan pisang dan dua gelas kopi di ruang tamu yang beralaskan tikar yang sudah dibentangkan.
"Tidak apa-apa Bu. Justru saya mencari suasana seperti ini. Carlos lagi males aja di rumah. Sehingga Carlos langsung datang ke sini. Maaf sudah mengganggu waktu ibu dan juga Dewi."
"Tidak kok Nak Carlos. Kami tidak merasa terganggu. Justru kami bersyukur ternyata sosok pak Carlos Sudi datang ke rumah kontrakan kami yang sederhana ini.
Saya tidak menyangka kalau Pak Carlos mau menginjakkan kaki di rumah seperti ini." ucap Ibu Sarah sembari mengembangkan senyumnya.
" Ibu ada-ada saja. Di dunia ini tidak ada yang lebih membahagiakan selain keadaan keluarnya yang begitu harmonis seperti ibu, dan anak-anak ibu. Dan itu tidak saya dapatkan di rumah kami, walaupun harta dan rumah yang besar tidak menjamin kebahagiaan ada di sana.
Justru Carlos lebih bahagia di rumah seperti ini. Tetapi kebersamaan keluarga itu kokoh dan saling memahami. Ibu Sarah menatap Carlos dengan tatapan intens. lalu ibu Sarah berpamitan kepada Carlos dan Dewi berniat ingin pergi ke rumah tetangga.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "JODOH DI USIA SENJA"(marokkap dung matua)