
"Loh kalian saling kenal? Tanya Wulan yang melihat interaksi antara Calista dan listra begitu dekat.
"Ya kami teman lama semenjak kecil kami selalu bersama sampai kami lulus sekolah. Tetapi kami harus dipisahkan dengan keadaan." jawab listra.
"Wah.....Wah... Wah, sungguh tak terduga ternyata chef andalanku, teman kakak iparku." ucap Wulan.
"Ya siapa sangka Mereka ternyata teman lama. Calon istriku cantik bukan? ucap Bisma memuji kecantikan natural Calista.
"Ya memang harus ku akui kalau kakak ipar cantiknya natural. Tidak perlu dipoles dengan make up dan juga skin care lainnya. Kakak ipar sudah terlihat cantik dengan polos seperti ini." ucap Wulan berterus terang kepada Bisma.
"Oh iya kak!" sepertinya listra dan kakak ipar masih ingin melepas rindu. Bagaimana kalau kalian menginap satu malam saja di sini, batalin saja penerbangan Kalian malam ini." mohon Wulan karena dirinya masih menginginkan Bisma dan Calista lebih lama berada di Medan.
"Bagaimana Sayang apa kita lanjutkan perjalanan kita malam ini kembali ke Jakarta? atau Kita menginap satu malam di sini? Sepertinya kalian masih perlu ngobrol melepas Rindu."ucap Bisma kepada Calista.
Calista mengembangkan senyumnya menatap Bisma dengan tatapan penuh arti.
"Wow sungguh suami yang sangat pengertian."puji listra membuat wajah Calista memerah.
chef listra
"Belum suami kali Lis, masih calon suami." ucap Calista menegaskan.
"Kan tinggal berapa hari lagi!"ucap listra sambil terkekeh.
"Bagaimana Sayang apa kamu setuju Kita menginap satu malam di sini? Bisma balik bertanya kepada Calista.
"Tapi Calista sudah ngomong sama Ibu kalau kita akan pulang hari ini juga."
"Kalau masalah itu Biarkan Mas yang bicara kepada Ibu. Kamu tenang saja sayang."ujar Bisma sambil meraih ponsel yang ada di saku celananya.
Bisma langsung mencari nomor ponsel milik Pak Nando di kontak yang ada di ponselnya. Setelah Bisma menemukan nomor ponsel milik Pak Nando, Bisma langsung menekan tombol hijau agar sambungan telepon seluler Bisma tersambung kepada Pak Nando.
Tut....
Tut....
Tut....
Suara ponsel Bisma terdengar di telinganya. tidak menunggu lama sambungan telepon seluler itu tersambung kepada Pak Nando.
"Hallo Assalamualaikum Selamat sore nak Bisma!" sapa Pak Nando dari ujung telepon.
"Waalaikumsalam pa, Bagaimana kabar Papa apa baik-baik saja? tanya Bisma kepada Pak Nando.
"Alhamdulillah semuanya di sini baik-baik saja Nak. Bagaimana dengan kalian di sana apa Kalian sehat?
"Alhamdulillah kami juga sehat di Medan. Bisma ingin memberitahu kepada papa dan sekaligus meminta izin kepada papa. Kalau Bisma dan Calista tidak jadi pulang hari ini. Rencananya kami akan menginap di Medan Satu malam. Untuk memantau hotel dan restoran milik Bisma yang ada di sini.
Jadi Bisma ingin meminta izin kepada Papa. kalau malam ini kami masih menginap di Medan Bagaimana pa? tidak apa-apa kan? tanya Bisma kepada Pak Nando.
"Tidak apa-apa nak!" yang penting kalian baik dan sehat di sana." ucap Pak Nando kepada Bisma membuat Bisma merasa lega.
Bisma sengaja menghidupkan speakerphone-nya agar Calista, listra dan Wulan dapat mendengar apa yang dibicarakan oleh Bisma dan Pak Nando.
Termasuk cita-cita ingin memajukan desa mereka yang masih tertinggal. Bahkan sampai sekarang belum pernah dijamah pemerintah. Untung saja Bisma memberikan sumbangan untuk memperbaiki akses jalan ke desa kelahiran Calista dan Listra.
Calista
Salah satu impian terbesar kedua sahabat itu untuk perbaikan jalan akses jalan menuju desa kelahiran kedua wanita itu. Dan sekarang cita-cita Calista untuk memperbaiki akses jalan itu, sudah terkabulkan dengan bantuan Bisma calon suaminya.
Jujur dengan adanya bantuan dari Bisma akses jalan menuju desa kelahiran Calista dan distra dapat diperbaiki. Ada kebahagiaan tersendiri di hati Calista. Dan ia juga sangat bangga kepada calon suaminya Bisma.
Yang selama ini Calista menganggap Bisma lelaki sombong, arogan dan tidak tahu terima kasih. Bahkan Calista menjulukinya merupakan CEO arogan es kutub Utara.
"Berarti fix kakak ipar dan kakak menginap di sini. Jujur Wulan sangat bahagia ternyata Wulan dapat bertemu dengan kakak dan kakak ipar kali ini. Sudah sangat lama kakak tidak datang ke sini. Apalagi semenjak Kakak pergi ke California."ucap Wulan sambil mengembangkan senyumnya
visual Wulan
Sementara listra dan Calista tampak asik ngobrol bersama. Tanpa mereka sadari Bisma memperhatikan interaksi keduanya.
"Sepertinya mereka benar-benar sangat dekat ya dek."
"Ya Kak, Jujur aku juga selalu cerita kepada listra. Ia juga pernah cerita kepadaku mengenai cita-citanya bersama sahabatnya. Yang ternyata sahabat yang diceritakan listra merupakan calon kakak iparku."ucap Wulan sambil memperhatikan interaksi antara listra dan Calista.
Sementara di tempat lain Pak Nando yang sudah memberitahu kepada Ibu Intan, Kalau Calista dan Bisma tidak jadi pulang hari itu, terlihat ibu Intan kecewa mendengar apa yang dikatakan Pak Nando bahwa hari itu Calista tidak jadi pulang.
"Sudah Bu, tidak perlu cemberut seperti itu. toh Putri kita besok akan pulang kok seperti tidak pulang saja lagi."ujar Pak Nando karena melihat raut wajah istrinya tampak kecewa mendengar apa yang ia katakan.
"Ya Pak," tapi Ibu sudah sangat rindu kepada putri kita.
"Bukan cuman Ibu saja yang rindu kepada putri kita itu. Tapi papa juga sangat merindukannya. Ibu tahu tidak kehidupan kita tanpak semakin ramai dan berwarna dengan kehadiran Calista di tengah-tengah keluarga kita." ucap Pak Nando sambil meraih tubuh istrinya ke pelukannya.
"Ya Pa," sepertinya Calista memang dikirimkan Allah untuk kita agar kita dapat merasakan bahagianya hidup memiliki seorang putri." ucap Ibu Intan kepada suaminya.
***
"Apa ?
"Putra kita tidak jadi pulang hari ini Pi? tanya Nyonya katerina Dona kepada suaminya. karena tuan Zulkarnain sudah dihubungi Bisma terlebih dahulu untuk memberitahu kalau mereka hari itu tidak jadi pulang.
"Ya mi," sepertinya Putra kita masih ingin memantau perkembangan hotelnya yang ada di Medan.
"Tapi bagaimana dengan persiapan pernikahan putra kita Pi?
"Mami tidak perlu khawatir. Kan ada sekretaris Hans dan asistennya yang mengurusnya semua. Tinggal foto prewedding saja mereka. Sementara mengenai busana pengantin yang akan mereka gunakan, sudah diserahkan ke butik langganan mami."ucap Tuan Zulkarnain kepada Nyonya Katarina Dona.
"Tapi Mami sangat merindukan Putra kita. bagaimana ya dia sekarang di sana bersama menantu kita?" tanya Nyonya Katarina Dona penasaran.
"Kalau Mami ingin mengetahuinya lakukan saja video call, kan mudah zaman sekarang mom!" Ini bukan seperti zaman kita pacaran dulu. Harus surat-suratan dan menunggunya juga cukup lama.
Kalau sekarang kan sudah mudah istriku sayang." ucap Dian Zulkarnain sembari langsung memberikan kecupan hangat di wajah istrinya.
"Papi ini," seperti anak muda saja. Ingat umur Pi, sudah tua. Sebentar lagi kita punya menantu dan cucu." ucap Nyonya Katarina Dona sambil terkekeh.