
Sinar mentari pagi sudah mulai memperlihatkan wajahnya dipermukaan Bumi Calista bangun dari tidurnya. "Hah.... ternyata sudah jam 07.00 aduh aku telat bangun." gumam Calista dalam hati. Calista langsung berlari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Calista selesai membersihkan diri dan berpakaian dengan rapi, Calista sudah melihat pak Nando dan intan berada di meja makan. Kedua orang tuanya sudah menunggunya untuk sarapan.
"Pagi bu, maafkan Calista telat bangun." ucap Calista meminta maaf kepada Bu intan karena tidak membantunya mengerjakan pekerjaan rumah.
"Tidak apa-apa sayang, santai saja." sahut ibu Intan sambil mengembangkan senyumnya.
"Oh iya pa Calista bisa nebeng nggak sama papa. Soalnya Calista sudah telat nih." ucap Calista kepada pak Nando.
"Ya tentu bisa dong sayang, kan selama ini kamu sendiri yang menolak pergi bersama papa." ucap Pak Nando sambil tertawa cengengesan melihat putrinya memelas kepada pak Nando agar Calista di perbolehkan pergi kekantor dengan menumpangi mobil milik Pak Nando.
Padahal selama ini pak Nando selalu menawarkan kepada Calista, agar Meraka selalu berangkat bareng. Tetapi Calista menolak, dengan alasan nanti telat, dan dia harus lebih dulu ada di kantor, sesuai dengan jadwal kerja Calista.
Setelah selesai sarapan pagi, callista dan pak Nando berangkat bersama. setelah melakukan perjalan kurang lebih 10 menit ?mereka Tiba di parkiran kantor . Calista langsung Turun dari mobil Avanza milik pak Nando."Pa.....Calista duluan Ya, soalnya Calista sudah telat." ucap Calista sambil memberi salam kepada Pak Nando dan berlalu meninggalkan pak Nando di parkiran mobil.
"Oh ya udah nak." sahut pak Nando sambil mengembangkan senyumnya.Calista berlari kecil agar Calista ingin memasuki lift khusus karyawan. Tetapi muatan lift khusus karyawan sudah melebihi dari kapasitas.
Mau tidak mau Calista harus menunggu sampai lift itu turun kembali untuk membawanya ke lantai 10. Sementara Bisma yang melihat kehadiran Calista gelisah menunggu lift, yang masih berjalan menuju lantai atas, Bisma menarik Calista masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.
"Ayo lewat sini saja, nanti kamu telat."
Calista hanya mengangguk dan mengikuti langkah Pak Bisma. Di dalam lift Calista hanya diam seribu bahasa tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Setelah tiba di lantai 10 tempat khusus CEO, Calista keluar dari lift khusus petinggi perusahaan itu
Bisma menarik tangan Calista.
"Ngak perlu ditarik-tarik kenapa!" aku kan bisa jalan sendiri!"pekik Calista
"Sudah tidak perlu banyak komentar tinggal ikut saja, kan gampang!.
"Huh dasar pemaksa."gumam Calista
Tiba di ruang pribadi CEO Bisma memberi paper bag kepada Calista."Nih ganti pakaianmu aku tidak mau melihat kamu memakai baju seragam seperti itu.
"Loh memangnya kenapa? Bajuku ini bersih dan wangi kok."sahut Calista yang belum mengetahui apa maksud dan tujuan Bisma memberikan baju ganti untuk Calista.
"Pokoknya ganti saya bilang ya ganti. Ingat kamu itu calon istri CEO dan menantu pemilik perusahaan Graha Group perusahaan terbesar di negara ini. Jadi tolong kamu jaga image-ku.
"Tapi aku mau kerja, tidak mungkin aku harus berpakaian seperti ini. Kan tidak cocok."jawab Calista
"Mulai sekarang kamu saya pecat jadi OG di kantor ini."ucap Bisma dengan lantang membuat Calista yang mendengarnya pun langsung terkejut bahwa dirinya dipecat saat itu juga.
"Hah ...dipecat? Memangnya salahku apa sehingga bapak memecat ku? Kalau aku anda pecat aku mau kerja di mana lagi? Apalagi cari pekerjaan sekarang ini sulit sekali."tanya Calista penuh harap
"Ha.... ha....ha, Bisma tertawa ngakak mendengar pertanyaan Calista"kamu masih mikirin pekerjaan? Ingat kamu itu calon istriku sudah otomatis kamu itu tanggung jawabku. Jadi kamu tidak perlu mikirin ini dan itu."Pekik Bisma
"Tapi aku masih ingin mau bekerja." jawab Calista.
"Ya kamu tetap bekerja menjadi asisten pribadiku kalau di kantor bagaimana?
Calista terdiam tanpa berkata apa-apa.
"Ya sudah tidak perlu dipikirin sekarang ganti pakaianmu dan bantu aku ngerjain ini supaya cepat kelar." ujar Bisma
Lalu Calista masuk ke kamar pribadi khusus CEO. Kamar itu biasanya digunakan Bisma untuk istirahat siang.
Calista memakai pakaian yang sudah disediakan Bisma sebelumnya. lalu Calista keluar dari ruangan itu, setelah memastikan penampilannya sudah rapi.
"Wah cantik banget!"gumam Bisma di dalam hati.
"Bagaimana pak Bisma yang terhormat, cocok tidak baju ini saya pakai? Tanya Calista ingin mengetahui pendapat Bisma.
"Hum...m...m, cocok tidak sia-sia sekretaris Hans membelinya.
"Kalau begitu mana yang mau saya bantu? supaya pekerjaanmu cepat kelar." tanya Calista
"Tidak ada semuanya sudah dikerjakan sekretaris Hans dan aku hanya tanda tangan saja kok." sahut Bisma dengan enteng
"Kamu duduk saja di sofa itu." Ucap Bisma sambil menunjukkan sofa yang ada di ruang pak Bisma. Calista takjub melihat kemewahan ruangan yang ditempati Bisma."Terus aku hanya duduk saja di sini dan tidak melakukan apa-apa? Kalau begini ini bukan bekerja namanya tapi malas-malasan. Gerutu Calista.
"Kalau begitu aku keluar saja deh mau buat kopi daripada di sini aja duduk diam hanya mandangin wajahmu. Bagusan juga aku keluar." gumam Calista.
"Oh ya sudah sekalian buatin aja untukku kan aku juga pengen nyicipi kopi buatan calon istriku." ujar Bisma sambil tersenyum kearah Calista. Calista berlalu dari hadapan Bisma menuju pantry tempat biasa OG menyediakan minuman dan makanan.
"Loh Calista kamu baru datang kok telat? Udah itu kok kamu tidak pakai seragam? Dewi dan Tiwi memandang i Calista.
"Eh tunggu dulu, baju yang kamu pakai belum pernah kulihat dan ini baju bermerek loh harganya mahal banget. Ini limited edition." ucap Dewi kepo.
"Ah kamu bisa saja Tiwi, mana mungkin aku pakai baju mahal. Secara kerjaan aku saja hanya seorang OG, ini aku beli di pasar loak ." jawab Calista sambil bertanya di dalam hati.
"Ah masa baju ini mahal atau limited edition? Tanya Calista dalam hati.
"Ah masa bodoh ah, yang penting bisa pakai dan pas di badanku." gumam Calista dalam hati.
Lalu Calista membuat dua cangkir kopi. sebenarnya Calista belum tahu selera si CEO es kutub utara itu. Calista membuatnya sesuai seleranya saja.
"Buat siapa yang satu lagi Calista? tanya Dewi menimpali Calista
"Ini buat pangeran si Tiwi yang songong itu jawab Calista.
"Hah itu kopi buat si tampan CEO super duper tampan itu? tanya Tiwi yang selalu salah tingkah kalau nama Bisma disebut dihadapannya.
"Ya,jawab Calista singkat.
"loh kenapa tidak ngomong dari tadi?"jadi kamu mau ke ruang CEO tampan itu Ya, Aduh enaknya kamu bisa memandangi wajah tampan pangeran ku." ucap Tiwi membayangkan jika dirinya dapat memandangi wajah Bisma dengan jarak dekat.
"Ah.... kamu bisa saja Tiwi." sahut Calista.
"Ya, ampun seandainya kalian tahu kalau aku sudah dijodohkan sama dia, apa kalian masih mau berteman denganku?apa malah menjauh dariku? tanya Calista dalam hati.
"Oh ya, aku antar dulu kopinya ya. Aku takut diomelin pangeran tampan si Tiwi." He....he...he Calista sedikit tertawa untuk menutupi rasa kekhawatirannya kehilangan kedua sahabatnya.
Lalu Calista masuk ke ruang Bisma." ini kopinya pak." ucap Calista sambil menyuguhkan secangkir kopi kemeja CEO Bisma.
Bisma melihat Calista dan senyumnya mengembang di bibirnya.
"Idih....tumben pernah senyum biasanya tahunya marah-marah." Gerutu Calista
"Sudah kalau kita lagi berdua nggak perlu memanggilku seperti itu." ucap es kutub utara itu.
"Terus aku harus memanggil kamu apa?
"Terserah,panggil dengan sebutan sayang kamu saja." jawabnya singkat
"Apa?
"Sebutan sayang?tanya Calista dengan nada intonasi yang meninggi. Karena tak habis pikir dengan jalan pikiran es kutub utara itu.
"Ini anak punya kepribadian berapa sih? Kok ngomongnya tiba-tiba seperti itu? padahal selama ini dia benci banget sama wanita kampung sepertiku, yang tidak pandai berdandan. Apalagi penampilan Calista selalu di ejeknya." tanya Calista dalam hati. Ah ya udahlah terserah, yang penting Calista nyaman dengan gaya Calista sendiri tanpa harus mengikuti gaya orang lain." gumam Calista.
"Heh kok bengong sih?bisa diminum nggak kopinya?" tanya Bisma karna melihat Calista bengong.
"Oh iya diminum saja, Kan kopinya dibuat untuk diminum? ngak mungkin hanya dilihat saja." ucap Calista.
lalu es kutub utara itu pun menyeruput secangkir kopi yang di suguhkan Calista sebelumnya.
"Hummmm E....enak." Bisma dalam hati.Tapi kok Dia bisa tahu ya seleraku? apa selama ini yang membuat kopi di mejaku setiap pagi dia ya? tanya Bisma dalam hati penasaran.
"Calista juga meminum kopi bagiannya, Oh Ya pak Bisma, sebelum kita menikah aku boleh nggak meminta sesuatu kepada Pak Bisma.
"Sudah Aku bilang jangan panggil Aku seperti itu." ucap Bisma mengingatkan Calista
" Ya sudah aku harus panggil apa ? Kalau panggil nama, aku tidak enak soalnya umur kita kan beda jauh.
" Jadi kamu mau bilang saya sudah tua?
Begitu?
"Tidak saya tidak berkata seperti itu.Ya sudah aku panggil mas aja deh." jawab Calista menjawab pertanyaannya sendiri.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏