I Love You Office Girl

I Love You Office Girl
BAB 83. MENGINGAT MASA LALU



Calista mengembangkan senyumnya. Menatap proposal itu yang idenya cukup cemerlang. Aku bersyukur memiliki sahabat baik seperti kalian. Aku pasti menyetujui ini semua. Aku akan minta bantuan kepada suamiku untuk membantu biayanya. Siapa tahu suamiku berbaik hati untuk membantu kita." Calista bermonolog sendiri


"Ada apa Sayang kok kamu senyum-senyum seperti itu? tanya Bisma penasaran sambil menghampiri istrinya yang duduk di sofa. Calista langsung mengalungkan tangannya di leher jenjang Bisma.


"Tidak apa-apa sayang, ini hanya cita-cita kita bertiga saat masih sekolah. Mungkin sebentar lagi cita cita kami bertiga akan terwujud, jika seseorang bersedia membantu kami." ucap Calista sambil langsung mengecup wajah tampan Suaminya.


"Membantu?


"Maksudnya membantu apa Sayang? tolong katakan kepada Mas. Siapa tahu Mas bisa bantu.


"Serius Mas, mas mau membantu kami mewujudkan impian Kami bertiga? "Memangnya Apa yang ingin kalian lakukan sayang?" tanya Bisma penasaran melihat isi amplop coklat yang di tangan Calista.


Calista pun memberikan proposal itu kepada Bisma. Pelan-pelan Bisma memperhatikan rincian dana yang akan digunakan oleh ketiga sahabat itu, untuk membangun sebuah klinik di desa kelahiran Calista. "Sepertinya ini ide yang bagus. Mas juga setuju kalian melakukannya. Untuk itu mas mas bersedia untuk membantu kalian." ucap Bisma yang dapat membuat Calista bersorak kegirangan.


Calista langsung memeluk dan memberikan kecupan di wajah tampan suaminya. Karena Calista Bahagia mendengar kalau suaminya bersedia membantu rencana Calista, Gibran dan juga Listra.


"Jadi kapan dimulai sayang?


" Sepertinya sudah dimulai mas. Dan sepertinya Gibran akan kembali bertugas di klinik yang ada di desa. Jika klinik itu sudah siap dibangun.


Tiwi yang melihat Gibran berjalan keluar kantor buru-buru menghampiri Gibran."dokter tampan kok buru-buru Memangnya mau ke mana? tanya Tiwi sambil nyengir ciri khas Tiwi yang selalu kepo dengan urusan orang lain. Tetapi jiwaku Pertiwi berniat baik saja membuat orang menyukai sosok Tiwi yang periang. Selalu dapat menghangatkan suasana.


"Saya buru-buru mau langsung ke rumah sakit."sahut Gibran sambil mengembangkan senyumnya menatap Tiwi dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Hati-hati dokter tampan, ingat Tiwi di setiap langkahmu. ucap Tiwi sambil nyengir. Dokter Gibran pun berpamitan kepada Tiwi.


"Saya pamit dulu ya lain kali kita ngobrol-ngobrol.


"Okey dokter tampan." sahut Tiwi sambil mengangkat tangannya, tepat di atas telinga memberi hormat kepada dokter Gibran. Membuat dokter Gibran pun tertawa cengengesan melihat tingkah Tiwi yang begitu menggemaskan.


dokter Gibran berlalu dari kantor Zulkarnain group menuju Rumah Sakit tempat ia mengabdikan diri sebagai seorang dokter. Kini wanita sederhana tetapi terlihat kocak itu hanya menatap kepergian dokter Gibran.


Dor.....


Dewi datang menghampirinya sengaja mengejutkan Tiwi karena Tiwi sedari tadi terus memandang kepergian dokter Gibran.


"Kamu ini apa-apaan sih, kaget aku jadinya." gerutu Tiwi yang merasa kaget ketika Dewi tiba-tiba datang mengejutkannya.


"Sudah, kalau kamu cinta katakan saja cinta. Tidak perlu dipendam seperti itu.


"Sok tahu kamu!"


"Ya iyalah aku tau. Secara cara menetapkanmu kepada dokter Gibran kelihatan jelas kalau kamu benar-benar cinta kepadanya." sahut Dewi karena Dewi benar-benar yakin kalau Dewi menyukai sosok dokter Gibran.


"Entahlah tetapi yang pastinya aku simpati kepadanya. Dulu semenjak kecil aku bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Tetapi cita-cita itu harus aku kubur dalam-dalam. Karena keadaan ekonomi keluargaku yang begitu serba kekurangan.


Aku juga sangat mengetahui biaya kuliah fakultas kedokteran itu bukanlah sedikit. Jika kedua orang tuaku pun bekerja keras, itu tidak akan cukup untuk menguliahkan ku di fakultas kedokteran. Sehingga aku memilih ketika tamat dari SMA, aku memilih untuk bekerja. Ya kamu tahu sendiri bukan? kalau ijazah kita hanya SMA,itu hanya dipercayakan bekerja seperti kita ini." ucap Dewi sambil menatap sahabatnya Dewi.


Tetapi kamu masih lebih beruntung daripada aku. Kamu masih memiliki orang tua yang lengkap. Sementara aku Ayah kandungku sudah meninggalkan kami 6 tahun yang lalu. Ketika aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP.


Sementara Mia masih berada di bangku SD adikku Sean masih belum sekolah saat itu. Hingga keadaan ekonomi keluarga kami pun semakin memprihatinkan. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk bekerja di kantor ini setelah aku lulus sekolah SMA.


Ketika kepergian ayahku, aku sering sekali membantu mencuci pakaian para tetangga untuk membantu biaya kehidupan kami sehari-hari. Ibuku yang hanya buruh cuci membuat kehidupan kami benar-benar serba kekurangan.


Terkadang ibuku menjual gorengan untuk tambahan biaya kehidupan kami sehari-hari. Kini ketika aku sudah bekerja di kantor ini, aku bersyukur dapat membantu ekonomi keluarga. Hingga sampai saat ini Mia dan Sean dapat bersekolah.


Walaupun kami harus hidup pas-pasan bahkan terkadang harus berhutang terlebih dahulu ke warung tetangga, sebelum aku gajian. Apalagi kondisi kesehatan ibuku sekarang ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk bekerja." ucap Dewi mengingat masa masa hidupnya.


Membuat kedua sahabat itu pun langsung berpelukan. Memiliki nasib yang hampir sama, membuat keduanya semakin mengeratkan persahabatan. Tanpa mereka sadari Calista mendengar segala percakapan kedua sahabatnya.


Ia pun langsung menghampiri kedua sahabatnya. lalu mereka bertiga pun saling mensupport. Kalian harus semangat. aku pernah berada di posisi yang sama seperti kalian. Bahkan lebih parah yang kalian rasakan." ucap Calista memulai cerita di masa lalunya.


Maksud kamu apa Calista? tanya Dewi dan Dewi kompak. Karena mereka berdua sangat penasaran masa lalu Calista yang sebenarnya. Calista pun membawa kedua temannya duduk di sebuah taman.


Tepatnya taman yang ada di kantor itu. Di sana mereka lebih leluasa bercerita. Calista pun mengatakan yang sebenarnya Bagaimana kehidupan masa lalunya.


"Kalian tahu tidak, kehidupanku cukup pahit. Kami tinggal di desa yang terpencil bahkan jauh di pelosok negeri ini. Kehidupan kami serba kekurangan. Rumah yang kami tempati hanya gubuk.


Ketika aku duduk di bangku SMP, ayahku sakit-sakitan. Bahkan kami tidak memiliki uang sama sekali untuk biaya pengobatan ayahku. Hingga Aku duduk di bangku SMA ayahku harus pergi untuk selamanya meninggalkan kami.


Tidak Berapa lama kondisi kesehatan ibuku menurun drastis hingga ibu Ku juga harus meninggalkan kami. Karena kami tidak memiliki biaya untuk pengobatan ibuku. sehingga ibuku tidak dapat dirawat di rumah sakit lebih lama, dan memilih untuk kembali ke rumah.


Sebelum kepergian ayahku, ternyata ibuku sudah menggadaikan surat rumah kami untuk biaya pengobatan ayahku. Tetapi walaupun ibuku sudah melakukan itu semua, ternyata Allah berkehendak lain. Ayahku meninggalkan kami semua.


Setelah kondisi kesehatan ibuku menurun, kami pun terpaksa membawa ibuku ke rumah sakit walaupun uang yang kamu miliki sama sekali tidak ada. Tetapi Allah berkehendak lain. Ibuku pergi untuk selamanya meninggalkan Aku. dan kabar itu didengar kakakku, yang hanya bekerja di bengkel yang lokasinya tidak jauh dari Desa.


Dihari kematian ibuku, kakakku mengalami kecelakaan tabrak lari. Hingga kakakku pun meregang nyawa hari yang sama dengan ibu Ku. Dua orang yang aku sayangi di kuburkan dalam waktu yang bersamaan. Membuat aku merasa tidak kuat saat itu. ucap Calista sambil terisak. Mengingat kepergian ayah ibu dan kakaknya dalam waktu jangka berdekatan.


Dewi dan Tiwi pun tertegun mendengar keluh kisah Calista. Hingga Calista berada di kota Jakarta. Calista juga memberitahu kalau dirinya diusir dari rumah mereka sendiri karena sang rentenir memaksa harus membayar hutang-hutang almarhumah ibunya. Hingga Calista diangkat menjadi putri dari Pak Nando dan juga Ibu Intan.


Dewi dan Tiwi pun kembali memeluk Calista yang sekarang menjadi istri pemilik perusahaan tempat Tiwi dan Dewi bekerja.


"Aku yakin dibalik semua yang terjadi di kehidupan kita, ada rencana yang indah yang sudah direncanakan Allah kepada kita. Jadi kita harus semangat dan berdoa mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan kita." ucap Calista kepada Tiwi dan Dewi.


Bersambung....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏


sambil menunggu karya ini up kembali yuk mampir kekarya teman Emak.