
Dua Minggu sudah berlalu, persiapan pernikahan Calista dengan Bisma sudah delapan puluh lima persen. Dan itu semua di lakukan oleh Hans dan juga kedua orangtua Bisma. Bisma sama sekali tidak memberitahu kepada Calista kalau kedua orang tuanya akan menyelenggarakan pesta pernikahan mereka di hotel berbintang milik keluarga Bisma.
Bisma khawatir jika Calista mengetahui kedua orang tua Bisma menyelenggarakan pesta pernikahan mereka secara mewah dan itu dilangsungkan di hotel berbintang milik keluarga Zulkarnain. Sesuai dengan janji Bisma kepada Calista kalau dirinya akan menuruti permintaan Calista kali ini. Tetapi ia tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuanya.
"Apa kata orang nanti kalau pernikahan seorang Bisma dirayakan dengan secara sederhana. Pasti keluarga Zulkarnain tidak akan terima jika pernikahan Bisma Zulkarnain seorang generasi penerus atau ahli waris perusahaan Zulkarnain Group. Dilakukan secara sederhana sesuai dengan permintaan Calista.
Tentunya Nyonya Katarina Dona tidak ingin melewatkan momen bahagia putranya, Untuk mengumumkan kepada setiap kolega bisnis atau kerabat mereka. Kalau putranya yang notabene sudah melepas masa belajarnya bersama wanita yang sangat ia cintai.
Nyonya Katarina Dona dan Tuan Zulkarnain ingin menunjukkan kepada setiap orang kalau keluarga Zulkarnain tidak akan memaksakan kehendak mereka mengenai jodoh Putra mereka sendiri,yang harus sepadan dengan keluarga Zulkarnain. Tetapi mereka tidak pernah membeda-bedakan suku, ras dan golongan.
Yang mereka inginkan hanyalah kebahagiaan putranya. Mereka berharap hubungan rumah tangga Bisma Zulkarnain dengan Calista Hermawan, menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Sekalipun Calista wanita yang hanya terlahir dari rahim seorang wanita yang hanya seorang petani kecil.
"Bagaimana apa busana pengantin yang akan kalian gunakan sudah selesai? tanya Nyonya Katarina Dona kepada Bisma yang baru tiba di rumah bersama Calista.
"Mami Tenang saja tante Merry sudah menyiapkan semuanya."
Calista hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Nyonya Katarina Dona. Ia hanya menelisik seisi ruang tamu rumah utama keluarga Zulkarnain.
Netranya terpaku ketika melihat foto Keluarga Zulkarnain. Ia menatap foto itu dengan tatapan penuh arti."Ya Allah seandainya ayah dan ibu masih hidup pasti akan bahagia melihatku bersanding dengan lelaki yang mencintai aku.
"Ayah..... ibu..... lihatlah ini aku putrimu, sudah besar dan sebentar lagi sudah menjadi istri orang lain. Mohon restunya ayah, ibu kakak Andika." gumam Calista di dalam hati air bening mengalir di wajah cantiknya. Hal itu membuat Nyonya Katarina Dona langsung menghampiri Calista.
"Nak kamu kenapa?
"Tidak apa-apa mom!" sahut Calista berusaha mengalihkan pandangannya agar Nyonya Katarina dona tidak melihat air bening mengalir di wajah cantiknya.
"Cerita sama mommy, jika ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan, mommy yang mendengarkannya. Anggap saja Mami ibu kandung kamu. Kamu jangan sungkan.
Calista hanya terdiam, ia menatap Nyonya Katarina Dona dengan tatapan sundu.
"layakkah aku menjadi istri seorang wisma Zulkarnain?
"Apa kata orang nanti jika mereka mengetahui siapa jati diriku? Ah sudahlah toh aku sudah mengambil keputusan untuk menerima perjodohan ini walaupun aku tidak mengetahui jelas kalau Bisma benar-benar mencintaiku atau tidak.Lebih baik aku jalani semuanya aku serahkan kepada Allah jalan hidupku. Calista bermonolog sendiri.
"Nak Kenapa bengong?
"Oh maaf Bu tidak apa-apa! hanya saja Calista terpana melihat foto itu. Foto keluarga yang sangat Calista impikan. Tetapi sepertinya itu tidak akan terkabulkan, karena kedua orang tua kandung Calista sudah lebih dulu dipanggil sang khalik." sahut Calista sambel terus menatap foto keluarga Tuan Zulkarnain.
"Kamu jangan sedih gitu dong, kan kamu sudah Putri Ibu. Kita akan foto keluarga nanti." ujar Nyonya Katarina Dona sambil mengembangkan senyumnya berusaha untuk menenangkan hati Calista. "Ya Allah baik sekali Nyonya Katarina Dona. Sungguh mulia hatinya tidak pernah membandingkan aku dengan wanita yang ekonominya sepadan dengan keluarga ini." gumam Calista.
****
Dewi sudah tiba di kantor dan sudah siap membersihkan ruang kerja yang ada dilantai sepuluh. Tetapi Dewi sama sekali belum melihat sosok Tiwi di kantor. Membuat Dewi bingung Mengapa hari ini Tiwi tidak masuk ke kantor. Padahal Tiwi sama sekali tidak memberitahu kepada Dewi kalau dirinya tidak hadir hari itu.
"Kemana Tiwi kenapa sampai jam segini dia belum datang? sambil melihat arlojinya yang ada di pergelangan tangannya
"Atau jangan-jangan dia masih sakit hati setelah mengetahui kalau Calista dan Pak Bisma akan menikah? sungguh tidak mungkin bagi Bisma menerima Tiwi menjadi pendamping hidupnya. Secara perbedaan antara Tiwi dengan Bisma cukup jauh berbeda.
Mengapa Tiwi berpikiran dangkal seperti ini? Apa dia tidak berpikir jika dirinya menunjukkan sikap seperti itu kepada Pak Bisma maka tidak menutup kemungkinan pak Bisma akan memecatnya? pertanyaan itu timbul di hati Dewi Tetapi dia hanya bisa bermonolog sendiri.
Tiba-tiba salah seorang supervisor yang bekerja di perusahaan Zulkarnain group yang satu divisi dengan Tiwi dan Dewi datang menghampiri Dewi.
"Dewi di mana Tiwi Mengapa sampai jam segini belum datang ke kantor?
"Maaf pak?" Tapi saya juga tidak mengetahui kemana Dewi sekarang. karena Tiwi sama sekali tidak memberitahuku." sahut Dewi berterus terang kepada supervisor itu.
Dewi meraih ponsel yang ada di saku celananya berniat untuk menghubungi.
Tut....
Tut....
Tut....
ponsel milik Dewi yang tak kunjung mendapat jawaban dari Tiwi tetapi Dewi terus saja mencoba menghubungi Tiwi berharap sambungan telepon selulernya tersambung kepada Tiwi
Entah siapa yang memegang ponsel Tiwi saat ini. Dewi tidak mengetahui. Yang pasti saat ini sambungan telepon selulernya sudah tersambung. Tetapi bukan Tiwi yang berbicara kepada Dewi.
"Hello, assalamualaikum jawab salah seorang di seberang telepon
"Waalaikumsalam, ini nomor ponsel Tiwi kan kenapa ada di kamu? Dewi langsung melontarkan pertanyaan kepada seseorang yang megang ponsel memiliki Tiwi
Maaf ponsel ini berada di tangan saya, karena pemilik ponsel ini sekarang berada di rumah sakit. Ia mengalami kecelakaan sahut seseorang yang memegang ponsel milik tiwi
Deg
Jantung Dewi langsung berdegup Kencang ketika mendengar kalau saat ini sedang berada di rumah sakit, akibat kecelakaan. Ia pun kembali tersadar dan bertanya kepada salah seorang yang megang ponsel keadaan dan kondisi Tiwi saat ini yang mengatakan kalau Tiwi belum sadarkan diri.
"Ya Allah pantas saja dari tadi aku menunggu anak itu, tak kunjung datang. Itu berarti dia kecelakaan ketika menuju ke kantor." gumam Dewi dalam hati sembari berlalu ke ruang HRD untuk berpamitan kepada HRD kalau saat ini Dewi akan melihat kondisi Tiwi di rumah sakit.
Calista dan Bisma yang baru tiba di kantor melihat Dewi terlihat buru-buru berlari ke parkiran motor miliknya. Calista berusaha memanggil Dewi. Tetapi Dewi tidak terlanjur melajukan motornya ke arah jalan raya menuju Rumah Sakit tempat Tiwi di saat ini.
"Ada apa ya mengapa Dewi sepertinya buru-buru dan tampak khawatir? gumam Calista yang dapat didengar Bisma.
"Mas juga tidak tahu Sayang lebih baik kita tanya saja kepada HRD." sahut Bisma.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih
JANGAN LUPA LIKE COMENT VOTE DAN HADIAH NYA YA.🙏🙏🙏🙏