I Love You Office Girl

I Love You Office Girl
BAB 151. NYONYA ANJANI



"Kenapa kamu menatapku seperti itu sayang? tanya Carlos setelah mendonorkan darahnya kepada Nyonya Anjani. Tidak apa-apa Mas, namanya juga suami sendiri. Ya harus dilihat dong. Tidak mungkin Dewi melihat suami orang lain. Bisa-bisa istrinya menuduh Dewi menjadi seorang pelakor. Dewi tidak ingin di cap orang menjadi seorang pelakor." ucap Dewi sambil terkekeh.


"Kamu ini ada-ada saja sayang. Mas juga tidak rela kalau kamu memandang lelaki lain begitu dalam. Bisa-bisa satu liang di perut lelaki itu." ucapnya sambil tertawa cengengesan. Mereka pun berniat untuk melihat kondisi Nyonya Anjani yang berada di ruang ICU. Tetapi mereka harus bersabar menunggu waktunya terlebih dahulu.


Karena pihak rumah sakit hanya memberikan beberapa menit waktu keluarga pasien yang berada di ruang ICU, untuk mengunjungi pasien itu pun dengan waktu yang ditentukan oleh pihak rumah sakit.


"Lebih baik Mas istirahat terlebih dahulu karena mas baru mendonorkan darah untuk mami. Dewi meminta Carlos agar segera istirahat berbaring di atas tempat tidur yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


"Mas tidak apa-apa sayang. Mas sehat-sehat saja kok hanya diambil beberapa kantong saja darahnya. Itupun Mas harus menurut Apa kata dokter. Dokter mengatakan agar Mas istirahat total. Dewi mengingatkan Apa yang diucapkan dokter kepada Carlos.


Membuat Carlos tidak dapat berkutik lagi.Ia memilih menuruti apa kata istrinya.


"Lebih baik Mas menghubungi Papi saja, dan memberitahu Kalau Mas sudah mendonorkan darah untuk mami. Agar Papi tidak terlalu khawatir." ujar Dewi kepada Carlos.


"Papi ini sudah larut malam sayang tidak bagus mengganggu tidur, Papi sepertinya Papi sudah tidur." ucap Carlos kepada Dewi tidak apa-apa Mas. Setidaknya Mas mengirimkan pesan Whatsapp untuk Papi Siapa tahu Papi belum tidur." ujarnya meminta suaminya agar segera mengirimkan pesan Whatsapp kepada Tuan Baskoro.


***


Sementara di tempat lain terlihat Mia, sedang sibuk mengerjakan tugasnya dari sekolah. Apalagi hari Senin depan, Mia harus mengikuti ujian akhir nasional. Berharap Mia dapat mengerjakan soal-soal ujian akhirnya.


Agar nilai yang ia dapat bagus. Berharap Mia dapat melanjutkan pendidikannya melalui jalur beasiswa ke universitas yang ada di kota ini.


Mia ini sudah jam 22. 00 lebih baik kamu tidur saja. Besok diulangi pelajarannya. Nanti pagi kamu bisa telat bangun. Jika tidurmu sampai larut." ujar Ibu Sarah mengingatkan Mia agar segera istirahat.


Mia mengembangkan senyumnya, menatap Ibu Sarah yang begitu perhatian terhadapnya. "Bu Tenang saja setelah PR Mia selesai, Mia pasti tidur kok." sahutnya sambil mengecup wajah cantik Ibu Sarah. Bukan Mia namanya kalau tidak membuat ibunya sampai tertawa melihat tingkahnya yang selalu menghidupkan suasana.


"Ibuku sayang yang cantik dan kece badai, Lebih Baik Ibu duluan istirahat deh. Mia meminta kepada Ibu Sarah agar ibu Sarah lebih dulu istirahat.


"Ya sudah kalau begitu ibu tinggal deh, tetapi jangan lupa kamu harus segera istirahat setelah PR kamu selesai." ujar Ibu Sarah sambil langsung meninggalkan Mia di kamarnya.


Setelah Ibu Sarah keluar dari kamar Mia, kini saatnya Ibu Sarah melihat keberadaan Sean di kamar yang ditempati oleh Sean, setelah mereka pindah ke rumah baru pemberian Carlos.


"Eh ternyata ini bocah sudah tidur pulas. Kasihan dia. Mungkin dia kelelahan belajar. bukunya sampai lupa menyimpan." gumam Ibu Sarah sambil merapikan buku Sean yang belum tertata rapi. Setelah Sean mengerjakan tugas-tugasnya dari sekolah. Ibu Sarah pun membenarkan tidur Sean karena sebelumnya Sean tertidur pulas di meja belajarnya.


"Selamat tidur sayang Putraku yang tampan." ucap Ibu Sarah sambil langsung mengecup kening Sean, kemudian ibu Sarah berlalu meninggalkan Sean berniat untuk Langsung istirahat


****


Selamat pagi semuanya. Ujian akan segera kita mulai. ucap guru yang bertugas mengawasi saat Mia dan teman-teman satu kelasnya mengadakan ujian nasional.


Jantung Mia semakin berdegup kencang ketika guru pengawas sudah membagikan kertas soal ujian. "Ya Allah semoga aku dapat mengerjakan soal-soal ujian ini, agar nilaiku bagus." doa Mia. Setelah berdoa Mia memulai mengerjakan soal ujiannya.


****


"Bagaimana ujiannya tadi Nak?" tanya ibu Sarah ketika Mia sudah pulang dari sekolah. "Alhamdulillah ujiannya berjalan dengan lancar bu. Tetapi ada beberapa soal yang agak sulit Mia kerjakan dan jawabannya pun Mia ragukan." sahut Mia sambil menundukkan kepalanya. Ada dua atau tiga soal yang agak sulit dikerjakan Mia. jawabannya tidak pasti benar membuat Dia sedikit kuatir nilainya akan berkurang.


Sudah tidak perlu kamu pikirkan. lebih baik kamu fokus belajar. Ada dua hari lagi ujiannya bukan? tanya ibu Sarah dibalas anggukan dari Mia. "Kakak tenang saja. Sean yakin kok dengan kemampuan kakak. Jangan khawatir Jika Allah berkehendak, Kakak mendapat beasiswa untuk masuk ke salah satu universitas, maka itu akan terjadi.


Tetapi jika Allah tidak berkehendak, bagaimanapun caranya Kakak lakukan, pasti ada halangannya. Sean mengingatkan Mia agar tidak terlalu mengkhawatirkan hasil ujiannya." yang penting Mia mengerjakannya maksimal dan belajar yang rajin.


"Sok bijak kamu. bocah tengil saja banyak cakap gerutu Mia ketika mendengar nasehat sang adik. Kalau kakak tidak percaya Tanya saja sama Ibu. Iya kan Bu?


"Memangnya Apa yang ingin kamu tanyakan Mia tanya saja langsung.


" Sudah Bu tidak perlu didengar bocah tengil ini. Dia selalu sok tahu dan kepo dengan urusan orang lain." ujar Mia sambil berlalu masuk ke kamarnya.


"Eh dibilangin malah merajuk. Kan Sean benar kalau Allah mengizinkan Kak Mia masuk ke universitas dengan jalur beasiswa, pasti Kak Mia akan masuk ke universitas itu. Tetapi jika Allah tidak maka bagaimanapun caranya dilakukan Kak Mia tetap pasti ada halangannya." ucap Sean kepada Ibu Sarah.


" Iya nak, bener apa yang kamu katakan. Tetapi sepertinya Kakak kamu saat ini, sedang banyak pikiran. Tidak perlu dibawa ke hati. Lebih baik kamu ganti pakaianmu, baru kamu makan. Sean hanya nyengir dan berlalu masuk ke kamarnya untuk mengganti baju seragam yang ia gunakan.


Hingga hari terakhir ujian terlihat jantung Mia masih berdegup kencang. "Aduh jantungku berdebar terus. Seperti orang yang lagi jatuh cinta." ucapnya kepada salah satu sahabatnya.


Sudah santai saja. Aku aja tidak terlalu kupikirkan. Otakmu kan jenius? pastilah kamu nanti yang dapat nilai yang tinggi." ucap salah satu sahabat Mia. Tapi sepertinya ada beberapa soal yang agak sulit aku kerjakan. Membuatku tidak yakin, kalau nilaiku akan tinggi." sahut Mia sambil membayangkan dua hari yang lalu ada Dua atau tiga soal Mia tidak yakin akan jawabannya.


Bersambung....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓💓🙏💙


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA 🙏💓🙏🙏