
"Sayang kita harus segera kembali ke Jakarta. Sepertinya Bisma membutuhkan bantuan mas, di Zulkarnain Group." ucap Carlos kepada Dewi
"Iya mas, lagian sepertinya Dewi juga merindukan situasi Jakarta."ucap Dewi sambil berkemas ingin segera kembali ke Jakarta.
Hari itu juga Carlos dan Dewi bertolak dari Sumatera menuju Jakarta. Yang mana sudah 2 minggu lamanya mereka melakukan liburan bulan madu di kawasan Sumatera. Sesuai dengan rekomendasi dari Nyonya Katarina Dona.
****
"Alhamdulillah akhirnya kita sudah sampai ya mas." ucap Dewi ketika sudah berada di Bandara Soekarno Hatta. Terlihat taksi online yang sudah dipesan Carlos sebelumnya sudah datang menghampiri mereka. Carlos sengaja tidak memberitahu kepada Bisma Kalau hari itu Mereka sudah pulang ke Jakarta. Dewi juga tidak memberitahu kepada Calista dan juga Tiwi.
Tidak lupa Dewi membawa oleh-oleh khas Sumatera tepatnya dari Danau Toba. Pernak-pernik dari ukiran ataupun baju lake Toba mereka bawa sebagai oleh-oleh khas Danau Toba.
Setelah melakukan perjalanan sekitar 50 menit dari Bandara Soekarno Hatta menuju rumah utama keluarga Baskoro, Mereka pun tiba di sana. Tampak rumah sepi seperti tidak ada berpenghuni. Hanya petugas keamanan dan dua orang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Baskoro yang ada di sana.
"Assalamualaikum!" Sapa Dewi ketika sudah tiba di rumah utama keluarga Baskoro sahutan dari salah satu asisten rumah tangga datang menghampiri mereka. "Waalaikumsalam Nona, sahut Bibi asih ketika sudah melihat kehadiran Dewi dan juga Carlos di rumah utama keluarga Baskoro.
Papi di mana Bi tanya Carlos menanyakan keberadaan Tuan Baskoro saat ini. Tuan saat ini masih berada di kantor Tuan, tetapi sepertinya Tuan sebentar lagi akan datang." sahut Bi asih sambil membantu Carlos membawa barang bawaan mereka masuk ke dalam rumah.
Dewi dan Carlos berniat ingin langsung istirahat. Mengingat perjalanan mereka hari ini cukup melelahkan. Setelah membersihkan diri, Dewi langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur Nyang berukuran king size itu. Tampak Carlos menatap istrinya yang sudah terlihat kecapean hari ini. Sehingga Carlos tidak ingin mengganggu istrihat isterinya.
Carlos Pun akhirnya membaringkan tubuhnya, disamping isterinya, setelah membaca beberapa pesan Whatsapp dari Bisma. Ia sengaja tidak memberitahu kepada Bisma, kalau mereka sudah kembali ke Jakarta.
****
Di tempat lain, terlihat Tiwi tampak gelisah. Ada beberapa pesan WhatsApp yang masuk ke layar ponselnya. Yang mengatakan kalau saat ini, kedua orang tua dokter Gibran saat ini berada di Jakarta. Tiwi khawatir kalau kedua orang tua dokter Gibran tidak merestui hubungan mereka. Padahal Tiwi sangat mencintai dokter Gibran.
Apalagi setelah Tiwi mengetahui kalau orang tua dokter Gibran, tidak menyetujui hubungan Gibran dengan Calista karena kondisi ekonomi keluarga Calista yang tidak sebanding dengan mereka. Hal itulah yang membuat Tiwi semakin khawatir hubungannya akan kandas di tengah jalan dengan terhambat restu dari kedua orang tua dokter Gibran.
Hari itu terlihat Tiwi Kurang konsentrasi melakukan tugas dan tanggung jawabnya di Zulkarnain Group. " Apa yang harus aku lakukan saat ini? pasti kedua orang tua mas Gibran tidak akan merestui hubungan kami, jika mereka mengetahui kalau aku berasal dari keluarga sederhana tidak seperti yang diharapkan oleh kedua orang tua dokter Gibran." Tiwi monolog sendiri.
Tiwi begitu gelisah. Sepertinya Tiwi kali ini tidak dapat berpikir jernih apa yang harus ia lakukan. Jam kerja Tiwi Telah usai, kini Tiwi beranjak keluar dari Zulkarnain group berniat untuk segera kembali ke rumah.
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggil dirinya. Tiwi tahu persis Siapa yang memanggil Tiwi saat itu. Tiwi membalikkan tubuhnya menatap dokter Gibran yang datang menghampiri dirinya.
"Eh ada dokter tampan!" ucap Tiwi sambil nyengir menutupi kekhawatirannya kalau ibu Sarina dan Pak Khairul tidak akan memberi restu kepada dirinya.
"Ada apa dokter tampan? apa dokter tampan tidak bertugas di rumah sakit hari ini?" tanya Tiwi penuh selidik. Dokter Gibran menghela nafas panjang, lalu ia menarik tangan Tiwi masuk ke dalam mobil miliknya.
"Sayang, mas ingin bicara dengan kamu."Bicaralah dokter tampan Ku yang kusayang, Tiwi pasti akan mendengarnya." sahutnya dengan singkat seolah-olah tidak memiliki rasa khawatir.
" Kedua orang tuaku datang ke Jakarta dan memintaku untuk segera menikah. Itu artinya mas Harus memperkenalkan Kamu kepada kedua orang tuaku." ucap dokter Gibran kepada Tiwi. Tiwi menghela nafas berat. Sejujurnya ia ragu kalau dirinya akan mendapat restu dari kedua orang tua dokter Gibran. Tetapi ia juga tidak ingin mengecewakan dokter Gibran, dengan tidak bersedia ikut bersama dokter Gibran bertemu dengan ibu Sarina dan Pak Khairul.
Sekalipun Tiwi merasa kalau dirinya akan mendapatkan penolakan dari kedua orang tua Dokter Gibran. Ia tidak ingin menyerah sebelum berjuang. Sehingga Tiwi setuju saja ikut bersama dokter Gibran menemui kedua orangtuanya.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Mereka tiba dirumah pribadi milik Dokter Gibran. "Assalamualaikum! sapa Tiwi dengan ramah ketika Dokter Gibran dan Tiwi sudah tiba di rumah.
"Waalaikumsalam!" sahut ibu Sarina sembari langsung menghampiri Dokter Gibran dan Tiwi yang baru masuk kedalam rumah. Tiwi memberi salam kepada Ibu Sarina dan Pak Khairul.
"Ma....Pa....kenalin ini Tiwi, calon istri Gibran." ucap Dokter Gibran memperkenalkan Tiwi kepada Pak Khairul dan Ibu Sarina. Ibu Sarina menatap Tiwi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membuat Tiwi sedikit merasa tidak nyaman dengan pandangan Ibu Sarina.
"Pak Khairul mempersilahkan Tiwi duduk. Lain halnya dengan Ibu Sarina. Ibu Sarina seolah tidak menyukai kehadiran Tiwi disana. Tetapi Tiwi cuek Saja. Ia melakukan hal yang sepatutnya ia lakukan.
"Eh neng Tiwi." sapa asisten rumah tangga yang terlihat dekat dengan Tiwi.
"Eh Bi, apa kabar? tanya Tiwi begitu akrab dengan sosok asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Gibran. " Masakan neng Tiwi kemarin memang benar benar enak Banget." puji asisten rumah tangga yang pernah menyicipi masakan Tiwi. Tiwi hanya mengembangkan senyumnya.
"Ah bibi ada ada saja. Masakan kampungan kok enak sih bi." ucap Tiwi sambil netranya melirik ke arah Gibran dan Ibu Sarina secara bergantian.
"Masakan kampung justru lebih enak, daripada makanan ala ala Eropa yang tidak memiliki citra rasa yang las di lidah orang seperti kita." ucap sang asisten rumah tangga sambil tertawa cengengesan.
"Ibu Sarina menatap Tiwi dengan tatapan penuh tanya. "Kebetulan ibu sangat lapar, lebih baik kamu masak gih, supaya kita makan bareng." ujar Ibu Sarina meminta kepada Tiwi agar membantu sang asisten rumah tangga memasak menu makan malam buat mereka.
"Lampu hijau nih." gumam Tiwi dalam hati sambil mengembangkan senyumnya menatap ibu Sarina dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dokter Gibran mengebangkan senyumya, ketika Ibu Sarina meminta Tiwi memasak menu makan malam, untuk Meraka. "Mudah mudahan dengan menyicipi makanan Tiwi, mama memberikan restu untuk kami." gumam dokter Gibran dalam hati.
Bersambung....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏
JANGAN LUPA, TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏