I Love You Office Girl

I Love You Office Girl
BAB 108. DI TINGGAL SENDIRI



Dokter Gibran Pagi itu buru buru ingin segera berangkat ke bandara, Setelah mendapatkan sambungan telepon seluler dari sang ibu kalau saat ini ayah Dokter Gibran sedang berada di rumah sakit.


Dan ibunya meminta Dokter Gibran agar segera kembali ke kampung halamannya. mengingat kondisi kesehatan ayahnya sudah semakin memburuk. Dan ayahnya sendiri yang meminta kepada ibunya agar segera meminta dokter Gibran pulang ke desa.


Tiwi yang mendapat sambungan telepon seluler dari dokter Gibran, memberitahu kalau pagi itu juga dia harus segera berangkat ke Sumatera. Ketika Tiwi mendengar dokter Gibran harus segera berangkat ke Sumatera, Pikiran Tiwi berkecamuk merasa dirinya tidak memiliki kekuatan. Ia tidak ingin dokter Gibran meninggalkannya sendiri setelah hari hari indah yang mereka lalui beberapa minggu belakangan ini.


Dokter Gibran dapat membuat Tiwi benar-benar jatuh cinta. Hal itu yang membuat Tiwi tidak mampu berpisah dengan Dokter Gibran. Ia pun langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya, untuk menemui dokter Gibran di Bandara Soekarno.


"Pagi-pagi sekali Kamu mau ke mana? Ini masih pukul 06.00 pagi, tidak biasanya kamu berangkat jam segini?" tanya ibu Maryam kepada Dewi yang melihat putrinya terburu-buru menghidupkan motor matic miliknya.


"Tiwi ada urusan penting Bu. Ibu jangan khawatir." ucap Tiwi sambil langsung memberi salam kepada Ibu Maryam ingin segera menemui Dokter Gibran di Bandara Soekarno Hatta. Karena ia tahu pesawat yang ditumpangi dokter Gibran akan segera berangkat pukul 07.30 pagi. Itu artinya dia hanya memiliki waktu menemui dokter Gibran 1 jam lagi.


Ibu Maryam menatap kepergian putrinya. Ia merasa bingung. Sepertinya ada sesuatu yang membuat putrinya harus segera pergi pagi itu juga. Tetapi Tiwi sama sekali belum pernah memberitahu kepada Ibu Maryam tentang hubungannya dengan dokter Gibran.


"Kenapa anak itu pagi-pagi sekali pergi? tidak biasanya dia pergi sepagi ini. Ibu Maryam membatin sembari berlalu dari teras rumah setelah bayangan tubuh Tiwi sudah menghilang dari pandangannya.


Sementara Tiwi, pikirannya sudah berkecamuk. Yang ia pikirkan saat ini, Tiwi harus segera tiba di bandara sebelum pesawat yang ditumpangi oleh dokter Gibran take off dari bandara.


"Kenapa sih kamu harus pergi di saat yang tidak tepat seperti ini? Ada apa mengapa kamu buru-buru harus segera pulang ke Sumatera? disaat cintaku sedang tumbuh begitu dalam kepadamu. Mengapa kamu meninggalkan aku dokter Gibran!" Tiwi bermonolog sendiri sembari mengendarai motor matic miliknya.


Tiwi menelusuri jalanan ibu kota tanpa ada rasa takut sedikitpun. Padahal jam masih pagi sekali. Tujuannya hanya satu, ingin menemui dokter Gibran pagi itu juga. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 35 menit Tiwi tiba di bandara. Terlihat Tiwi langsung memarkirkan motor matic miliknya di parkiran khusus roda dua.


Tiwi berjalan masuk ke dalam area ruang tunggu. Terlihat ia mencari-cari keberadaan dokter Gibran. Karena tak kunjung menemukan dokter Gibran, Ia meraih ponsel yang ada di tas sandang miliknya.


Kring......


Kring....


Kring.....


Suara deringan ponsel milik dokter Gibran terdengar jelas di telinganya. Ia meraih ponsel itu, dan melihat nomor ponsel wanita yang sudah menemani hari harinya beberapa minggu belakangan ini.


Dokter Gibran menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Tiwi.


"Ya sayang!"


"Dokter Dimana?


"Sudah di bandara!"


"Dimananya? sekarang Tiwi ada di bandara.


"Apa?


"Di bandra?


" Iya!" sahut Tiwi sambil netranya menelisik sekelilingnya mencari keberadaan dokter Gibran.


Dokter Gibran melambaikan tangannya. setelah melihat kehadiran Tiwi di bandara. Dewi pun menghampiri dokter Gibran.


Tiwi langsung menangis sesenggukan. jangan menangis katakan ada apa? Mengapa kamu menangis seperti ini?


"Bagaimana aku tidak menangis dokter, kamu pergi meninggalkan Tiwi, Ketika rasa cinta Tiwi kepada dokter tampan semakin mendalam seperti ini." ucap Tiwi berterus terang kepada dokter Gibran. sambil menangis sesunggukan.


Dokter Gibran meraih tubuh Tiwi ke pelukannya. "Jangan menangis Sayang, Pak dokter perginya hanya sebentar saja. Pak dokter diminta oleh kedua orang tua Pak Dokter pulang ke kampung untuk melihat kondisi kesehatan Ayah Pak dokter yang semakin memburuk.


Sepertinya Ibu Pak Dokter lebih percaya kepadaku untuk mengobati ayah Pak dokter sendiri. Jadi Pak Dokter akan mencoba untuk melakukan yang terbaik kepada ayah Pak Dokter. percayalah kepada Pak Dokter Tampan Mu ini, Pak dokter Tampan Mu ini akan kembali untuk Mu sayang.


Dokter Tampan Mu ini tidak akan melupakan Tiwi yang Bawel dan cerewet ini. Karena Tiwi yang Bawel dan cerewet yang mengajarkan Dokter Tampan Mu ini, move on dari wanita yang selama ini Pak Dokter cintai Yang Sudah dimiliki orang lain.


"Terima kasih kamu sudah hadir di kehidupanku dan mengisi hari-hariku. Jangan sedih. Jika kamu menangis seperti ini, Dokter Tampan kamu ini tidak tenang meninggalkan kamu disini. Pikiran dokter Tampan nanti sama kamu terus. Dan tidak konsentrasi menangani pengobatan calon mertua kamu Sayang." ucap Dokter Gibran sambil mengembangkan senyumnya.


Lagian, Jika kamu merindukan Dokter Tampan Mu ini, kan tinggal menghubungiku melalui sambungan video call ataupun telepon seluler. Lagian Dokter Tampan kamu ini, mengambil cuti hanya dua minggu saja. jadi bersabarlah Sayang. Menunggu dokter tampan ini disini. ucap dokter Gibran Sembari menghapus air mata Tiwi yang tidak rela ditinggal oleh dokter Gibran.


Setelah Dokter Gibran memberikan pengertian kepada Tiwi, akhirnya Tiwi paham, kepergian Dokter Gibran kali ini bukan karena keinginannya sendiri. Tetapi karena kondisi kesehatan ayahnya yang semakin memburuk. Hal itulah yang membuat dokter Gibran pagi ini harus segera berangkat ke Sumatera.


Suara panggilan dari bagian informasi terdengar jelas di telinga Tiwi dan dokter Gibran. Yang menginformasikan pesawat yang akan ditumpangi Dokter Gibran tujuan Jakarta Medan akan segera berangkat. Dan meminta kepada para penumpang tujuan dari kota Jakarta menuju medan, segera menaiki pesawat.


"Deraian air mata Tiwi kini kembali mengalir deras di wajah cantiknya. Melepas kepergian lelaki yang sangat ia cintai. "Sayang jangan menangis. Dokter tampan Mu ini pergi dulu ya." ucap dokter Gibran sambil meraih tubuh Tiwi ke pelukannya dan memberikan kecupan hangat di wajah dan di kening Tiwi.


Perlahan Dokter Gibran meregangkan pelukannya. Setelah panggilan kedua dari ruang informasi terdengar jelas di telinga kedua si Joli itu, Dokter Gibran melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan Tiwi di sana sendiri.


Tiwi menatap kepergian dokter Gibran sampai bayangan tubuh dokter Gibran menghilang dari pandangannya.


"Segeralah kembali dokter tampanku sayang." gumamnya dalam hati sambil langsung berlalu dari bandara setelah melihat pesawat yang ditumpangi oleh dokter Gibran sudah take Off dari bandara.


Pagi ini Tiwi kurang bersemangat untuk melakukan aktivitasnya di kantor Zulkarnain Group. Ia seolah tidak memiliki semangat. "Hei dari tadi Kok melamun!" ucap Dewi sambil menepuk punggung Tiwi yang sudah dari tadi hanya diam dan bengong.


"Ada apa coba cerita kepadaku, Siapa tahu bisa ku bantu." ucap Dewi


Tiwi langsung memeluk Dewi sambil menangis sesunggukan. " Ada apa? katakan kepadaku. Tanya Dewi penasaran karena Dewi sama sekali belum mengetahui kepergian dokter Gibran ke Sumatera.


lalu Tiwi memberitahu kepada Dewi kalau pagi tadi dokter Gibran berangkat ke Sumatera.


"Apa?


"Memangnya Kenapa dokter Gibran buru-buru berangkat ke Sumatera?


"Ayahnya sakit dan ibunya meminta Dokter Gibran sendiri yang merawat ayahnya. Karna kondisi ayahnya saat ini semakin memburuk." ucap Tiwi sambil menangis sesunggukan .


"Ya Allah, mudah mudahan Ayahnya dokter Gibran cepat sembuh ya. Agar dokter Gibran segera kembali ke Jakarta. Kamu tenang saja Dokter Gibran pasti akan cepat kembali jika ayahnya sudah sembuh. Lebih baik kita berdoa agar ayahnya dokter Gibran disembuhkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala." ujar Dewi sambil mengelus pundak Tiwi.


Bersambung....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏


SAMBIL MENUNGGU KARYA INI UP KEMBALI YUK MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "JODOH DI USIA SENJA (marokkap dung matua)