
Dewi menghela nafas berat. Ia bingung harus menjawab apa kepada dokter. Ia pun akhirnya memberanikan diri bertanya kepada Gibran Berapa biaya jika ibunya jika menjalani operasi. "Dokter Kalau boleh tahu Berapa biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan operasi ibu saya?" ucap Dewi kepada Gibran.
Dari raut wajah Dewi terlihat kekhawatiran disana. Gibran sangat tahu kalau saat ini Dewi tidak memiliki uang cukup untuk pengobatan ibunya.
"Kamu Jangan memikirkan biaya dulu yang penting kesehatan ibu kamu yang paling utama. Untuk biaya pembayarannya nanti bisa dicari." ujar Dokter Gibran
Dewi meraih ponselnya yang ada di saku celananya. Pikirannya sudah mulai kalut memikirkan biaya operasi ibunya. Belum lagi biaya kehidupan mereka sehari-hari. Kedua adiknya juga membutuhkan biaya untuk sekolah.
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan saat ini. Mengapa cobaan ini begitu berat ya Allah. seandainya Papa masih ada mungkin tidak akan seberat ini beban yang aku pikul." Dewi mengadu kepada sang pencipta.
Dewi menekan nomor ponsel milik Tiwi untuk memberitahu kepada Tiwi Kalau hari ini Dewi tidak dapat masuk ke kantor seperti biasa, Karena harus mendampingi ibunya di rumah sakit.
Tut.....
Tut.....
Tut....
Sambungan telepon seluler Dewi pun akhirnya tersambung kepada Tiwi lalu Dewi memberitahu kepada Tiwi kalau saat ini dirinya berada di Rumah Sakit bersama Ibunya.
"Ti, Maaf ya aku hari ini tidak dapat hadir untuk membantu kamu menyelesaikan tugas kita di kantor, berhubung karena hari ini ibuku saat ini berada rumah sakit dan saat ini juga ibuku harus menjalani operasi." ucap Dewi kepada Tiwi untuk memberitahu dan meminta izin kepada Tiwi.
"Apa?
"Kamu di rumah sakit?
"Memangnya tante sakit apa sehingga perlu harus menjalani operasi? tanya Tiwi yang ikut khawatir mendengar kondisi kesehatan orang tua Dewi saat ini harus menjalani tindakan operasi.
"Dokter mengatakan kalau ibu Ku mengalami usus buntu. Dan usus buntunya itu sudah parah sehingga harus segera melakukan tindakan operasi." ucap Dewi kepada Tiwi memberitahu kepada sahabatnya kondisi ibunya yang sebenarnya tanpa ada yang Dewi ditutupi sedikitpun
"Yang sabar ya Dewi. Mudah-mudahan tante cepat sembuh."ucap Tiwi kepada Dewi untuk sekedar memberikan semangat dan kekuatan kepada sahabatnya. Setelah selesai berbicara dengan Tiwi, Dewi pun memutuskan sambungan telepon selulernya kepada sahabatnya itu.
Terlihat dokter dan suster sudah membawa Ibu paruh baya itu masuk ke ruang operasi. tentunya setelah Dewi menandatangani persetujuan tindakan operasi itu. Raut kegelisahan Dewi terlihat jelas di wajahnya di luar pintu ruang operasi.
Ia terus mondar-mandir di sana sembari berdoa di dalam hati. Ia tidak sanggup harus kehilangan ibu yang yang paling ia sayangi. Jika terjadi sesuatu kepada ibunya. "Ya Allah selamatkanlah ibuku. Karena hanya dialah yang selama ini tempatku mengadu, Jika Aku memiliki masalah." doa Dewi dalam hati Ia terus melirik jarum jam yang ada di layar ponselnya karena menunggu proses operasi yang dijalani oleh ibunya.
Dua jam sudah berlalu, tindakan operasi yang dilakukan Gibran kepada ibu kandung Dewi akhirnya berhasil. Dan saat ini kondisi Ibu Dewi belum sadar akibat obat bius yang disuntikkan ke tubuh ibu dewi sebelum proses operasi itu dilakukan.
Terlihat Gibran sudah keluar dari ruang operasi. Dewi langsung menghampirinya "Bagaimana kondisi Ibu saya dokter? apa dia baik-baik saja? tanya Dewi kepada dokter Gibran.
"Terima kasih Dokter!"ucap Tiwi kepada dokter Gibran. Kemudian Gibran pun berpamitan kepada Dewi untuk segera kembali ke ruang kerjanya. Karena masih ada beberapa pasien yang harus ia tangani saat ini.
Terlihat suster sudah memindahkan Ibu paruh baya itu dari ruang operasi menuju ruang rawat inap, diikuti oleh Dewi. Tentunya setelah mendapat persetujuan dari Dewi. Fasilitas apa yang diberikan kepada Dewi agar ibunya mendapatkan perawatan yang intensif.
Kemudian Dewi pun menghampiri ibunya setelah berada di ruang rawat inap. "Bu maafkan aku belum bisa membuat ibu di ruangan yang lebih nyaman. Di ruang ekonomi seperti ini dulu ya Bu. Itu tidak menjadi masalah bagi ibu kan? yang penting Ibu sehat." ucap Dewi kepada ibunya sambil menggenggam tangan Ibu paruh baya itu.
Sungguh disayangkan wanita tangguh seperti Dewi mendapatkan cobaan seperti ini. ibunya belum sembuh, tetapi Dewi sudah mendapatkan kabar yang mengatakan kalau adiknya paling bungsu juga mengalami sakit dan harus pulang dari sekolah sebelum jam waktu jam sekolah pulang.
Hal itu yang membuat Dewi semakin panik dan khawatir. Ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. "Apa yang harus kulakukan sekarang Mengapa di saat genting seperti ini cobaan demi cobaan datang menghampirinya.
"Bu, Dewi tinggal dulu sebentar tidak apa apa kan Bu?" ucap Dewi kepada Bu Dewi yang baru sadar pasca operasi dilakukan oleh tim medis yang bertugas di rumah sakit tempat Ibu paruh baya itu di rawat.
"Memangnya kamu mau kemana?
"Ada berkas yang ketinggalan di rumah Bu!" tidak apa apa kan Dewi tinggal sebentar." ucap Dewi kepada ibunya. Dewi tidak ingin memberitahu kalau adiknya yang paling bungsu saat ini sedang sakit dan harus pulang dari sekolah lebih awal.
Ibu Sarah menganggukkan kepalanya. pertanda ia tidak mempermasalahkan kalau Dewi meninggalkannya di rumah sakit sendiri. setelah Dewi berpamitan kepada ibunya Ia pun berlalu meninggalkan Ibu Sarah di sana. dengan menggunakan ojek online yang sudah ia pesan sebelumnya, Dewi kembali ke rumah untuk menghampiri adik bungsunya yang sedang sakit.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 15 menit dari rumah sakit tempat Ibu Sarah dirawat, Dewi pun akhirnya tiba di rumah. iya langsung masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintu rumah tidak terkunci iya melihat adiknya tiduran di atas tempat tidur lusuh itu.
Dewi melihat Adik bungsunya sudah menggigil kedinginan. Tetapi tubuhnya sangat panas. Hal itu membuat Dewi semakin khawatir melihat kondisi adiknya saat ini hingga Dewi pun memutuskan untuk membawa adik bungsunya ke Puskesmas yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
"Dek kamu kenapa? ini kakak.ucap Dewi membangunkan adiknya yang sudah dari tadi menggigil kedinginan, tetapi tubuhnya sudah sangat panas. Kita pergi berobat Ya dek, agar kamu cepat sembuh." ujar Dewi sembari membenahi pakaian adiknya.
"Kakak dapat uang dari mana mendapatkan uang untuk biaya pengobatanku nanti. sementara biaya pembuatan Ibu juga membutuhkan uang yang banyak." ucap Anak laki laki yang baru berusia 8 tahun itu.
Karena ia mengetahui kalau selama ini yang menjadi tulang punggung untuk membutuhi kehidupan mereka sehari-hari, hanya mengharapkan gaji Dewi yang bekerja sebagai office girl di kantor Zulkarnain group.
"Sudah!" kamu tidak perlu memikirkan biaya pengobatan kamu dan pengobatan Ibu. biarkan itu menjadi urusan Kakak yang penting kamu sembuh." ucap Dewi kepada adiknya dibalas anggukan dari adiknya lalu Dewi dan adik bungsunya langsung pergi ke Puskesmas yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏
JANGAN LUPA LIKE COMMENT VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏