
Jujur Dewi sama sekali tidak mengetahui hutang piutang yang dikatakan Pak lase kepada apalagi menurut pengakuan ibu Sarah, kalau ayah kandung mereka tidak pernah memberitahu kepada Ibu Sarah kalau almarhum tidak pernah berhutang kepada siapapun.
Tetapi ketika Pak Lase memperlihatkan surat yang sudah ditandatangani oleh almarhum suami Ibu Sarah, membuat Dewi dan Ibu darah tidak dapat berkutik. Di sana tertulis Kalau Pak Yusri memiliki hutan sebesar 50 juta. Entah uang itu kemana Yang pasti ibu Sarah sama sekali tidak mengetahui.
Ibu Sarah tidak merasa kalau dirinya pernah meminjam uang sebesar 50 juta rupiah.
"Suami saya tidak pernah memberitahu kepada saya kalau dia memiliki hutang sebesar 50 juta. "Jangan mengada-ada" ucap Ibu Sarah kepada kepada pak lase. Kemudian Pak Lase memberikan berkas yang sudah ditandatangani oleh almarhum Pak Yusri.
"Bu bagaimana ini?
Ibu Sarah menggelengkan kepala.Ia bingung melakukan apa saat ini. Kalau kamu tidak bersedia bekerja di rumah saya, untuk menyicil hutang Ayah kamu maka ibu kamu akan kami masukkan ke dalam penjara." Ancam Pak Lase.
"Jangan pernah menyentuh ibuku. Aku tidak akan mengampuni Kamu Jika kamu berani macam-macam kepadanya. Saya akan ikut bapak bekerja di kediaman Bapak. Tetapi kalau untuk menikah dengan Tua Bangka sepertimu. Tidak!" aku tidak akan sudi."Ucap Dewi dengan lantang Pak Lase langsung tertawa ngakak.
"Nanti kamu akan menyerah sendiri dan kamu yang akan memintaku untuk menikahi kamu. Karena aku pastikan, ketika kamu bekerja di rumahku aku akan membuatmu tersiksa."Pak lase membatin.
Mia yang baru pulang dari sekolah melihat Kakak dan Ibunya Sudah menangis sesunggukan entah masalah apa yang terjadi Mia sama sekali tidak mengetahuinya.
Ada apa ini bu? Mengapa kakak dan ibu menangis? tanya Mia penasaran yang belum mengetahui permasalahan apa yang terjadi saat ini ketika Mia sudah tiba di rumah.
Ibu Sarah kembali menangis. Ia pun akhirnya cerita kepada Mia. Kalau saat itu juga Dewi akan ikut pak lase bekerja sebagai pembantu di rumah Pak lase untuk menyicil hutang Pak Yusri beberapa tahun yang lalu.
Mia terhenyak. Ia pun bingung melakukan apa saat ini. Mia sangat mengetahui sikap bejat Pak lase dari orang-orang yang tinggalnya tidak jauh dari tempat tinggal keluarganya. Mia menghela nafas berat. Sekilas Ia berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini, untuk menyelamatkan kakaknya dari pria hidung belang seperti pak Lase.
Yang kerap sekali memanfaatkan seseorang yang tidak mampu membayar hutangnya untuk melakukan segala apa yang ia mau. Aku akan melakukan sesuatu agar tua bangka itu tidak membawa Kak Dewi ke rumah ini.
Tidak seorangpun yang kembali dari rumah Pak lase, ketika bekerja menjadi seorang pembantu, selamat dari nafsu birahinya. Tak jarang pak Lase selalu memperkosa setiap pembantu yang bekerja di rumahnya.
Mia tidak ingin kakaknya Dewi merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh para asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Pak lase sebelumnya. Tiba-tiba Mia teringat kepada Tiwi. "Sebentar ya Bu, Aku akan melakukan sesuatu agar tua bangka itu tidak membawa Kak Dewi dari rumah ini. Karena aku sangat mengetahui Siapa tua Bangka itu.
Dia bukan manusia melainkan setan." ucap Mia sembari meraih ponsel yang ada di saku baju seragamnya. Ia mencari nomor kontak Tiwi di sana. Setelah ia menemukan nomor kontak Tiwi, Mia langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya berharap Tiwi mengangkat sambungan telepon selulernya.
Sementara di tempat lain Dewi mendengar suara deringan ponselnya pun langsung meraihnya. Ia melihat nomor ponsel Mia yang menghubungi. "Alhamdulillah paling tidak aku mengetahui kabar tentang Dewi dari Mia." gumam Tiwi sambil langsung menekan tombol hijau agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Mia.
"Hallo assalamualaikum Mia." sapa Tiwi di dalam sambungan telepon selulernya. Mia Langsung menangis sesunggukan membuat Tiwi penasaran Mengapa Mia menangis ketika sambungan telepon seluler itu tersambung.
Mia hanya menangis sesunggukan tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ketika membayangkan Kalau kakaknya Dewi akan dibawa pak lase ke rumahnya dan dijadikan pembantu,pasti akan diperlakukan tak sepantasnya di sana.
"Mia tolong kasih tahu dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi,sehingga kamu menghubungi Kakak dan kamu menangis? Tiwi kembali bertanya kepada Mia.
Akhirnya ia cerita, kepada Tiwi apa yang terjadi di keluarganya saat ini. Sehingga Dewi hari itu tidak masuk ke kantor. Mendengar apa yang dikatakan Mia kepada Tiwi membuat Tiwi merasa tidak tega mendengar segala keluh kisah yang terjadi kepada keluarga Dewi.
"Tolong bantu Kak Dewi Kak!" dia tidak tahu harus melakukan apa-apa. Karena jika Kak Dewi tidak bersedia bekerja di kediaman Pak lase untuk menyicil hutang-hutang almarhum Ayah, maka Pak Lase akan memenjarakan ibu." tangis Mia di dalam sambungan telepon selulernya.
Hal itu membuat Tiwi merasa tidak tega melihat keluarga Dewi, yang sudah begitu menderita selama ini. Seseorang datang untuk menginjak-injak harga diri keluarga sahabatnya itu. "Kamu tenang saja Kakak akan cari solusi. Tolong ulur waktu agar Pak lase tidak membawa Dewi saat ini juga. Kakak akan coba mencari solusi Kalau boleh tahu berapa hutang almarhum Ayah kamu?
Mia pun memberitahu jumlah nominal hutang Pak Yusri kepada Pak lase. Tiwi menghela nafas berat. Air bening mengalir begitu deras di wajah cantiknya. Ia sudah dapat membayangkan betapa besar beban yang dihadapi sahabatnya itu.
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan untuk membantu sahabatku. Jika aku memiliki uang aku pasti akan membantunya. Tetapi sekarang Aku sama sekali tidak memiliki uang. Jika aku menjual motorku pasti tidak akan cukup untuk membayarnya.
" Ya Allah berilah petunjuk Mu kepada keluarga Dewi, agar mereka dapat menyelesaikan permasalahan keluarga mereka." doa Tiwi dengan tulus mendoakan keluarga sahabatnya yang sedang tertimpa masalah yang bertubi-tubi.
Tiba-tiba Pak Nando lewat, melihat Tiwi yang menangis sesunggukan sambil menerima sambungan telepon dari seseorang, yang Pak Nando sama sekali tidak mengetahui dari Siapa Tiwi menerima sambungan telepon seluler.
"Pak Nando menunggu Tiwi menyelesaikan sambungan telepon selulernya kepada Mia baru ia menghampiri Tiwi. "Ada apa Tiwi Mengapa kamu menangis? tanya Pak Nando penasaran.
Tiwi menatap Pak Nando dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat Pak Nando mengerutkan keningnya. Tolong katakan kepadaku apa yang terjadi? Siapa tahu saya bisa bantu." tawar Pak Nando berharap Tiwi berterus terang kepadanya.
Lalu dengan berat hati Tiwi pun menceritakan apa yang terjadi kepada keluarga Dewi. "Pak Nando bisa membantu saya untuk berbicara kepada pihak manajemen agar pihak manajemen meminjamkan uang kepada saya? tanya di Tiwi penuh harap.
"Kamu tenang saja. saya akan bicarakan ini langsung kepada Carlos karena yang menangani perusahaan ini saat ini Carlos, selama Bisma masih berada di New Zealand. ucap Pak Nando memberi harapan kepada Tiwi kalau perusahaan akan bersedia membantu Dewi dan Tiwi saat ini.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏