
Pak doyan dan bu Lina meminta Calista dan pak Bisma dan beberapa asistennya agar singgah ke rumah mereka. Tetapi sebelum m
Calista dan Bisma singgah ke rumah orang tua listra. Pak doyan meminta para pemuda yang ada di desa itu untuk membantu para asisten Bisma mendorong mobil Alphard milik Bisma.
"Sayang nanti sesudah selesai kita berziarah ke makam papa, mama dan kakak tolong pertemukan aku dengan kepala desa yang bertugas di desa ini." ucap Bisma kepada Calista.
"Untuk apa kamu bertemu dengan kepala desa di sini?" tanya Calista penasaran karena ia bingung dan tidak tahu apa maksud Bisma ingin bertemu dengan kepala desa yang ada di desa kelahiran Calista.
"Ada yang akan aku bicarakan kepada kepala desa mengenai akses jalan di sini sayang." sahut Bisma sambil memperhatikan jalanan yang ada di desa tanah kelahiran Calista.
"Oh Ya sudah," nanti sesudah siap berziarah kita langsung ke rumah kepala desa. Tempatnya tidak jauh kok dari rumah yang Calista tempati dulu." Sahut Calista dibalas anggukan dari Bisma.
"Bagaimana nak Calista kita ke rumah ibu dulu ya. Soalnya ibu masih rindu sama kamu. Ingat masa-masa sewaktu kamu bersama listra ketika masih duduk di bangku sekolah." ucap ibu Lina kepada Calista.
"Ya Bu Calista juga pengen melihat rumah peninggalan ibu yang sudah diambil alih oleh pak Karim. Sudah bagaimana ya Bu keadaan rumah itu sekarang? Jujur Calista sedih meninggalkan rumah peninggalan orang tua Calista. Tetapi saat itu Calista sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa." Ucap Calista kepada ibu Lina yang merupakan ibu kandung sahabatnya listra.
"Semenjak kepergian kamu ke kota Jakarta pak Karim ingin menjual rumah kalian. Tetapi sampai sekarang belum laku. Ibu rasa kalau kamu punya uang sekarang, lebih baik rumah peninggalan orang tua kamu, kamu tebus." ujar ibu Lina kepada Calista karena ibu Lina sangat mengetahui kalau Calista memiliki banyak kenangan di rumah itu.
"Ya, Bu rencananya Calista juga seperti itu. mudah-mudahan pak Karim mau Calista menebus rumah itu lagi ya Bu." ucap Calista berharap kalau pak Karim bersedia kembali rumah itu ditebus oleh Calista.
Calista dan Bisma pun tiba di rumah Pak Doyan dan Bu Lina, sementara asisten Bisma menyusul. "Silakan masuk Nak Calista, Nak Bisma tidak perlu sungkan." ucap ibu Lina dan pak Doyan mempersilahkan Calista dan Bisma masuk dan duduk di ruang tamu.
Keadaan keluarga listra dengan keluarga keluarga Calista memang jauh berbeda. Ayah listra bekerja sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah yang ada di desa. Sementara ibu Lina membuka usaha jualan bahan-bahan pertanian.
Bu Lina menyuguhkan kopi khas desa itu.
Setelah berbicara panjang lebar mereka pun pamit untuk berziarah ke makam orang tua dan kakak Calista.
Calista, Bisma dan beberapa asisten Bisma berlalu menuju TPU tempat kedua orang tua Calista dan kakaknya dimakamkan.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 15 menit. Calista, Bisma dan para asisten Bisma tiba di makam kedua orang tua Calista. Calista menangis sesenggukan. Karena melihat makam orang tuanya dipenuhi rerumputan.
Itu tampak jelas, kalau selama ini tidak ada yang pernah berziarah ke makam orang tuanya. Lalu Calista dan beberapa asisten membersihkan makam orang tuanya. Tidak menunggu lama semua rerumputan yang ada di makam orang tua Calista dan juga kakaknya pun bersih.
Calista menangis sejadi-jadinya mengingat masa-masa bahagia bersama kedua orang tua dan kakaknya.
"Maafkan Calista ayah, ibu, baru ini datang berziarah ke makam kalian. Calista tidak bermaksud untuk melupakan kalian. Tetapi keadaan yang membuat Calista tidak bisa mengunjungi kalian."ucap Calista menangis sesenggukan.
Tetapi Bisma berusaha menenangkan Calista. "sayang tidak usah sedih lagi, mereka sudah tenang di alam sana. Aku yakin kalau mereka juga tidak senang melihat kamu menangis seperti ini." Ucap Bisma sembari meraih tubuh Calista kepelukannya.
"Ayah, ibu, ini calon suami Calista."ucap Calista memperkenalkan Bisma kepada kedua orang tuanya seolah-olah Calista membuat kedua orang tuanya masih hidup.
"Hai.... ayah, ibu kenalin aku Bisma calon suami anak ayah dan ibu.
"Ayah.... ibu....., Bisma datang kemari mau minta dua Restu semoga kalian merestui pernikahan kami." ucap Bisma memperkenalkan diri walaupun hanya di makam kedua orangtua Calista. Sambil memegang batu nisan kedua orangtua Calista.
Setelah merasa puas untuk menumpahkan isi hati Calista. Mereka pun kembali ke rumah pak Doyan dan ibu Lina.
"Bagaimana Calista sudah selesai berziarah?" tanya ibu Lina kepada Calista yang sudah melihat kedua mata Calista sudah terlihat sebab. Itu artinya kalau Calista baru menangis.
Tetapi ibu Lina dan pak Doyan memahami situasi Calista dan ia juga memahami isi hati Calista saat ini.
"Bagaimana apa sekarang kita pergi menemui pak Karim? Tanya ibu Lina
"Ya Bu!" kalau boleh lebih cepat lebih baik jawab Calista.
Akhirnya mereka pun pergi ke rumah pak Karim. Salah satu rentenir yang terkenal kejam di desanya. Setelah sampai di kediaman pak Karim, mereka melihat dua orang bodyguard berjaga di depan rumah pak Karim.
"Selamat sore pak!" apa pak Karim nya ada? Tanya ibu Lina kepada salah satu bodyguard yang ada di sana.
"Oh ada Bu!" ada perlu apa ya?
"Oh kami mau berbicara sama pak Karim." ucap Ibu Lina. Tiba-tiba pak Karim keluar.
"Ada apa ini? kok rame-rame?" ucap pak Karim sambil membenahi sarung yang ia pakai sebelumnya.
"Begini pak Karim kami mau bicara penting bersama bapak. Apa kami bisa masuk?"tanya ibu Lina dengan hati-hati.
"Oh silakan saja. Tapi tolong jangan lama-lama. Soalnya saya mau istirahat." jawab pak Karim dengan nada angkuhnya
Ibu Lina dan Calista pun memberitahu kepada pak Karim, tujuan mereka untuk menebus rumah peninggalan orang tua Calista.
"Kalian boleh menebusnya.Tetapi harus kalian lunasi semua hutang Ibu Rospita beserta bunga-bunganya." jawab pak Karim sambil memberitahu total berapa uang yang harus disediakan Calista untuk menebus rumah peninggalan kedua orang tuanya.
"Kalian harus lunasi semuanya totalnya menjadi 40 juta." ucap pak Karim kepada Calista dan ibu Lina
"Hah!" banyak amat bukannya ibu hanya meminjam uang sebesar 5 juta ya pak? Tanya Calista karena yang Calista tahu kalau ibu Rospita meminjam uang kepada pak Karim hanya sebesar 5 juta.
Tetapi ketika Calista ingin menebus rumah milik keluarganya. Pak Karim meminta bayaran menjadi 40 juta membuat Calista terkejut dengan jumlah uang yang akan dikembalikan Calista kepada pak Karim.
"Ya, memang ibu kamu meminjam 5 juta tetapi sudah 3 tahun tidak bayar hutangnya. bunganya aja tidak dibayar jadi kalau sudah saya hitung-hitung almarhum ibu kamu harus membayar menjadi 40 juta." ucap pak Karin dengan suara yang agak meninggi.Calista menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun kejam banget ini orang. lihat saja nanti calon suamiku akan membuat kamu tak mampu berkata-kata apalagi." gumam Calista dalam hati. Tiba-tiba Bisma datang menghampiri Calista dan ibu Lina yang sudah dari tadi hanya menjadi pendengar dan penonton.
Karena Bisma tidak tahu sama sekali pokok permasalahan keluarga Calista dengan pak Karim.
"Eh kamu siapa? kamu berani beraninya datang ke rumahku." ucap pak Karim dengan nada meninggi. Bentak pak Karim kepada Bisma
"Maaf pak sebelumnya saya dari tadi anda berkicau mengenai hal hutang piutang ibu mertua saya. Jadi saya mau bertanya sama bapak berapa yang harus kami bayarkan untuk menebus rumah peninggalan ibu mertua saya?" Tanya Bisma dengan nada suara biasa saja tetapi terlihat pak Karim sudah sangat emosi.
"Hah, sepertinya ini orang punya duit banyak nih." gumam pak Karim di dalam hati.
"Berapa pak kok jadi bengong?" tanya Bisma balik bertanya kepada pak karim.
"40 juta," tapi harus tunai saya tidak mau ribet harus ngurus ini dan itu nanti." ucap Pak Karim
Bersambung....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏