I Love You Office Girl

I Love You Office Girl
BAB 136. MEMOHON RESTU



Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya ke permukaan bumi. Membuat tidur seorang dokter Tampan itu menjadi terganggu. Dokter yang bertugas di salah satu rumah sakit ternama di kota Jakarta.


Suara deringan ponselnya yang mengganggu tidur dokter Tampan itu. Ia melihat di layar ponselnya, kalau yang menghubungi dirinya merupakan orang yang terpenting di dalam hidupnya.


"Mama!"gumamnya sambil langsung mengucek kedua kelopak matanya. Ia langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada sang mama.


"Hello assalamualaikum mama," sapa dokter Gibran dalam sambungan telepon selulernya.


"Kamu di mana?


"Mengapa belum datang menjemput Mami di bandara? Mama sudah menunggumu di sini. Kan sebelumnya Mama sudah memberitahu kalau pesawat yang Mama tumpangi dari bandara Kualanamu take off pukul 05.00 pagi. Sudah sewajarnya Mama tiba di Bandara Soekarno Hatta jam segini.


"Cepat jemput mama sekarang juga." perintah ibu paruh baya itu ketika sambungan telepon selulernya tersambung kepada dokter


Gibran.


Dokter Gibran kalang kabut. Ia langsung berlari masuk ke kamar mandi dan membersihkan wajahnya dengan gemercik air. Kemudian ia meraih kunci mobil yang berada di atas nakas.


Dokter Gibran tidak ingin membuat sang Mama terlalu lama menunggu dirinya. Dokter Gibran melajukan mobilnya ke arah jalan raya menuju bandara Soekarno Hatta.


Di sepanjang perjalanan dokter Gibran gelisah merutuki dirinya, yang lupa menjemput kedua orangtuanya di bandara. Padahal sebelumnya Ke-dua orang tuanya sudah memberitahu, kalau mereka akan tiba lagi pagi sekali, di Bandara Soekarno Hatta.


"Aduh bagaimana ini? aku bisa ketiduran mama pasti marah kepadaku, karena terlalu lama menungguku." dokter Gibran bermonolog sendiri sambil terus melajukan mobil miliknya.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 40 menit, dokter Gibran tiba di Bandara Soekarno Hatta. Ia memarkirkan mobil miliknya dan berlari mencari keberadaan ke-dua orang tuanya. Ketika dokter Gibran sudah melihat kedua orang tuanya, duduk menunggu dirinya ia langsung menghampiri sepasang suami istri paruh baya itu.


"Kamu dari mana saja?


"Mengapa sampai telat menjemput kami? tanya ibu paruh baya itu penuh dengan selidik kepada putranya. Dokter Gibran hanya minta Maaf Ma.....maaf Pa....,tadi malam Gibran ada operasi mendadak. Jadi Gibran tidurnya agak larut. Hingga Gibran telat bangun." sahut dokter Gibran berharap wanita paruh baya itu memahami kondisinya.


"Ya Sudahlah, tidak apa-apa namanya juga tugas sebagai dokter, harus menyelamatkan nyawa yang membutuhkan pertolongan." ucap Ibu paruh baya itu sambil beranjak dari tempat duduknya dan memeluk dokter Gibran.


Dokter Gibran membawa kedua orang tuanya masuk ke dalam mobil, agar mereka langsung menuju ke rumah. "Ma kita sarapan dulu ya, kalian pasti sudah lapar. Lebih baik kita sarapan dulu." ujar dokter Gibran sambil langsung menghentikan mobil miliknya di salah satu rumah makan penjual sarapan pagi.


Iya, karena Mama juga dari rumah belum sarapan. Kamu tahu bukan, Jam berapa kami dari desa sampai berada di Bandara Kualanamu." sahut Ibu paruh baya itu sambil Nyengir. Dokter Gibran langsung memesan menu makanan yang ada di rumah makan itu. Tak lupa, kedua orang tuanya juga memesan menu makanan kesukaan mereka.


****


Sudah berapa lama kamu menjadi seorang dokter? apa tidak ada wanita yang memikat hatimu? tanya ibu paruh baya itu kepada dokter Gibran. Dokter Gibran mengembangkan senyumnya. Sebenarnya Gibran sudah memiliki calon istri. Dia orangnya baik, supel dan perhatian kepada Gibran.


"Terus mau tunggu apa lagi? langsung lamar dong." ucap Ibu Sarina yang sudah sangat menginginkan Kalau dokter Gibran segera melepas masa lajangnya.


Dokter Gibran menghela nafas berat. Ia khawatir kalau kedua orang tuanya tidak menyetujui hubungannya dengan Tiwi.


Apalagi dokter Gibran teringat dengan sosok Calista, yang ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuanya, karna kondisi ekonomi keluarga Calista tidak sepadan dengan keadaan ekonomi keluarga Gibran. Apalagi kondisi ekonomi keluarga Tiwi yang sederhana, itu yang membuat dokter Gibran Kwatir. Kalau kedua orangtuanya tidak menyetujui hubungannya dengan Tiwi.


"Tidak semudah itu melamar anak orang Bu.K Gibran harus mempersiapkannya dengan matang dulu.


"Matang bagaimana maksud Mu?


Dokter Gibran menghela nafas panjang. Ia bingung bagaimana caranya menjelaskan kepada Keduanya orangtuanya. Karna ia tau betul sikap Ibu Sarina, yang melihat seseorang dari segi pendidikan dan ekonomi seseorang.


Ia tidak ingin kedua orangtuanya menolak kehadiran Tiwi di kehidupannya. Dokter Gibran sudah sangat mencintai dan ingin menjadikan Tiwi menjadi pendamping hidupnya Sampai akhir hayatnya. Tetapi ia bingung bagaimana caranya menjelaskan kepada kedua orangtuanya. Kalau dirinya tidak memandang seorang wanita hanya dai Pendidikan dan ekonomi Saja.


****


"Berapa mang?


" Lima puluh ribu den."


"Loh pak dokter tampan rupanya." sahut pemilik warung.


"Loh neng Tiwi, dimana dokter Tampan?


"Biasa Mang, dia bekerja." sahutnya


"Terus kesini bareng siapa?"


"Oh kenalin mang, Ini kedua orangtua Gibran." ucap Dokter Gibran memperkenalkan kedua orangtuanya kepada pemilik warung itu.


Pemilik warung memberi salam kepada kedua orangtua dokter Gibran.


"Siapa Tiwi? tanya Ibu Sarina kepada Dokter Gibran, ketika sudah berada di dalam mobil milik dokter Gibran.


Gibran tidak langsung menjawab ia hanya diam Saja.


"Kenapa kamu diam? tanya ibu Sarina dengan nada cerewetnya. Gibran sudah biasa mendengar Ibu Sarina mengomel terhadapnya.


"Sudah nanti saja dibahas dirumah." sahut dokter Gibran sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah melakukan perjalanan sekitar 40 menit kemudian, Dokter Gibran dan kedua orangtuanya tiba dirumah yang selama ini ditempati oleh dokter Gibran. Hasil dari kerja keras Gibran selama bekerja sebagai seorang dokter.


"Jadi ini rumah kamu?tanya ibu Sarina sambil menelisik seisi ruangan rumah milik Dokter Gibran.


"Iya ma. Kenapa ma?


"Tidak apa apa. Rumah kamu bagus. Lebih bagus dari rumah kita yang ada di desa. Tatapi sepertinya, mama tidak betah tinggal disini.


Lebih nikmat tinggal di desa dapat ngobrol bersama tetangga. Tidak seperti disini, semuanya rumah serba tertutup dan tetangga saja, tidak saling kenal." ucap Ibu Sarina merasa tidak betah tinggal di Jakarta, tepatnya di rumah milik putranya .


Pak Chairul hanya tertawa mendengar apa yang dikatakan isterinya. "Kemarin saja ngebut Banget ingin ke Jakarta ingin bertemu dengan Gibran. Eh sudah tiba di Jakarta, malah tidak betah tinggal di rumah anaknya sendiri." Ucap Pak Chairul sambil tertawa cengengesan melihat istrinya yang serba salah.


Bersambung....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏💓💓


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏