I Love You Office Girl

I Love You Office Girl
BAB 23. BOS GENDENG



Keesokan harinya Bisma berangkat ke kantor dengan menggunakan mobil mewah miliknya. Ia terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Tuan Zulkarnain kepadanya. Yang menuduhnya tidak menyukai sosok wanita. justru Tuan Zulkarnain merasa curiga kalau Bisma saat ini menyukai sesama jenis.


Hal itu yang membuat Bisma tidak terima akan tuduhan Tuan Zulkarnain. Tetapi ia juga bingung apa yang harus dia lakukan saat ini.Untuk meyakinkan kedua orangtuanya kalau tuduhan kedua orangtuanya salah tenang Dia. Sementara kekasih saja, Bisma tidak punya. Untuk menjadi bukti kepada tuan Zulkarnain dan nyonya Katarina Dona kalau dirinya masih normal.


"Kenapa sih Papi dan Mami yang dibicarakan itu-itu saja? aku harus berbuat apa sekarang?" gumam Bisma dalam hati. Ia pun menghubungi Carlos saat itu juga, agar segera menemuinya di ruangan kerjanya setelah ia tiba di kantor.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit dari rumah utama keluarga Zulkarnain menuju kantor yang selama ini dikelola oleh Bisma, Ia pun tiba di sana. Bisma berjalan masuk ke lobby kantor menuju lift khusus petinggi perusahaan. Terlihat beberapa karyawan yang melintas di sana melemparkan senyumnya ke arah Bisma.


Tetapi bukan Bisma namanya kalau senyuman orang sama sekali tidak dibalasnya. Ia hanya berdiri kaku dan terdiam tanpa merespon senyuman, setiap orang yang memberikan senyuman kepadanya. Terkadang para wanita yang bekerja di kantor itu merasa heran. Bahkan pendapat mereka juga sama seperti Tuan Zulkarnain kalau Bisma memang menyukai sesama jenis.


Tidak sedikit dari wanita yang bekerja di kantor Zulkarnain group, menaruh hati kepada Bisma. Tetapi tak ada satupun yang menarik perhatian Bisma. Entah apa yang membuat Bisma seperti itu. Ia merasa wanita itu tidak ada arti baginya. Dia hanya memuaskan atau menghilangkan rasa penatnya ke sebuah klub malam, jika ia benar-benar membutuhkan hiburan. Daripada menjalin hubungan kepada wanita yang ujung-ujungnya akan meninggalkannya begitu saja dan memilih menikah dengan lelaki lain.


Rasa sakit yang dialaminya ketika pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya Alena, membuat dirinya merasa kecewa dan tidak percaya kepada setiap wanita. Karena menurutnya wanita sama seperti mantan kekasihnya. Pendapat itu tentu salah. Tetapi bagi Bisma wanita itu sama saja menurutnya.


Calista yang sedang sibuk membersihkan seluruh ruangan, ia tampak sedikit berkeringat. Karena ia terlebih dahulu membersihkan ruang CEO daripada ruangan lainnya. Calista tidak ingin berhadapan dengan Bisma. karena setiap kali Bisma bertemu dengan Calista mereka selalu perang mulut. walaupun Calista sudah lumayan lama bekerja di Zulkarnain Group.


Calista selalu salah dimata Bisma. Entah apa yang membuat Bisma ingin mencari masalah kepada Calista. Tetapi ketika Calista tidak berada di kantor, Bisma justru mencari keberadaannya sampai ke mana. Setelah tiba di ruang kerjanya Bisma melihat ruangannya sudah terlihat rapi dan bersih. Ia mengerutkan keningnya. "Kok cepat banget si bawel itu membersihkan ruangan ini? padahal ingin sekali aku menjahilinya." gumam Bisma dalam hati sambil tersenyum miring.


Bisma menelisik seisi ruangan. Ternyata ruangan itu memang sudah benar-benar bersih. Membuat dirinya pun menganggukkan kepalanya pertanda cara kerja Calista saat ini memang patut diancungkan jempol. Calista dengan kedua sahabatnya beristirahat di pantry. Yang kebetulan mereka pagi itu sudah membersihkan seluruh ruangan.


Calista membuat secangkir kopi. Berharap rasa lelahnya akan berkurang setelah menikmati secangkir kopi buatannya. Tiba-tiba Bisma masuk ke pantry dan langsung menyeruput kopi yang ada di tangan Calista.


"loh ini kan kopiku Pak Kenapa Bapak minum? ucap Calista merasa komplain melihat Bisma Yang tiba-tiba saja menyeruput kopinya.


"Kopi saja kamu pelitnya minta ampun. Memangnya saya tidak bisa meminum kopi buatan kamu?" ucap Bisma sambil menatap Calista dengan tatapan penuh arti.


"Bukan begitu Pak," tetapi itu sudah bekas bibir saya!" ucap Calista sambil menatap cangkir yang dipegang oleh bisma


"Memangnya kamu penyakitan? sehingga saya tidak bisa meminum satu cangkir dengan kamu? ucap Bisma dengan Ketus


"Bukan begitu maksud saya Pak. Tetapi jika Bapak mau, kan bisa saya buatkan yang baru. Tidak harus meminum bekas saya." ucap Calista sambil meninggalkan Bisma begitu saja.


"Hei.....kamu!" tidak ada sopan-sopannya main tinggal saja. Kamu ikut ke ruangan saya sekarang." ucap Bisma kepada Calista membuat Calista bingung Mengapa tiba-tiba Bisma memintanya mengikuti nya ke ruang kerjanya.


Calista terdiam. Ia khawatir kalau Bisma kali ini akan memecatnya. Karena ia sudah terlalu lancang untuk menggurui Bisma kali ini.


Bisma meninggalkan ruang pantry itu sementara Calista masih berdiri mematung di sana.


Tiwi dan Dewi yang mendengar perdebatan antara Calista dengan Bisma langsung menghampiri Calista."Sudah kamu tenang saja, tidak perlu khawatir. lebih baik kamu berdoa, Kami juga akan berdua supaya kamu tidak dipecat dari sini. Kita sebagai orang kecil di kantor ini harus patuh dengan peraturan Bos. Jika kita tidak patuh maka kita terancam dipecat." ucap Dewi sambil mengelus pundak Calista.


Tok...


Tok...


Tok....


"Masuk!" teriak Bisma dari dalam ruangannya. Calista masuk dengan gontai ia tidak berani menatap Bisma. Ia hanya menundukkan kepalanya tak mampu berkata-kata saat ini. Tidak seperti berada di pantry.


"Duduk kamu!" ucap Bisma dengan Ketus


"Kamu Sudah semester berapa?pertanyaan itu langsung dilontarkan oleh Bisma kepada Calista. Membuat Calista semakin bingung akan pertanyaan Bisma terhadapnya.


"Maaf Pak saya sekarang semester akhir ini lagi menyusun skripsi mudah-mudahan skripsinya disetujui pembimbing dan pembina agar aku cepat kelar kuliahnya."ucap Calista sambil menundukkan kepalanya.


"Saya tidak berada di bawah. Kenapa kamu berbicara menatap ke bawah? apa kamu merasa jijik menatap wajah saya? pertanyaan itu dilontarkan oleh Bisma kepada Calista membuat Calista serba salah dan Bingung sikap Bisma yang begitu membingungkan buat Calista.


Calista mendongakkan kepalanya ia tidak ingin lebih banyak mencari masalah kepada bos songongnya itu.


"sudah sampai di mana skripsimu?


"Saya hanya tinggal meminta tanda tangan kepada dosen pembimbing setelah soal saya mendapatkan tanda tangan dari dosen bimbing, maka saya bisa mendaftarkan agar saya dapat sidang skripsi." sahut Calista sambil menundukkan kepalanya.


"Saya sudah katakan jika berbicara dengan saya, tatap wajah saya. Jangan melihat ke bawah. Memangnya saya ada di bawah?" pekik Bisma membuat Calista langsung sontak mendongakkan kepalanya dan menatap Bisma dengan tatapan tajam.


"Tidak usah menatapku seperti itu.


”Serba Salah lagi. Tadi melihat ke bawah salah melihat dia, salah dasar manusia jadi-jadian." gumam Calista dalam hati


"Jangan mengumpatku ."pekik Bisma seolah dirinya tahu kalau Calista mengumpatnya di dalam hati.


"Benar-benar dukun ini Bos. Tahu aja apa yang ada di dalam hatiku, dasar Bos gendeng."gumam Calista dalam hati.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih πŸ™πŸ’“πŸ™