
Sementara di tempat lain terlihat Gibran sudah memulai aktivitasnya sebagai seorang dokter di sebuah rumah sakit ternama di kota ini. Ya Gibran sudah menyelesaikan studinya mengambil pendidikan dokter di kota Jakarta. setelah kepergian Gibran dari desa menuju kota Jakarta.
Yang mana tujuan utamanya untuk menuntut ilmu agar dirinya dapat menjadi seorang dokter. Cita-cita yang selama ini ia impikan. Gibran terinspirasi menjadi seorang dokter, ketika melihat penderitaan yang dialami oleh keluarga Calista sulit untuk mendapatkan pengobatan akibat ekonomi yang lemah. Membuat orang-orang di desa mereka kesulitan untuk mendapat pertolongan kesehatan medis.
Kejadian yang terjadi di keluarga Calista membuat Gibran memiliki tekad ingin menjadi dokter dan itu sudah tercapai saat ini. Gibran juga memiliki cita-cita untuk mendirikan sebuah klinik. Yang lokasinya tidak jauh dari desa tempat tinggal mereka.
Berharap dapat membantu masyarakat desa yang tertinggal, agar masyarakat di sana lebih mudah mendapat pertolongan medis jika ada klinik kesehatan di sana.
"Terima kasih ya Allah akhirnya aku sudah menjadi seorang dokter di rumah sakit ini. mudah-mudahan kelak jika uangku sudah cukup, aku akan membuat satu klinik kesehatan yang lokasinya tidak jauh di desaku." gumam Gibran di dalam hati. cita-cita mulia Gibran memang sama seperti cita-cita yang diimpikan oleh Calista dengan listra untuk memajukan desa mereka yang tertinggal.
"Dokter.....dokter....., teriak seseorang yang baru tiba di rumah sakit tempat Gibran mengabdikan diri sebagai seorang dokter. Perawat yang bertugas di UGD itu pun langsung berlari menghampiri becak bermotor yang berhenti tepat di depan UGD.
yang ternyata di dalam becak itu terdapat seorang ibu paruh baya, yang digotong oleh abang becak dan juga putrinya agar segera mendapatkan pertolongan dari pihak rumah sakit.
"Ini kenapa? tanya salah satu suster yang bertugas di rumah sakit itu. Sambil mendorong branker yang disediakan di rumah sakit agar lebih mudah membawa Ibu paruh baya itu masuk ke dalam ruang UGD.
Dewi yang sedari tadi menangis melihat kondisi ibunya meminta kepada suster agar segera menangani ibunya.
Suster itu pun langsung memanggil dokter Gibran yang sedang berada di ruangannya.
Gibran yang melihat kedatangan Suster itu pun langsung beranjak dari tempat duduknya.
" Ada apa sus?" tanya Gibran.
"Maaf dok!" ada pasien yang harus dokter periksa saat ini, sepertinya kondisinya cukup parah." ucap Suster itu meminta kepada dokter Gibran agar segera melakukan pemeriksaan terhadap kesehatan ibu paruh baya itu yang merupakan ibu kandung Dewi.
Gibran langsung memeriksa kondisi kesehatan ibu paruh baya itu. Dan ia pun menganjurkan agar pasien harus melakukan pemeriksaan radiologi. Karena menurut pemeriksaan dokter Gibran ada sesuatu yang lain penyakit yang diderita oleh ibu paruh baya itu.
"Maaf sus keluarga pasien di mana?" Tanya Dokter Gibran kepada suster.
"Oh sepertinya putrinya melakukan pendaftaran ke ruang administrasi." ucap Suster itu kepada dokter Gibran.
Gibran menganggukkan kepalanya sambil memeriksa kondisi kesehatan ibu paruh baya itu. Gibran menggelengkan kepalanya "Mengapa sampai bisa seperti ini ? sepertinya ini harus segera kita lakukan tindakan operasi secepat mungkin. Karena Ibu ini mengalami usus buntu." ucap dokter Gibran kepada suster yang bertugas di sana.
Tiba-tiba Dewi masuk ke ruang UGD itu menghampiri ibunya yang sederita tadi meringis kesakitan dan diperiksa oleh dokter.
Dewi terhenyak melihat Gibran yang sedang memeriksa kondisi kesehatan ibunya.
"Gibran!
"Dewi!"
"Kamu ngapain Di Sini?
"Maaf mbak ini dokter Gibran yang bertugas memeriksa kondisi kesehatan ibu mbak ucap Suster itu menimpali pembicaraan Gibran dengan Dewi yang terlihat heran melihat kehadiran Gibran di sana.
"Dokter?"
"Ya saya seorang dokter baru di rumah sakit ini." sahut Gibran
"Bagaimana kondisi ibu saya dokter tanya Dewi kepada Gibran. Ia melupakan perdebatan mereka di hari-hari yang lalu
Yang ia khawatirkan saat ini hanya kondisi ibunya agar lebih membaik.
"Maaf tapi sepertinya kita harus melakukan tindakan operasi untuk ibu kamu. Karena sepertinya ibu kamu mengalami usus buntu. Tetapi sebelum kita melakukan tindakan operasi, lebih baik kita lakukan pemeriksaan radiologi terlebih dahulu.
Agar kita tahu pasti penyakit yang diderita oleh ibu kamu." ujar Gibran kepada Dewi membuat Dewi sedikit bingung tindakan apa yang harus ia lakukan saat ini.
Karena kondisi keuangan Dewi saat ini sangat menipis. gajinya selama bekerja di Zulkarnain Group Hanya cukup untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari Apalagi adiknya masih butuh biaya sekolah dan yang bekerja untuk menafkahi seluruh keluarga mereka hanyalah Dewi. Dibantu oleh ibunya sebagai buruh cuci di rumah orang yang membutuhkan tenaganya.
"Maaf dokter kalau misalnya ibu saya dilakukan tindakan operasi untuk pengobatannya Berapa biaya yang harus saya keluarkan?" tanya Dewi kepada dokter Gibran yang sudah sangat khawatir kemungkinan terburuk terjadi kepada ibunya, jika dirinya tidak menyetujui usulan dari dokter Gibran. yang meminta agar ibu paruh baya itu menjalani tindakan operasi.
Lebih baik kita melakukan pemeriksaan radiologi terlebih dahulu, agar kita dapat mengetahui penyakit yang dialami oleh ibu kamu dan kita dapat melakukan tindakan apakah harus operasi atau tidak. Kita tidak boleh menebak-nebak.
Kita harus tahu pasti betul penyakit apa yang berada di tubuh ibu kamu." ucap Gibran kepada Dewi. Tanpa terasa air mengalir begitu deras di pipi Dewi, karena ia tahu betul kalau biaya pengobatan ibunya jika ibunya menjalani operasi. Pasti biayanya cukup besar.
"Ya Allah dari mana aku mendapatkan biaya untuk operasi ibu? sementara gajiku selama bekerja di Zulkarnain Group Hanya cukup biaya kehidupan kami sehari-hari. Apa yang harus saya lakukan ya Allah. Semuanya aku serahkan ke dalam tanganmu mujizatmu lah yang terjadi ya Allah." doa di dalam hati sambil tetap menatap ibunya dengan tatapan penuh arti.
Akhirnya Dewi pun setuju ibunya melakukan pemeriksaan radiologi. Setelah dokter memeriksa kondisi kesehatan Ibu paruh baya itu, yang ternyata menurut hasil pemeriksaan radiologi dan analisa dokter Gibran ternyata memang benar kalau ibu paruh baya itu harus segera melakukan tindakan operasi, Akibat usus buntu yang ia alami.
"Maaf, Ibu kamu harus segera dioperasi saat ini juga. Karena jika tidak bisa dapat berakibat fatal." ucap Gibran kepada Dewi yang sudah dari tadi setia menunggu ibunya menjalani pemeriksaan.
" Apa tidak ada jalan lain dokter selain dioperasi." tanya Dewi kepada dokter Gibran. Usus buntu sudah mulai bengkak dan bernanah. Lebih baik langsung dioperasi saja daripada harus ditahan-tahan." ucap Dokter Gibran.
Dewi menghela nafas berat. Ia bingung harus menjawab apa kepada dokter. Ia pun akhirnya memberanikan diri bertanya kepada Gibran Berapa biaya jika ibunya jika menjalani operasi. "Dokter Kalau boleh tahu Berapa biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan operasi ibu saya?" ucap Dewi kepada Gibran.
Dari raut wajah Dewi terlihat kekhawatiran disana. Gibran sangat tahu kalau saat ini Dewi tidak memiliki uang cukup untuk pengobatan ibunya.
"Kamu Jangan memikirkan biaya dulu yang penting kesehatan ibu kamu yang paling utama. Untuk biaya pembayarannya nanti bisa dicari." ujar Dokter Gibran
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏
JANGAN LUPA LIKE COMMENT VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏