
Kebiasaan Dewi dari mulai Dewi belum menikah dengan Carlos, ia sering sekali nonton bareng bersama Tiwi drama Korea kesukaan mereka. Sehingga Carlos dapat menebak apa yang akan dilakukan istrinya di kamar, sehingga Dewi pamit terlebih dahulu masuk ke dalam kamar meninggalkan Carlos dan juga Tuan Baskoro di ruang tamu.
"Jangan cemberut seperti itu. Nanti kecantikannya luntur." ujar Carlos sambil mengembangkan senyumnya menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta. Nyonya Anjani memperhatikan interaksi antar menantu dan juga putranya. ia dapat membayangkan kebahagiaan Dewi dan Carlos saat ini. Walaupun pernikahan Dewi dan Carlos tidak dihadiri oleh Nyonya Anjani.
Nyonya Anjani menata Carlos dan Tuan Baskoro secara bergantian. Bagai pinang dibelah dua lelaki paruh baya itu dengan Carlos memang benar-benar mirip sekali. Nyonya Anjani semakin merasa bersalah. mampu menghianati cinta tulus Tuan Baskoro di masa lalu.
"Bagaimana perkembangan restoran Kita apa semuanya berjalan dengan lancar? "Seharusnya kamu tidak perlu bertanya kepada Papi. lebih baik kamu cek sesekali ke sana. Papa sudah semakin tua sudah sewajarnya Papi sebentar lagi pensiun. Sepertinya sudah waktunya kamu undur diri dari Zulkarnain Group. Untuk melanjutkan usaha yang kita rintis." ujar Tuan Baskoro kepada Carlos.
Carlos menghela nafas panjang. "Nanti saya akan coba bicara kepada Bisma. Agar bisa mencari asistennya yang lain. Sepertinya aku juga harus menangani perusahaanku sendiri. Apalagi Papi sudah tidak muda lagi. Tetapi papi masih tetap bisa membantu Carlos kan? pertanyaan dialihkan Carlos kepada tuan Baskoro.
Kalau hanya sekedar membantu mungkin papi masih bisa. Tetapi tidak untuk menjalankannya sepenuhnya. Karena Papi sudah tidak sanggup lagi." ujar Tuan Baskoro di hadapan Nyonya Anjani dan juga Carlos.
"Jadi Papi sudah sadar kalau Papi sudah tua?" tanya Carlos.
" Nah itu kamu tahu, papi sudah tua. Kapan kamu akan memberi Papi cucu? Kalau kamu tidak berusaha. Kalau kamu masih tetap di sini bersama Papi dan Mami kamu? Kapan kamu berhasil memberikan cucu kepada Papi?" ucap Tuan Baskoro Sambil tertawa cengengesan.
Carlos menggelengkan kepalanya menatap Tuan Baskoro dengan tatapan penuh arti.
"Ya sudah kalau begitu Carlos pergi aja deh, bilang saja papi ingin bersama mami berdua. Sehingga Papi mengusir Carlos dari sini." bisik Carlos tepat di telinga Tuan Baskoro sambil langsung cengengesan, berpamitan kepada tuan Baskoro dan nyonya Anjani yang masih duduk di ruang tamu. Carlos berniat untuk menghampiri istrinya.
****
Empat bulan kemudian usia kandungan Calista sudah menginjak 7 bulan. Perut Calista sudah membuncit membuat Kalista sedikit kewalahan untuk beraktivitas. Tetapi Bisma selalu menjadi suami siaga. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Calista.
Bahkan untuk periksa ke dokter kandungan Bisma selalu menyempatkan waktunya, menghantarkan istrinya untuk sekedar konsultasi kepada dokter kandungan, walaupun pekerjaannya di kantor cukup padat. Tetapi ia tidak membiarkan istrinya pergi sendiri untuk memeriksakan kandungan istrinya, ke dokter spesialis kandungan.
"Sayang baik-baik ya di dalam. Papi mau berangkat kerja dulu. Doakan segala pekerjaan Papi berjalan dengan lancar." ucap Bisma sambil mengelus perut Calista yang membuncit. Bisma juga menghujani kecupan demi kecupan di perut Calista. Seolah dirinya mengecup wajah bayi yang ada di dalam kandungan Calista.
Terkadang Calista tertawa ngakak melihat tingkah konyol suaminya. Ya begitulah Bisma Ia sangat menyayangi Calista dan calon bayinya yang ada di rahim Calista. Nyonya Katarina Dona menggelengkan kepalanya melihat putranya yang seolah tidak sabar ingin menanti kehadiran anak yang ada di rahim Calista.
"Sayang jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa memanggil bibi. Jangan pernah melakukan apa-apa. Mas tidak ingin kamu terlalu kecapean."ujar Bisma sambil memberikan kecupan hangat di wajah cantik Calista.
Calista mengangguk paham ia tidak ingin membantah Apa yang diucapkan suaminya. Baginya menurut kepada suami merupakan salah satu ibadah dan kewajiban seorang istri.
Calista memberi salam kepada Bisma dan mencium punggung tangan Bisma. "Hati-hati mas, ada Calista yang selalu menunggu Mas di rumah. Jaga hatimu untuk Calista dan anak kita." ujar Calista kepada Bisma
"Kamu jangan kwatir sayang. Mas akan selalu setia kepada kamu dan tunggu mas dirumah ya sayang. Jangan berpikir yang macem macem." ucap Bisma sambil berlalu meninggalkan Calista, nyonya Katarina Dona.
Sementara Tuan Zulkarnaen yang baru tiba di rumah setelah berolah raga pagi. Melihat mobil Bisma sudah keluar dari halaman rumah. "Bisma sudah berangkat?
"Kok cepat bangat? padahal ini masih pukul delapan. Biasanya juga dia berangkat ke kantor pukul sembilan." ucap tuan Baskoro sambil melirik jarum jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Iya Pi,soalnya mas Bisma ada meeting penting pagi ini, Untuk membahas proyek yang lagi berjalan di daerah Surabaya. Kata mas Bisma sih, ada sedikit kendala." ucap Calista kepada Tuan Zulkarnain.
"Tuan Zulkarnain mengangguk paham.
"Sudah mas, lebih baik mas mandi gih. mas sudah bau keringat." ucap nyonya katarina Dona sambil menjepit hidupnya dengan kedua jari tangannya.
"Bau bau seperti ini, tapi kamu suka kan? ucap Tuan Zulkarnain sambil tertawa cengengesan menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta. "Sudah Mas, tidak perlu terlalu percaya diri. lebih baik Mas langsung mandi. Habis itu kita sarapan." ujar Nyonya katerina Dona sambil menarik tangan suaminya masuk ke kamar mandi agar suaminya langsung membersihkan diri.
Calista hanya menatap interaksi kedua ayah dan ibu mertuanya. Ia mengembangkan senyumnya. "Ya Allah semoga hubungan Rumah tanggaku dengan mas Bisma bisa seperti Mami dan Papi." gumam Calista dalam hati. Karena melihat Nyonya Katarina Dona dan Tuan Zulkarnain begitu romantis. Walaupun di usia mereka sudah tidak mudah lagi.
Calista berharap hubungan rumah tangganya dengan Bisma langgeng sampai maut memisahkan. Tidak ada di hati Calista berniat untuk berpisah dengan lelaki yang sudah menikahi dirinya. Karena baginya pernikahan hanya satu kali seumur hidup.
Calista berlalu ingin segera istirahat. Karena sebelum Bisma berangkat ke kantor Calista dan Bisma sudah sarapan terlebih dahulu. sementara Nyonya Katarina Dona memutuskan untuk menunggu Tuan Zulkarnain kembali olahraga pagi.
Ya Tuan Zulkarnain memang selalu menjaga kesehatannya. Rajin berolahraga dan pola makannya juga benar-benar diatur. Sehingga Tuan Zulkarnain di usianya yang sudah tidak muda lagi masih terlihat bugar dan awet muda.
***
Kamu kenapa sayang? wajahmu pucat sekali tanya Carlos kepada Dewi.
"Entahlah Mas, tubuh Dewi terasa lemas kepala pusing dan perut mual. Seluruh isi perut Dewi sudah keluar, karena Dewi muntah-muntah. Dewi memberitahu keluhannya kepada Carlos membuat Carlos kasihan melihat istrinya yang sudah tampak pucat ketika dirinya pulang dari kantor.
"Kalau begitu, kita langsung saja ke rumah sakit. Mas tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu." ujar Carlos berharap Dewi bersedia memeriksa kesehatannya ke rumah sakit. "Tidak perlu mas, Mungkin dengan Istirahat Dewi akan baik-baik saja." sahut Dewi berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakit yang ia rasakan.
Tuan Baskoro menghampiri Carlos yang langsung Kembali keluar rumah. Padahal dirinya baru pulang dari kantor. "Kalian mau ke mana nak? tanya Tuan Baskoro yang belum mengetahui kondisi Dewi saat ini.
"Dewi sakit Pi, wajahnya pucat dan dia pusing. Carlos ingin membawa Dewi periksa ke dokter." ucap Carlos kepada Tuan Baskoro. "Kalau begitu papi ikut." ucap Tuan Baskoro dengan spontan, tanpa mereka sadari Nyonya Anjani memperhatikan interaksi ketiganya.
Ia berniat untuk menemui Carlos, karena semenjak Nyonya Anjani kembali ke rumah pribadinya, Nyonya Anjani Baru kali ini datang untuk mengunjungi Carlos. Tetapi harapannya pupus sudah. Ketika melihat Carlos sudah masuk ke dalam mobil bersama Dewi dan juga Tuan Baskoro.
Nyonya Anjani meminta sopir pribadinya untuk kembali menghantarkan dirinya pulang ke rumah. " Pak Lebih baik kita kembali ke rumah. Sepertinya pemilik Rumah ini ingin pergi ke suatu tempat. Saya tidak ingin mengganggu acara mereka." Nyonya Anjani meminta kepada sopir pribadinya untuk putar balik mobilnya.
"Baik nyonya!" sahut sopir pribadi Nyonya Anjani sembari ingin memutar balik mobilnya Tetapi ketika Carlos memperhatikan sebuah mobil yang ingin masuk ke halaman rumah utama keluarga Baskoro kembali memutar balik, ia meminta security untuk menghentikan mobil itu.
Security yang bertugas di sana pun langsung meminta agar sopir pribadi Nyonya Anjani menghentikan mobilnya. Carlos turun dari mobil melihat Siapa yang datang. Yang ternyata di dalam mobil itu ada Nyonya Anjani.
"Mami pekik Carlos. Mami Kenapa tidak masuk dan langsung ingin pulang sebelum bertemu dengan Carlos? tanya Carlos penuh dengan selidik.
" Mami melihat kalian ingin pergi. Mami tidak ingin mengganggu acara kalian.
"Tidak, mami tidak mengganggu acara kami. Carlos hanya ingin membawa Dewi ke rumah sakit. Karena Dewi saat ini sedang sakit." Carlos memberitahu kepada Nyonya Anjani. Nyonya Anjani terhenyak Ia pun akhirnya ingin ikut menghantarkan Dewi ke rumah sakit.
Ia tidak ingin menantu kesayangannya itu kenapa-napa. " Ya sudah kalau begitu Mami ikut ke rumah sakit." sahut Nyonya Anjani sambil meminta sopir pribadinya melajukan mobilnya ke arah jalan raya menuju rumah sakit terdekat dari rumah utama keluarga Baskoro.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 15 menit, mobil yang ditumpangi oleh Nyonya Anjani dan juga Dewi sudah tiba di parkiran rumah sakit. Terlihat Carlos langsung menggendong tubuh mungil istrinya masuk ke ruang UGD.
Berharap dokter langsung memeriksa kondisi kesehatan istrinya. Dokter yang melihat kehadiran Carlos dan Dewi di sana, langsung berlari menghampiri mereka dan membaringkan tubuh Dewi di atas branker yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.
" Nyonya kenapa?" tanya suster kepada Dewi. Dewi sudah tidak bisa menjawab, kepalanya sangat pusing dan rasanya ia ingin tumbang . "istri saya merasa pusing mual dan muntah. badannya terasa lemas." Carlos memberitahu keluhan istrinya kepada dokter yang bertugas di ruang UGD.
Sang dokter pun memeriksa kondisi kesehatan Dewi. Terlihat dokter itu mengembangkan senyumnya. "Maaf tuan Carlos, menurut pemeriksaan saya sepertinya Nyonya Dewi saat ini sedang hamil. Tetapi untuk memastikannya lebih baik kita periksa ke dokter kandungan. Siapa tahu prediksi saya salah." ujar dokter itu kepada Carlos.
" Apa?
" Istri saya sedang hamil dokter ? Carlos senyum sumringah. Ia begitu bahagia mendengar kabar yang diberikan oleh dokter kepadanya. " Sepertinya begitu Tuan untuk memastikannya lebih baik Nyonya Dewi segera diperiksakan ke dokter kandungan.
" Lakukan yang terbaik untuk istri saya. Aku ingin memastikan kondisi kesehatan istri saya apakah baik-baik saja atau tidak." ujar Carlos meminta kepada dokter itu merujuk Dewi langsung ke dokter kandungan.
Kini Dewi langsung dibawa ke dokter kandungan, untuk memastikan benar tidaknya Dewi saat ini sedang hamil. Terlihat Dokter kandungan itu mengembangkan senyumnya. setelah mengoles gel ke perut Dewi, dokter pun mengarahkan monitor kepada Carlos. Untuk menyaksikan kalau saat ini Dewi benar-benar hamil.
"Selamat Ya Tuan Carlos. Istri anda positif hamil dan terlihat di sini istri anda sudah hamil enam minggu." ucap dokter kandungan itu membuat Carlos terhenyak sekaligus bahagia.
"Apa dokter?
"Istri saya beneran hamil? Carlos memastikan kepada dokter kandungan itu.
" Iya Tuan, istri anda sedang hamil. Tetapi sepertinya istri Anda harus perlu dirawat intensif di rumah sakit ini. Karena kondisi kehamilannya masih rawan. Dokter itu menyarankan kepada Carlos, agar Dewi dirawat inap untuk mendapatkan perawatan intensif dari pihak rumah sakit.
Carlos pun setuju. " lakukan yang terbaik untuk istri saya." ujar Carlos meminta kepada tim medis untuk menempatkan istrinya di ruang VVIP yang ada di rumah sakit. Karena ia ingin pelayanan yang terbaik dari pihak rumah sakit untuk istrinya.
Sementara Nyonya Anjani dan Tuan Baskoro yang menunggu di luar pun sudah terlihat khawatir. Mereka tampak gelisah karena Carlos dan Dewi tak kunjung keluar dari ruang pemeriksaan. "Ya Allah semoga menantu hamba tidak kenapa-kenapa." doa Nyonya Anjani berulang kali.
Nyonya Anjani memanjatkan doa. meminta yang terbaik untuk menantu dan putranya. Kegelisahan terlihat jelas di wajah Nyonya Anjani. Tuan Baskoro menghampirinya. Kamu tenang saja. Menantu kita wanita yang kuat dia tidak akan kenapa-kenapa." ujar Tuan Baskoro berharap Nyonya Anjani dapat tenang.
"Iya Mas, mudah-mudahan Dewi tidak kenapa-kenapa. Karena aku tahu Carlos sangat mencintai Dewi. Dewi wanita yang sangat baik untuk Carlos." puji Nyonya Anjani.
Carlos pun keluar. Sementara suster dan dokter mendorong tubuh Dewi yang masih lemah berbaring di atas branker menuju ruang VVIP. Terlihat di punggung tangan Dewi tertancap jarum infus.
"Sayang kamu Kenapa Nak? Nyonya Anjani langsung menghampiri Dewi ketika suster dan dokter mendorong tubuh Dewi di atas branker. "Sudah mom Dewi Tidak apa-apa kok. Nanti kita bicara." ujar Carlos sambil melangkah terus mengikuti suster dan dokter mendorong branker yang membawa Dewi masuk ke ruang VVIP, diikuti oleh Tuan Baskoro dan nyonya Anjani.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏