
Pagi ini Tiwi ingin segera berangkat ke kantor. Ia tidak ingin terlambat. Mengingat pekerjaannya yang tertunda membuat dirinya harus datang lebih awal. Apalagi ketika Pak Nando memberitahu kalau pagi itu meeting akan diadakan. Itu berarti ruang meeting harus segera dibersihkan pagi itu.
Dengan menggunakan motor matic milik Tiwi Ia pun berniat menjemput Dewi dari rumah kontrakan yang ditempati keluarga Dewi. Ya, hari ini Tiwi sudah berhasil memiliki sebuah motor metik, hasil kerja kerasnya selama bekerja di Zulkarnain group. Tetapi tiba-tiba Dewi menghubungi nomor ponsel Tiwi kalau saat ini Dewi sudah lebih dulu berada di kantor.
Tiwi menepuk jidatnya." Ya ampun kok Dewi bisa lebih dulu berada di kantor? gumamnya dalam hati sambil langsung menghidupkan mesin motor metik miliknya. Tiwi langsung melajukan motornya ke arah jalan raya menuju Zulkarnain group yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Sekitar 10 menit kemudian, Tiwi pun tiba di Zulkarnain Group. Ia memarkirkan sepeda motor miliknya di parkiran khusus karyawan. dengan langkah buru-buru Tiwi pun langsung berlalu menaiki lift khusus karyawan."Kamu mau ke mana? Tanya Dokter Gibran yang tiba-tiba hadir di sana. "Eh dokter tampan mau ngapain Di Sini? tanya Tiwi heran melihat kehadiran Gibran pagi kali disana.
"Tidak!" aku datang ke sini hanya untuk menghantarkan ini kepada Calista. ucap Gibran sambil menunjukkan sebuah amplop coklat yang ia pegang kepada Tiwi.
"Loh kenapa kamu tidak langsung saja ke rumahnya?"
" Jujur aku belum mengetahui Di mana tempat tinggal Calista. Karena aku belum pernah dari sana. Tetapi kalau dari rumah Pak Nando aku sudah pernah. Jadi aku memutuskan untuk mengantarnya ke kantor sebelum aku bertugas di rumah sakit pukul 09.00 pagi.
Kalau begitu kita barengan saja Pak dokter. Mungkin Pak Bisma dan Calista belum tiba di ruangannya. Mengingat ini masih pukul 07.15 jadi lebih baik dokter tampan ikut Tiwi saja deh." ujar Tiwi sambil nyengir. Gibran menatap Tiwi dengan tatapan penuh arti. Ia pun mengikuti langkah Tiwi masuk ke dalam lift khusus karyawan.
Di dalam lift, dokter Gibran menatap Tiwi dari ujung kaki hingga ujung rambut. Entah apa yang membuat Gibran merasa penasaran dengan sosok Tiwi yang sebenarnya. "Hari-hari dokter tampan pasti bahagia dapat melayani orang yang membutuhkan pertolongan. Jujur awalnya Tiwi juga memiliki cita-cita yang sama seperti dokter.
Tetapi apa boleh buat kondisi ekonomi keluarga Tiwi, tidak memungkinkan Tiwi untuk kuliah apalagi di fakultas kedokteran biaya kuliah kedokteran itu pasti sangat besar. Jadi ketika Tiwi tamat dari SMA Tiwi memilih untuk bekerja di sini. Ya untuk kalangan SMA hanya bisa bekerja sebagai OG." ucap Tiwi sambil nyengir.
Membuat Gibran menggelengkan kepalanya. Terlihat Tiwi sangat bahagia menjalani hari-harinya walaupun bekerja hanya sebagai OG di Zulkarnain group. Ia menikmati segala jalan hidupnya tanpa pernah mengeluh akan jalan hidupnya.
Tiba di lantai sepuluh tepatnya di lokasi ruang kerja Bisma, terlihat ruang kerja Bisma masih kosong. Itu artinya Bisma dan Calista belum tiba di kantor. "Dokter tampan lebih baik dokter tampan nunggunya di sini saja deh." ucap Tiwi sambil mempersilahkan Gibran duduk di sofa yang ada di ruang tunggu.
Dokter Gibran mengembangkan senyumnya "Terimakasih Tiwi, kamu sudah bersedia menghantarkan saya ke sini." ucap Gibran. Bukan Dokter Gibran, memang saya bertugas berada di lantai ini. Jadi dokter Gibran tidak perlu geer deh.
Tiwi bukan mengantar dokter Gibran. Tetapi Tiwi ingin bekerja di sini." ucap Tiwi Sambil tertawa ngakak. Mendengar suara tawa Tiwi, Dewi keluar dari ruang meeting yang pada saat itu dewi sudah menyelesaikan tugasnya membersihkan ruang meeting.
"Kamu dari mana saja sih? kamu datang telat." ucap Dewi tanpa memperhatikan sosok Gibran di sana. Maklum ada sesuatu yang belum kamu ketahui. Aturan aku tadi ingin menjemputmu ke rumahmu. Eh ternyata kamu sudah berada di kantor duluan." ucap Tiwi sambil meminta maaf kepada Dewi.
" Ya sudahlah tidak apa-apa,Yang penting kamu baik-baik saja kan? tanya Dewi kepadanya. Ya aku baik-baik saja. Tapi sepertinya dokter tampan mencari Calista. Entah apa tujuannya sehingga dokter Tampan itu mencari Calista, Aku tidak ingin Calista dan Bisma jadi salah paham dengan kehadiran Gibran di sini." ucap Tiwi sambil menatap Gibran dari kejauhan.
Dokter Gibran ada di sini?
Ya sepertinya yang kubilang tadi. Dia mencari Calista. Tetapi dia tidak mau menitipkan apa yang ingin Ia berikan kepada Calista. Katanya dia ingin langsung memberinya kepada Calista." ucap Tiwi membuat Dewi penasaran.
"Ya sudah deh, lebih baik kita bekerja daripada kita ngerumpi seperti ini. Karena sebentar lagi meeting akan diadakan Setelah Pak Bisma dan Calista tiba di kantor.
Tanpa ia sadari, Bisma dan Calista pun keluar dari lift khusus petinggi perusahaan. Gibran yang sedang asyik mengotak-atik ponselnya pun tidak melihatnya. Dan membuat Calista dan Bisma merasa terkejut melihat Gibran sudah ada di depan ruang kerja Bisma.
"Gibran!" celutuk Calista ketika melihat sosok Gibran di sana.
"Eh Calista, kamu sudah datang?" ucap Gibran sambil menatap Bisma dan Calista. Gibran pun memberi salam kepada Bisma dengan Calista.
" Ada apa sampai kamu datang ke kantor pagi pagi begini? tanya Calista penasaran kemudian dokter Gibran pun memberikan sebuah amplop kuning, yang Calista juga belum mengetahui Apa isi dari amplop kuning itu.
"Aku hanya mengantarkan ini saja. Ini titipan dari listra. Mudah-mudahan kamu menyetujui rencana kami berdua." ucap Gibran membuat Calista mengerutkan keningnya. Rencana Apa maksud kalian? Mengapa kalian tidak pernah memberitahu aku kalau kalian memiliki rencana? tanya Calista kepada Gibran.
Calista penasaran.
"lebih baik kamu lihat saja dulu, baru nanti kamu beritahu kepadaku dan kepada Listra kalau kamu setuju atau tidak dengan ide kami." sahut Gibran.
"Kalau begitu saya pamit dulu karena aku ada tugas di rumah sakit pukul 09.00. Aku sudah ditunggu di ruang operasi." ucap Gibran sambil berpamitan kepada Calista dan Bisma.
Bisma menganggukkan kepalanya. lalu Gibran pun melangkahkan kakinya masuk ke lift khusus petinggi perusahaan dengan dibantu oleh asisten Bisma.
"Ada apa sih sayang kok sepertinya berkasnya penting sekali?" tanya Bisma penasaran
Calista mengerikan bahunya. Dia pun belum mengetahui Apa isi amplop coklat itu. "Entahlah Mas Calista juga belum mengetahui Apa isi dari amplop ini. Yang pasti sepertinya ini dari listra." ucap Calista sambil mengikuti suaminya masuk ke ruang kerjanya.
Setelah berada di ruang kerja Bisma, Calista pun membuka amplop coklat itu. Yang ternyata amplop itu berisikan sebuah proposal untuk membangun sebuah klinik di daerah desa kelahiran Calista, listra dan juga Gibran.
Calista mengembangkan senyumnya. Menatap proposal itu yang idenya cukup cemerlang. Aku bersyukur memiliki sahabat baik seperti kalian. Aku pasti menyetujui ini semua. Aku akan minta bantuan kepada suamiku untuk membantu biayanya. Siapa tahu suamiku berbaik hati untuk membantu kita." Calista bermonolog sendiri
"Ada apa Sayang kok kamu senyum-senyum seperti itu? tanya Bisma penasaran sambil menghampiri istrinya yang duduk di sofa. Calista langsung mengalungkan tangannya di leher jenjang Bisma.
"Tidak apa-apa sayang, ini hanya cita-cita kita bertiga saja dulu kok. Mungkin sebentar lagi cita cita kami bertiga akan terwujud jika seseorang bersedia membantu kami." ucap Calista sambil langsung mengecup wajah tampan Suaminya.
Bersambung....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏