
Calista dan Bisma menuju ruang kerja Bisma tepatnya di lantai sepuluh. Terlihat Para pegawai yang berpapasan dengan Bisma menunduk hormat. Tetapi Bisma sama sekali tidak memberikan sahutan sama sekali. Pandangannya lurus kedepan tanpa memperhatikan para karyawan yang memberikan hormat kepadanya.
"Dasar manusia es kutub Utara. Masih saja tidak berubah, tidak pernah senyum walau orang sudah memberikan hormat kepadanya." gumam Calista dalam hati sambil mengekori Bisma dari belakang.
"Kamu ngomong apa barusan?
"Tidak ada!"
"Kamu bilang apa suami kamu ini tadi?
"Es kutub Utara? lihat saja sebentar lagi suami kamu ini akan membuat kamu kepanasan dan tidak merasa dingin lagi seperti yang kamu katakan tadi. Aku akan membuat kami benar benar merasa hangat." ucap Bisma tersenyum jahil.
Hal itu membuat Calista bergidik negri melihat suaminya yang.
"Ingat Tuan Bisma Zulkarnain yang terhormat, kamu masih calon suami Ku belum suami. Karna diantara kita belum ada yang ikatan pernikahan.
"Hanya tinggal dua hari lagi, apa bedanya dua hari lagi sama Sekarang? toh sama saja tujuannya ke situ juga." pekik Bisma yang mampu membuat Calista menatap Bisma dengan tatapan tajam.
Ditempat lain, terlihat Gibran sangat gelisah. Dengan secara tidak sengaja, ia menabrak seorang wanita cantik terlihat ingin berangkat bekerja. Entah karena buru buru, sehingga Gibran tidak memperhatikan Wanita cantik itu menyebrang. Hingga Gibran tidak sengaja menabrak Tiwi dengan sepeda motor ninja miliknya.
Dewi baru Tiba dirumah sakit, langsung menuju ruang informasi.Terlihat gadis cantik mengebangkan senyumnya ketika melihat Dewi dengan jalan agak tergesa gesa
"Maaf mbak , saya mau tanya pasien korban kecelakaan beberapa waktu yang lalu di rawat dimana ya?
"Oh pasien masih di ruang UGD, sedang masih di periksa dokter mbak." sahut wanita berparas anggun dan cantik itu sambil menunjukkan arah ruang UGD kepada dewi.
"Trimakasih Mbak!"
Dewi berlalu dari ruang informasi dan langsung menuju UGD tempat Tiwi sedang di periksa dokter.
"Tiwi!" teriak Dewi yang baru tiba di ruang UGD sedang di dibaluti perban oleh suster yang bertugas menangani Tiwi di ruang UGD.
"Melihat kehadiran Dewi disana, Tiwi merasa heran dan merasa bingung Entah dari mana Dewi mengetahui kalau saat ini Tiwi, sedang dirawat di rumah sakit.
"Dewi kok kamu ada di sini? tanya Tiwi sambil meringis kesakitan, Karna denyutan luka dan jahitan di kaki dan tangan Tiwi. Apalagi obat bius yang di suntikkan dokter kepada Tiwi sebelum menjahit luka yang di alami Tiwi.
"Dari mana kamu tahu aku ada di rumah sakit?
"Sudah itu tidak perlu kamu tanyakan. Sekarang jawab pertanyaan Ku dengan jujur. Bagaimana ini bisa terjadi sama kamu? tanya Dewi penuh selidik.
"Aku nyebrang ngak lihat lihat. Eh tiba tiba ada motor datang dan kecelakaan itu tidak bisa di hindari lagi." sahut Tiwi.
"Terus yang nabrak kamu bertanggung jawab nggak? di mana orangnya?
"Ya, bertanggung jawab kok. Dia yang membawa aku ke rumah sakit ini.
"Kalau dia yang membawa kamu ke rumah sakit terus di mana orangnya sekarang?
Tiwi meneliti seisi ruang dan tidak menemukan sosok lelaki yang membawanya ke rumah sakit.
Kemudian Tiwi bertanya kepada suster di mana lelaki yang membawanya ke rumah sakit. Suster itu pun menjawab "Dia berada di luar. Karena lelaki itu sepertinya memiliki trauma dengan darah. Dan Ia tidak mampu melihat kami melakukan tindakan pengobatan kepada anda."ucap Suster itu kepada Tiwi dan Dewi.
Kemudian Dewi mencari seseorang yang dikatakan Tiwi kepadanya ke depan ruang UGD.
"Eh kamu yang menabrak temanku ya?" tanya Dewi kepada Gibran yang masih setia berdiri di depan ruang UGD.
"Tidak perlu pura-pura tidak tahu, temanku yang bernama Tiwi yang kamu tabrak barusan." ucap Dewi mengintimidasi Gibran.
"Bagaimana kondisinya sekarang? apa dia baik-baik saja? dan apa dokter telah usai memberikan pengobatan kepadanya? Apa lukanya sudah selesai dijahit? pertanyaan demi pertanyaan bertubi-tubi ditanyakan Gibran kepada Dewi.
"Heh kalau nanya itu satu satu, kamu pikir saya robot bisa ingat semua segala pertanyaan kamu." hardik Dewi sambil menatap Gibran dengan tatapan mengintimidasi.
"Gibran langsung masuk keruang UGD. Ia melihat suster sudah siap membalut luka Tiwi dengan perban.
"Bagaimana kondisinya sus apa dia baik baik saja?
"Lukanya semuanya sudah kami jahit. Dan sepertinya Nona ini memerlukan perawatan di rumah sakit ini sekitar dua atau tiga hari ini.Agar lukanya dapat di periksa dokter secara rutin." sahut dokter di balas anggukan dari Gibran pertanda setuju kalau Tiwi dirawat inap di rumah sakit dengan dibiayai oleh Gibran sebagai bentuk pertanggungjawaban nya terhadap Tiwi.
"Heh, kenapa kamu bisa menabrak teman saya? kamu tau tidak? gara gara kamu Tiwi jadi tidak bekerja beneeaoa hari ini. jadi kamu harus menggantikan dia untuk bekerja di kantor sebagai petugas kebersihan di kantor tempat kami bekerja."
"Eh maksud kamu apa?
"Ia kami yang membuat teman saya tidak bisa bekerja. Apa kamu tega membiarkannya dipecat dari tempat pekerjaannya gara-gara tidak masuk beberapa hari ini? ucap Dewi kepada Gibran.
"Mengapa harus aku yang menggantikan dia bekerja disana? saya tidak pernah tau pekerjaaan apa yang di kerjakan teman kamu. ucap Gibran sambil kembali menghampiri Tiwi.
"Maafkan saya, Kaena saya kamu jadi seperti ini."
"Tidak, saya juga yang salah. Karena nyebrang tidak lihat lihat."ucap Dewi sambil meringis kesakitan.
"Sakit ya?
"Sedikit!"
"kalau sakit katakan saja sakit tidak perlu malu. Agar kamu tidak dipecat seperti yang dikatakan teman kamu. Biarkan saya menggantikan kamu untuk kerja di kantor itu untuk sementara waktu sampai kamu sembuh itu sebagai pertanggungjawaban saya karena saya sudah menabrak kamu ucap Gibran kepada Tiwi.
"Tidak perlu kamu lakukan itu, aku akan menghubungi atasanku nanti, pasti atasanku juga mengerti situasi Ku saat ini.
"Tapi bagaimana kalau atasan kamu tetap tidak mengerti dengan situasi kamu saat ini?
"Jika atasanku nanti tidak mengerti akan situasi ini, maka mau tidak mau kamu yang harus menggantikanku untuk sementara waktu.
Tetapi perlu kamu ketahui kalau pekerjaanku di kantor itu hanyalah seorang petugas kebersihan.
"Tidak apa-apa menjadi petugas kebersihan di sebuah perusahaan itu, tugas yang sangat mulia.
Jika tidak ada petugas kebersihan di salah satu kantor, pasti kantor itu tidak akan bersih dan rapi. Apapun pekerjaan kamu, itu takut kamu syukuri. Mudah-mudahan kamu cepat sembuh dan dapat kembali beraktivitas seperti semula. Sekali lagi saya minta maaf kepada kamu karena saya kamu harus mengalami seperti ini. ucap Gibran
Tiwi berusaha mengembangkan senyumnya.
it's oke no problem." sahut Tiwi
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih
JANGAN LUPA LIKE COMENT VOTE DAN HADIAH NYA YA.🙏🙏🙏🙏