
"Neng geulis Tiwi,jangan marah-marah dong. Nanti cantiknya akan berkurang." ucap petugas keamanan itu kepada Tiwi. "Memangnya siapa yang marah Mas ganteng." sahut Tiwi sambil cengengesan.
"Kamu memang selalu bisa bikin Saya tertawa. Makanya Tiwi, Kalau kamu tidak datang ke kantor ini rasanya sepi." ucap petugas keamanan itu sambil tertawa ngakak. tanpa peduli dengan kehadiran Ibu Sarina di sana.
Calista mengajak Ibu Sarina dan Tiwi duduk di cafe yang lokasinya berada di kawasan kantor. Untuk menikmati rujak dan makanan lainnya yang disediakan di sana.
"Bu lebih baik kita ngobrol di cafe saja. Di sana letaknya." ucap Calista sambil menunjukkan cafe yang lokasinya berada di areal kantor. Ibu Sarina menganggukkan kepalanya. lalu Tiwi, Calista dan ibu Sarina pergi meninggalkan petugas keamanan itu di sana.
"Neng geulis tiwi.... makanya yang banyak-banyak ya! supaya neng geulis Tiwi selalu sehat dan bugar dapat menghibur karyawan di sini." ucap petugas keamanan itu setengah berteriak membuat Calista dan Tiwi hanya nyengir mendengar ocehan petugas keamanan itu.
"Wi....., kamu benar-benar bisa mencuri perhatian seluruh karyawan yang ada di sini. Dari yang memiliki jabatan sampai petugas keamanan sekali pun." ucap Calista Sambil tertawa ngakak.
"Kamu bisa saja Calista ngomongnya, kalau gue bisa mencuri perhatian setiap orang, gue sudah bisa mencuri perhatian calon mertua gue." bisik Tiwi tepat di telinga Calista membuat Calista pun langsung nyengir.
Melihat kehadiran istri pemilik perusahaan hadir di cafe yang ada di areal kantor Zulkarnain Group. Pengelola Cafe langsung menghampiri Calista. "Selamat datang Nyonya Bisma Zulkarnain yang terhormat. sapa pengelola kafe yang ada di sana.
"Calista mengembangkan senyumnya, lalu pemilik cafe itu pun memberikan Tempat khusus untuk Calista, Ibu Sarina dan Tiwi yang hadir di sana. "Silakan duduk Nyonya, Ibu, Tiwi yang kece badai." ucap pengelola Cafe kepada Tiwi panggilan khusus untuk Tiwi selalu diberikan oleh pengelola cafe itu.
"Mas Memangnya Tiwi masih kece badau sampai sekarang? tanya Tiwi sambil nyengir
"Neng Tiwi mah tetap kece badai, walaupun belum laku. Padahal kedua sahabatnya sudah laku tuh. Kapan nyusulnya neng Tiwi? soalnya kedua sahabatmu sudah menikah. Menikahnya kepada pemilik perusahaan pula. neng Dewi sudah menikah dengan Tuan Carlos, Neng Calista sudah menikah dengan Tuan Bisma sang pemilik perusahaan ini. kapan kamu nyusulnya neng geulis?" tanya sang pengelola cafe membuat Tiwi menggelengkan kepalanya.
"Doakan saja Mas secepatnya Siapa tahu Tiwi juga bernasib sama seperti kedua sahabat Tiwi ini." ucap Tiwi sambil mengembangkan senyumnya.
"Loh emangnya kang dokter di mana?
Tiwi terdiam. Ia sama sekali tidak menjawab. karena ia bingung menjawab apa kepada sang pengelola cafe. Karena kehadiran Ibu Sarina di sana.
Sudah mas, lebih baik yang lain saja kita bahas, mana menu makanannya?" neng Calista mau makan rujak saat ini. Sementara pesanan Ku seperti biasa Mas. Mas masih tahu kan selera Tiwi kan?" ucap Tiwi sambil mengembangkan senyumnya.
"Siap neng Dewi geulis yang kece badai," ucap sang pengelola cafe sambil memberi hormat kepada Tiwi. Sang pengelola Cafe memberikan daftar menu kepada Ibu Sarina. Ia merasa heran melihat wanita duduk di sebelah Calista. Jiwa keponya meronta-ronta. sang pengelola Cafe menarik tangan Tiwi ketika ibu Sarina sudah memberitahu pesanannya kepada pengelola cafe.
"Ada apa sih Mas menarik tangan Tiwi?"
"Eh neng geulis, itu wanita paruh baya itu siapa?
"Oh itu namanya Ibu Sarina. Dulu satu kampung dengan Calista, orang tua dokter Gibran." sahut Tiwi dengan
" Apa?
"Jadi itu ibunya dokter tampan?
Tiwi menganggukkan kepalanya.
"Berarti itu calon mertua kamu dong. Tiwi hanya terdiam, ia tidak langsung menjawab. "Doakan saja mas. Ibu Sarina dan Pak Khairul memberiku Restu. Tetapi sepertinya itu mustahil karena kondisi keluargaku yang hanya rakyat jelata." ucap Tiwi dengan nada Sendu.
"Neng Tiwi jangan ngomong seperti itu dong. neng Dewi sama neng Calista aja yang ekonominya hampir sama kepada neng Tiwi mereka mendapat suami yang kaya dan mendapat restu dari mertua mereka." ucap sang pengelola Cafe kepada Tiwi.
"Entahlah Mas Mungkin nasibku tidak semanis nasib Calista dan Dewi." ucapnya sambil langsung berpamitan kepada sang pengelola cafe, kembali menghampiri Calista. sang pengelola Cafe menggelengkan kepalanya.
Tiwi menghampiri Calista dan duduk tepat di hadapan Calista. "lagi ngomongin apa sih sepertinya penting banget? ucap Calista kepada Tiwi. "Maklum kamu seperti tidak tahu saja." sahutnya sambil mengembangkan senyumnya. Calista mengganggukan kepalanya.
Dari tatapan Tiwi, Calista paham apa yang ada di dalam pikiran sahabatnya itu . Tiba-tiba sang pengelola Cafe datang menghampiri ketiganya, membawa menu makanan pesanan mereka sebelumnya.
Tiwi dan Calista begitu juga Ibu Sarina mencicipi menu makanan yang sudah dihidangkan. Tanpa ada rasa sungkan. Begitulah Tiwi. Selalu bersikap apa adanya. Tiwi menyantap menu makanan yang ada di hadapannya, Begitu juga dengan ibu Sarina dan juga Calista.
Selama berada di cafe, banyak hal yang mereka bicarakan. Termasuk masalah hubungan dokter Gibran dan juga Tiwi. Sejujurnya Ibu Sarina belum dapat menerima Tiwi menjadi menantunya.
Tetapi setelah Calista memberikan pandangan kepada Ibu Sarina. Ibu Sarina berusaha untuk dapat menerima Tiwi menjadi pendamping hidup dokter Gibran.
"Nanti akan saya bicarakan kepada Gibran dan juga papanya Gibran." ucap Ibu Sarina kepada Calista dan juga Tiwi yang masih tetap berada di sana bersama ibu Sarina.
Sementara di tempat lain, Bisma yang sudah selesai melakukan tugasnya mencari keberadaan istrinya. Dimana Calista? kok dia tidak kembali lagi ke ruanganku?" pertanyaan itu timbul di hati Bisma.
"lagi nyari Calista? tanya Pak Nando yang tiba-tiba ada di hadapan Bisma.
"Iya pa, Calista di mana ya?
"Ada di cafe bersama Tiwi dan ibu Sarina.
"Ibu Sarina?
"Siapa Dia pa?
"Ibu Sarina itu, ibu kandung dokter Gibran dan kebetulan Karna Dokter Gibran satu kampung dengan Calista. Karena jarang bertemu sehingga Calista mengajak ngobrol Ibu Sarina disana." ucap Pak Nando kepada Bisma dibalas anggukan oleh Bisma.
Bisma berlalu menuju cafe ingin menemui Calista di sana. Ketika Bisma sudah tiba di Cafe ia sudah melihat istri yang sangat ia cintai, sedang menyantap menu makanan bersama Tiwi dan ibu Sarina.
"Sayang kamu di sini?
"Kok nggak ngajak Mas sih? ucap Bisma sembari langsung mengecup kening Calista.
"Calista melihat Mas tadi sedang sibuk. Calista tidak ingin mengganggu pekerjaan Mas, kebetulan cacing-cacing Calista sudah berdemo minta diisi." ucap Calista sambil nyengir.
Bisma langsung duduk tepat di samping kanan Calista. Sang pengelola Cafe yang melihat kehadiran Bisma di sana, langsung menghampiri Bisma. "Selamat datang Tuan Bisma." sapa sang pengelola Cafe sambil mengembangkan senyumnya.
Sang pengelola Cafe, memberikan daftar menu kepada Bisma. "Tidak perlu. Buat saja menu makanan seperti yang dipesan istri saya." ucap Bisma sembari langsung menu makanan yang ada di hadapan istrinya.
" Mas ini sudah sisanya Calista loh.
"Tidak apa-apa sayang, kan sisa kamu juga, "Memangnya mas tidak jijik? ini bekas mulut Calista loh."
"Ngapain Mas jijik, kamu kan istriku." ucapnya sambil terus melahap makanan yang ada di hadapan.
"Oh iya Mas, kenalin ini Ibu Sarina orang tua dari dokter Gibran." ucap Calista memperkenalkan Ibu Sarina kepada Bisma. Bisma mengulurkan tangannya memberi salam kepada Ibu Sarina. Karena sambil mengembangkan senyumnya. Ibu Sarina pun menyambut uluran tangan Bisma."Beruntung sekali si Calista menikah dengan lelaki ini." gumam Ibu Sarina di dalam hati.
Bersambung....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏