I Love You Office Girl

I Love You Office Girl
BAB 123. KELUARGA TIWI



Beberapa hari kemudian kondisi kesehatan Calista sudah semakin membaik. Kini dokter sudah memperbolehkan Calista untuk kembali ke rumah. Setelah mendapatkan perawatan yang intensif di rumah sakit. Bisma bersyukur akhirnya istrinya dapat kembali ke rumah.


Begitu juga dengan Nyonya Katarina Dona dan Tuan Zulkarnain. Setelah mendapatkan kabar dari dokter yang bertugas menangani Calista, kalau kondisi Calista saat ini sudah membaik.


Bisma pergi ke ruang administrasi untuk menyelesaikan segala biaya pengobatan Calista selama berada di rumah sakit. sementara Nyonya Katarina Dona sudah membereskan barang bawaan mereka. Dokter yang bertugas menangani Calista saat berada di rumah sakit melepaskan jarum Infus yang tertancap di punggung tangan Calista.


"Terima kasih sudah merawat saya selama berada di rumah sakit ini dokter." ucap Calista kepada sang dokter. Dokter itu mengembangkan senyumnya menatap Calista dengan senyuman manis. Nyonya Tenang saja. Tidak perlu berterima kasih kepada saya. Ini sudah tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang dokter." ucapnya sembari langsung berpamitan dari ruang rawat inap Calista.


Bisma kembali menghampiri calista di ruang ruang rawat inap Calista. Untuk segera kembali ke rumah. Terlihat supir yang selama ini setia menghantarkan Bisma kemanapun sudah datang untuk mengangkat barang bawaan mereka.


" Tuan apa semuanya sudah siap? tanyanya sambil langsung mengangkat koper tempat baju ganti Calista selama berada di rumah sakit. Bisma menganggukkan kepalanya sembari mendorong Calista di atas kursi roda bersama dengan Nyonya katarina Dona.


Tuan Zulkarnain berjalan menelusuri gang rumah sakit sampai mereka tiba di lobby. Terlihat sang sopir sudah bersiap membuka pintu mobil mewah milik Bisma. Agar Calista masuk dengan leluasa bersama Bisma.


Sementara Tuan Zulkarnaen dan nyonya Katarina Dona di mobil yang lain mobil milik Tuan Zulkarnain. Saat itu juga, ketika sang sopir sudah memastikan kalau Calista dan Bisma sudah berada di dalam mobil, sang Itu itu melajukan mobilnya ke arah jalan raya menuju rumah utama keluarga Zulkarnain.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit, Mereka tiba di rumah utama. Terlihat para asisten rumah tangga sudah bersiap untuk menyambut kepulangan Calista. Karena sebelumnya Nyonya Katarina Dona sudah menginformasikan kepada asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Zulkarnain untuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan, ketika Calista sudah kembali dari rumah sakit.


Tampak beberapa macam menu makanan sudah dihidangkan di meja makan. Apalagi mereka mengetahui selama berada di rumah sakit, Calista tidak pernah selera makan menu makan yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


Sehingga Nyonya Katarina Dona yang selalu bawa makanan dari rumah masakan Nyonya Katarina Dona sediri baru Calista selera makannya dengan lahap. Membuat Nyonya Katarina Dona tersenyum puas pilihan menantu kesayangannya. Menyukai masakannya.


" Ada apa ini sepertinya ada sesuatu yang berbeda di rumah kita?" ucap Calista kaena Calista melihat situasi rumah berbeda tidak seperti rumah pertama kali Calista ke rumah utama keluarga Zulkarnain.


"Iya sayang, mami sengaja memindahkan kamar kalian di bawah. Agar kamu tida kesulitan jika ingin mengambil sesuatu di dapur. Apa kamu menyukai kamar yang sudah Mami siapkan? tanya Nyonya Katarina Dona. Ketika memperlihatkan kamar yang sudah didesain sedemikian rupa. Khusus untuk kamar Calista dan Bisma, setelah dokter memastikan kalau Calista benar benar hamil.


Nyonya Katarina Dona dan Tuan Zulkarnain khawatir kalau kamar Calista bersama Bisma di atas, maka tidak menutup kemungkinan Calista akan kesulitan untuk mengambil makanan yang ia sukai pasca Calista sedang hamil. Oleh karena itulah,Tuan Zulkarnain dan nyonya Katarina Dona membuat kamar tambahan di lantai bawah.


Yang ukurannya tidak kalah besar dari kamar yang selama ini ditempati Kak Calista dan Bisma. "Kamarnya cantik sekali, warnanya juga aku suka dan desain interiornya juga mewah Aku menyukai Mom." ucap Calista sambil langsung memeluk Nyonya Katarina Dona.


"Kamu ini seperti bocah saja. Sebentar lagi kamu sudah menjadi seorang ayah. Tapi tingkahmu masih tetap seperti bocah kecil." Gerutu Katarina Dona membuat Tuan Zulkarnain tertawa ngakak. Bisma menatap Nyonya Katarina Dona yang sudah mengatainya seperti bocah kecil.


" Biarin saja Bisma masih bocah. Bocahnya Mom dan Dad. ucapnya tidak mau kalah dari Nyonya Katarina Dona. Sementara Calista hanya tersenyum melihat tingkah suaminya seolah-seolah ingin sekali dipeluk Nyonya Katarina Dona saat itu.


****


Pagi hari yang indah matahari sudah mulai terbit di ufuk timur. Membuat tidur Tiwi menjadi terganggu. Ia teringat hari ini dia harus lebih awal pergi ke kantor. "Aduh aku telat!" Gumamnya sambil langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi, berniat untuk membersihkan diri. Ia sengaja mempersingkat ritual mandinya. Agar Tiwi tidak terlambat masuk kantor hari ini.


Dengan tergesa-gesa Tiwi memakai pakaiannya yang biasa ia gunakan pergi ke kantor. Rambutnya sengaja ia gerai begitu saja.Wajahnya dipoles dengan bedak dan make up tipis membuat aura kecantikannya semakin terpancar.


Tiwi langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya yang sedang menikmati sarapan pagi di ruang makan sederhana itu. "Kamu selalu saja telat bangun. Sudah dari tadi Mama sudah panggilin kamu. Tidurmu sudah seperti kerbau." gerutu Ibu Sari kepada Tiwi yang tampak tergesa-gesa keluar dari kamarnya.


"Tiwi berangkat dulu Mak... Pak!" ngomelnya nanti saja." ucap Tiwi sambil ingin bergegas pergi sambil memberi salam kepada Ibu Sari dan juga Pak Khairul.


Ibu Sari hanya menggelengkan kepalanya melihat putrinya tampak sudah berlari keluar setelah memberi salam kepada Ibu Sari dan Pak Khairul. "Lihat Putri kamu tingkahnya pas seperti kamu." gerutu Ibu Sari kepada Pak Khairul yang selalu telat bangun jika di pagi hari. Pak Khairul hanya tertawa mendengar ocehan istrinya.


Dia seolah sudah terbiasa mendengar omelan dari ibu Sari, yang setiap pagi harus menjerit-jerit memanggil membangunkan Pak Khairul. lalu Pak Khairul bangkit dari tempat duduknya berniat untuk segera berangkat bekerja.


Ya pekerjaan Pak Khairul memang hanya kuli bangunan. Tetapi walaupun begitu kehidupan mereka sangat bahagia, apalagi Ibu Sari tidak pernah mempermasalahkan berapapun pendapatan Pak Khairul diberikan kepadanya. Ibu Sari selalu berusaha mencukup-cukupkan biaya kehidupan mereka hasil dari jerih payah Pak Khairul bekerja menjadi kuli bangunan.


Ibu Sari selalu menghargai pemberian suaminya. Ia tidak pernah mengeluh sekalipun Pak Khairul mendapat upah yang kecil, asalkan pak Khairul selalu ada pekerjaan. Pak Khairul juga tidak pernah mempermasalahkannya. Yang penting dapat menafkahi anak dan istrinya.


Ibu Sari menatap kepergian Pak Khairul. Ia pun kembali menyusul Pak Khairul ke teras rumah. Karena pagi itu, pak Khairul juga harus berangkat kerja di sebuah bangunan yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Ibu Sari pun memberikan kotak bekal kepada suaminya. Agar suaminya dapat menyantap menu makanan buatannya di siang hari. Selain hanya menyukai masakan istrinya, Pak Khairul juga ingin menghemat pengeluaran.


Bersambung....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏