
Dokter Gibran langsung meraih ponsel milik Tiwi dan membuat nomor whatsapp-nya di nomor kontak ponsel Tiwi. Sontak Mia langsung tertawa ngakak melihat dokter Gibran memberikan nomor whatsapp-nya begitu saja dengan mudah kepada Tiwi.
"Hui....Hui....Hui" Ada yang ingin pedekate ni." celetuk Mia yang dapat membuat Wajah Gibran memerah seperti kepiting rebus.
"Pedekate dengan dokter tampan kan tidak apa apa." sahut Tiwi yang masih setia dengan senyum nyengirnya. Tetapi Gibran hanya melihat Tiwi dengan tatapan yang sulit di artikan.
Ya sudah, saya pamit dulu. Soalnya masih ada beberapa pasien yang harus saya periksa. Ucap Gibran berpamitan kepada orang orang yang ada di ruang rawat inap ibu Sarah.
"Baik dokter tampan."ucap Tiwi sambil mengangkat sebelah tangannya ke atas telinganya pertanda memberi hormat kepada Gibran. Gibran hanya mengembangkan senyumnya dan meninggalkan ruang rawat inap Ibu Sarah, berlalu berniat untuk memeriksa pasien lainnya.
"Kak Tiwi kalau suka, pepet terus dong. Nanti keburu disambar orang." Celetuk Mia yang mampu membuat Tiwi langsung menatap Mia dengan tatapan genitnya. Sementara Dewi yang mendengar kata-kata Mia yang dapat membuatnya sedikit enggan di hadapan atasannya Carlos. Membuat Dewi menatap Mia dengan tatapan tajam.
"Mia kalau berbicara itu yang sopan. Kamu sudah besar tidak anak-anak lagi seperti Sean." ucap Dewi mengingatkan adiknya Mia agar lebih berhati-hati dalam berbicara. apalagi Carlos ada di sana yang merupakan atasan Dewi.
"Tidak apa-apa. Namanya juga anak SMA. seperti kamu tidak pernah anak SMA saja." ucap Carlos sambil mengembangkan senyumnya. Senyuman yang menawan terpancar dari wajah Carlos melihat Dewi memperingatkan adiknya untuk lebih sopan di hadapan orang-orang.
"Oh iya, segala administrasinya sudah selesai semua kini sudah saatnya kita pulang." ucap Carlos sembari membantu Dewi untuk membereskan barang bawaan mereka. Ibu Sarah yang sudah terlihat sehat pun begitu bahagia.Putrinya Dewi mendapatkan atasan yang begitu perhatian dan baik kepada keluarganya.
Selain pemilik perusahaan, atasan Dewi bernama Carlos pun begitu baik terhadap mereka. "Terima kasih nak Carlos. Kamu begitu baik kepada kami. Beruntung sekali wanita yang menjadi istrimu. Kamu lelaki yang sangat baik dan sopan. Jujur Ibu pasti ngiri melihat orang yang memiliki menantu sebaik kamu." ucap Ibu Sarah sambil mengembangkan senyumnya. Senyum yang sudah sangat lama tidak terlihat dari wajah sosok Ibu Sarah.
"Ah Ibu, bisa saja. Saya masih lajang bu Belum menikah. Sahu Carlos yang mampu membuat Ibu Sarah terkejut.
"Jadi nak Carlos belum menikah?
"Sayangnya," Ibu kira nak Carlos sudah menikah. Kenapa belum menikah nak carlos? Ibu lihat nak Carlos baik dan sudah mapan. pasti kekasih nak Carlos akan bahagia memiliki suami seperti nak Carlos." ucap Ibu Sarah kepada Carlos yang mampu membuat Carlos menjadi tertawa nyengir.
"Ya Allah Tante, bagaimana pak Carlos mendapatkan jodoh? jika tidak pernah memberikan hatinya untuk wanita. Yang ia tahu kerja dan bekerja terus. Aku rasa pak Carlos sudah mati rasa melihat wanita. Celetuk Tiwi yang mampu membuat Carlos langsung menatapnya dengan tatapan tajam.
"Hus tidak boleh begitu nak Tiwi,
"Emang iya! setiap hari tahunya vakum bekerja dan bekerja terus. Wajahnya yang bertekuk itu, mana mungkin menarik perhatian seorang wanita. Tiwi tetap membuat Carlos menjadi jengkel. Sekalipun Carlos merupakan atasannya. Tiwi sama sekali tidak menaruh takut jika dirinya harus mendapat teguran dari Carlos.
Hingga tiba saatnya perjodohan dilakukan oleh Tuhan Zulkarnain dengan Nyonya Katarina Dona. Sosok Calista yang hadir di kehidupan Bisma, membuat Bisma benar-benar percaya akan cinta. Karena Bisma sudah mulai membuka hatinya kepada wanita. Setelah Tuan Zulkarnain bersikeras untuk menjodohkannya kepada Calista yang notabenenya kelista sangat membencinya saat itu.
Perdebatan demi perdebatan terjadi antara Bisma sebelum mereka memutuskan untuk menikah.Dengan sikap sombong dan arogan Bisma membuat Calista seketika itu membencinya. Tetapi setelah ancaman yang dilakukan Bisma untuk memecat Pak Nando jika dirinya tidak menerima perjodohan itu maka dengan terpaksa Calista menerima perjodohan itu.
Pernikahan itu telah terjadi, kini Calista mencoba berdamai dengan hatinya, menerima Bisma apa adanya. Berharap Bisma dapat merubah pola pikirnya terhadap wanita bahwa tidak semua wanita sama seperti Alena, yang mampu menghianati cintanya demi karir dan harta yang melimpah.
Bagi Calista itu tidak ada gunanya. Tanpa ada kasih sayang yang tulus. Tetapi Calista juga berharap ia mampu untuk membangun desa mereka yang tertinggal desa yang menjadi impian Calista untuk maju. Harapan itu benar-benar terngiang dia benak Calista bersama listra dan Gibran kedua sahabatnya juga memiliki misi yang sama.
Tiba-tiba dokter Iskandar masuk ke ruang rawat inap Ibu Sarah, dan juga Sean untuk mencairkan suasana. "Hai jagoan Bagaimana kabar kamu? Apa kamu sudah baikan? tanya dokter Iskandar sambil langsung memeriksa kondisi kesehatan Sean.
"Alhamdulillah kondisi aku sudah makin membaik dokter. Bagaimana apa saya hari ini sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit ini? Saya sudah bosan di rumah sakit ini dan ingin bersekolah kembali. Jika aku terlalu lama di rumah sakit maka aku akan ketinggalan pelajaran." ucap Sean berharap kalau dokter Iskandar sudah memperbolehkannya pulang bersama ibu Sarah.
Ketika dokter Iskandar sudah memeriksa kondisi kesehatan Sean, dokter Iskandar pun mengembangkan senyumnya. "Kamu tenang saja jagoan, kamu sudah bisa pulang hari ini karena kondisi kesehatanmu sudah semakin membaik. Tetapi kamu harus mengingat menjaga kesehatan dan pola makan.
Jangan jajan sembarangan. Makanlah makanan yang bergizi seperti sayuran buah dan ikan. Lebih baik kamu minta dibuatkan bekal oleh Kakak kamu. Daripada kamu harus jajanan yang tidak bagus untuk tubuh Mu." ujar dokter Iskandar sembari mengelus rambut Sean.
" Terima kasih Dokter. Berkat kamu. Aku sudah bisa sembuh Dan aku besok akan sekolah." ucap Sean dengan tulus kepada dokter Iskandar. "Sama-sama, Tetapi kamu harus ingat apa yang Dokter katakan tadi." ujar dokter Iskandar sembari langsung berpamitan dari ruang rawat inap Ibu Sarah. dan juga Sean. Kaena ada Beberapa pasien masih menunggu dokter Iskandar untuk memeriksa mereka.
Sean bersorak kegirangan. "Akhirnya aku sudah bisa pulang dari rumah sakit. Aroma Rumah Sakit begitu tidak aku sukai. lebih baik sekarang kita pulang." ucap Sean sambil langsung bangkit dari pembaringannya dan melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar mandi. Membuat Dewi menggelengkan kepalanya melihat adiknya yang sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah.
Bersambung....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏
sambil menunggu karya ini up yuk mampir kekarya teman emak.