
Pasti Tiwi yang memberitahu Pak Bisma." gumam Dewi dalam hati. Tetapi Dewi bersyukur memiliki bos yang baik seperti Bisma. Kalau tidak ada Bisma untuk membantu membayar biaya pengobatan Ibu Sarah dan juga Sean. Dengan terpaksa Dewi harus meminjam uang ke salah satu rentenir yang ada daerah tempat tinggal mereka. Karena hanya itu jalan satu-satunya Dewi mendapatkan pinjaman dengan cepat.
Setelah berbicara kepada Dewi dan ibu Sarah, Carlos pun segera berpamitan.
"Maaf ini sudah sore dan jam besuk juga sudah hampir habis. Jadi aku pamit pulang dulu. Tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa pak. Maaf sudah merepotkan bapak." ucap Dewi sambil memberi salam kepada Carlos diikuti dengan Mia. Terima kasih Pak Carlos sudah repot-repot datang mengunjungi saya dan anak saya di sini. Apalagi seperti yang Pak Carlos katakan kalau pihak perusahaan tempat Dewi bekerja sudah membayar biaya pengobatan saya selama berada di rumah sakit ini.
Jujur saya tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada bapak. Karena kebaikan hati bapak untuk membayar biaya pengobatan kami." ucap Ibu Sarah kepada Carlos.
" Maaf Ibu Sarah, Sebenarnya bukan saya yang membayar biaya pengobatan Ibu Sarah. Tetapi Bos Besar saya yang melakukan itu semua. Saya hanya mendapat perintah dari atasan itu semua dilakukan oleh Pak Bisma Zulkarnain. Selaku CEO di perusahaan tempat kami bekerja.
Tetapi Pak Bisma mempercayakan itu kepada saya." ucap Bisma sembari memberi salam kepada Ibu Sarah. Karena Carlos harus segera pulang mengingat hari sudah hampir malam.
"Tolong sampaikan ucapan terima kasih saya kepada Pak Bisma. Karena sudah membantu membiayai pengobatan saya dan Putra saya. semoga Pak Bisma dan keluarga sehat dan dilimpahkan rezeki." ucap Ibu Sarah sambil menatap Carlos dengan tatapan penuh arti.
Setelah berpamitan kepada Ibu Sarah, juga Dewi dan adik-adiknya. Carlos pun meninggalkan ruang rawat inap Ibu Sarah dan Sean. Di perjalanan Carlos masih mengingat sosok Dewi yang terus saja menangis menatap ibu dan adiknya harus berjuang melawan sakit penyakit yang mereka rasakan.
Sepeninggalan Carlos, Gibran datang menghampiri Ibu Sarah untuk memeriksa kondisi kesehatan ibu Sarah. Dan juga sehat sebelum jam tugasnya hari itu telah usai. "Selamat sore menjelang malam Ibu Sarah, bagaimana perasaannya saat ini apa sudah baikan? Tanya Dokter Gibran menghampiri Ibu Sarah yang masih berbaring di atas Branker yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
Kemudian dokter Gibran pun memeriksa kondisi kesehatan ibu Sarah, Ia juga memeriksa luka bekas operasi untuk memastikan kalau obat yang dokter Gibran berikan benar-benar berfungsi dengan baik.
"Alhamdulillah luka bekas operasinya yang dari luar sudah mulai mengering. Tinggal pengobatan dari dalam saja. Kalau boleh, berikan makanan yang bergizi agar luka bekas operasi di tubuh ibu Sarah lebih cepat mengering dan pulih." ujar dokter Gibran kepada Dewi dibalas anggukan dari Dewi.
Kemudian Gibran pun beralih kepada Sean apa dokter yang menangani Sean sudah datang memeriksanya Tanya Dokter Gibran kepada Dewi. Dewi menganggukkan kepalanya bertanda dokter yang menangani Sean hari itu sudah datang memeriksa kondisi kesehatannya.
" Alhamdulillah kondisi Sean sudah semakin membaik. Dokter Gibran dan trombosit Sean juga sudah mulai naik." ucap Dewi kepada dokter Gibran, dibalas anggukan dari dokter Gibran. Senyuman Manis dari wajah seorang dokter Gibran membuat setiap wanita pasti akan terpesona melihatnya.
" Wah tampan sekali dokter Gibran." Giman Mia dalam hati. Ia mengembangkan senyumnya melihat ke arah Gibran yang berbicara kepada Dewi dan juga Ibu Sarah. Tiwi masuk ke ruang rawat inap Ibu Sarah dan juga Sean. Setelah pulang dari kantor iya langsung menuju rumah sakit.
"Dewi!"ucap Dewi sembari langsung menghampiri Dewi dan ibu Sarah membuat Gibran langsung membalikkan tubuhnya melihat ke arah suara yang menghentikan pembicaraan mereka.
"Gibran!" ngapain kamu di sini pakai dinas putih segala seperti ini? ucap Tiwi yang belum mengetahui kalau saat ini Gibran bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit tempat Ibu Sarah dan Sean dirawat.
Ya,saya ingin menjenguk Ibu Sarah lah tidak mungkin juga saya di sini ngapelin lelaki." ucap Dewi sambil menatap Gibran dengan tatapan penuh tanya. Tiwi pun mengabaikan Gibran begitu saja dan memberikan salam kepada ibu Sarah.
"Bagaimana kondisi ibu sekarang Apa sudah baikan? tanya Tiwi kepada Ibu Sarah. "Alhamdulillah, kondisi ibu sekarang sudah semakin membaik walaupun harus membutuhkan perawatan beberapa hari di rumah sakit ini.
Begitu juga dengan Sean menurut dokter kondisi kesehatan sekarang sudah semakin membaik." ucap Ibu Sarah kepada Tiwi syukurlah kalau kondisi Ibu sudah semakin membaik. Aku lega mendengarnya." sahut Dewi sambil mengembangkan senyumnya.
Tiwi pun memberikan roti selai yang ia bawa sebelumnya kepada Mia. Mia hanya ini yang bisa Kakak bawa." ucap Tiwi sambil memberikan roti selai itu kepada Mia. Mia mengembangkan senyumnya.
" Terima kasih banyak Kak. Kakak datang saja ke sini menjenguk ibu dan Sean itu sudah cukup bagi kami. Itu artinya Kakak menyayangi ibu dan juga adikku." sahut Mia sambil mengembangkan senyumnya.
Sementara Dewi hanya terpaku melihat sahabatnya itu, datang mengunjungi ibu dan adiknya. Padahal Ia tahu kalau kondisi ekonomi Tiwi. Bukanlah orang yang berada. keadaan ekonomi keluarga Tiwi dan Dewi sama-sama dari keluarga yang kurang mampu.
Bedanya Tiwi masih memiliki kedua orang tuanya. Walaupun kedua orang tua Tiwi Hanya bekerja serabutan. Melihat kekompakan Tiwi dan keluarga Dewi, Gibran mengembangkan senyumnya. "Ya Allah ekonomi tidak menjadi tolak ukur bagi mereka, untuk saling membantu. Betapa mulia hati mereka." gumam Gibran dalam hati sembari membenahi selang yang terpasang di tubuh ibu Sarah.
"Sepertinya selang ini besok sudah bisa kita lepas. Karena kondisi Ibu Sarah sudah semakin membaik." ucap dokter Gibran sambil netranya melirik ke arah Tiwi yang sedari tadi berbicara kepada Sean.
Kedekatan Sean dengan Tiwi membuat Dewi bersyukur memiliki sahabat seperti Tiwi yang menganggap adik-adiknya seperti adik kandungnya sendiri. "Eh jagoan, kamu sudah makan belum? kamu harus kuat makan kamu lawan sakit penyakit yang ada di tubuh kamu. Kamu inginkan Jadi seorang polisi?" tanya Tiwi kepada Sean.
Yang kebetulan Sean memiliki cita-cita ingin menjadi seorang polisi. Sean menganggukkan kepalanya. Pertanda apa yang dikatakan Tiwi benar adanya. Ia pun langsung meminta nasi yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuk para pasien yang dirawat inap.
Tiwi dengan telaten memberikan suapan demi suapan kepada Sean. Sesekali mereka bercanda gurau. Agar Sean tidak terfokus dengan Citra rasa menu makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit, kurang mengunggah selera.
Gibran yang melihat pemandangan itu pun mengembangkan senyumnya. "Wah dekat sekali Sean dengan Tiwi. Seperti kakak adik." guman Gibran dalam hati sembari terus memperhatikan interaksi Tiwi dengan Sean.
Di tempat lain, terlihat Calista memohon kepada suaminya agar keesokan paginya Bisma mengizinkannya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ibu Sarah dan juga Sean. Calista ingin memberikan semangat kepada sahabatnya Dewi.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏
JANGAN LUPA, LIKE , COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏